Thursday, December 14, 2006

KETIKA PESAWAT RUSIA MEMBOM PULANG PISAU

Selasa, 14 Nopember 2006 02:33:26
Harapan warga Kalteng dan Kalsel, telanjur melambung tinggi. Aktivitas pemadaman titik api, termasuk menggunakan pesawat sewaan dari Rusia, dibayangkan segera menyapu kabut asap dari langit Borneo. Nyatanya, asap tetap mengepul. Derita warga pun belum usai.
BELUM BERAKHIR - Kabut asap belum berakhir dan terus menyerang kesehatan anak-anak. Foto: BPost/Apunk

Upacara peringatan Hari Pahlawan 10 November di Lapangan Handep Hapakat, Pulang Pisau, Senin (13/11) kemarin, berjalan khidmat. Namun dahi inspektur upacara, Bupati Achmad Amur sempat berkerut ketika melihat beberapa siswa peserta upacara ambruk.

Di tengah saputan kabut asap yang tetap tebal itulah, sedikitnya 5 siswa pingsan. Bocah-bocah itu harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau, yang diduga akibat tak tahan menghirup pekatnya asap.

Kelima murid itu adalah Miming (15), Erna, Mariani (16) adalah siswa SMU I Bereng dan Tri Setiawati (15) serta Ana (16) keduanya siswa SMU PGRI Kahayan Hilir.

Beruntung gangguan yang mereka alami tak begitu parah. Setelah mendapatkan perawatan medis, mereka diperbolehkan pulang, kecuali Miming yang pernafasannya masih harus dibantu dengan tabung oksigen.

Dokter yang merawat, dr Abraham. memang menyarankan agar Miming diopname secukupnya hingga pulih. Namun keluarganya yang siang kemarin datang membesuk, meminta kepada rumah sakit agar Miming segera dibawa pulang.

Direktur RSUD Pulang Pisau, dr Muliato mengatakan, selain disebabkan kecapean, para siswa itu tidak tahan menghirup asap di pagi hari. "Memang sebagian mereka ada yang mempunyai gangguan pernafasan, sehingga dalam kondisi yang masih terbalut asap tebal pada saat itu mereka tidak tahan," katanya.

Memang, kabut asap masih dikeluhkan sejumlah warga di Kalteng. Meski pemboman titik-titik api telah dilakukan selama seminggu, namun asap tetap muncul bahkan sampai mengganggu aktivitas warga.

Efek Pemboman

Kondisi kabut asap di Pulang Pisau sendiri dalam beberapa hari terakhir tidak menentu. Jika dua hari sebelumnya kabut sempat menghilang, Senin kemarin justru menjadi-jadi. Selain mengganggu pernafasan warga, akibat lainnya arus lalu lintas pun terganggu. Kendaraan yang melintas harus menghidupkan lampu penerang guna meminimalisir kecelakaan.

Upaya pemadaman sendiri terus dilakukan. Pesawat BE 200 sewaan dari Rusia, kemarin, masih terus memuntahkan air dari udara. Berdasarkan informasi dari Posko Pengendalian Asap Pulang Pisau, pesawat masih memfokuskan pemboman di Desa Gohong dan Tumbang Nusa, yang memang menyimpan titik api cukup banyak.

Hanya saja Kabid Perlindungan Lahan dan Hutan Dinas Kehutanan Kabupaten Pulang Pisau, Elkana W Rundjan tidak sepenuhnya sependapat, kabut pekat karena pertambahan hotspot. Ia mengatakan, kabut asap yang muncul cukup tebal itu adalah efek dari pemboman air oleh pesawat BE 200 itu.

"Karena air yang digunakan adalah air laut, sehingga apabila dimuntahkan ke daerah lahan terbakar atau pada titik api menyebabkan penambahan asap. Asap yang ditimbulkan itu akan menjadi uap air yang nantinya akan merangsang turunnya hujan," katanya.

Secara umum, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang yang kemarin mendatangi posko pemadaman di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, mengakui pengeboman menggunakan satu pesawat cukup efektif. Setidaknya, dengan kombinasi hujan buatan dari BPPT dan TNI AU, secara otomatis menolong pesawat BE-200 untuk memadamkan kebakaran lahan, yang memang sudah berkurang.

Bupati Pulang Pisau, H Achmad Amur pun mengatakan, untuk lebih afdolnya, pemboman perlu dilakukan secara berulang-ulang. Dengan kondisi tanah bergambut, pemadaman harus sampai pada lapisan dalam.

"Sekilas api yang disiram tampak mati, namun umumnya itu hanya sebentar karena yang basah permukaannya saja. Saya berharap agar pemboman dilakukan berulang," tegasnya.

Lantas bagaimana dengan Kalsel? Wakil Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Suhardi memastikan Kalsel telah bebas dari titik api. Dari pantauan satelit Nassa, titik api di Kalsel telah hilang dan tak terpantau lagi oleh satelit.

Meski demikian, kebakaran masih rawan terjadi jika cuaca panas. Kebakaran lahan gambut akan tuntas jika lahan tersebut digenangi air atau menjadi rawa.niz/adi/ony/ck2

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

No comments: