Sunday, December 30, 2007

”Antisipasi Banjir Sejak Dini” Jamhari: Keruk Sungai Astambul

Selasa, 27 November 2007
Radar Banjarmasin

MARTAPURA– Pemkab Banjar diingatkan untuk sedini mungkin mengantispasi datangnya banjir di tahun 2008 mendatang. Apalagi di sebagian daerah Kalsel banjir sudah melanda. Seperti di Kabupaten Balangan.

“Jika melihat kondisi alam, memang banjir tidak akan melanda daerah kita dalam waktu dekat ini. Tetapi melihat pengalaman yang sudah-sudah, tidak berlebihan jika antispasi sudah dilakukan sejak dini,” imbau Wakil Ketua Komisi IV H Jamhari, kemarin.

Menurut dia, selain sarana dan prasarana umum banyak yang rentan bencana banjir, areal pertanian juga tak kalah rentannya. Seperti Kecamatan Astambul, sebagian Martapura Kota, Martapura Timur dan Barat selalu menjadi daerah langganan banjir.

“Untuk areal pertanian, Jamhari menggarasibawahi antisipasi yang sangat penting dilakukan oleh pemerintah adalah ketersediaan bibit tanaman padi,” katanya.

Pun demikian, Jamhari menegaskan, untuk mengatasi persoalan tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja. Tanpa kesadaran dan peran aktif masyarakat, semua penanganan yang dilakukan tidak bakal berjalan maksimal.

“Paling gampang peran aktif masyarakat adalah menjaga saluran-saluran air tetap normal. Jangan lah membuang sampah sembarangan di tempat-tempat aliran sungai. Iya ‘kan sungai-sungai penting di Kabupaten Banjar saat ini banyak yang mengalami kedangkalan,” katanya.

Makanya, tambah politikus PKS Kabupaten Banjar ini, tanpa kepedulian yang baik dari masyarakat, persoalan banjir ini tidak bakal bisa diatasi dengan baik.

Lebih jauh Jamhari mengungkapkan, sungai-sungai yang saat ini kondisinya mengalami pendangkalan parah antara lain Sungai Astambul yang mengalir ke arah desa Kelampaian.

“Lihat saja di muara Sungai Astambul yang mengalir ke Sungai Tuan. Kalau pernah menyaksikan kondisi sungai itu pada tahun 1980-an lalu, baik kedalaman maupun lebar sungai sudah jauh lebih dangkal dan sempit. Nah, dengan kondisi aliran sungai seperti itu, sangat wajar jika air hujan tidak bisa tertampung dengan baik dan akhirnya meluap ke areal persawahan,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah itu, Jamhuri menyarankan untuk melakukan pengerukan dasar sungai. Atau bisa juga dengan melakukan normalisasi sungai.

Sekadar diketahui, sungai tersebut mengaliri ribuan hektare areal persawahan. Seperti di Desa Kelampaian, Sungai Tuang, Sungai Putat, Limamar, Akar Baru, Munggu Raya sebagian Kampung Melayu dan banyak daerah pertanian lainnya lagi.(yan)

Semua Kabupaten Berpotensi Banjir Satlak PBP Diminta Siaga

Sabtu, 24 November 2007
Radar Banjarmasin

BANJARMASIN – Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) diimbau meningkatkan kewaspadaan pada 4 bulan ke depan (Desember 2007 sampai Maret 2008 mendatang). Pasalnya, semua kabupaten di Kalsel berpotensi banjir.

“Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), curah hujan dalam 4 bulan ke depan masih tinggi. Untuk itu, semua Satlak PBP sudah disiagakan sejak 2 bulan lalu sampai 4 bulan ke depan,” ujar Kasubdin Bina Organisasi dan Penanggulangan Bencana, Zakaria, kepada wartawan kemarin.

Diakui Zakaria, musibah banjir tak bisa diprediksi karena fenomena alam tersebut di luar kehendak manusia. Hanya saja, mengacu pengamatan BMG tersebut, antisipasi harus dilakukan sedini mungkin.

Tahun sebelumnya, jelas Zarkasi, langganan banjir adalah Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST), Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Kotabaru, maka pada awal 2008 mendatang semua kabupaten berpotensi banjir. “Ini yang harus diwaspadai, karena semua kabupaten berpotensi banjir,” katanya.

Selain banjir, sambung Zarkasi, bencana alam yang patut diwaspadai adalah angin puting beliung dan tanah longsor. “Bencana alam tidak hanya membuat korbannya sengsara, tapi juga kerugian harta benda,” ujarnya.

Ia menghitung, sejak Januari hingga November 2007 ini, telah terjadi 22 kali musibah banjir, 1 kali tanah longsor, dan 12 kali angin ribut. Kerugian akibat bencana alam sepanjang tahun 2007 ini diperkirakan Rp 5.788.500.000 atau Rp 5,7 miliar lebih. Sedikitnya 24.761 Kepala Keluarga (KK) atau 80.528 jiwa menjadi korban bencana alam tersebut. “Taksiran kerugian ini belum termasuk musibah banjir yang terjadi di Balangan,” jelasnya.

Menyinggung bantuan untuk korban banjir Balangan, Zarkasi mengaku sudah mendistribusikan lauk pauk, sandang, peralatan mandi, dan tenda. “Bantuan sudah dikirim. Informasi terakhir yang saya terima, banjir di Balangan mulai surut,” katanya.

Menurutnya, ketinggian air di Balangan masih dalam batas wajar, sehingga warga sekitar lokasi banjir belum diungsikan. “Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa,” jelasnya.(sga)


Lima Titik di Pelaihari Dilanda Banjir

Jumat, 23 November 2007
Radar Banjarmasin

PELAIHARI ,- Akibat guyuran hujan deras di Kota Pelaihari subuh Kamis (21/11), Sungai Kandangan yang melintasi Kota Pelaihari meluap. Akibatnya sejumlah kawasan pemukiman mengalami kebanjiran dengan kedalaman bervariasi, mulai dari selutut sampai sedada orang dewasa. Ada lima titik kawasan pemukiman yang terendam, yakni Jl Kemakmuran Parit, Jl Pintu Air, Jl Datu Daim, Jl Karang Jawa, Jl Sawahan dan Angsau.

Jalan Pintu Air, merupakan kawasan padat penduduk yang paling parah terendam banjir. Tidak sedikit kerugian material akibat kejadian ini. Apalagi air meluap secara mendadak, karena saat ini tengah berlangsung proyek normalisasi Sungai Kandangan, sedangkan di wilayah Pintu Air pengerukan masih belum berjalan, karena masih dalam proses relokasi rumah penduduk di bantaran sungai.

Warga di sekitar lokasi mengaku, sejumlah barang milik mereka terendam oleh luapan air sungai yang mengaliri rumah-rumah mereka. Syaifullah, salah seorang warga mengaku kasur, kompor serta sejumlah baju yang ada di rumahnya terendam.

“Barang dagangan saya, 8 buah keranjang mangga terendam , sehingga rusak, tetangga saya, berasnya terendam juga” ujar pedagang buah di Pasar Tapandang Berseri tersebut.

Menurut Syaifullah, hujan yang terjadi sejak pukul 02.00 dinihari sampai pagi, mulai merendam rumah mereka pada pukul 04.30 wita. Sejumlah warga sangat terkejut dengan cepatnya air naik, meskipun daerah ini sudah menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

Sementara itu warga yang tinggal di daerah Jl Kemakmuran Parit Baru menyayangkan, karena pengerukan sungai yang masih belum tuntas.

“Jika Sungai di Parit saja yang dikeruk, sementara yang di Pintu Air meluap, air akan tetap meluber, bahkan di Parit sendiri, airnya meluber hingga ke jalan,” ujar salah sarang warga yang enggan disebut namanya.

Untuk diketahui, pengerukan sungai yang dilakukan Pemkab Tala masih berkisar di bantaran Sungai Kandangan Lama di Parit, sementara di bantaran sungai Pintu Air belum dilakukan pengerukan, mengingat bantaran sungai masih dipadati rumah warga, sementara itu upaya pemindahan rumah-rumah warga sedang berjalan.

Ketika hal ini dikonfirmasilkan kepada Pemkab Tala, Kabag Informasi Setda Tala Drs Sukamta mengatakan upaya normaliasai Sungai Kandangan telah dilakukan, bahkan mendapat bantuan dari pusat.

“Namun untuk daerah Pintu Air, saat ini sedang disepakati upaya ganti rugi rumah warga, sehingga upaya normalisasi sepenuhnya akan segera dituntaskan” ujarnya. (mr-90)

Thursday, December 27, 2007

Korban Puting Beliung Dibantu Rp30,2 juta

Senin, 19 November 2007
Radar Banjarmasin

MARTAPURA– Derita para koran amukan puting beliung yang terjadi di Desa Lok Buntar Sungai Tauk beberapa waktu lalu, sedikit terobati. Hal ini sehubungan dengan telah diserahkannya santunan dari Pemkab Banjar.

“Total santunannya Rp30.250.000. Santunan itu sudah diserahkan dua hari lalu. Mudah-mudahan ini bisa sedikit mengobati penderitaan yang dialami para korban bencana itu,” ungkap Kabag Sosial H Yuseran Ya’qub, kemarin.

Dijelaskan, dana tersebut diberikan masing-masing kepada 16 warga yang rumahnya terkena puting beliung. Kemudian ada lagi yang diserahkan kepada pihak sekolah dan masjid.

Perinciannya, santunan sebesar Rp1 juta diberikan kepada masyarakar yang rumahnya rusak parah. Kemudian untuk yang rusak tidak parah mendapat santunan Rp250 ribu. Selain rumah ada lagi santunan untuk dua sekolahan, masing-masing Rp5 juta. Kemudian ditambah lagi santunan untuk masjid sebesar Rp5 juta.

Seperti diketahui, akhir pekan lalu anggin puting beliung menerjang Desa Lok Buntar Kecamatan Sungai Tabuk. Sebanyak 15 rumah mengalami rusak parah. Ditambah 1 rumah mengalami rusak ringan. Kejadian fenomena alam tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Hanya saja masyarakat yang rumahnya rusak parah terpaksa harus mengungsi. Mereka untuk sementara mengungsi ke rumah-rumah penduduk di sekitarnya.

Sejumlah fasilitas umum juga terkena amukan puting beliung yang memang hampir setiap tahun menerjang berbagai wilayah di Kabupaten Banjar ini. Fasilitas umum itu adalah dua sekolah madrasah dan satu masjid.

Lebih jauh Yuseran menjelaskan, santunan yang diberikan Pemkab Bnajar kepada korban puting beliung memang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Sebelum ini, santunan kepada korban biasanya sebesar Rp500 ribu. Tetapi beberapa waktu lalu ada instruksi Pak Bupati untuk menaikkan santunan hingga besarnya Rp1 juta untuk korban yang rumahnya rusak parah,” katanya.(yan)

Tuesday, December 18, 2007

Kawasan Angsau Barometer Banjir

Senin, 03-12-2007 | 00:30:51

PELAIHARI, BPOST - Jajaran petugas Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (satlak PB) Tanah Laut selama ini hanya mengandalkan naluri alamiah untuk memprediksi banjir, sehingga acapkali meleset.

Karena rekaan didasarkan karakter hujan yang sedang berlangsung, biasanya Satlak PB tak punya waktu cukup untuk mempersiapkan peralatan sehingga pertolongan kepada korban banjir kadang kurang berjalan maksimal. Apalagi dengan minimnya sarana dan prasarana.

Permasalahan tersebut terungkap dalam Seminar Lokakarya Membangun Model Koordinasi Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat di Balairung, Kamis (29/11) pekan tadi. Acara yang digelar Yayasan Cakrawala Hijau (YCHi) bekerjasama dengan German Technical Cooperation ini dihadiri Satlak PB Kabupaten Tala dan Tanah Bumbu, relawan, dan institusi terkait.

"Pokoknya jika hujan terus menerus dalam tempo 24 jam, maka kemungkinan besar akan terjadi banjir. Ini yang selama ini umumnya menjadi pegangan Satlak PB," beber Endang SM, Divisi Riset YCHi Kalsel, dua hari lalu.

Lain lagi yang menjadi ukuran kalangan TNI di Tala. Mereka melihat kondisi air sungai di kawasan Angsau. "Jika ketinggian air dekat jembatan di sungai setempat naik sekian centimeter, berarti akan terjadi banjir," sebut Endang.

Akurasi tinggi prediksi banjir sebenarnya bisa diketahui melalui data intensitas curah hujan. Namun selama ini Satlak PB kesulitan memperoleh data itu. Padahal ada institusi yang memiliki data tersebut yaitu Badan Meterologi dan Geofisik (BMG).

"Sistem deteksi dini inilah yang harus kita perkuat melalui singronisasi visi semua pihak terkait. Ke depan diharapkan data curah hujan BMG bisa diakses secara cepat dan mudah oleh Satkorlak PB dan jajaran di bawahnya," ucap Endang.

Informasi curah hujan penting diketahui Satlak PB. Setidaknya dengan data ini jauh-jauh hari mereka bisa memperkirakan potensi banjir dan mendeteksi titik-titik yang rawan banjir. Selain hal itu, sebut Endang, ada dua hal penting lainnya yang juga perlu diperkuat sesuai hasil notulen seminar. Pertama, pembenahan sistem koordinasi antar pihak yang saling berkepentingan dalam penanganan bencana.

