Thursday, August 28, 2008

MEREKA BICARA: BANJIR

Jumat, 29-08-2008 | 01:00:31

BANJIR - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu tak hanya merusak ratusan rumah, namun juga merendam belasan hektare tambak udang rakyat, dan puluhan hektare lahan pertanian. Sejumlah kalangan menilai, bencana ini akibat kerusakan lingkungan oleh aktivitas pertambangan.

Revitalisasi DAS

Hamdani Fauzi SHut
Dosen Fakultas Kehutanan Unlam 
Memang cukup ironi, beberapa daerah di Jawa mengalami kekeringan, di Tanah Laut justru terjadi Banjir. Bisa dikatakan cuaca yang terjadi tak menentukan dan ini sebagai akibat adanya pemanasan global.

Terkait musibah banjir di Tanah Laut dan Tanah Bumbu, menunjukkan bekas penambangan dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) sangat merugikan.

Salah satunya memicu degradasi lahan yang menyebabkan limpasan permukaan relatif tidak terkendali, sehingga berpotensi menjadikannya sebagai air kiriman pada daerah di bawahnya.

Kondisi itulah yang menyebabkan banjir di kawasan pemukiman maupun lahan pertanian. Walau hujan turun hanya beberapa hari, namun banjir tak bisa dihindari akibat kurangnya kawasan resapan air.

Untuk itu, lakukan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan pendekatan one water one management. Selain itu pertahankan daerah buffer sebagai penyangga fungsi ekologis dan hidrologis.

Lakukan pembangunan hutan dengan pendekatan forest ecosystem management. (mia)

Jangan Abaikan Pengelolaan Lingkungan

Drs Akhmad Rifani MSi
Pengamat Lingkungan
Suatu daerah sebenarnya punya hak melaksanakan pembangunan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alamnya. Namun kenyataannya masih banyak kepala daerah yang kurang bijak dalam mengelola kekayaan alamnya, seperti batu bara dan hasil hutan.

Terbukti banyaknya bencana alam yang terjadi karena ulah manusia sendiri dan bukan semata-mata fenomena alam. Salah satunya banjir di Tanah Laut dan Tanah Bumbu.

Sudah saatnya pemerintah daerah lebih selektif dalam memberi perizinan bagi perusahaan tambang dan perkebunan. Jangan abaikan pengelolaan lingkungan hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat.

Jika kita mampu mengelola dan memanfaatkan SDA dengan cerdas, tentu bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Bukannya bencana yang menimbulkan banyak kerugiaan baik materiil maupun sosial. (mia)

Kebijakan yang Keliru

Dwitho Frasetiady
Aktivis Walhi Kalsel
Banjir kembali terjadi, padahal bulan Agustus sudah memasuki musim kemarau. Banyak saudara kita di Tanah Laut dan Tanah Bumbu menjadi korban menyusul terendamnya lahan pertanian dan perkebunan.

Namun jangan selalu beranggapan bahwa suatu musibah seperti banjir sebagai takdir. Kejadian ini justru mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan tidak merusak kawasan hutan, apalagi sampai mengubahnya menjadi kawasan terbuka.

Sebagai kawasan tambang, kita lihat bagaimana kondisi Tanah Bumbu saat ini ? Banyak kawasan hutan yang berubah menjadi areal terbuka. Semua itu tak lepas dari kebijakan pemerintah yang keliru. Ingin mendongkrak pendapatan daerah, namun mengabaikan aspek lingkungannya.

Sekarang daerah resapan air di Tanah Bumbu maupun Tanah Laut yang termasuk daerah pegunungan Meratus telah rusak. Kawasan pegunungan berubah menjadi perkebunan sawit dan pertambangan. (mia)

Kerahkan 100 Pasukan

Jumat, 29-08-2008 | 00:36:42

Komandan Korem 101/Antasari Kolonel inf Sudrajat As menyatakan telah menyiapkan satu unit satuan setingkat kompi (SSK) dengan 100 pasukan anggota TNI untuk membantu korban banjir di Tanah Bumbu dan Tanah Laut.

Mereka bertugas mengevakuasi korban banjir yang dan ikut mengupayakan penyaluran bahan-bahan makanan termasuk obat-obatan ke lokasi banjir.

Komandan Kodim 1006/Martapura Letkol inf Samudro Adie Soetojo menambahkan pihaknya telah membentuk posko penanggulangan bencana di sejumlah kawasan rawan banjir.

Satu satuan setingkat kompi disiapkan di daerah mulai Sungai Pinang, Pengaron, Simpang Empat, Astambul sampai Karang Intan yang menjadi kawasan langganan banjir.

Siaga banjir ini juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Banjar. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan (Dinkesos PM) kembali menggiatkan fungsi koordinasi Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kabupaten.

Dalam waktu bersamaan, kemarin 100 relawan dari lintas sektoral, mulai pemkab, organisasi kepemudaan dan organisasi masyarakat, Orari, PMI se Kabupaten Banjar menjalani pelatihan kader Satlak PB. (niz)

300 Hektare Sawah Gagal Tanam

Jumat, 29-08-2008 | 00:36:43

Tujuh Desa di Kusan Hulu Terendam
BATULICIN, BPOST
- Banjir di Kabupaten Tanah Bumbu tidak hanya merendam rumah warga di Desa Sebamban Lama dan Sebamban Baru Kecamatan Sungai Loban. Tapi juga membuat warga di Kecamatan Kusan Hulu menderita.

Benih yang baru disemai di areal persawahan seluas 300 hektare lebih turut terendam. Karena terendamnya sudah lebih dari empat hari padi itu sudah membusuk sehingga dipastikan petani di sana gagal tanam.

Salapudin, warga Kusan Hulu menuturkan kejadian tersebut sangat memukul warga karena bercocok tanam merupakan pekerjaan utama penduduk setempat.

Warga mengandalkan pertanian sebagai pekerjaan pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan terendamnya sawah selain tidak bisa panen warga juga harus menanam benih baru agar bisa menikmati hasil panen. Warga kini masih menunggu air surut untuk menanam ulang bibit tersebut.

"Kalau tidak ditanam ulang ya tidak bisa makan. Pasti benih itu sudah busuk. Jadi mau tidak mau harus menanam ulang," kata Salapudin.

Selain merendam ratusan hektare sawah, luberan air yang diduga akibat curah hujan tersebut juga merendam tujuh desa di Kecamatan Kusan Hulu. Desa tersebut adalah Desa Lasung, Sungai Rukam, Manuntung, Anjir Baru, Cibarau Panjang, Mangkalapi dan Desa Hati’if.

Air setinggi pinggang orang dewasa itu, telah merendam ratusan rumah penduduk di sana. Namun mereka tidak mengungsi dan dan mencari tempat istirahat bersama anggota keluarga ke tempat yang lebih tinggi.