"Koordinasi dengan masyarakat, penting karena mereka lah yang lebih mengetahui kondisi di lapangan," jelas Endang.

Kedua, mengadakan pelatihan pada masyarakat supaya mereka bisa melakukan langkah penyelamatan pertama ketika terjadi musibah banjir.

"Sebelum bantuan datang, para korban banjir diharapkan bisa menolong diri sendiri. Misalnya mengevakuasi keluarga ke tempat yang aman," sebut Endang.

Data YCHi, 80 persen daerah di Kalsel rawan banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor akibat kerusakan alam di hulu-hulu sungai. Tahun 2006 lalu, sedikitnya 122.048 penduduk di Kalsel yang tersebar di 25 kecamatan kebanjiran. roy

Banjir Permukiman Seribu Keluarga di Pelaihari Terendam

Jumat, 23 November 2007

Banjarmasin, Kompas - Ratusan rumah milik 1.000 keluarga di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, Kamis (22/11), terendam banjir setinggi 1-1,5 meter.

Selain itu, 921 rumah di 15 desa Kecamatan Tebing Tinggi dan Awayan, Kabupaten Balangan, Kalsel, juga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1, 5 meter. Banjir menenggelamkan 120 hektar sawah dan memutuskan tiga jembatan kayu penghubung antardesa.

Banjir itu disebabkan oleh hujan deras yang terjadi terus-menerus, pendangkalan sungai, dan rusaknya hutan.

Banjir di Pelaihari melanda Kelurahan Pelaihari, Karang Taruna, dan Sarang Halang. Tidak ada korban jiwa, dan penduduk masih bertahan di rumahnya.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Tanah Laut Taufik Kuderat, Kamis di Pelaihari, menyatakan, "Kami menyiapkan perahu karet untuk mengevakuasi warga."

Dari 15 desa yang terendam, delapan desa berada di Kecamatan Tebing Tinggi, yaitu Desa Mayanau, Sungsum, Tebing Tinggi, Gunung Batu, Juuh, Langkap, Simpang Nadung, dan Simpang Bumbuan. Di Kecamatan Awayan ada tujuh desa, yakni Pulantan, Awayan, Awayan Hilir, Putatbasiun, Baramban, Badalungga, dan Badalungga Hilir.

Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Balangan Alive Yosfahlove, saat dihubungi Kamis, menyatakan, banjir yang menggenangi dua kecamatan itu akibat luapan Sungai Pitap. "Bupati Balangan Sefek Effendi dan Wakil Bupati Asharuddin melakukan peninjauan ke lokasi," katanya.

Penurunan tanah

Dari Bandung, Jawa Barat, dalam lokakarya nasional "Optimalisasi Pemanfaatan Informasi Geologi Lingkungan dalam Pengelolaan Lingkungan", Kamis, Kepala Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Dwiyanto menyatakan, bencana alam seperti banjir bandang atau longsor dipicu oleh padatnya penduduk dan perlakuan buruk pada lingkungan.

Perlakuan buruk itu, antara lain, pengambilan air tanah secara berlebihan. Hal itu menjadi penyebab utama penurunan tanah, intrusi air laut, dan penurunan muka air tanah di banyak kota besar di Indonesia.

Bambang menyebutkan, penurunan muka air tanah terjadi di Cekungan Air Tanah Jakarta, Bandung-Soreang, Semarang- Demak, Karanganyar-Boyolali, Pasuruan, dan Denpasar-Pasuruan. Intrusi air laut terjadi di beberapa wilayah Jakarta, seperti Kebon Jeruk, Tanah Abang, Cempaka Putih, Kelapa Gading, dan Cilincing.

Menurut Kepala Pusat Lingkungan Geologi Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Djumarma Wirakusumah, di daerah luar Jawa yang banyak penduduknya, seperti Medan dan Sumatera Utara, penurunan muka air tanah dan tanah juga terjadi.

"Bila dibiarkan, kejadian longsor lumpur di daerah pegunungan atau banjir di daerah pesisir sangat mungkin terjadi," kata Djumarna. (FUL/CHE)

Monday, December 17, 2007

Hujan Mengguyur, Banjir Menghadang

Senin, 12 November 2007
 
Radar Banjarmasin

BANJARMASIN – Beberapa hari belakangan ini, hujan berulang kali mengguyur Banua. Seperti kemarin saja di Banjarmasin, Banjarbaru dan daerah sekitarnya, cuaca mendung sudah terlihat sejak pagi. Beranjak siang, hujan deras mengguyur. Teduh beberapa saat, kemudian hujan lagi.

Hujan tentu saja harus diwaspadai menjadi awal bencana banjir. Apalagi pada daerah-daerah yang selama ini menjadi langganan banjir, seperti di kawasan Banua Anam.

Gubernur Kalsel Rudy Ariffin mengungkapkan, telah mengantisipasi bencana banjir tersebut. Menurut mantan Bupati Banjar ini, Pemprov Kalsel telah menyusun beberapa program atau kegiatan. Diantaranya, program tanggap darurat jalan dan jembatan. Kemudian program pengendalian banjir, normalisasi sungai dan program penataan ruang.

“Pemprov telah memiliki program reboisasi dan rehabilitasi hutan dan lahan,” ujar suami Hj Hayatun Fardah ini beberapa waktu lalu di DPRD Kalsel. Dari data Pemprov Kalsel sendiri, lahan kritis saat ini mencapai 555.983 hektare, yang terdiri dari kritis 500.078 hektare dan sangat kritis seluas 55.906 hektare.

Selain memang intensitas hujan yang tinggi, banjir yang beberapa kali merendam beberapa wilayah di Kalsel, ditengarai disebabkan dengan kerusakan lingkungan hidup pada bidang pertambangan dan kehutanan.

Persoalan ini, dijelaskan Rudy, bahwa secara umum permasalahan lingkungan hidup di Kalsel adalah masalah pencemaran udara, pencemaran air dan kerusakan lahan. Pencemaran udara umumnya disebabkann oleh polutan dari kebakaran hutan atau lahan, sementara pencemaran air umumnya disebabkan limbah industri dan limbah domestik serta sedimentasi akibat kerusakan lahan.

“Perusahaan pertambangan batubara diwajibkan melaksanakan reklamasi areal bekas bukaan tambang sementara sebelum tahap reklamasi, mereka diwajibkan memberikan jaminan uang reklamasi,” jabar Ketua DPW PPP Kalsel ini. (pur)

Wednesday, December 05, 2007

Banjir Mulai Ancam Ujung Murung

Senin, 19-11-2007 | 00:45:04

  • Juai Masih Aman

TANJUNG, BPOST - Terus naiknya debit air Sungai Tabalong yang melintasi sejumlah kecamatan mulai mengancam desa-desa yang letaknya paling rendah.

Warga Desa Ujung Murung yang selalu jadi langganan banjir karena berada persis di tepian sungai, bahkan sudah merasakan genangan air menutupi pelataran rumah hingga ketinggian lebih satu meter.
Ketinggian tiang penyangga rata-rata rumah di desa setempat sekitar dua meter tak mampu menahan laju air yang terus naik hampir menyentuh lantai pertama rumah warga. Meskipun warga masih tenang karena sudah terbiasa, ada juga yang mulai bersiap mengungsikan harta bendanya ke loteng atau sekadar menaikkan ke karam patai atau panggung di dalam rumah.
Saat BPost melihat-lihat ke desa yang terletak di ujung Pasar Tanjung pukul 11.00 Wita, Minggu (18/11), tampak genangan air yang paling dangkal sudah mencapai mata kaki orang dewasa. Sedangkan genangan terdalam sekitar lima meter dari bantaran sungai sudah mencapai paha orang dewasa atau satu meter lebih.
Kondisi itu dimanfaatkan sebagian warga untuk beraktivitas memcuci pakaian di depan rumah atau membasuh kendaraan roda duanya di sambil berendam. Sedangkan anak-anak tampak asyik berenang dan main sepeda di jalanan yang tergenang.
“Air naik dari jam tiga subuh tadi. Sepertinya bakal terus naik, sebab kalau melihat arus di sungai masih deras dari hulu ke hilir arah ke Amuntai (HSU), terus banyak batang kayu ukuran besar ikut larut,” ujar Aluh, warga RT 04.
Menurut Aluh, warga mengenali tanda-tanda banjir dari derasnya arus sungai dan membawa banyak sampah kayu berukuran besar dari daerah hulu yang merupakan kawasan pegunungan di Kecamatan Muara Uya dan Jaro. Apalagi tiga hari belakangan hujan turun sangat lebat dan sepertinya merata sampai ke daerah pegunungan.
Rumah Aluh termasuk yang sudah calap sampai ke ambin pertama tangga rumahnya yang sebenarnya cukup tinggi. Namun sampai kemarin ia belum berupaya mengungsikan perabotnya karena air belum naik sampai lantai pertama rumahnya.
Di RT 4 Ujung Murung saat ini ada sekitar 130 rumah tangga. Sedangkan total bangunan rumah atau toko di RT 4 dan RT 5 sekitar 200 unit.
Sementara itu pantauan BPost di sejumlah desa di Kabupaten Balangan, tepatnya di Desa Juai, Galumbang dan Teluk Bayur Kecamatan Juai yang rawan banjir, sampai kemarin masih terlihat aman. nda

Penambang Liar Ditangkap

Kamis, 29-11-2007 | 00:15:17

PELAIHARI, BPOST - Setelah sekian lama tiarap, para pelaku penambangan tanpa izin (peti) diam-diam mulai bergerak lagi. Namun telinga petugas Polres Tala lebih tajam dan berhasil membekuk satu penambang liar batu bara, dua hari lalu.

"Tersangka penanggungjawab peti tersebut, Rahman warga Desa Asam-Asam Kecamatan Jorong, sudah kami amankan di sel Mapolres," kata Kapolres Tala AKBP Dadik Soesetyo S melalui Kasat Reskrim AKP Kaswansdi Irwan, Senin (26/11).

Terbongkarnya aktivitas peti tersebut berkat laporan dari jaringan (informan) yang selama ini disebar di lapangan. Minggu (25/11) dinihari pukul 01.00 Wita, Kaswandi memerintahkan Tim Minning yang dipimpin Kaur Reskrim Ipda Trias turun ke lokasi di kawasan hutan Kiningan Desa Jorong Kecamatan Jorong.

Begitu tiba di lokasi, petugas mendapati aktivitas penambangan sedang berlangsung. Mereka yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) terkejut dan tak bisa berbuat banyak.

Ipda Trias dan personelnya meminta penanggung jawab tambang setempat untuk memperlihatkan surat-menyurat (dokumen). Mereka gugup dan tak bisa menunjukkan dokumen legalisasi atas aktivitas penambangannya.

"Petugas kami juga melakukan pengecekan lokasi dengan GPS (gelombang position system), ternyata lokasi tambang itu tidak ada izin KP (kuasa pertambangan)nya. Ini juga dikuatkan dengan data-data yang kami miliki. Jadi, aktivitas tambang itu liar," sebut Kaswandi.

Dari TKP, Ipda Trias dan anggotanya menyita satu unit eksavator merek dagang kobelco. Alat berat yang berfungsi untuk mengupas lapisan atas tanah dan mengeruk batu bara ini telah dievakuasi ke Mapolres.

Kaswandi menegaskan pihaknya tidak akan pernah ragu untuk menangkap siapa pun yang terlibat dalam kegiatan peti. Peti adalah salah satu sasaran utama jajaran Polda Kalsel dalam penegakkan hukum, selain illegal logging dan illegal bahan bakar minyak.

Tidak hanya itu, Kaswandi juga mengatakan dirinya telah menyebar jaringan informasi di seluruh tempat yang rawan tindak kejahatan, khususnya illegal minning. roy

Banjar Siaga Banjir

Selasa, 13-11-2007 | 00:50:15

MARTAPURA, BPOST - Hujan deras sudah mulai sering mengguyur Kabupaten Banjar akhir-akhir ini, membuat warga dan petani di sekitar kawasan aliran sungai was-was.

Terlebih lagi dengan ratusan petani di Kecamatan Martapura Barat dan Timur yang menjadi langganan banjir.
Tahun ini, petani di kabupaten ini telah gagal tanam dan gagal panen sebanyak tiga kali berturut-turut, karena padinya dihantam banjir, Februari, April dan Juli. Belum sempat menikmati padi, kini telah memasuki musim penghujan lagi dengan curah hujan cukup tinggi intensitasnya.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Banjar, H Djamhuri mengatakan, saat ini Banjar relatif masih aman dari ancaman banjir.
“Air sungai Riam Kiwa  tidak sampai naik meski ada yang sudah keruh menandakan penambahan volume air sungai itu,” katanya.
Namun pihaknya terus memantau dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan, khususnya kecamatan yang rawan banjir. “Posko di kabupaten dan personilnya tetap kita siagakan untuk memantau perkembangan,” jelasnya.
Kabupaten Banjar merupakan salah satu daerah di Kalsel yang menjadi langganan banjir pada saat musim hujan. Seperti halnya tahun 2006, banjir mengakibatkan kerugian miliaran rupiah dan mengakibatkan warga mengungsi secara besar-besaran karena permukiman terendam.
Warga di sekitar aliran sungai Riam Kiwa diimbau agar waspada jika hujan lebat, terutama hujan di hulu sungai, di Kecamatan Simpang Empat, Matraman, Astambul, Martapura hingga Sungai Tabuk. sig

Data Bencana Rawan Salah

Sabtu, 24-11-2007 | 01:06:47

BANJARMASIN, BPOST - Data korban bencana merupakan bagian yang paling rawan menimbulkan kesimpangsiuran. Terutama jika terjadi bencana besar yang menelan ribuan korban jiwa seperti tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan gempa di Jogja.