Sementara itu, warga di Desa Sebamban Baru dan Sebamban Lama mulai kembali ke rumah dan membersihkan rumah yang selama tiga hari terendam. Sampai kemarin banjir di sana sudah surut.

Sebelumnya mereka mengungsi ke tempat saudara dan sebagian di Masjid Miftahul Jannah. "Kami tetap mengingatkan agar waspada dengan perubahan cuaca setiap saat. Sebab, hujan masih terjadi sehingga dDikhawatirkan air kembali naik," kata Camat sungai Loban, Suwignyo. (coi)

Rombongan Pramuka Terjebak Banjir

Rabu, 27-08-2008 | 00:40:45

• Terpaksa Menginap di Rumah Penduduk
• Pulang Lewat Trans Batulicin-Kandangan

MARTAPURA, BPOST - Sebanyak 60 orang anggota Pramuka Kabupaten Banjar yang mengikuti kegiatan pramuka di Pagatan, Tanah Bumbu, terpaksa menginap di rumah warga di dekat Sebamban. Mereka terjebak banjir saat hendak pulang ke Martapura, Senin (25/8).

Dua unit bus yang mengangkut 60 anggota pramuka itu tidak bisa meneruskan perjalanan ke Martapura karena ruas jalan di Sebamban tergenang air hampir satu meter.
Siang itu sekitar pukul 15.00 Wita, dua unit bus tersebut sudah tidak bisa meneruskan perjalanan. Rombongan terjebak banjir bersama dengan rombongan dari daerah lain dan kendaraan umum lainnya.
Meski sempat menunggu lama sampai malam harinya genangan air tak juga surut. Rombongan akhirnya menginap di salah satu rumah penduduk yang masih ada hubungan kerabat dengan salah seorang anggota pramuka.
Hingga Selasa (26/8) pagi, pukul 11.00 Wita rombongan baru bisa meneruskan perjalanan ke daerah masing-masing. Rombongan pengurus pramuka Banjar yang saat itu menaiki dua unit mobil memutuskan pulang melalui trans Batulicin - Kandangan.
“Karena memang harus pulang, kami terpaksa menempuh jalur Batulicin - Kandangan dan memakan waktu hampir delapan jam. Mobil lainnya juga melewati jalan itu,” kata Ketua Kontingen Pramuka Banjar, HM Ali Hanafiah, Selasa (26/8).
Sementara untuk jenis bus yang berisiko melintasi Trans Batulicin - Kandangan harus mengambil jalur Sebamban, sambil menunggu jalur bisa dilewati.
“Alhamdulillah sekitar pukul 11.00 Wita tadi rombongan sudah bisa melewati jalur dan sudah dalam perjalanan menuju Martapura,” jelas Kabag Tapem Setda Banjar.
Banjir di Tanah Bumbu dan Tanah Laut sampai Selasa (26/8) tidak memengaruhi kedalaman air di Waduk Riam Kanan, Aranio, Kabupaten Banjar.
Hingga siang itu kedalaman air masih mencapai 58,65 sentimeter atau ada kenaikan 15 sentimeter dibanding hari sebelumnya. Kepala PLTA Ir PM Noor Riam Kanan Kardoyo mengatakan, kenaikan itu masih batas normal sehingga Kabupaten Banjar masih aman dari banjir. Dengan kedalaman itu tambah Kardoyo PLTA Riam Kanan masih mengoperasikan tiga unit turbinnya. (ofy)

Wednesday, August 27, 2008

Banjir Mulai Surut

Kamis, 28 Agustus 2008
BATULICIN – Bukan hanya Desa Sebamban Baru dan Sebamban Lama yang direndam banjir, namun juga sejumlah wilayah di sekitarnya seperti Desa Sekapuk Kecamatan Angsana dan desa-desa di Kecamatan Satui. Akibat banjir itu, puluhan rumah ikut tergenang air. Jalur trans Kalimantan yang menghubungkan Banjarmasin-Batulicin, juga mengalami nasib yang sama. Namun, tidak sampai menyebabkan arus transfortasi terputus.

Sejak dua hari lalu, ketinggian air mencapai lutut kaki orang dewasa. Namun, air berangsur-angsur surut, sejak kemarin. Warga yang rumahnya terendam air tampak sibuk membersihkan kotoran lumpur yang terbawa arus. Dinding rumah mereka yang berwarna coklat juga disikat hingga bersih.

Musibah banjir juga dialami 120 KK di 4 desa di Kecamatan Kusan Hulu (Lasung). Empat desa itu adalah Desa Lasung, Anyir Baru, Manuntung dan Sungai Rukan. Ketinggian air dalam rumah warga mencapai 50 sentimeter. Selain menenggelamkan rumah milik warga, banjir yang diakibatkan hujan di kawasan pegunungan itu juga menenggelamkan sawah milik warga.

Muhammad, salah satu warga Desa Sungai Rukan, mengharap bantuan sembako, obat-obatan, tenda dan posko dari Pemkab Tanbu melalui instansi terkait.

“Terus terang, kami sangat mengharapkan bantuan itu,” keluh Igur via telepon.

Senada dengan dia, Jamil warga Desa Lasung, meminta agar bantuan yang mereka harapkan segera diberikan.

“Sudah ada puluhan rumah yang terendam hingga warga memilih mengungsi ke dalam hutan. Kami hanya minta posko untuk berlindung dari hujan dan dinginnya angin malam,” katanya.

Muhammad khawatir, kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Karena, cuaca tidak pernah cerah, sementara itu hujan terjadi setiap harinya. Akibat pengungsian itu, sudah ada beberapa warga yang menderita penyakit gatal-gatal.

Sekedar diketahui, Kecamatan Kusan Hulu memang wilayah langganan banjir. Setiap tahun, banjir selalu menggenangi rumah warga. Akibat banjir itu, mereka terpaksa mengungsi untuk sementara menunggu air surut. (kry)

Mahasiswa Unlam Tewas Terseret Banjir

Kamis, 28 Agustus 2008
BATULICIN - Air yang menggenangi rumah puluhan warga dan jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Banjarmasin-Batulicin, di Desa Sebamban Lama dan Baru Kecamatan Sungai Loban, berangsur-angsur surut. Sejak Salasa (26/8), malam kemarin, armada angkutan umum dan pribadi sudah bisa lewat.

Dalam musibah banjir itu, seorang mahasiswa Unlam Banjarmasin bernama Rijal Firmansyah, tewas tenggelam. Mahasiswa yang tinggal di Pasar Sabtu Gang Ceria Desa Tungkaran Pangeran Kecamatan Simpang Empat, ini terseret arus bersama sepeda motor

Yamaha Zupiter MX warna merah dengan Nopol DA 4610 ZG, miliknya sendiri.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun koran ini, malam itu korban bermaksud pulang ke Batulicin. Tiba di lokasi banjir, Rijal bermaksud menyeberang. Padahal, di lokasi banjir itu sudah ada larangan untuk tidak melakukan aktivitas penyeberangan.

“Itu perintah dari Kapolsek Sungai Loban Ipda Trias,” ujar Imroh AH, yang ikut mencari jasad korban.

Namun, lewat tengah malam, Rijal nekat juga. Saksi mata melihat sekitar pukul 01.00 Wita, sepeda motor dituntun seorang laki-laki (Rijal, red) menyeberangi arus yang sangat deras itu. Akibatnya, keduanya terseret arus hingga langsung menghilang. Paska kejadian itu, tidak ada satupun warga yang berani memberikan pertolongan. Sepeda motor sendiri baru ditemukan Selasa (26/8), siang kemarin sekira pukul 11.00 Wita. Sementara itu, hingga pukul 15.00 Wita, kemarin, jasad Rijal belum juga ditemukan. Untuk mencari jasad korban, puluhan orang diterjunkan dengan menggunakan ketinting. Anggota Satkorlak Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga turun tangan dengan menggunakan speed boat dibantu personel TNI dan Polri. Pencarian dilakukan tak jauh dari sekitar jasad korban pertama tenggelam hingga jarak 300 meter dari jalan. (kry)

Bupati Kunjungi Daerah Banjir

Kamis, 28 Agustus 2008
PELAIHARI – Banjir besar yang melanda Kecamatan Jorong dan Kintap menjadi perhatian serius Bupati Tanah Laut H Adriansyah, Rabu (27/8) kemarin ia mengunjungi sejumlah pemukiman yang direndam banjir. Aad juga menyaksikan secara langsung, evakuasi korban Banjir, Sukardi (56 th), penumpang mobil innova yang hanyut ketika berusaha menerobos banjir yang merendam jalan negara di Desa Asam-Asam.

H Adriansyah mengaku sangat prihatin dan turut berduka dengan kejadian ini, ia mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten siap membantu penanganan jenazah, apakah mau di bawa pulang ke daerah asal atau dimakamkan di sini, tinggal menunggu keputusan dari keluarga korban. Terkait penanganan pasca banjir, H Adriansyah menegaskan tiga hal kepada jajarannya, yaitu yang pertama, dalam keadaan bencana, rakyat tidak boleh ada yang sakit, sehingga Dinas Kesehatan Tanah Laut harus memberikan perhatian penuh.

Kedua, rakyat yang sedang menderita tidak boleh kelaparan, dan ketiga, pemerintah harus segera memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak parah. (mr-90)

Poros Banjarmasin-Batulicin Terendam

Rabu, 27 Agustus 2008
BANJARMASIN – Transportasi dari Banjarmasin menuju Batulicin untuk sementara terhambat. Pasalnya, air melimpas pada sejumlah titik di ruas Trans Kalimantan poros selatan tersebut.

Kepala Dinas Kimpraswil Kalsel M Arsyadi MT mengaku sudah menerima laporan kawasan yang tegenang, yaitu Km 154, Km 179, Km 185, dan Km 205 Desa Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut.

Diakui Arsyadi, untuk sementara jalur transportasi sangat berbahaya dilewati, terlebih kendaraan roda dua dan roda empat. “Jadi jalan tidak terputus. Tapi hanya terlimpas air sehingga untuk sementara jalur darat dari Banjarmasin menuju Batulicin terhambat,” ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Kasubdin Bina Pengembangan Sarana dan Transportasi Dinas Kimraswil Kalsel Martinus menambahkan, tergenangnya sejumlah titik pada Trans Kalimantan tersebut menyebabkan terganggunya proyek jalan Kintab-Sebamban yang dalam tahap pengerasan. “Kalau toh nantinya ada kerusakan akan segera kami perbaiki. Tentu saja perbaikan akan dilakukan setelah genangan air surut,” terang Martinus.

Ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat limpasan air tapi dalam tahap pengerjaan, paparnya, akan dihitung ulang berapa persen yang sudah dikerjakan. “Lalu dievaluasi dan dikerjakan lagi,” terangnya lagi.

Dijelaskan Martinus, sebenarnya kawasan yang tergenang merupakan langganan banjir setiap tahunnya, namun kali ini cukup parah dengan ketinggian air antara 1 sampai 2 meter.

Untuk jangka panjang, lanjutnya, akan dilakukan kajian teknis secara komprehensif apakah perlu melebarkan jalan air atau pola lain. “Pada prinsipnya upaya-upaya mengantisipasi limpasan air sudah dilakukan seperti melebarkan aliran sungai di bawah jembatan yang dulunya 12 meter menjadi 30 meter,” terang Martinus.

Menurut Martinus, solusi yang paling efektif meminimalisir ketinggian limpasan air adalah dengan melebarkan aliran sungai. Karena kalau badan jalan ditinggikan hanya buang-buang biaya sebab sifat air akan mengikuti setara dengan tingginya badan jalan.

Secara terpisah, Kabid Linmas Badan Kesbanglinmas Kalsel M Ariffin mengungkap laporan yang diterima sampai pukul 11.00 Wita kemarin, 5 dari 7 penumpang yang hanyut terbawa arus pada Senin (25/8) lalu sudah ditemukan dalam keadaan selamat. “Sementara yang 2 orang lainnya masih dalam pencarian,” terang Ariffin.

Ia menambahkan sampai kemarin ketinggian air antara 1 sampai 2 meter, dan Satkorlak PB Kalsel sudah mengirim bantuan perahu karet dan mendirikan dapur umum.(sga)

Dua Orang Hilang Terseret Arus Banjir Asam-Asam Hanyutkan Innova

Rabu, 27 Agustus 2008
PELAIHARI - Banjir yang melanda Desa Asam-Asam Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut sejak Senin (25/8) sore mulai menelan korban. Dua unit mobil hanyut dan dua orang penumpang masih belum diketahui nasibnya.

Kedua mobil itu adalah pikap Panther mengangkut tiga unit sepeda motor, dan Kijang Innova bernomor polisi DA 7883 PA. "Dua kendaraan itu hanyut saat menerobos banjir di Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong. Kedua kendaraan itu nekat menyeberang dalam kondisi arus deras," sebut Suratno Petugas Satlak PB Tala, Selasa (26/8)

Dirincikannya, pikap Panther terbalik Senin malam waktu Isya bersamaan dengan sebuah grobak di depannya yang mengangkut sebuah sepeda motor. Sedangkan Kijang Innova terbalik pukul 21.15 Wita.

Kapolres Tala AKBP Dadik Soesetyo melalui Kapolsek Jorong AKP Danang S Sik mengatakan, di antara 7 penumpang Kijang Innova, dua di antaranya hilang dan hingga tad malam masih belum ditemukan. Sementara lima orang lainnya selamat, termasuk sopir Sukri (50). Selain itu, dua orang yang ada di mobil pikap Panther juga selamat.