Oleh karena itu, Kepala Pusat Departemen Komunikasi dan Informasi, Agus Salim Husein meminta agar Bagian Humas Pemprov dan kabupaten/kota menjadi garda terdepan mengumpulkan data ketika terjadi bencana.

"Data bencana, seperti berapa korban dan kerugian merupakan bagian yang paling rawan. Seringkali terjadi, informasi yang sudah telanjur disampaikan ke publik melalui media massa tidak sinkron dengan fakta di lapangan," ujarnya dalam workshop Revitalisasi Kehumasan di gubernuran, Kamis (22/11).

Akibatnya, jumlah korban yang sudah terpublikasi, besok harinya justru berkurang. Contoh konkrit, informasi yang disampaikan Satkorlak Kalsel ketika terjadi bencana di wilayah Tanah Bumbu tahun lalu.

"Jumlah korban yang dipublikasikan ratusan orang, ternyata setelah didata dengan baik korban hanya puluhan. Apa yang sudah dikatakan mati hidup lagi?," ujarnya dengan nada bercanda.

Karena itu, lanjut Agus, jika terjadi bencana, Humas di semua bidang pemerintahan harus jeli, dan rajin turun ke lapangan melakukan kroscek data korban, bukan hanya di balik meja menunggu laporan. Pasalnya, dalam bencana besar, data korban setiap waktu berkembang cepat. "Kalau menunggu laporan, keburu wartawan nanya, akhirnya data yang belum fix diberikan. Kemudian tidak boleh panik, tetap di media center, sebab panik penyebab informasi yang diterima tidak akurat," tukasnya. ais

Cuaca Kalsel Berbahaya

Seluruh Kalsel Terancam Banjir

Selasa, 13-11-2007 | 02:16:25

  • Tala dan Banjar Paling Rawan
  • Siapkan Alat Deteksi Dini

BANJARBARU, BPOST - Peringatan bagi warga di Kalimantan Selatan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi hingga akhir tahun, seluruh wilayah Banua akan diguyur hujan lebat yang berpotensi mengakibatkan banjir di sejumlah tempat.

Info Grafis

 

Hujan deras mencapai puncaknya sejak minggu ketiga November hingga Desember. “Dampaknya ancaman banjir, terutama daerah dataran rendah akibat tumpahan air dari daerah pegunungan,” kata Sucantika Budi, kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I BMG Kalsel di Banjarbaru, Senin (12/11).
Mengantisipasi kondisi itu, Sucantika mengingatkan warga di dataran rendah agar waspada terhadap  ancaman menjadi korban banjir kiriman dari wilayah-wilayah dataran tinggi.
Wilayah paling rawan banjir meliputi Kabupaten Banjar. Dari pengamatan selama ini, dominasi kontur pegunungan di daerah itu sangat berpotensi menumpahkan air ke arah Kecamatan Pengaron dan Kecamatan Astambul.
“Tumpahan air hujan diprediksi akan turun ke arah Kecamatan Sungai Tabuk,” jelas Sucantika.
Staklim I BMG Kalsel mengukur takaran hujan terus mengalami kenaikan cukup signifikan dalam dua hari terakhir. Hujan dengan durasi cukup panjang terjadi sejak Sabtu (10/11) hingga Minggu (11/11), yakni menunjuk pada kisaran 20 menit dan menyentuh takaran 10 milimeter.
Prediksi ancaman banjir itu juga diperkuat Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) di Banjarbaru. Potensi banjir besar berada di DAS Kintap di Tanah Laut, juga Riam Kanan dan Kiwa Kabupaten Banjar.
“Jika curah hujan dengan intensitas tinggi, dipastikan tiga DAS tersebut meluap,” jelas Eko Kuncoro MP, kepala BP DAS kepada BPost, kemarin.
Menurut Eko, saat ini tidak lagi hanya melihat kritis tidaknya lahan. Yang pasti, saat hujan turun maka yang perlu diwaspadai adalah  DAS Kintap, Riam Kanan dan Riam Kiwa.
Selain ketiga DAS tersebut,aliran sungai di enam kabupaten di Banua Anam juga tidak luput dari ancaman banjir besar. Hulu Sungai Utara, contohnya, wajib waspada mengingat tumpuan di DAS Negara bertemu di sana.
Khusus DAS Kintap,  terjadinya luapan sungai  lebih banyak disebabkan oleh pendeknya aliran sehingga air lambat turun.
Tidak adanya tutupan berupa vegetasi di atas lahan turut andil menipiskan penahanan air.
Kapasitas penahan air di kawasan itu tidak mampu lagi berfungsi maksimal, mengingat luas DAS Kintap hanya 74.452,68 hektare. Padahal DAS lain seperti di Hulu Sungai luasnya yang mencapai 173.970,08 hektare.
“Kondisi akan bertambah parah tatkala air pasang ikut mengiringi banjir akibat guyuran hujan. Membeludaknya air akan bertahan lebih lama,” urainya.
Selama ini, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Tabalong dan Tanah Bumbu merupakan langganan banjir tahunan. Hal ini disebabkan menipisnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus akibat penebangan liar dan eksploitasi pertambangan.
Deteksi Dini
Mengantisipasi ancaman bencana banjir-banjir besar melanda Banua, BP DAS mengupayakan pemasangan alat pendeteksi dini bencana banjir. Alat itu bernama metigasi banjir.
“Cara kerja alat itu mirip early warning system pada saat gempa atau gelombang tsunami,” kata Eko.
Pendeteksi itu berupa tongkat yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian  air. Secara online data yang ada bisa diketahui, termasuk jika sewaktu-waktu kondisinya membahayakan.
Selama ini pengamatan banjir dan ketinggian air hanya diterapkan secara manual. Nantinya, setiap pergerakan air baik dalam kategori bahaya, biasa saja atau waspada akan terpantau. “Alarm tanda berbahaya secara otomatis akan berbunyi memperingatkan kepada warga di sekitar  DAS,” imbuhnya.
Sayangnya, alat tersebut hingga kini belum bisa dioperasikan oleh BP DAS. Eko mengaku alat itu baru beroperasi 2008 mendatang. “Kita masih dalam tahap persiapan, termasuk sosialisasi kepada warga di sekitar DAS,” katanya. niz

“Itu Kebakaran Biasa”

Jumat, 05-10-2007 | 22:55:46

  • Percikan Api Kenai Apron

BANJARBARU, BPOST - Kendati sudah mulai menjalar hebat, kebakaran lahan di Kalsel dipandang Gubernur Rudy Arifin masih belum mengkhawatirkan. Bahkan dia mengatakan kalau kebakaran itu masih kategori biasa.

Pun saat menyaksikan kebakaran di areal Bandar Udara Syamsudin Noor yang bahkan percikan apinya sempat melompat ke dalam areal apron, Kamis (4/10) siang. Padahal, saat itu kebetulan kebakaran yang melanda apron bersamaan saat Gubernur Kalsel yang baru saja turun dari salah satu pesawat perintis.

"Ah, itu kebakaran bias. Kebakaran lahan saat ini juga jauh menurun sampai sisanya 15 persen saja dari tahun sebelumnya," ujar Rudy Arifin, ditemui usai menghadiri upacara HUT ke-62 TNI di lapangan Murdjani Banjarbaru, Jumat (5/10).

Mantan Bupati Banjar itu, mengatakan, justru yang patut diwaspadai saat ini kebakaran kebakaran yang telah merambah permukiman.

Menurutnya, banyaknya warga Kalsel yang menjadi korban kebakaran membuat semua Satkorlak ikut bersiap siaga.

Selain itu, Gubernur juga mengimbau agar semua pihak bersama-sama mengantisipasi terjadinya bencana kebakaran. Caranya, meningkatkan.

Pantauan BPost, kebakaran lahan kembali melanda kawasan Bandara Syamsudin Noor, Kamis (4/10) pukul 13.00 Wita. Kali ini api menjalar lebih hebat, karena percikan api sempat masuk ke dalam areal apron baru di sebelah Timur.

Informasi didapat, api mulai menjalar dari hamparan rumput di lapangan terbuka di sebelah Barat apron baru. Api terus membesar di bawah panasnya sinar matahari.

Kencangnya hembusan angin membuat api terus membara sampai-sampai percikannya masuk ke dalam kawasan apron. Asap hitam ditambah hawa panas di sekitar apron mulai terasa. niz

Satwa Berlarian ke Luar Hutan

Senin, 01-10-2007 | 01:31:23

  • Lagi, Kebakaran Rambah Hutan Meratus

BANJARBARU, BPOST - Kebakaran lahan kembali merambah kawasan hutan lindung juga kawasan konservasi. Akibatnya, habitat satwa khas Kalimantan yang seharusnya dijaga untuk menjaga kelestarian lingkungan rusak.

Data pada Pos Siaga Bencana Kebakaran Lahan dan Kabut Asap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel mencatat pada pekan terakhir September ini setidaknya ada 15 hot spot di kawasan konservasi dan di hutan lindung. Paling banyak di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Kabupaten Banjar ada 12 titik panas.
Pantauan satelit NOAA-AVHRR (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer) 18/15/12 mendeteksi ada tiga titik panas (hot spot) di Hutan Lindung Meratus.
Hasil potretan satelit ini menunjukkan dua lahan di hutan Kabupaten Tabalong dan satu titik api terlihat di hutan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Pantauan itu dibuktikan dengan mulai berlariannya satwa khas Kalimantan seperti Owa Owa, lutung dan burung berlarian ke luar hutan guna menyelamatkan diri, saat mengetahui tempat tinggalnya rusak.
“Naluri satwa kan kadang lebih tahu duluan dari manusia, jadi begitu ada tanda kerusakan mereka lari,” ujar Amir Hamzah, kepala BKSDA Kalsel.
Selain itu, aku Amir sejumlah vegetasi khas Kalimantan seperti pohon kayu ulin, meranti dan sejenisnya ikut terbakar. Walau jumlahnya tak banyak. Namun, ia tak merincikan, berapa luasan lahan dan jumlah penghuninya yang ikut terbakar di sana.
Kebakaran di dalam lahan hutan lindung ini, ungkapnya masih tergolong kecil. Jumlahnya hanya 36 persen saja dari keseluruhan titik api yang muncul sebanyak 415. Dominasi pembakarn sebanyak 64 persen justru berada di areal penggunaan lain (APL) seperti ladang penduduk atau semak belukar di luar hutan.
Terbakarnya lahan hutan lindung dan kawasan konservasi itu, ujar Amir memang bukan menjadi sumber awal api. Awalnya api bermula dari pembakaran lahan di areal penggunaan lain oleh penduduk di sekitar hutan.
Namun, karena terik matahari yang cukup menyengat, tak pelak membuat api semakin lama semakin besar. Api akhirnya melalap tumbuhan yang masuk wilayah hutan yang dilindungi tersebut.
Antisipasi dan upaya penanggulangan yang mereka lakukan ialah mempersiapkan 29 daerah operasi (DAOPS) lengkap dengan brigade pengendalian kebakaran hutan (Manggala Agni). niz
baca juga:

Cegah Sejak Awal

KEBAKARAN lahan dan hutan di Kalsel dipandang tak bisa dipandang secara parsial. Pun upaya penanganannya, bukan saatnya lagi hanya ditanggulangi, melainkan harus ada antisipasi.
Berry Nahdian Furqan, direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel menyarankan, pemerintah tak lagi terlampau melekatkan program penanganan bencana ini dengan labelnya sendiri. Jauh dari itu, masyarakat sebaiknya lebih banyak dilibatkan di dalamnya.
“Saya kira program kebakaran lahan ini memerlukan program terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat. Pelibatan masyarakat terutama dalam upaya pencegahan musibah kebakaran lahan sampai merambah ke hutan lindung dan mengancam satwa dan tumbuhan di dalamnya tak terulang terus sangat perlu,” sarannya.
Konkretnya, ungkap Berry sudah saatnya masyarakat diajak melakukan identifikasi di daerah mana saja titik rawan terjadinya kebakaran lahan.
Dia yakin program ini secara tak langsung menyadarkan pentingnya tak membakar lahan tanpa menyalahkan pemerintah. niz

Sunday, December 02, 2007

Masyarakatkan Peta Rawan Bencana

Senin, 03-09-2007 | 23:43:57

SERAMBI INDONESIA
Berdasarkan daftar inventaris yang disusun United Nations Development Program (UNDP), gempa bumi menduduki peringkat teratas dari 12 jenis bencana yang dianggap rawan terjadi di Aceh. Sebagai contoh, pascagempa bumi yang disusul gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 hingga April 2007 lalu, di Aceh terjadi 14.859 kali gempa bumi. Tapi yang dirasakan cuma 314 kali.