"Mereka selamat karena berpegangan di pohon di daerah banjir tersebut. Sedangkan ini dua orang yang hilang masih dalam pencarian," terangnya.

Pagi kemarin, Tim SAR dari Banjarmasin, Satkorlak PB terus melakukan pencarian. Menggunakan dua perahu karet, mereka menyisir di sekitar lokasi hanyutnya mobil. Namun setelah beberapa jam, kedua korban belum ditemukan.

Dari pantauan koran ini Selasa (26/8) kemarin, warga berhasil menemukan dan menarik keluar Kijang Innova dari jeratan arus air. Cat luar mobil lecet, dan bumpernya mengalami kerusakan akibat tergerus aspal jalan dan pohon.

Sedangkan pikap Panther hingga pukul 11 siang belum berhasil dikeluarkan. Warga hanya bisa mengikatkan sebuah tambang di mobil. Pikap Panther itu hanya terlihat salah satu bannya saja. Meski warga beramai-ramai menarik mobil agar bisa keluar, namun arus yang deras menyulitkan usaha itu. Sampai akhirnya Kapolsek Jorong AKP Danang menginstruksikan penghentian upaya menarik mobil pikap tersebut.

Lantaran arus lalu lintas terputus total, mobil pengendara lain tidak bisa lewat. Bahkan terjadi antrean panjang hingga 4 kilometer dari lokasi. Konsentrasi warga pun berubah. Mereka tidak lagi menarik mobil hanyut. Puluhan warga beralih memandu mobil agar bisa lewat di genangan air yang mencapai lutut orang dewasa itu. Titik ini berada di Jalan A Yani Km 165. (berita terkait halaman 10)

Di lokasi itu, ada dua titik genangan yang dipisahkan jembatan. Satu titik terparah tidak bisa dilewati kendaraan roda dua. Ketinggian air mencapai 50 centimeter, dengan arus yang cukup deras. Ditambah terkoyaknya sejumlah aspal, semakin mempersulit medan yang dilalui. Di titik itulah, dua mobil hanyut.

Kapolres Tanah Laut AKBP Drs Dadik S yang terlihat berada di lokasi tampak sibuk mengerahkan personelnya dari gabungan Polres Tala dan Polsek Jorong guna membantu kelancaran lalu lintas.

Dengan bantuan warga serta koordinasi pihak kepolisian, satu per satu mobil berhasil diseberangkan. Sementara untuk menghadapi antrean kendaraan, pihak Dishub Tala juga ikut mengendalikan.

Sekira pukul 12.00, arus lalulintas mulai lancar. Satu per satu mobil melintas. Sedangkan roda dua diangkut dengan klotok dibantu warga. Dengan kelancaran ini sejumlah pengendara mengaku lega. Pasalnya, akibat antrean panjang tersebut, ratusan pengendara terlantar di jalan, hampir satu hari satu malam, mulai Senin sore. Seperti Jamri warga Banjarmasin yang mengaku antre di jalan mulai pukul 17 sore Senin hingga Selasa.

“Bahkan puluhan orang sempat bermalam di Kantor Desa Asam-Asam,” tambah Abdul Muhid, salah seorang aparat Desa Asam-Asam.(mr-90)

Jalan Provinsi Terputus Sebamban Lama dan Sebamban Baru Banjir

Rabu, 27 Agustus 2008
BATULICIN - Jalan Provinsi di Desa Sebamban Lama dan Baru, Kecamatan Sungai Loban, digenangi air. Akibatnya, jalur transfortasi yang menghubungkan Banjarmasin-Batulicin, terputus. Puluhan armada angkutan terpaksa ngantri sejak Senin (25/8), pagi hingga sore harinya. Mereka tak dapat lewat hingga menunggu air surut. Baru sekitar pukul 20.00 Wita hingga siang kemarin, jalan bisa dilalui itupun harus dengan hati-hati. Sementara itu, bagi pengendara sepeda motor terpaksa menggunakan jasa kelotok untuk menyeberang.

Menurut keterangan Camat Sungai Loban, Nanang Suwignyo, banjir terjadi sejak Senin (25/8) pagi. Akibat banjir itu, ujar dia, sebanyak 30 rumah warga Desa Sebamban Lama dan Baru tergenang air. Untuk sementara menunggu air surut, para pemiliknya terpaksa mengungsi ke tempat keluarga maupun ke dataran yang lebih tinggi.

Dari pantauan koran ini sendiri, banjir yang terjadi hampir sama dengan tahun 2006 lalu. Rumah dipinggiran sungai juga ikut tergenang air. Di kawasan itu membentuk sebuah danau akibat air yang meluap. Air diperkirakan berasal dari daerah pegunungan hingga membawa air bah yang sangat banyak.

Sampai siang kemarin, Tim Satkorlak dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan personel dari Badan Kesbanglinpemmas turun ke lapangan. Selain memberikan bantuan bahan makanan dan air mineral, mereka juga membantu evakuasi warga yang hendak menyeberang dengan menurunkan satu unit speed boat. Mereka juga dibantu personel dari Polsek Sungai Loban dan kecamatan setempat. Bahkan, Camat Sungai Loban Nanang Suwignyo juga turun langsung ke lokasi banjir. (kry)

Banjir Lumpuhkan Aktivitas warga

Selasa, 26 Agustus 2008
PELAIHARI – Hujan deras semenjak Minggu (24/8) pagi hingga Senin (25/8), akhirnya melumpuhkan kegiatan warga desa Gunung Mas Kecamatan Batu Ampar dan sekitarnya.

Ada tiga ruas jalan utama yang tidak dapat dilewati, karena terendam air, yang dalamnya mencapai hingga 1,5 meter.

Jalan di Desa Gunung Mas merupakan salah satu ruas utama menuju Kecamatan Batu Ampar. Macetnya jalan di desa ini menyebabkan banyak warga yang terhambat. Baik masuk maupun keluar dari Kantor Kecamatan.

“Banjir ini pertama kali terjadi, sebelumnya tidak pernah ada banjir sampai sedalam ini,” sebut Darno Ketua RT 6, saat meninjau Lokasi Banjir di salah satu ruas jalan.

Selain, warga, pihak sekolah pun terkena imbasnya . Seperti SMAN Batu Ampar, yang terpaksa meliburkan siswanya. Sebagian siswa yang sempat tiba di sekolah, akhirnya kembali pulang ke rumah.

Mereka rata-rata berdomisili di sekitar sekolah. “Kami dekat aja dari sekolah. Kalau yang jauh, belum ada yang datang,” tutur seorang siswi yang berjalan pulang menuju rumahnya.