Hasil inventarisasi Disaster Risk Reduction Unit UNDP, di Aceh ada 12 jenis bencana: gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, erupsi gunung berapi, kekeringan, konflik sosial, epidemi malaria, penyakit TB, demam berdarah, flu burung, bahaya pencemaran industri. Dari semua itu, ada empat bencana yang perlu menjadi perhatian serius yaitu gempa bumi, tsunami, gunung berapi, banjir dan tanah longsor.
Menjadi persoalan sekarang adalah masyarakat kita belum tahu tentang peta kerawanan bencana. Akibatnya, mereka tidak siap atau bahkan tidak tahu bagaimana menyiapkan diri menghadapi peristiwa yang tak diinginkan itu.
Oleh sebab itu, pascateridentifikasinya kerawanan bencana itu, pemerintah tak boleh bersikap diam. Instansi terkait mestinya sejak sekarang menyosialisasi peta daerah rawan bencana kepada masyarakat, agar mereka bisa mengantisipasi bencana.
Peta daerah rawan bencana apa pun di Aceh perlu disosialisasi secara bersinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat, sehingga bisa meminimalkan korban harta, benda dan jiwa. Pemerintah pun perlu melakukan pendekatan persuasif dan edukatif kepada penduduk, agar mereka mau pindah dengan kesadaran sendiri dari kawasan tempat tinggalnya yang rawan bencana, utamanya tanah longsor dan banjir.
Jika penduduk tetap tak mau pindah ke daerah lain yang aman dari bencana, mereka perlu diberi pembekalan/pemahaman tentang langkah taktis maupun teknis agar dapat melakukan antisipasi cepat dan tepat ketika terjadi bencana.
Membangun pengertian penduduk untuk menghindar dari daerah rawan bencana merupakan hal yang sangat penting. Sebab, efektivitas upaya penanggulangan bencana yang berdampak membawa korban jiwa, harta dan benda tergantung kesadaran masyarakat. Di pihak lain, masyarakat pun harus menyadari kalau pencegahan atau penanggulangan bencana hanya dibebankan kepada pemerintah jelas takkan terselesaikan. Bencana sangat kompleks, karakteristik wilayah bencana variatif dan memerlukan biaya tinggi untuk mengondisikan apalagi mengubah wilayah itu menjadi minim rawan bencana.
Menghindari daerah rawan bencana berdasarkan peta daerah rawan bencana yang disusun menjadi kunci solusi penting, agar penduduk terhindar dari bencana yang dapat menimbulkan korban jiwa, harta dan benda.
Oleh karena itu, penduduk yang bermukim di daerah rawan bencana harus mematuhi pemanfaatan lahan sesuai konsep tataruang yang ditentukan, melaksanakan budaya hidup bersih, tak mendirikan bangunan di bantaran sungai dan tak menebang pohon pelindung di daerah resapan air.
Instansi terkait perlu memberi informasi secara kontinyu sejak sekarang kepada kalangan masyarakat mengenai perubahan cuaca, iklim atau situasi tertentu yang patut diduga akan mengakibatkan bencana. Masyarakat harus diberi edukasi penyiapan guna mengambil langkah pencegahan secara umum maupun spesifik, seperti penanaman pohon penghijauan dan menghindari penebangan pohon di hutan secara liar.
Langkah antisipasi sebetulnya sangat sederhana dan gampang melakukannya. Menjadi persoalan, kita punya budaya mengabaikan banyak hal. Termasuk yang mengancam keselamatan jiwa kita sendiri.

Hot Spot Tinggal 200

Senin, 24-09-2007 | 02:10:30

  • Menhut Laporkan Pengusaha Malaysia dan Taiwan

MARTAPURA, BPOST - Hot spot atau titik panas di seluruh Indonesia kini tinggal 30 persen atau tinggal 200 hingga 300 titik saja. Jumlah titik panas itu terdapat di Kalbar dan Kalteng, dan sebagian kecil di Jambi dan Riau.

Menteri Kehutanan, Malam Sambat (MS) Kaban mengatakan, jumlah itu jauh di bawah target pemerintah untuk menurunkan hot spot hingga 50 persen.
Menurutnya, jumlah titik panas tahun lalu mencapai 1.300 titik dan sempat diprotes banyak negara tetangga karena mengganggu kesehatan, ekonomi dan penerbangan. Tapi kini, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan dinilai telah berhasil. Pemerintah juga terus berupaya menekan jumlah pembakaran lahan di seluruh wilayah.
“Hot spot yang ada kini tinggal kecil sekali, padahal ini sudah bulan September. Sekarang tinggal 200-300 titik saja di Kalbar dan Kalteng. Dua wilayah itu memang rawan pembakaran lahan,” kata MS Kaban saat silaturahmi di Ponpes Darussalam Martapura, Minggu (23/9).
Meski demikian, kata Kaban, pemerintah tetap akan mendatangkan dua pesawat pembom air dari Rusia untuk berjaga-jaga. Pesawat dengan kapasitas 5.000 liter air sekali angkut itu dalam waktu dekat sudah dikirim ke Kalteng. Dua pesawat itu juga akan dibantu satu buah helikopter.
Mengenai pembalakan liar, pihaknya juga tengah gencar melakukan penekanan. Kini, penebangan hutan di Indonesia hanya tinggal 9,1 juta kubik dari 24 juta kubik pada tahun lalu. Diharapkan tahun mendatang penebangan hutan itu bisa berkurang dan berganti dengan program penanaman massal satu juta pohon.
Dikatakan, sebagai bukti keseriusan pemerintah memberantas penebangan liar, pihaknya telah melaporkan dua pengusaha asal Malaysia dan Taiwan ke polisi. Dua pengusaha itu melakukan penebangan di Kalbar.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat membakar lahan untuk usaha pertanian harus dihentikan. Petani, kata dia, harus mengubah kebiasaan mengelola pertanian secara tradisional menjadi profesional. Untuk itu, pemerintah daerah harus mengajari petaninya mengelola pertanian secara profesional dan menyediakan fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan. sig

Basung Belum Bebas Banjir

Senin, 10-09-2007 | 01:11:51

BANJARBARU, BPOST - Warga di sekitar Basung Kecamatan Cempaka Banjarbaru masih dibayang-bayangi bencana banjir. Datangnya air musiman ini hingga ke permukiman warga belum sepenuhnya dapat teratasi, karena proyek normalisasi sungai belum tuntas.

Dinas Kimpraswil setempat menyisakan satu pekerjaan lagi yakni pelebaran saluran air berupa gorong-gorong di depan Masjid Basung. Selama ini, pengerukan Sungai Pumpung pun menjadi sia-sia, karena tak bisa menampung volume air saat hujan deras berdurasi lama datang.
Gorong-gorong di bawah jembatan menjadi tak berfungsi karena banyak tumpukan sampah yang nyangkut. Akibatnya jalannya air pun tersumbat dan meluber ke permukiman warga.
Warga berharap ada ketegasan Pemko Banjarbaru untuk menertibkan bangunan di bantaran sungai, terutama di Basung. Semakin padatnya bangunan di sana cukup membuat badan sungai menyempit. Akibatnya, saluran air tersumbat.
Sebelumnya diketahui, proyek normalisasi Sungai dari Parit Besar, Kelurahan Bangkal ke arah Sungai di Ujung Murung Kelurahan Sungai Tiung sempat terhenti, akhir 2006 tadi. Pelaksana, kesulitan untuk melanjutkan pekerjaan senilai Rp 348 Juta ini karena terbentur oleh lahan milik warga serta aktifitas pendulangan yang tengah berlangsung.
Fahrudin, kabid Pengairan Dinas Kimpraswil Kota Banjarbaru membenarkan adanya ketakutan warga itu. Pihaknya pun mengaku sangat menyadari permintaan warga. Hanya sayangnya, ujarnya proyek ini tak dapat dilakukannya, karena terkendala dengan jalan provinsi.
“Itu artinya sudah proyek Kimpraswil Provinsi. Pemko Banjarbaru sebenarnya oleh Pak Walikota sudah akan dianggarkan, namun karena terkait jalan provinsi, kami tak berhak,” terang Fahrudin. niz

Tuesday, November 20, 2007

kekeringan Kebakaran Lahan di Kalimantan Selatan Terus Meluas

Kamis, 04 Oktober 2007

Banjarbaru, Kompas - Dari awal September hingga 3 Oktober, kebakaran lahan dan hutan di wilayah Kalimantan Selatan diperkirakan sudah mencapai 1.000 hektar. Kondisi ini dinilai sudah mengkhawatirkan dan perlu perhatian serius dari semua pihak karena lokasi-lokasi yang terbakar semakin luas sebarannya dan sulit dikendalikan.

Hari Rabu (3/10), kebakaran lahan terjadi di wilayah Kota Banjarbaru. Dua regu petugas Manggala Agni dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan (Kalsel) kesulitan memadamkan kobaran api di lahan pertanian dan semak belukar di Desa Kariwaya, Karang Pacih, Kecamatan Landasan Ulin, dan Sungai Baru.

Amukan api yang berlangsung sekitar dua jam sejak pukul 11.00 itu telah menghanguskan daerah pertanian dan semak belukar di dua tempat tersebut mencapai 20 hektar.

Parahnya, kebakaran lahan beberapa hari ini juga sudah memunculkan kabut asap tebal yang mengancam kesehatan.

Kepala Daerah Operasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan pada BKSDA Kalsel Zulkarnaen mengatakan, dalam sebulan terakhir pihaknya sudah memadamkan kebakaran lahan dan hutan sebanyak 46 kali. Ada- pun daerahnya ada di Kabupaten Tanah Laut, Banjar, Tapin, Barito Kuala, Kota Banjarbaru, dan Banjarmasin, dengan total luas 460 hektar lebih.

Di Palangkaraya, kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan sudah menurunkan kualitas udara di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Palangkaraya Andrie Manurung me- nyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir kualitas udara sudah menurun dari baik menjadi sedang.

Ini terjadi seiring dengan terus meningkatnya jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), titik panas di Kalteng tanggal 27-29 September berturut-turut 41, 172, dan 278 titik. Pada 1 September naik lagi menjadi 286 titik.

Sumbagsel

Peningkatan jumlah titik api juga terjadi di Sumatera Selatan, dari 44 titik pada Senin (1/10) menjadi 366 titik pada hari Selasa (2/10) pukul 23.00.

Dari Jambi dilaporkan, para perambah kembali membakar lahan di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Pembakaran yang telah berlangsung tiga hari ini belum dapat dihentikan.

"Semalam tim kami berangkat menuju lokasi di TNBD. Mereka akan memadamkan api sekaligus mencari pelaku pembakaran," tutur Sekretaris Pusat Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Jambi Frans Tandipau. (ful/cas/wad/ita)

Siaga Penuh untuk Kebakaran Hutan Hujan Sempat Warnai HUT TNI

Sabtu, 6 Oktober 2007
Radar Banjarmasin, BANJARBARU – Kebakaran lahan dan hutan yang akhir-akhir melanda wilayah kalimantan, termasuk Kalsel mau tak mau juga membuat jajaran TNI bersiaga penuh. Bahkan, TNI pun menyiapkan setidaknya 1 SSK anggota untuk membantu memadamkan bila terjadi kebakaran hutan maupun lahan.

Pernyataan itu langsung disampaikan Pangdam VI Tanjung Pura Mayjen GR Situmeang usai peringatan HUT TNI ke-62 di Lapangan Murjani Banjarbaru, kemarin.

Diungkapkan Situmeang, dibanding tahun lalu, kondisi kebakaran hutan maupun lahan pada tahun ini menurun.

Meski menurun, ungkap Pangdam, hal itu tak membuat jajarannya tinggal diam dan tetap melakukan pemantauan.

“Kebakaran hutan tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Apalagi, saat ini sudah mulai turun hujan,” kata Pangdam.

Dibanding daerah lain, Kalsel relatif jauh lebih baik dibanding Kalteng yang saat ini menjadi prioritas utama pemadaman.

Senada dengan Pangdam, Gubernur Kalsel Drs Rudy Ariffin juga mengakui, saat ini kesadaran warga Kalsel akan bahaya kebakaran hutan cukuplah tinggi. Terbukti jumlah hot spot (titik api) menurun.

“Lahan yang terbakar tak sebanyak tahun lalu. Justru sekarang, banyak pemukiman yang terbakar,” kata Gubernur.

Rudy mengakui, sebagai bentuk upaya menanggulangi terjadinya kebakaran hutan, pihaknya tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Tak itu saja, fatwa haram yang dikeluarkan MUI yang melarang pembakaran hutan serta ditunjang kemarau basah yang saat ini terjadi bisa menekan terjadikan kebakaran.

Sementara itu, pada puncak peringatan HUT TNI, diakhir kegiatan Banjarbaru sempat diguyur hujan. Meski cuma sebentar dan muncul diakhir peringatan, hujan yang terbilang cukup deras itu cukup dirasakan.

Pun begitu, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan sukses. Mulai dari upacara, atraksi aero medeling hingga marching band yang mampu menarik perhatian warga Banjarbaru.

Panglima TNI Marsekal Joko Suyanto dalam sambutannya yang dibacakan Pangdam Tanjung Pura Mayjen GR Situmeang mengatakan, sejauh ini TNI sebagai alat negara memiliki tugas untuk mempertahanan integritas dan kedaulatan NKRI yang saat ini masih mengalami ujian yang tidak ringan. Semangat persatuan dalam kebhinekaan ternyata belum sepenuhnya dapat dihayati oleh sebagian masyarakat Indonesia. Hal itu tercermin dengan gejala separatise kedaeraan, radikalisme yang bernuansa SARA. Tak terkecuali munculnya gerakan RMS Ambon, OPM Papua dan penurunan bendera merah putih. Menghadapi segala kemungkinan tersebut, tak ada jalan lagi bagi TNI untuk memantapkan profesionalitas dan soliditas TNI dalam mengamankan dan mempertahankan NKRI. (mul)

Sunday, October 28, 2007

Kebakaran Lahan Permukiman Dekat Bandara Syamsudin Noor Dikepung Api

Selasa, 25 September 2007

 

Banjarbaru, Kompas - Sekitar lima hektar lahan pertanian dan semak belukar di pinggiran Bandar Udara Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (24/9), terbakar. Kebakaran lahan tersebut sempat membuat panik warga karena api sempat mengepung beberapa rumah di kawasan permukiman, seperti di RT 12, Kelurahan Guntung Damar, Kecamatan Guntung Payung.

Meski tidak ada rumah yang terbakar, dua kandang ayam pedaging luluh lantak dilalap api. Kobaran api yang begitu besar di areal semak belukar di kawasan permukiman tersebut terjadi sejak pukul 11.00. Selain dua kandang ayam, beberapa jaringan listrik di daerah itu juga putus.

Beberapa warga mengaku tidak tahu dari mana api berasal. Api begitu cepat membesar dan meluas, karena selain sebagian besar semak belukar sudah kering, juga akibat tiupan angin kencang. Jilatan api bahkan terlihat mencapai lebih dari tiga meter. Sepekan terakhir, sedikitnya enam titik areal pertanian milik warga dengan luas sekitar satu hingga dua hektar juga mati meranggas akibat kebakaran.

613 titik api

Dari Palembang dilaporkan, jumlah titik api di Sumatera Selatan mengalami lonjakan pada hari Minggu (23/9), hingga mencapai 613 titik. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran munculnya bencana kabut asap jika api tidak dapat dicegah merembet ke lahan gambut.

Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran Hutan Achmad Taufik, Senin (24/9), mengatakan, jumlah titik api sudah jauh meningkat dibandingkan pada hari Sabtu yang hanya 120 titik dan hari Jumat 173 titik.

"Sejumlah titik api, seperti terpantau di Kabupaten Ogan Ilir, diduga sengaja dilakukan untuk persiapan musim tanam," kata Taufik.

Menurut dia, jumlah titik api terbanyak terdapat di Kabupaten Musi Rawas dengan 116 titik, disusul Kabupaten Musi Banyuasin 90 titik. (FUL/WAD)

Sunday, October 21, 2007

Pola Penyuluhan Khusus untuk Masyarakat Dayak

Selasa, 4 September 2007
Radar Banjarmasin

BARABAI – Kepala Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Hantakan Eko Prapto Bambang Parikesit mengatakan, pola penyuluhan di setiap kecamatan pada tataran ilmu relatif sama, tetapi pada tataran aplikasi cenderung berbeda. ”Yang jelas penyuluh harus jeli melihat aspek prilaku masyarakat petani yang dibinanya,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, belum lama tadi.

Seperti di Kecamatan Hantakan, urai Penyuluh Teladan tingkat Nasional ini, ia harus menggabungkan antara aspek prilaku dengan partisipatif. Petani di kawasan Pegunungan Meratus atau petani Dayak Meratus tak hanya diberi contoh terkait bagaimana pembudidayaan masalah bertani.

Mereka juga harus dilibatkan dalam pola partisipatif. Pasalnya, lantaran topografi wilayah yang bergunung, dengan komintas hidup orang dayak yang sudak berkelompok dan terpencar jauh-jauh. Akhirnya, bukan penyuluh yang mengundang petani untuk berdiskusi. ”Tetapi merekalah yang kerap mengundang kita untuk dilakukan pertemuan,” kata penyuluh yang sudah mempunyai masa kerja 18 tahun ini.

Karena sistem seperti itulah, biasanya tenaga penyuluh di Kecamatan Hantakan harus ikut bermalam di Balai Adat milik masyarakat dayak.

Bukan hanya masalah laku dan partispatif, menurut Eko, BPP Kecamatan Hantakan menerapkan sistem open management alias manajemen terbuka. Dengan sistem seperti ini, maka akuntabilitas publik dan tranpransi dana dapat dipertanggungjawaban secara bijak.

”Masalah pengelola keuangan kami tunjuk secara musyawarah mufakat. Sehingga harus diakui bahwa BPP Kecamatan Hantakan dirawat dan dimiliki bersama oleh masyarakat,” ungkap Eko.

Juga terkait pembudidayan tanaman, areal tanam BPP juga dijadikan demplot percobaan atau laboratorium lapangan. Sehingga bila ada tanaman baru yang dikembangkan, pertama-tama dapat tumbuh di areal tersebut. ”Petani pun akan mudah mengetahui secara nyata hasilnya,” terangnya.

Bahkan untuk Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) melakukan pertemuan rutin setiap setengah bulan sekali. Disinilah, mereka berbaur untuk melakukan kajian serta penerapan ilmu pengetahuan yang baru.

”Patut diketahui masyarakat Dayak Meratus ternyata begitu respek terhadap hal yang baru terkait informasi pertanian. Ini yang sangat membanggakan,” bebernya. (why)

Monday, September 10, 2007

Lima Titik Panas Terdeteksi

Kamis, 30 Agustus 2007

KOTABARU,- memasuki musim kemarau tahun ini, di kawasan Kabupaten Kotabaru kembali terdeteksi adanya hotspot (titik panas) yang tersebar pada beberapa lokasi. Hotspot tersebut terdeteksi oleh Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada pertengahan Agustus. Untuk wilayah Kalsel berjumlah 73 titik panas.

    Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kehutanan setempat, Armadi Tamaju mengatakan, pada musim kemarau bulan Agustus ini petani dan ladang berpindah mulai membersihkan lahan untuk persiapan tanam seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari data Dinas Kehutanan Provinsi, khusus di Kotabaru ada 7 titik panas. Jika dibandingkan dengan tahu lalu jumlah hotspot di kabupaten ini menurun. Pada periode sama tahun di 2006, ditemukan 732 titik hotspot, dan 31 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.

       "Biasanya titik panas tersebut ditemukan di dalam dan di luar kawasan hutan di wilayah Pulau Laut dan Senakin, karena di wilayah itu banyak perusahaan perkebunan dan areal HPH PT Inutani," ujarnya.

       Selain itu, hotspot juga banyak ditemukan dalam areal penggunaan lain (APL) bahkan ada pada kawasan hutan lindung seperti di Berangas Kecamatan Pulau Laut Timur. Begitu juga dalan kawanan hutan tanaman industri perkebunan kelapa sawit

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kotabaru sudah meminta kepada semua perusahaan perkebunan atau pemilik HPH, tetap waspada dan memberikan laporan kepada Dishutbun, jika ditemukan ada lahan mereka yang terbakar.

       Sementara ancaman bagi yang membakar hutan dengan sengaja akan diancam Undang-undang nomor 4 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 78 ayat 3, kurungan maksimal 15 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar. Sementara yang lalai hingga terjadi kebakaran hutan, diancam maksimal lima tahun penjara atau denda Rp 1.5 miliar. (ins)

Hotspot Mudah Diakses Asal Tak Terhalang Pohon

Radar Banjarmasin ; Selasa, 28 Agustus 2007
BANJARBARU – Sejak resmi beroperasi, fasilitas hotspot internet yang terletak kawasan perkantoran Pemkot Banjarbaru mampu melayani akses internet dengan baik. Tak jarang, mahasiswa maupun pelajar yang ada di Banjarbaru ini memanfaatkan fasilitas gratis mengakses internet di sekitar kawasan Lapangan Murjani. Meski ada keluhan kendala mengakses, namun sejauh ini fasilitas hotspot masih bisa diterima dengan baik dengan radius 300 hingga 800 meter dari pemancarnya.

Hanya saja, untuk lebih memudahkan akses internet para penggunanya harus menggunakan laptopnya yang mengarah ke pemacar yang terpasang persis di atas samping gedung balaikota. Bila terhalang gedung, tembok atau bahkan pohon, akses internet tak bisa dilakukan.

Tak jarang, ketidaktahuan itulah membuat para pengakses internet mengeluh lantaran tak bisa menggunakan. Budi Sujamitko (19) misalnya, mahasiswa Unlam Banjarbaru mengaku sempat merasakan kesulitan mengakses pada sore hari lantaran terhalang pohon. Namun, setelah laptopnya diarahkan ke pemacar, usaha mengakses internet lebih mudah.

Diungkapkan M Noor Ifansyah, Kasi Data Telematika Pemkot Banjarbaru, saat dilakukan pengecekan langsung kemarin, sinyal pemancar hotspot sangat kuat bila diambil persis di depan kantor balaikota. Ini wajar, karena pemancar memang terletak persis di atas gedung Pemkot.

“Sampai saat ini, sinyal masih kuat. Speednya saja mencapai 54,00 Mbps dan ini sangat cepat untuk mengakses internet,” kata Ifansyah yang mengecek sinyal yang dipacarkan hotspot kemarin.

Meski saat pemantauan kemarin sinyal sangat kuat, Ifansyah mengungkapkan, sinyal yang dipancarkan bisa dipengaruhi oleh cuaca. Pasalnya, kekuatan sinyal antara pagi dan siang berbeda.

“Meski ada perbedaan kekuatan sinyal, tapi tetap bisa mengakses internet. Syaratnya asal jangan terlindung saja. Lebih baik lagi, mengakses persis di depan balaikota,” terang Ifansyah lagi.

Meski sejauh ini akses dan sinyal masih baik, pihaknya yang mengurusi masalah hotspot internet di Pemkot ini juga tetap berharap masukan semua pihak. Terutama bila akses internet tak bisa dilakukan. (mul)


Sunday, September 09, 2007

Ditemukan 5 Titik Panas Sengaja Membakar Diancam 15 Tahun Penjara

Thursday, 23 August 2007 01:35

KOTABARU, BPOST - Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pertengahan Agustus telah mendeteksi 73 titik panas (hotspot) di wilayah Kalsel, lima titik di antaranya di Kabupaten Kotabaru.

Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kehutanan setempat, Armadi Tamaju mengatakan, memasuki musim kemarau Agustus ini petani dan ladang berpindah mulai membersihkan lahan untuk persiapan tanam.

"Berdasarkan laporan dari Dinas Kehutanan Provinsi, ada 73 hotspot yaitu di Hulu Sungai Selatan 16 titik, Banjar 14 titik, Tanah Laut 11 titik, Banjarmasin 7 titik, Kotabaru, Tabalong dan Balagan masing-masing 5 titik, Tapin 4 titik, Batola 3 titik dan Tanah Bumbu 2 titik," kata Armadi, Rabu (2/8).

Meski tak menyebutkan luas areal yang terbakar, namun disebutkan lokasi hotspot di Kotabaru berada di kawasan hutan 9 titik dan kawasan non hutan 64 titik.

Hotspot di kabupaten ini menurun dibanding periode sama tahun 2006, dimana ditemukan 732 titik hotspot, dan 31 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.

"Paling dominan yang menyebar di dalam dan di luar kawasan hutan tersebut ditemukan di wilayah Pulau Laut dan Snakin, karena di wilayah itu banyak perusahaan perkebunan dan areal HPH PT Inutani," ujarnya.

Menurut Ali Arifin, Kepala Unit pelaksana Tugas (UPT) Berangas, titik panas sebagian besar berada di areal penggunaan lain (APL), bukan berada pada wilayah hutan lindung, dalam atau hutan tanaman industri. Juga bukan berada pada wilayah perkebunan kelapa sawit.

Meski demikian, pihaknya tetap meminta semua perusahaan perkebunan atau pemilik HPH, tetap waspada dan memberikan laporan kepada Dishutbun, jika ditemukan ada lahan mereka yang terbakar.

"Jika ditemukan warga atau perusahaan perkebunan sengaja membakar hutan, akan diancam Undang-undang nomor 4 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 78 ayat 3, kurungan maksimal 15 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar," katanya.

Bagi yang lalai hingga terjadi kebakaran hutan, diancam maksimal lima tahun penjara atau denda Rp 1.5 miliar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Penanaman Modal Kotabaru, Mukhlis Hamidi, menyatakan, hingga saat ini pihaknya masih belum dilibatkan oleh dinas tekhnis terkait pengamanan hutan. ant

5 Kecamatan Rawan Banjir

Rabu, 22 Agustus 2007


MARABAHAN,- Kabupaten Barito Kuala, tak dapat dipungkiri menjadi langganan banjir pada tiap tahunnya. Sedikitnya tercatat ada 5 kecamatan di kabupaten ini yang rawan banjir, Kuripan, Tabukan, Bakumpai, Jejangkit dan Mandastana.

“Banjir hampir pasti terjadi tiap tahun, karena wilayah kabupaten adalah wilayah muara dari Sungai Barito dan anak-anak sungainya,” ungkap Kabag Humas dan Protokol Pemkab Barito Kuala Akhmad Wahyuni, S.Sos.

Jika di wilayah hulu di Propinsi Kalimantan Tengah maupun kabupaten lainnya di Kalimantan Selatan banjir, maka banjir tersebut akan menjadi banjir kiriman yang harus ditanggung Kabupaten Barito Kuala.

“Sifat banjir sendiri menggenang dalam waktu yang relatif lama. Pengalaman tahaun 2005 misalnya, banjir di Kurupan berlangsung selama 5 minggu,” paparnya.