Selain Gunung Mas, desa–desa yang masih di kecamatan Batu Ampar juga tergenang banjir parah. Desa Durian Bungkuk, misalnya. Dari laporan warga, jalan-jalan utama di desa itu tidak dapat dilalui, sehingga harus dilintasi dengan perahu karet.

Kondisi serupa juga dialami Desa Jilatan. Bahkan panjang genangan mencapai hingga 500 meter. Mobil yang memiliki bodi rendah cukup kesulitan melintas di kawasan yang tergenang banjir tersebut

Jalan raya Trans Kalimantan di desa tersebut terluapi air bah hingga 50 centimeter, arus lalu lintas pun terganggu karena harus lewat bergantian. Beberapa rumah warga juga kebanjiran.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada korban jiwa, namun warung sembako milik Mardikansyah yang juga Ketua RT 2 habis disapu air bah.

"Mardikansyah tidak sempat memgamankan hartanya karena saat air naik pada pukul 01.30 Wita ia sudah tidur," ujar Kepala Desa Jilatan, Anang Hamli, Senin (25/8).

Selain Jilatan, Jalan Trans Kalimantan arah Pelaihari-Kintap yang juga terendam hingga setinggi satu meter siang kemarin, ada tiga titik . Yakni Desa Tajau Pecah, Jorong dan Asam Asam.

Di kota Pelaihari sendiri , rumah warga di Pintu Air kembali kebanjiran. Data dari Kesbang, tercatat sekitar 200 KK yang terendam. Selama ini, Sungai Kandangan yang melintasi titik tersebut, selalu menjadi langganan banjir ketika hujan berlangsung lama.

Hal itu disebabkan dangkalnya sungai, sehingga arus air tersendat alias tidak lancar. Apalagi di beberapa titik, banyak sampah dan ada belasan rumah yang persis berada di atas sungai, yang menyebabkan air kian lamban mengalir. (mr-90)

Monday, August 25, 2008

Mobil Masih Tertahan di Sei Loban

Selasa, 26-08-2008 | 10:51:17

BATULICIN, BPOST - Ratusan kendaraan bermotor dari Kota Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu)  tujuan kota Banjarmasin, Kalsel masih tertahan di kawasan Sebamban Kampung Kecamatan Sungai Loban Tanah Bumbu.

Informasi terhimpun hingga saat ini Selasa (26/8), air masih menggenang di badan jalan dengan arus yang deras. Karena takut celaka, para sopir mobil truk, mobil pribadi dan pengendara lainnya memilih bertahan sambil menunggu air reda.

Lihat Komentar (0)

Air Begitu Cepat Datangnya

Selasa, 26-08-2008 | 11:17:09

PELAIHARI, BPOST - Banjir yang datang mendadak di Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalsel membawa cerita tersediri bagi Nawawi, warga Desa Asam Asam Kecamatan Jorong.

Menurut lelaki setengah baya ini, air bah datang begitu cepat pukul 22.00 Wita malam tadi. "Akibatnya rumah saya yang ada RT20 malam tadi tergenang air setinggi pinggang," ceritanya kepada BPost Online.

Beruntung, papar Nawawi, keluarga dan harta bendanya tidak hilang disapu air, meski semuanya selamat namun pakaian dan prabotan rumah tangga basah semua.

Sekarang, ucap dia, air mulai susut dan tinggal 15 centimeter saja. "Banyak anak yang tidak bisa sekolah, termasuk anak saya, karena baju seragam basah semua. Tapi gedung SDN di Asam Asam sendiri aman karena berada di tempat yang tinggi," ucah Nawawi, tadi.

Di Asam Asam Juga Sulit Dilewati

Selasa, 26-08-2008 | 11:35:17

PELAIHARI, BPOST - Tidak hanya di Desa Sebamban Kampung Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu, mobil dan kendaraan yang sulit melintas, tapi di Desa Asam Asam Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut juga sama.

Menurut penuturan warga yang baru tiba dari Asam Asam, arus lalu lintas d Jalan Trans Kalimantan Asam Asam masih tersendat. Panjangnya antrean mobil mencpai kurang 1 kilomater

Ada dua titik genangan dengan jarak berdekatan, total panjang genangan 250 meter Mobil besar seperti truk masih bisa lewat, taksi L300 juga bisa meski dipandu warga.

"Sementara sepeda motor harus menggunakan jasa grobak atau klotok dengan tarif Rp25 ribu per buah," jelas Nawawi, warga Desa Asam Asam Kecamatan Jorong, Selasa (26/8).

Kendaraan Menumpuk di Asam Asam

Selasa, 26-08-2008 | 13:46:28

PELAIHARI, BPOST - Pantauan di lokasi banjir di Kabupaten Tanah Laut (Tala) jalur Trans Kalimantan di Desa Asam Asam Kecamatan Jorong sampai saat ini arus tranfortasi masih macet dan kendaraan terlihat menumpuk.

Menurut pantauan BPost Online siang ini, akibat keadaan itu antrean mobil mencapai 1 kilometer lebih, mobil pun harus bergantian melewati genangan banjir. "Gerankan mobil seperti semut sangat pelan, sementara bahu jalan berubah menjadi kubangan lumpur," kata salah seorang aparat Desa Asam Asam, Selasa (26/8).

Banjir di Kalsel Hanyutkan Dua Mobil, Dua Warga Hilang

Selasa, 26 Agustus 2008 | 07:50 WIB

Laporan Wartawan Kompas M Syaifullah

BALIKPAPAN, SELASA - Banjir yang melanda dua kabupaten di Kalimantan Selatan, yakni Kabupaten Tanahlaut dan Tanahbumbu tidak hanya merendam ratusan rumah warga dan melumpuhkan aktivitas transportasi darat jalan transKalimantan, juga menghanyutkan sejumlah warga.

Suratno, Petugas Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Tanahlaut yang dihubungi, Selasa (26/8) mengatakan, ada dua mobil, yakni mobil pickup Panther mengangkut tiga motor dan mobil kijang innova dengan nomor kendaraan DA 7883 PA yang hanyut terbawa arus pada Senin malam sekitar pukul 21.00. "Dua kendaraan itu hanyut saat menerobos banjir di Desa Asam-asam, Kecamatan Jorong. Kedua kendaraan itu nekad menyeberang dalam kondisi arus deras," katanya.

Pada kendaraan innova, jelasnya, ada tujuh orang, termasuk sopir bernama Supri (50). Saat terbawa arus, lima orang berhasil diselamatkan warga dengan menggunakan parahu klotok dan dua orang hilang. "Mereka berhasil selamat karena bisa bertahan pada beberada pohon di daerah banjir tersebut. Sampai saat ini masih dalam pencarian," katanya.