Meski rawan bencana (hanya banjir), lanjut dia, Batola adalah wilayah yang bebas dari konflik sosial. Salah satu bukti, saat terjadi krisis atau konflik SARA di Kalimantan Tengah, Batola yang langsung berbatasan dengan wilayah tersebut menjadi daerah yang aman bagi siapa saja.

Bahkan, kala itu aktivitas perdagangan kayu yang didominasi kapal dari Pulau Madura terus berlangsung dan masuk ke dalam wilayah kabupaten sejauh 100 km (dari pantai) di Marabahan, tanpa gangguan apapun. (tri)

Penanggulangan Banjir Perlu Kerjasama Lintas Kabupaten

Rabu, 22 Agustus 2007


AMUNTAI,- Ancaman banjir kerap menghantui warga di Kabupaten HSU. Pasalnya, hampir tiap tahun daerah HSU yang dialiri dua buah sungai (Sungai Balangan dan Tabalong) yang berhulu di kabupaten tetangga tersebut saban tahunnya dapat dipastikan mengirimkan air yang berlimpah.

Menurut Kabid Tata Ruang, Fisik dan Sarana Bapedda HSU, Ir Syahrul Rahmadi, karena kondisi geografis HSU yang berada di wilayah resapan, maka ancaman banjir tiap tahun dipastikan cukup mengganggu pembangunan di HSU. "Sekadar untuk diketahui saja, saat musim kemarau debit air dua sungai tersebut berkisar 70-80 liter per detik, sementara saat memasuki musim penghujan arus airnya menjadi 400 liter per detik yang dikirimkan dari hulu ke daerah ini," bebernya.

Nah, itu artinya, ujar Syahrul, bila dua sungai tersebut tidak dibendung sangat berbahaya untuk daerah ini. Tak salah kalau rencana pembangunan dua buah bendungan yaitu Bendung Pitap di Balangan dan Bendung Tabalong secepatnya terselesaikan. "Kalau hanya hilir-nya saja yang selalu diperbaiki, semisal dengan meninggikan jalan, itu tidak menyelesaikan masalah. Banjir akan terus mengancam daerah ini," bebernya.

Dijelaskannya, saat ini semua kabupaten/kota di Kalsel sedang mengumpulkan dokumen-dokumen terkait musibah banjir untuk dikumpulkan dan dikaji oleh pihak Unlam Banjarmasin. "Dari dokumen-dokumen tersebut bakal dicarikan solusi pemecahan masalahnya, yang tentunya melibatkan semua daerah. Ini lantaran penanggulangan banjir tidak hanya bisa melibatkan satu pemerintah daerah, tapi perlu dukungan kebijakan dari daerah-daerah lainnya, terutama daerah yang berada di hulu DAS (daerah aliran sungai, red)," jelasnya.

Penataan kembali tata ruang wilayah HSU ini perlu ditindaklanjuti, semisal pengalihan arus sungai, pengerukan sungai dan penataan kembali DAS.

Seperti yang pernah dilakukan Pemkab HSU yang melakukan sodetan (pembuatan saluran baru, Red) Sungai Balangan di Desa Kandang Jaya terbilang tidak efektif. Pasalnya, lanjutan sodetan sungai tersebut tidak dilanjutkan oleh pemerintah kabupaten tetangga. Tapi karena sodetan tersebut memasuki wilayah kabupaten lain, Pemkab HSU pun tidak meneruskannya. (bie)

Muncul 73 Hot Spot Ancaman Kabut Asap Masih Rendah

Sabtu, 18 Agustus 2007

BANJARMASIN – Dalam sepekan terakhir, jumlah hot spot (titik api) di Kalsel terus bertambah. Berdasarkan data yang didapatkan koran ini dari Dinas Kehutanan Kalsel, sampai kemarin telah muncul 73 hot spot yang tersebar di Kabupaten Banjar, Tabalong, Kotabaru, dan Tapin. “Berdasarkan pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), sampai hari ini (kemarin, red) telah muncul sebanyak 73 hot spot di Kalsel, dan kemunkinan akan terus bertambah mengingat kemarau yang kian terik belakangan ini,” ungkap Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Ir Suhardi Atmoredjo kepada koran ini, usai mengikuti upacara peringatan detik-detik proklamasi di halaman Kantor Gubernur Kalsel, kemarin.

Tapi, paparnya, jumlah tersebut setiap saat dapat berubah mengingat di sejumlah kawasan masih terjadi hujan, yang menyebabkan sejumlah hot spot hilang. “Sebagai contoh, dua hari lalu tepatnya tanggal 15 Agustus, jumlah hot spot hanya 12 titik,” katanya.

Menurutnya, fenomena alam yang terjadi belum begitu memprihatinkan, terlebih ancaman kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan. Meski begitu, ia mengimbau masyarakat jangan melakukan pembakaran saat membuka lahan pertanian dan perkebunan. “Saya kira kesadaran sebagian masyarakat agar tidak membakar saat membuka lahan masih rendah. Buktinya, saat dalam perjalanan dari Pulau Jawa menuju Banjarmasin dengan pesawat terbang, saya melihat sendiri kepulan asap masih terlihat walaupun jumlahnya kecil,” bebernya.

Lantas, bagaimana dengan ancaman kabut asap kiriman? Mantan Wakil Kepala Dinas Kehutanan Kalsel ini menyatakan, pihaknya terus memonitor ancaman asap kiriman dari provinsi tetangga Kalteng. “Biasanya asap kiriman tergantung arah angin, sehingga sulit diprediksi kapan datangnya. Maski demikian, kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memonitornya,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Satkorlak PB Kalsel, Fahruddin, mengemukakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pertemuan untuk membahas seputar kemungkinan ancaman kabut asap. Mantan Karo Umum dan Perlengkapan Setdaprov Kalsel ini mengharapkan, pertemuan nanti menjadi media konsolidasi dan peningkatan koordinasi. “Saya belum menentukan jadwalnya, pokoknya sesegera mungkin rapat koordinasi akan digelar,” katanya.(sga)

Syamsudin Noor Dikepung Titik Panas

Friday, 17 August 2007 23:43

BANJARBARU, BPOST - Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru sejak beberapa hari ini dikepung titik panas (hot spot) akibat pembakaran lahan pertanian di sekitar lokasi bandara.

"Bandara Syamsudin Noor kini dikepung titik api yang berasal dari pembakaran lahan secara sporadis oleh masyarakat sekitar lokasi tersebut," kata Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Suhardi Jumat (17/8).

Menurutnya, pembakaran lahan pertanian untuk tanaman sayur-mayur tersebut kendati tidak di lokasi lahan yang cukup luas, namun jumlahnya cukup banyak dan mengelilingi bandara.

"Pembakaran lahan yang dilakukan hanya sekitar empat sampai lima borong untuk setiap lokasi, namun jumlahnya cukup banyak. Beruntung sebelum dibakar lahan tersebut dibersihkan terlebih dahulu sehingga apinya tidak menyebar," katanya.

Kendati pembakaran lahan mulai marak di sekitar bandara, namun belum menimbulkan kabut asap tebal sehingga belum mengganggu penerbangan, jarak pandang juga masih normal.

Selain di sekitar bandara, pembakaran lahan juga terjadi hampir di seluruh wilayah Kalimantan, mengingat saat ini mulai memasuki musim tanam ke dua terutama di lahan lebak. ant

Tuesday, September 04, 2007

Titik Panas Meningkat Tajam Tersebar di 13 Kabupaten/Kota se Kalsel

Thursday, 16 August 2007 01:21

BANJARBARU, BPOST - Titik panas (hot spot) di Kalsel terdeteksi terus bertambah. Pengamatan satelit di Departemen Kehutanan sejak Selasa (14/7), penambahan titik panas terjadi di sebelah timur utara bandara, tepatnya di Kabupaten Banjar.

Jarak Pandang 700 Meter

Kendati kabut asap di Banjarbaru belum parah, namun sempat memendekkan jarak pandang di kawasan Bandara Syamsudin Noor. Pantauan BPost kabut menyaput sejak pukul 06.00 Wita membuat landasan pacu (runway) Bandara nyaris tertutup asap.

Munculnya asap disertai bau menyengat khas pembakaran lahan dan berangsung-angsur hilang pukul 08.30 Wita seiring tingginya matahari.

Data dari hasil pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Bandara Syamsudin Noor Rabu (15/8) menyebutkan, jarak pandang mencapai 700 meter. "Jarak pandang tersebut masih aman untuk penerbangan, meski ada halangan asap," terang Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara, Dwi Agus Priyono,

Agus mengingatkan, saat ini ancaman kabut asap patut diwaspadai. Meski kemarau belum puncaknya, suhu minimum 23,4 derajat celcius dan kelembaban 87 persen cukup memudahkan peluang kebakaran. Apalagi, curah hujan di Kalsel berangsur-angsur berkurang. niz

Namun, satelit milik BMG Singapura justru mendeteksi lebih banyak. Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara, Dwi Agus Priyono, mengatakan, ada tambahan dua hot spot yang terlihat yaitu di kawasan Kintap Tanah Laut (Tala).

Lebih rinci lagi, dari data posko siaga, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Satelit NOAA-18/15/12 (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced) mencatat, Agustus ini titik panas di Kalsel meningkat tajam.

Dari semula 25 titik panas di bulan Maret, sampai 7 Agustus 2007 ini sudah ada 67. Titik panas ini tersebar di 13 kabupaten/kota, kebanyakan terkonsentrasi di luar kawasan hutan yaitu 86,57 persen. Sisanya berada di kawasan hutan.

Dari urutan kabupaten, hot spot tertinggi terpantau di Kabupaten Banjar, dengan total 14 titik atau 20,89 persen. Selanjutnya Tanah Laut dan Hulu Sungai Selatan (HSS), masing-masing 11 titik panas atau 16,42% dan Banjarmasin dengan 7 titik atau 10,45%.

Petugas Posko Siaga BKSDA Kalsel, Ali Fahmi, menjelaskan posisi hot spot bakal terus meningkat. Informasi terakhir sampai 14 Agustus masih terjadi pertambahan. "Data masih kita proses. Berdasarkan rekaman NOAA ada tambahan 6 titik panas lagi. Jadi akumulasinya 73 titik dan ini masih dikoordinatkan di mana saja pertambahan hot spot itu," jelas Ali.

Ditambahkan Kepala BKSDA Kalsel, Siswoyo, saat ini pihaknya telah mengadakan apel siaga penanggulangan asap dan kebakaran di kabupaten-kabupaten dan berkoordinasi dengan barisan pemadam kebakaran. Dua regu pemadam beberapa hari ini telah diturunkan untuk memadamkan titik panas di Kecamatan Gambut dan sekitar Bandara Syamsudin Noor. niz

Thursday, August 30, 2007

1.000 Hekatre Tambak Hancur

Saturday, 11 August 2007 03:00

KOTABARU, BPOST - Kerusakan tambak udang dan bandeng di Kotabaru akibat terendam banjir terus meningkat. Jika sebelumnya diperkirakan hanya 500 hektare, ternyata setelah dilakukan peninjauan ke lapangan lebih dari 1.000 haktare.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru Sabrie Madani mengatakan, kerusakan 500 haktare itu hanya di Kecamatan Pamukan Selatan, Pulau Laut Tengah dan Sampanahan. Belum termasuk data di Kecamatan Kelumpang Utara dan Kelumpang Selatan.

"Bisa jadi jumlahnya ribuan hektare. Apabila sudah terdata semua, selain melaporkan kepada pusat kami juga akan mintakan bantuan bagi petani yang tambaknya rusak karena banjir," jelas Sabrie saat melaporkan kerusakan itu kw Sekretaris Dirjen Perikanan dan Kelautan Marwoto.

Dia juga berjanji akan menindaklanjuti laporan ke Kepala Biro Perencanaan Departemen Kelautan dan Perikanan RI.

Selain itu akan mengusahakan bantuan bagi petambak yang mengalami kerugian karena banjir malalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) Perubahan.

Menurutnya, pemerintah pusat sedang menyusun cara mengatasi semua persoalan perikanan yang sifatnya mendesak.

Seperti pemberian bantuan bagi nelayan tambak udang Kotabaru yang terserang banjir beberapa waktu lalu.

Sementara Marwoto berjanji mengusahakan perbaikan speedboat Dinas Perikanan dan Kelautan Kotabaru yang terbalik melalui dana alokasi khusus (DAK). dhs

Wednesday, August 29, 2007

Banjar Terparah Kerugian Banjir Rp 227 Miliar

Thursday, 09 August 2007 23:55

BANJARMASIN, BPOST - Kerugian akibat banjir yang melanda empat Kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang terjadi sejak dua tahun terakhir mencapai Rp 227.385.318.500 dan 12 orang meninggal.

Total kerugian banjir tersebut disampaikan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kalsel Rachmadi Kurdi dalam acara Rapat Regional Lingkungan Hidup (LH) se-Kalimantan, Rabu (8/8).

Menurut Rachmadi, kerugian itu meliputi kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, pertanian, perikanan, kelautan dan peternakan.

Kerugian bidang perikanan dan kelautan, untuk empat kabupaten mencapai Rp 28,817 miliar dengan rincian, Kabupaten Banjar, Rp 22,9 miliar, Tala Rp 855 juta, Tanbu Rp 4,899 miliar dan Kotabaru Rp 163 juta.

Selanjutnya, sektor pertanian kerugian Rp 99.623.788.500 yang terdiri dari persawahan yang terkena banjir, 23.067 hektare, persawahan puso, 10.862 hektare, tanaman persemaian yang rusak, 166.384 kilogram, persemaian yang puso, 123.345 kilogram.

Sementara itu, kerugian di sektor peternakan Rp 1.969 miliar dengan rincian, kerugian ayam ras yang mati Rp 27 juta, itik Rp 48,4 juta, ayam buras Rp 651.570.000, kambing, Rp 117 juta, sapi Rp765 juta dan kerbau Rp 240 juta.

Sedangkan kerugian fasilitas umum dan infrastruktur se-Kalsel diperkirakan Rp 75 miliar, yaitu Kabupaten Banjar 137 unit SDN, SMPN lima buah, dan satu unit SMAN dengan total kerugian Rp 690 juta.

Kemudian Kabupaten Tanbu, dua unit TK, SDN 22 unit, SD swasta satu unit, MIN satu unit, SMP dua unit, MTSN tiga unit, dengan total kerugian Rp 610 juta.

Kabupaten Tala dan Kotabaru total kerugian akibat banjir diperkirakan mencapai Rp 1,3 miliar dan kerusakan jalan dan jembatan milik Kabupaten se-Kalsel diperkirakan Rp 58,9 miliar. ant

20 Titik Api Baca juga Dishut Tiap Hari Patroli Udara

Wednesday, 08 August 2007 01:39

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Suhardi melalui Untung operator Satelit NOAA-AVHRR (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer) menyebutkan, titik api (hot spot) di Kalsel masih belum menunjukkan pertambahan. Ini karena satelit tersebut hanya mampu mendeteksi titik panas jika suhu di daratan mencapai 40 derajat celsius.

"Titik api kita di Kalsel masih terpantau 20 titik. Belum bertambah, karena biasanya satelit NOAA baru mendeteksi jika suhu sudah 40 derajat celsius," terangnya.

Sejak Maret tadi, terdeteksi 20 hot spot. Tersebar di tiga kabupaten yaitu tujuh di kabupaten Banjar, sepuluh di Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan tiga di Banjarmasin.

Dua titik api di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Mandiangin Kecamatan Karang Intan. Sementara 18 titik api lainnya tampak di luar kawasan hutan.

Rekap data hot spot di Dishut, diketahui titik api tertinggi lima tahun terakhir terjadi pada 2004 tadi yaitu 2.000 titik api. niz

Korem Antasari Siapkan Satgas Kebakaran Hutan

Saturday, 04 August 2007 00:28:40

BANJARMASIN, BPOST - Korem 1010/Antasari Jumat (3/8) pagi pukul 08.00 Wita, menggelar pasukan Satgas PRC PBP di halaman Stadion Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Gelar pasukan tersebut dilaksanakan dalam mempersiapkan Satgas PRC PBP untuk tugas penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan serta monitoring hot spot, di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Gelar pasukan Satgas ini tidak lain, lantaran sebentar lagi akan datang musim kemarau yang seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Maka dari itulah, kita persiapkan sedini mungkin. Pasukan ini sudah kita laksanakan sejak 2006 lalu, utuk itu kesiapsiagaan personel dan materil Satgas PRC PBP Korem 101/Ant harus disiapkan secara optimal," kata Letnan Kolonel Infantri Martono, Kepala Staf Korem 101/Ant, pada gelar pasukan kemarin.

Menurutnya, Satgas ini tidak hanya bertugas di wilayah Kalsel, melainkan juga ke wilayah yang lainnya di Kalimantan. "Kita ingin meringankan beban berat pemerintah, caranya tidak lain dengan ikut serta menjaga kestabilan nasional, sepereti membantu untuk menanggulangi bencana alam," terangnya.

Martono berpesan, beban penderitaan rakyat yang timbul akibat datangnya berbagai bencana alam, perlu peran aktif dari seluruh komponen bangsa.

"Saya harapkan, adanya kemauan dari semua unsur untuk bekerjasama di dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, dengan dilandasi cinta tanah air, rasa kebangsaan, kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu atau golongan, serta dengan saling bahu membahu menyelesaikan masalah ini, dalam bingkai Negara Kesatuan RI," pesannya. dua

Banjir Rusak Jalan Empat Desa

Thursday, 02 August 2007 01:30

MARTAPURA, BPOST - Banjir bandang yang menggenangi Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar beberapa waktu terakhir mengakibakan rusaknya jalan di empat desa.

Tidak hanya itu, ratusan hektare sawah di beberapa kecamatan di Kabupaten Banjar juga rusak diterjang banjir. Akibatnya, ratusan petani kehilangan mata pencaharian dan mengalami kerugian jutaan rupiah.

Dari pantauan, jalan desa yang mengalami kerusakan akibat digenangi air hingga tiga hari kemarin, terjadi di Desa Jati Baru, Sungai Alat, Astambul Kota, dan Kelampayan Ilir. Banjir di sana menyisakan lobang-lobang besar di jalan-jalan.

Warga yang melintasi harus ekstra hati-hati, karena untuk sampai ke tempat tujuan harus melewati lobang yang menganga. Jalan-jalan tersebut terlihat licin di beberapa titik karena masih ada sisa lumpur bekas genangan air.

Camat Astambul, H Bambang Tunggono, Rabu (1/8) mengatakan, banjir telah merusakkan jalan di empat desa di wilayahnya. Menurutnya wilayah itu memang langganan banjir, saat hujan deras di wilayah hulu sungai Riam Kiwa.

"Luapan sungai sejak Rabu hingga Jumat kemarin sempat menggenangi badan jalan di empat desa itu. Air genangan telah mengelupas aspal hingga menjadi lubang-lubang di badan jalan," jelasnya.

Warga sudah menyampaikan keluhannya."Kami berharap Pemkab Banjar bisa menggunakan dana darurat untuk perbaikannya," ucapnya.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Banjar 2007 ini telah mengakibatkan kerusakan jalan di beberapa kecamatan. Tak hanya di Kecamatan Astambul, di Desa Tangkas Kecamatan Martapura Barat, dan Jalan Martapura Lama juga rusak. sig


Tuesday, August 21, 2007

Jembatan Ambruk Diterjang Banjir

Tuesday, 31 July 2007 02:08

  • Desa Tirawan Terisolir

KOTABARU, BPOST - Banjir yang melanda Kotabaru, Minggu (29/7), menghancurkan jembatan darurat Baharu-Tirawan, Desa Tirawan, Kecamatan Pulau Laut Selatan.

Tak hanya itu, banjir yang disebabkan meluapnya Sungai Tirawan itu menyebabkan beberapa pohon besar tumbang. Diduga pohon itu hanyut terbawa derasnya arus Sungai Tirawan menghancurkan jembatan di atas sungai itu.

Dari pantuan BPost, sebuah pohon berdiameter 50 cm berada di bawah runtuhan jembatan. Tak satu pun kendaraan bermotor yang bisa melintas di jembatan itu.

Kepala Desa Tirawan Sabrani, mengatakan jembatan darurat dengan lebar sekitar satu setengah meter dan panjang 10 meter roboh sekitar pukul 12.00 Wita.

"Saat itu hujan deras, air Sungai Tirawan di sebelah rumah saya meluap dan banyak batang pohon hanyut menghantam badan jembatan," kata Sabrani.

Runtuhnya jembatan itu membuat warga tak bisa bepergian. Mereka terpaksa bergotong royong membuat jembatan darurat sekitar 200 meter dari jembatan ambruk. Jembatan itu terbuat dari kayu papan yang dipasang di atas bebatuan sungai tanpa pondasi. Jembatan baru itu menjadi alternatif sementara agar bisa melintas ke seberang sungai.

Kepala Seksi Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Masruddin berjanji segera memperbaiki jembatan itu. Bahkan sudah dilakukan survei dan pengukuran.

Menurutnya, jembatan itu dibangun beton box bersamaan dengan satu jembatan lainnya. Kontrak kerja dimulai Juli hingga pertengahan November dengan anggaran Rp 1.211.100.000.

Hujan deras yang masih mengguyur Kotabaru sepekan terakhir juga menyebabkan jalan raya Kotabaru-Berangas, Kecamatan Pulau Laut Timur Km 21, longsor. dhs


Sunday, July 29, 2007

Ratusan Kubik Kayu Disita Polres Razia Sawmil

Monday, 30 July 2007 01:21

BANJARMASIN, BPOST - Banjir yang melanda permukiman di sekitar Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan, sekitar sepuluh tahun lagi baru bisa teratasi. Itu pun dengan syarat, proyek gerakan rehabilitasi lahan (gerhan) di kawasan itu berhasil.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Kalsel), Suhardi, mengatakan, di lokasi yang menjadi langganan banjir tersebut kini kondisinya cukup memprihatinkan, bukan hanya pohon-pohon besar habis ditebang, namun ilalang yang sebenarnya juga mampu menahan luapan air juga sudah dibabat.

"Kendati tidak ada pohon, ilalang pun masih mampu menjadi kawasan resapan air, tapi di daerah tersebut sudah gundul, akibat kegiatan tambang dan penebangan hutan," katanya.

Apalagi tambah Suhardi, pohon-pohon di hutan yang berada di kawasan lebih atas juga telah gundul, sehingga air hujan langsung menyebabkan banjir.

Mengatasi kondisi tersebut, Pemkab Banjar telah memprioritaskan kegiatan gerhan di daerah itu, namun tetap memerlukan waktu cukup lama karena menunggu pohon-pohon yang ditanam tumbuh dan berfungsi menahan luapan air.

Menurutnya selain Kabupaten Banjar, empat kabupaten lain di Kalsel yakni Tapin Tala, Tabalong dan Hulu Sungai Utara hutannya juga cukup kritis, sehinga harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. "Di Tala saat ini kerusakan hutan juga sangat parah, sehingga banjir yang berulang kali terjadi sulit untuk diatasi," kata Suhardi. ant

Hutan Hilang

Saturday, 28 July 2007 01:53:58

BANJARMASIN, BPOST - Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Selatan Rachmadi Kurdi menilai, hilangnya sejumlah kawasan hutan menjadi penyebab utama bencana banjir di Banua.

"Hilangnya kawasan hutan tersebut selain disebabkan perambahan atau penebangan liar, juga karena upaya reboisasi yang tak seimbang dengan penebangan," kata Rachmadi, Jumat (27/7) di kantornya.

Rachmadi belum melihat banjir itu disebabkan aktivitas pertambangan batu bara. "Saya kira kegiatan pertambangan batu bara juga bisa dibilang turut andil dalam kerusakan lingkungan, tapi belum bisa dikatakan penyebab utama bencana banjir," ujarnya.ant


Thursday, July 26, 2007

Ratusan Ton Gabah Rusak Akibat Hujan yang Turun Selama Beberapa Hari

Jumat, 27 Juli 2007

KOTABARU ,- Akibat hujan yang terus mengguyur selama beberapa hari di kawasan Kabupaten Kotabaru, ratusan ton gabah hasil panen dan siap panen di beberapa desa di Kecamatan Pulau Laut Timur rusak karena terendam dan tidak dapat dijemur.

   Camat Pulau Laut Timur, Bahrudin menjelaskan, akibat hujan dan meningginya permukaan air di sembilan desa, padi dan gabah hasil panen milik warga mengalami kerusakan karena tidak bisa dipanen dan dijemur.

   "Dengan kondisi seperti ini ratusan ton gabah yang sudah dipanen itu akan rusak dan kualitasnya akan menurun. Biasanya setelah padi dipanen, gabahnya langsung dijemur. Tapi akibat hujan terus menerus gabah tersebut tidak bisa dijemur,” ujar Bahruddin menjelaskan.

   Dari sekitar 5 ribu  hektar tanaman padi, lanjut Camat, sebagian besar telah dipanen. Namun hasil panennya baru sebagian yang sudah dijemur, sedangkan sisanya masih menumpuk di lumbung-lumbung padi.

   "Biasanya masyarakat di sini hanya mengandalkan sinar matahari untuk menjemur padi, karena saat ini kami masih belum memiliki peralatan pemanas buatan semacam dryer. Dengan tidak terkena matahari dapat dipastikan hasil panen petani di Pulau Laut Timur akan mengalami kerusakan," jelasnya.

   Selain kerusakan gabah, kawasan persawahan puluhan hektar siap panen kini juga rusak akibat terendam banjir selama tiga hari ini. Bahrudin khawatir, jika hujan terus menerus dan gabah tidak dapat dijemur, mengakibatkan nilai jual gabah akan turun drastis.

   Dengan kondisi seperti ini, petani di kawasan Pulau Laut Timur mengharapkan agar pemerintah Kabupaten Kotabaru bisa membangun mesin pemanas. Karena jika gabah tidak dijemur, kualitasnya akan menurun bahkan mengalami kerusakan, sehingga petani akan sangat dirugikan dengan kondisi alam seperti yang terjadi sekarang ini.

       Kiranya harapan masyarakat tersebut sejalan dengan rencana Pemkab Kotabaru yang akan menjadikan Pulau Laut Timur menjadi lumbung padi Kabupaten Kotabaru.(ins)

Sungai Riam Kiwa Meluap Debit Waduk Naik

Thursday, 26 July 2007 01:32

MARTAPURA, BPOST - Hujan yang kerap mengguyur sekitar kawasan Waduk Riam Kanan sepekan terakhir telah menyebabkan naiknya debit air di Sungai Riam Kiwa dan Waduk Ir PM Noor Riam Kanan. Luberan air itu juga menyebabkan tingginya debit air di Sungai Riam Kanan dan Sungai Martapura yang merupakan daerah alirannya.