Sementara Sadikun, petugas Kepolisian Sektor Jorong yang ikut bergabung dalam bersama warga mencari dua warga yang hilang tersebut, mengatakan, dua orang yang ada di mobil pickup Panther juga selamat. "Saat ini daerah jalan yang tergenang banjir sudah mulai bisa dilewati namun harus pelan-pelan. Itupun baru kendaraan besar seperti truk, bis dan kendaraan lainnya," katanya.

Jalur Banjarmasin-Batulicin Putus

Selasa, 26-08-2008 | 01:20:50

• Ratusan Rumah Terendam Banjir

BATULICIN, BPOST - Nurudin begitu perkasa membopong tiga anaknya melintasi banjir. Dia tak lagi peduli dengan hartanya yang terendam. Baginya, menyelamatkan keluarga lebih penting.

Warga Desa Sebamban Kampung, Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu itu harus meninggalkan rumahnya. Hujan yang mengguyur sejak Jumat (22/8) hampir menenggelamkan kampungnya. Ketinggian air mencapai dua meter lebih.
“Kami takut di rumah. Makanya semua keluarga kami boyong ke tempat yang aman dulu. Yang penting selamat,” kata Nurudin begitu sampai di daerah yang lebih tinggi.
Bukan hanya warga Sebamban Kampung yang sibuk mengungsi.
Warga Desa Sekapuk Kecamatan Angsana, pun panik. Air deras masuk ke rumah, sehingga para penghuni memilih menyelamatkan diri.
Selain deras, ketinggian air bertambah. Dari yang semula hanya setinggi lutut orang dewasa, air terus naik hingga dua meter lebih. Bahkan beberapa rumah penduduk yang berada di dataran rendah, tenggelam.
Hingga malam tadi, data resmi rumah penduduk yang terendam belum diketahui. Hanya saja, rumah sepanjang jalan mulai Desa Sebamban Kampung hingga Desa Sekapuk yang jaraknya sekitar enam kilometer terendam air.
Untuk sementara, pengungsi ditampung warga yang rumahnya berada di dataran tinggi. Belum ada bantuan datang, baik logistik maupun tenda.
Jalur Banjarmasin-Batulicin pun tak luput dari derasnya banjir. Meski ketinggian air di jalan provinsi itu masih bisa dilewati mobil, namun derasnya aliran air membuat para sopir takut melintas. Banyak yang balik kanan. Namun tak sedikit juga yang memilih bertahan menunggu air surut.
“Saya kembali ke Banjarmasin saja. Kalau nekat menerobos arus takut tergelincir nantinya,” kata seorang sopir ekspedisi, Didi yang terpaksa belok kanan di Sungai Danau.
Mobil dari Banjarmasin menuju Batulicin tertahan di Jorong, Asam Asam dan Sungai Danau. Sedang yang dari arah sebaliknya, Batulicin-Banjarmasin, tertahan di Desa Sebamban Kampung.
Berdasar pantauan BPost, antrean mobil di Desa Sebamban Kampung begitu panjang mencapai ratusan meter. Mereka yang memilih bertahan mengaku menunggu air surut.
“Mau nekat menerobos banjir takut mobil terguling. Kalau menunggu surut, tidak jelas sampai kapan. Kasihan juga para penumpang. Kami bingung,” kata seorang sopir angkutan Banjarmasin-Batulicin PP.
Sementara itu jalur Trans Kalimantan arah Pelaihari-Kintap terutama di empat titik yaitu di Tajau Pecah, Jilatan, Jorong, dan Asam Asam juga putus. Terparah di Desa Jilatan. Namun malam tadi air mulai surut.(coi/roy)

Banjir Terbesar di Tanah Laut

Selasa, 26-08-2008 | 01:20:44

BANJIR juga melanda Kabupaten Tanah Laut. Sejumlah sungai meluap. Permukiman warga dan fasilitas umum pun terendam. Sejumlah sekolah terpaksa meliburkan muridnya.

Di SDN Jilatan Kecamatan Batu Ampar, misalnya, kegiatan belajar-mengajar tak bisa dilaksanakan lantaran jalan utama menuju sekolah terendam banjir setinggi satu meter. .
Dua sekolah lainnya di wilayah Kecamatan Batu Ampar, SMP Durian Bungkuk dan SMA Batu Ampar juga tak bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sebagian siswa dan guru tak bisa menjangkau sekolah karena jalan menuju sekolah kebanjiran.   
“Ya apa boleh buat, sekolah terpaksa saya liburkan. Anak-anak tak bisa menjangkau sekolah, karena genangan air di jalan terlalu tinggi. Saya sendiri juga tak bisa menjangkau sekolah,” kata Kepala SDN Jilatan, Suparni. SDN Jilatan terletak kurang lebih 300 meter dari jalan raya Trans Kalimantan arah Pelaihari-Kintap.
Jalan raya Trans Kalimantan di Jilatan juga terendam hingga ketinggian satu meter, termasuk rumah warga yang ada di sekitarnya. Penuturan Kades Jilatan Anang Hamli, jumlah rumah warganya yang kebanjiran 57 buah.
“Tak ada korban jiwa. Tapi, sebuah kios sembako ludes seluruh barangnya terendam air. Pemiliknya tak sempat menyelamatkan barang karena saat air naik pukul 01.00 Wita, pemiliknya tertidur,” beber Anang.
Anang mengatakan, banjir kali ini adalah yang terbesar. Pasalnya genangan air di jalan raya menjamah hingga di sebelah jembatan di sekitar rumahnya. Padahal biasanya banjir tak sampai jembatan.
Banjir juga melanda beberapa desa di Kecamatan Batu Ampar yaitu Desa Gunung Mas, Durian Bungkuk, dan Pantai Linuh. Jumlah yang kebanjiran tidak terlalu banyak. Desa Jorong di Kecamatan Jorong juga kebanjiran di empat RT.
“Sebagian warga mengungsi ke Langgar Taufiqurrahman,” beber Kadus 3 Desa Jorong Asnain saat dihubungi BPost melalu sambungan telepon.
Wilayah Kota Pelaihari pun tak luput dari banjir. Seperti biasa, permukiman padat penduduk Pintu Air kembali kebanjiran. Data pada Badan Kesbang dan Linmas banjir di Pintu Air adalah yang paling parah dengan jumlah rumah yang terendam 200 buah, dengan ketinggian genangan 1-1,5 meter.
Namun sebagian warganya tetap bertahan di rumah, karena mereka memiliki rumah tingkat dan umumnya memiliki loteng darurat. “Air mulai naik pukul 21.00 Wita. Sempat turun, tapi naik lagi waktu Subuh karena hujan lebat turun lagi. Di dalam rumah saya, air sampai dada. Saya dan keluarga masih bertahan di loteng rumah,” beber Abuy, warga RT 24 Pintu Air.
Abuy yang sehari-hari berjualan kue mengaku masih bisa memasak di loteng. Biar banjir kami tetap harus jualan, kalau tidak mau makan apa?,”

Wednesday, August 20, 2008

Jalan Jati Baru Longsor

Rabu, 20-08-2008 | 00:30:19

MARTAPURA, BPOST - Ruas jalan yang menghubungkan Desa Astambul Kota dan Jati Baru, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar dalam setahun terakhir sering mengalami kerusakan pada bagian tepi. Ini disebabkan gerusan air sungai yang membuat tepi jalan itu longsor. Sungai Astambul di desa itu tiap musim hujan seringkali meluap hingga merendam badan jalan. Tak terkecuali dengan banjir pada Maret kemarin yang menyebabkan sungai meluap dan merendam badan jalan desa setempat selama tiga hari lebih.

Pantauan, Senin (18/8) kerusakan pada ruas jalan itu sudah cukup parah. Hampir separo badan jalan ambrol akibat terkikis air sungai di tepi jalan itu.

Longsornya tepi jalan utama kedua desa itu kini mengancam sebuah tiang listrik di sekitarnya. Bila dibiarkan terus berlangsung, kemungkinan tiang listrik dari besi itu akan roboh karena tanahnya terkikis air sungai.

Menurut salah seorang warga Desa Jati Baru, longsornya tepi jalan itu mengganggu warga pengguna jalan, terutama saat melintas malam. Pemkab Banjar, sebelumnya berencana mengalihkan jalan itu agar tidak tepat di tepi jalan. Namun, rencana sejak 2007 lalu itu belum ada realisasi.

Kasubdin Sarana Jalan dan Jembatan Dinas Kimpraswil Banjar, M Hilman, Selasa (19/8) mengatakan, rencananya pemkab mengalihkan sepanjang 200 meter jalan yang rusak itu sehingga tidak lagi melewati tepi sungai.

Namun pada tahun itu tidak bisa dilaksanakan karena terkendala pembebasan lahan. Saat ini, papar Hilman, pembebasan lahan telah selesai. Tapi pada APBD murni kemarin tidak dianggarkan sehingga belum ada perbaikan.

"Rencananya kita akan usulkan di APBD Perubahan nanti. Mudah-mudahan anggaran bisa disetujui dan bisa segera dilakukan perbaikan," harapnya. (ofy)

Monday, August 18, 2008

Kondisi Gunung Jambangan Dan Semiran Memprihatinkan

 

12 August, 2008 07:07:00

KOTABARU - Kondisi Gunung Jambangan dan Semiran hingga saat ini semakin memprihatinkan, selain hutannya gundul akibat perambahan kawasan hutan lindung beberapa tahun lalu.

Informasi dihimpun, Selasa kerusakan juga disebabkan tanah longsor beberapa akibat hujan deras yang mengguyur Kotabaru dan sekitarnya.

Puluhan hektare kawasan hutan Semiran dan Jambangan yang menjadi lambang Kotabaru tersebut kini terlihat menjadi lahan pertaanian untuk ditanami padi gogo dan palawija. Bahkan di sejumlah titik di Gunung Jambangan, terlihat longsor akibat curah hujan yang tinggi beberapa waktu lalu.

Kendati tidak ditemukan korban jiwa, ribuan meter kubik matrial yang berupa tanah merah bercampur batu dari kaki gunung Jambangan dapat membahayakan warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.

Dari kejauhan ada sejumlah titik di gunung itu mulai terlihat longsor, kata sejumlah warga Desa Sungai Pasir, dan yang tinggal di dekat wilayah Gunung Jambangan.

Menurut pengakuan Riadi dan sejumlah warga setempat, penyebap gundulnya Gunung Jambangan dan Semiran, akibat perambahan hutan beberapa tahun lalu oleh warga dari luar wilayah Pulau Laut Tengah, terutama dari wilayah kota Kotabaru. Mereka sengaja membuka kawasan tersebut untuk dijadikan areal pertanian.

"Kalau warga di sini tidak berani pak merambah hutan itu, karena dulu pernah terjadi sekali kemudian mereka dipanggil oleh instansi terkait, dan sekarang masyarakat semuanya takut, terkecuali orang kota. Namun perambahan itu sudah beberapa tahun ini agak sepi," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kotabaru, Hasbi M Thawab, mengaku hingga saat ini pihaknya masih belum memiliki program untuk pemulihan kawasan di Gunung Jambangan.

"Semua program yang kita laksanakan telah terencana, untuk memperbaiki kawasan tersebut kita perlu rencanakan terlebih dahulu," katanya.ant/elo

Thursday, August 14, 2008

Banjir Masih Ancam Kalsel

Kamis, 14-08-2008 | 00:30:31

BANJARBARU, BPOST - Bencana banjir di Kalimantan Selatan tergolong parah. Dua tahun terakhir, tidak ada kawasan di provinsi ini yang terbebas dari banjir. Pemicunya, selain perubahan iklim juga semakin kritisnya kondisi lahan.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Barito, Eko Kuncoro, saat kegiatan kunjungan jurnalistik yang diikuti media nasional dan lokal serta pusat informasi kehutanan di Banjarbaru, Selasa (12/8) mengungkapkan dari peta DAS yang menyebar di 13 kabupaten/kota se-Kalsel, nyaris tidak ada yang terbebas dari banjir.

"Menurut saya banjir di Kalsel ini parah. Dari identifikasi BPDAS lokasi banjir sejak 2006 sampai 2007 hampir semua daerah di Kalsel banjir. Ini karena lahannya kritis, ditambah lagi curah hujan yang tinggi," kata Eko.

Menurut Eko, lahan kritis dan banjir sangat berhubungan erat. Dari luas Kalsel 3,7 juta hektare, hanya 596 ribu hektare yang tidak kritis. Selebihnya, lahan yang ada di Kalsel memegang predikat mulai potensial kritis sampai sangat kritis.

Fakta penutup lahan di hulu yang sudah habis, tak dapat dipungkiri karena ada kegiatan lain di luar kehutanan seperti maraknya pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang saat ini sedang tren. Tidak ada tutupan lahan yang dapat menahan laju air ke dataran rendah karena hutan sudah gundul.

Karena itu, direkomendasikan upaya pencegahan banjir sejak dini dengan kegiatan reboisasi. Pemerintah pusat hingga daerah melakukan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GRNHL/Gerhan) yang saat ini diprioritaskan pada lahan yang super kritis.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel H Suhardi menambahkan penanaman di lahan sangat kritis diharapkan mengatasi kerawanan banjir ataupun longsor, sekaligus memperbaiki lahan dengan kegiatan penghijauan.

Data di Pusinfo Kehutanan Departemen Kehutanan, program Gerhan di Kalsel menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Program yang dilakukan sejak 2003 sampai 2007, ada 81,3 persen dengan rencana 53.365 hektare dan terealisasi 43,394 hektare. (niz)

Wednesday, August 13, 2008

Kesadaran Terhadap Kebersihan Rendah

08 August, 2008 10:09:00

BANJARMASIN - Kesadaran masyarakat Banjarmasin terhadap kebersihan lingkungan dinilai masih rendah, karena puluhan ton sampah dibuang sembarangan.

Hal ini diungkapkan Drs H Sayiddin Noor, Kepala Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Sampah (Lasam) Kota Banjarmasin, Jum'at (8/8).

Dijelaskannya, lemahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan kali ini, dapat dilihat dari volume sampah yang dibuang masyarakat hingga sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), hanya sekitar sepertiga dari keseluruhan sampah yang dihasilkan oleh penduduk kota ini.

Jumlah ini berdasarkan hintungan standar nasional yang telah ditetapkan, yakni berdasarkan jumlah penduduk kota ini, yang menghasilkan sampah perorangan sekitar 1,5 hingga 2 liter per harinya.

Melalui perhitungan tersebut, Dinas Kebersihan dan Lasam Kota Banjarmasin menyimpulkan, bahwa sampah yang dihasilkan kota ini per harinya sekitar 450 ton, sedangkan yang sampai ke TPA hanya sekitar 150 ton.

"Sejauh ini sisa sampah yang mencapai 300 ton tersebut, kebanyakan dibuang masyarakat ke sungai dan tempat lain, sementara sebagian sudah ada yang mengolahnya untuk dijadikan pupuk atau hal lainnya," jelasnya.

Untuk itu, pihaknya mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan melalui lomba kebersihan tingkat RT agar menyadari pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Ia menilai, sejauh ini masyarakat menganggap kebersihan adalah tugas dari pemerintah saja, padahal kebersihan merupakan kewajiban semua lapisan masyarakat.

Adapun upaya lain guna menyadarkan masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, Dinas Kebersihan dan Lasam kota Banjarmasin juga mengupayakan Peraturan Daerah (Perda) pendukung yang mengacu pada PP dan Undang-Undang dengan sanksi yang tegas bagi yang melanggar.

Hal ini akan diberlakukan di kota ini pada 2009 mendatang, karena sampai sejauh ini Perda kebersihan masih mengalami revisi yakni Perda No 4 tahun 2000. Dan tidak tanggung-tanggung, bukan hanya masyarakat yang hanya bisa dikenakan sanksi, tetapi juga para pengusaha.

PP serta undang-undang tentang persampahan di negara ini bukan hanya ditetapkan oleh Pemko Banjarmasin, tetapi telah disetujui oleh Presiden RI dengan telah ditandatanganinya Undang-Undang kebersihan serta persampahan, 7 Mei 2008 kemarin.

"Bukan ingin menakut-nakuti masyarkat atau pengusaha, bagi yang melanggar aturan ini nantinya, masyarakat atupun pengusaha bisa dikenakan hukuman pidana kurungan selama 6 bulan atau denda sebesar Rp3 milyar," jelasnya. mad/mb05

Penanganan Kasus Cagar Alam 'Melemah'

11 August, 2008 05:54:00

BANJARMASIN - Kekhawatiran pemerhati lingkungan kalau penanganan kasus penyerobotan kawasan cagar alam di Desa Tarjun Kecamatan Kelumpang Hilir Kabupaten Kotabaru bakal bernasib sama seperti kasus-kasus sejenis, sedikit ada benarnya.

Bahkan, penanganan kasus terkesan 'melemah'. Selain belum ada tersangkanya, ternyata pihak penyidik sendiri menjelaskan kalau kawasan cagar alam yang rusak diduga bukan disebabkan aktivitas PT Smart.

Padahal, sebelumnya, Polres Kotabaru dengan semangat '45' melakukan penyelidikan dan penyidikan atas rusaknya sebagian kawasan cagar alam yang diduga dilakukan PT Smart, sebuah perusahaan kepala sawit.

"Memang, dari hasil pemetaan yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alama (BKSDA), kawasan yang rusak masih masuk kawasan cagar alam yang dikuasai PT Smart," ujar Kapolres Kotabaru Saidal Mursalin melalui Kasat Reskrim-nya AKP Suhasto, Senin (11/8).

Hanya saja, lanjutnya, dari informasi yang diperoleh penyidik, kerusakan lingkungan di bagian kawasan cagar alam itu, disebabkan oknum tertentu yang sengaja membuat tambak. "Jadi, kawasan cagar alam yang rusak, awalnya dibuat tambak oleh oknum tertentu," tukasnya.

Meski mengindikasikan yang membuat tambak bukanlah PT Smart, namun penyidik masih melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap petinggi PT Smart.

"Hari ini kita memanggil seorang petinggi PT Smart untuk diminta keterangan," jelasnya. Namun, Suhasto menjadi ragu dan menolak menyebutkan nama petinggi PT Smart yang dipanggil pihaknya itu. "Nanti sajalah," ucapnya seraya memelas. Mata Banua pun tidak mengetahui siapa petinggi PT Smart yang dimasksud Suhasto.

Dikatakannya, kasus yang ditangani bukanlah perambahan, karena diduga, di kawasan itu tidak ada pohonnya. "Nah, kalau perambahan, berarti di atasnya ada pohon-pohon yang kemudian ditebang secara ilegal," imbuhnya.

Hingga sekarang, kasus dugaan perambahan kawasan cagar alam di Tarjun, masih belum jelas, karena belum ada tersangkanya. Namun, diharapkan, penyidik Polres Kotabaru yang didukung Polda Kalsel, serius menangani kasus ini, sehingga tidak mengulang 'cerita lama'.

Jumat (8/8), Ketua LSM Poros Indonesia, Rahmat mengatakan, aktivis lingkungan hidup tentunya sangat berharap, aparat kepolisian bisa membongkar kasus-kasus dugaan pencemaran atau pengrusakan lingkungan hidup, apalagi yang sudah dilindungi UU seperti cagar alam.

Dikatakan, segenap pihak yang berkaitan dengan pilar hukum, supaya memberi sokongan terhadap penegakan hukum terhadap pelanggar UU 23/1997 tentang Lingkungan Hidup (LH). Pasalnya, hanya sedikit atau hampir tak pernah terjadi kasus LH sampai ke pengadilan.

Rahmat menambahkan, dirinya sangat berharap, penyidik tidak mengulang 'cerita lama', di mana kasus dugaan pengalihfungsian lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kecamatan Padang Batung dan Sungai Raya HSS untuk pertambangan batubara, sejak akhir 2005 lalu hingga kini disinyalir tidak jelas ujungnya.

Padahal, lanjutnya, Brigjen Pol Bambang Hendarso Danuri (sekarang Kabareskrim Mabes Polri dengan pangkat Komjen Pol) yang memuncaki Polda Kalsel telah menjanjikan akan mengusut tuntas kasus tersebut. adi/mb05