Naiknya debit air di waduk itu menyebabkan debit air di bagian hulu sungai dan waduk itu juga ikut meluap. Ketinggian air sungai di hulu sungai tersebut naik hingga satu meter sejak Selasa (24/7). Tapi, dari pantauan, kenaikan air sungai itu tidak sempat menimbulkan banjir di beberapa kawasan yang sering dilanda banjir saat air di hulu sungai naik.

Camat Sungai Pinang Banjar M Aslam SSos mengatakan, hingga Rabu sore wilayahnya masih disaput mendung dan hujan. "Air sungai naik sekitar satu meter, tapi tidak sampai menggenangi desa-desa yang rawan banjir," ujar M Aslam, Rabu (25/7) siang.

Menurutnya, biasanya Desa Rantau Nangka dan Sungai Pinang kerap tergenang air bila debit air sungai naik. Tapi berdasarkan pantauannya, hingga kemarin masih tampak normal.sig


Tuesday, July 24, 2007

Pelatihan Bencana Bukan Menantang

Rabu, 25 Juli 2007

TANJUNG ,- Bencana dapat ditimbulkan karena kecerobohan manusia dalam memperlakukan alam, sehingga bencana banjir, tanah longsor, kebakaran dan bencana alam lainnya seringkali terjadi akibat human error. Namun, pelatihan bencana yang dilaksanakan Dinas Kessos Tabalong, bukan berarti bermaksud menantang terhadap terjadinya bencana.

Hal itu disampaikan Plt Sekda Tabalong Drs H Abdel Fadillah MSi pada pembukaan pelatihan taruna siaga bencana (Tagana) di aula Bandiklat Tabalong, awal pekan tadi.

Ditambahkan Abdel yang mewakili Bupati Tabalong Drs H Rachman Ramsyi MSi dalam menyampaikan sambutan, bencana selalu menimbulkan dampak kerugian. Selain korban jiwa dan harta benda, juga mempunyai dampak sosial dan dampak psikologis yang tak ternilai.

“Kita semua menyadari bahwa segala macam bentuk bencana adalah merugikan, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali menyiapkan upaya konkret berupa antisipasi terjadinya bencana. Kegitan pelatihan bukan sikap kita menantang datangnya bencana, karena merasa sudah terlatih lalu kita bisa seenaknya memperlakukan alam yang kita tempati,” pesannya.

Sesungguhnya, dalam keseharian, raga dan jiwa kita selalu terancam bencana apabila kita salah dalam mengelola lingkungan. Tetapi, jika kita berhati-hati memperlakukan alam dan lingkungan, insya Allah kita terhindar bencana. Pelatihan ini diharapkan semua komponen peserta siap melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menanggulanginya misalnya melakukan proses evakuasi, recovery sampai rehabilitasi. “ Pelatihan adalah tahapan-tahapan yang sangat penting dan perlu difahami semua peserta. Wawasan bertambah dan memiliki sikap cepat tanggap,” pungkas Abdel.

Pelaksanaan pelatihan taruna siaga bencana itu sendiri dilaksanakan selama dua hari, tertanggal 23 Juli sampai 25 juli 2007 di aula Bandiklat Tabalong Jl Tanjung Selatan, Mabuun, Murung Pudak.

Pelatihan dilaksanakan dalam rangka menambah pengetahuan peserta untuk kegiatan bantuan korban bencana alam dan bencana sosial, terampil menghadapi bencana, matang di lokasi kejadian, siap, cepat dan tanggap.

Materi pelatihan Tagana meliputi bongkar pasang tenda, P3K, operasional, pengelolaan dapur umum dan pelaksanaan tugas di lapangan memasuki masa pra, saat dan pasca kejadian. Pelatihan diikuti sebanyak 50 peserta, berasal dari perwakilan Polres Tabalong, Kodim 1008 Tanjung, Kompi Senapan A 621 Hikun, Ormas, Orari, karang taruna, PSM dan karyawan perusahaan. (day)

Sunday, July 22, 2007

Warga Nanti Pembuatan Saluran

Senin, 23 Juli 2007
 
PELAIHARI- Banjir yang terjadi secara berulang, bahkan hingga beberapa kali dalam setahun, membuat warga Jorong khususnya warga Dusun III yang berada tepat di sisi Sungai Swarangan menjerit.

Sejak Sabtu (21/7) kemarin mereka terpaksa mengungsi ke rumah-rumah tetangga dan keluarga, karena rumah-rumah mereka digenangi air sampai setinggi dada orang dewasa. Hujan yang turun selama kurang lebih 11 jam ini telah membuat sebanyak 360 jiwa benar-benar memerlukan bantuan.

Hujan yang turun sejak Jumat tersebut menghantarkan banjir yang kedua kalinya selama bulan Juli ini, bahkan untuk kesekian puluh kali bagi 96 KK yang tinggal di desa itu.

“Banjir di desa ini memang sudah rutin terjadi, bahkan karena alasan tersebut, pada tahun 70-an jalan provinsi dipindah, sehingga tidak lagi melintasi kampung kami ini,” ujar Kepala Dusun III Asnaen.

Lebih lanjut ujarnya, seringnya banjir terjadi karena tidak adanya saluran air yang memadai, sehingga kampung warga yang daerahnya lebih rendah menjadi tempat genangan air.

“Bila hujan deras, air yang berasal dari atas gunung mengalir ke sungai-sungai yang ada di desa ini, air tertahan di desa ini dan meluap, sehingga luapan ini yang menyebabkan banjir dan biasanya perlu waktu seminggu, baru airnya kering.” ujar Asnaen yang juga ditunjuk menjadi Koordinator Posko Banjir Desa Jorong.

Lebih lanjut ia menyampaikan harapan warganya agar dibuatkan saluran pembuangan air, yang akan mengalirkan air hujan ke laut atau paling tidak ke hilir sungai Swarangan, sehingga desa mereka tidak lagi tenggelam, sekaligus pengerukan sungai mereka yang masih dangkal.

“Kami telah meminta ke pihak pemerintah daerah, dinas pertanian, dinas kehutanan atau perusahaan, untuk membantu pembuatan tanggul atau saluran sepanjang 4.000 meter, untuk mengalirkan air ini ke laut Swarangan, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan, kami sendiri tidak memiliki kemampuan melakukannya, karena anggarannya sangat besar,” ujarnya.

Di samping itu harapan mereka dengan adanya tanggul atau saluran ini mereka dapat memanfaatkan lahan yang selama ini sangat berperan besar untuk mencukupi kebutuhan pertanian sebagian besar warga.

“Dalam setahun, kadang kami harus menanam padi sampai tiga kali, karena tanaman sering terendam banjir dan menjadi mati, sehingga harus diulangi lagi,” tandasnya.(bin)

Hujan Deras, Batam-Jorong Banjir --open

Warga Jorong Mengungsi di Langgar Bayi Merah Pun Berdesakan

Monday, 23 July 2007 02:56

TAK seperti biasanya, Langgar Taufikurrahman di Desa Jorong, Tanah Laut, dijejali warga. Beberapa wanita paro baya duduk lesu di teras. Yang lainnya rebahan di antara tumpukan kasur, pakaian, kardus, dan harta benda lainnya.

Di salah satu sudut, bayi perempuan mungil tertidur pulas, ditunggui ibunya Ny Norhayah (27) dan anak sulungnya (Elisa (4). Si bayi yang rencananya diberi nama Aulia itu seakan tak terusik dengan suasana serba-kurang saat itu. Padahal, keprihatinan sedang menerpa sang mama. Ia berharap musibah segera berlalu sehingga anak-anaknya tak lagi tidur di tempat yang jauh dari rumahnya.

Itulah kondisi salah satu tempat pengungsian warga Desa Jorong. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah sanak famili, tetangga, ataupun fasilitas umum, menyusul meluapnya air bah sejak Sabtu dinihari sekitar pukul 03.00 Wita. Tua, muda, anak-anak, dan bahkan bayi merah sekali pun terpaksa membaur menjadi satu di tempat pengungsian.

Di Langgar Taufikurrahman, misalnya, terdapat sekitar 40 orang. Mereka istirahat dengna kondisi seadanya, berdesak-desakan pada ruangan berukuran 6 x 6 meter, di antara barang-barang.

"Ya beginilah. Harus berdesak-desakan. Karena pengungsi penuh, di sini tak masalah. Sebenarnya kasihan juga dengan bayi merah ini, tapi mau bagaimana lagi?" tutur Norhayah , Minggu (22/7).

Anak bungsu Norhayah itu memang masih bayi merah. Ia lahir baru 25 hari lalu. Ia memang kurang beruntung, karena saat lahir Desa Jorong pun sedang kebanjiran.

Hingga kemarin, sebagian warga Jorong masih bertahan di pengungsiannya. Meski air mulai surut, namun tingginya masih selutut orang dewasa sehingga belum laik untuk dihuni lagi.

Di Desa Jorong tercatat 96 KK atau 360 jiwa yang kebanjiran. Seperti halnya nasib Desa Asam-Asam dan empat desa lainnya di Kecamatan Kintap, banjir yang melanda Jorong kali ini adalah banjir kali ketiga tahun ini.

Kepala Dusun III Desa Jorong, Asnain, berharap Pemkab Tala segera membangun saluran guna memperlancar peresapan air.roy


Copyright © 2003 Banjarm

Wednesday, July 18, 2007

Kabut Asap Mulai Mengancam

Rabu, 18 Juli 2007

BANJARMASIN ,- Fenomena alam berupa kabut asap setiap saat mengancam Kalsel. Prediksi ini muncul mengingat frekuensi hujan mulai menurun, sementara sejumlah lahan pertanian di Kalsel dan provinsi tetangga Kalteng sebagian besar sudah dipanen.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kabut asap yang terjadi di Kalsel merupakan akumulasi asap lokal dan asap kiriman dari provinsi tetangga, Kalteng. Itu terjadi akibat pembakaran lahan pertanian dan hutan secara serampangan. ”Bencana kabut asap menjadi ancaman seiring berakhirnya musim penghujan. Meski di Kalsel belum terjadi, tapi tidak salahnya diantisipasi sedini mungkin, bagaimana mengatasinya sebelum asap membesar,” kata Sekretaris Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Satkorlak PBP) Kalsel Hadi Soesilo kepada wartawan, kemarin.

Menurut Hadi, jurus paling ampuh untuk mengatasi kabut asap adalah membentuk perilaku masyarakat agar tidak membakar saat membuka lahan pertanian.

Hanya saja, untuk mewujudkannya tidak semudah membalik telapak tangan dan perlu waktu. Karena itu, tandas Hadi, perlu solusi jangka pendek dan dicari formulasi yang tepat dalam penanganan titik api di lahan gambut. Diakuinya, sejauh ini belum ditemukan teknologi yang efektif khusus penanganan titik api di lahan gambut. Bahkan, negara sebesar Australia pun belum memiliki teknologi tersebut. “Saya baru datang dari Australia. Menariknya negara sekelas Australia ternyata belum punya teknologi untuk pemadaman titik api di lahan gambut,” ungkapnya.

Ia mengemukakan, tahun lalu sudah mencoba mengerahkan semua kekuatan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di Kalsel, tapi masih saja kewalahan. “Saat ini kita sudah punya 2 unit pemadam yang mampu beroperasi di lahan gambut. Idealnya 10 unit, agar berimbang dengan kemungkinan titik asap yang terjadi,” katanya.

Di sisi lain, mantan kareteker Walikota Banjarbaru ini mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), hot spot (titik api) di Kalsel sekarang ini sudah sebanyak 88 titik.

Menariknya, jumlah tersebut berbeda dengan informasi dari Dinas Kehutanan Kalsel yang menyebutkan sampai Juni lalu ada 20 titik. Informasi dari Dinas Kehutanan Kalsel mengacu pada pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).(sga)

Puting Beliung, 2 Bangunan Ambruk - Tak Ada Korban Jiwa - Pendopo TK Pembina Baru Ditempati

Selasa, 17 Juli 2007

BANJARMASIN ,- Angin puting beliung memang tak bersahabat dengan Kota Banjarmasin. Setelah peristiwa puluhan rumah ambruk di kawasan Sungai Lulut beberapa waktu lalu, kemarin giliran dua bangunan di kawasan Jl Lingkar Utara Dalam RT 3, Banjarmasin Timur, porak-poranda dihantam kerasnya angin berputar ini.

Bangunan yang ambruk itu adalah Pendopo Posyandu yang berfungsi pula sebagai sekolah TK Negeri Pembina. Bangunan ini ambruk ke tanah, dan yang tersisa cuma lantainya. Bangunan lainnya yang juga ambruk adalah showroom mobil Intan yang luluh lantak, bahkan tiangnya tercabut dan diterbangkan angin beberapa meter. Beruntung dalam peristiwa itu tak menelan korban jiwa.

Peristiwanya berawal dari hujan lebat disertai angin kencang sekitar pukul 16.00 Wita, kemarin. Menurut seorang saksi mata di sekitar lokasi kejadian, saat turun hujan tiba-tiba muncul angin yang begitu kencang. Lalu, “Tiba-tiba pendopo ini roboh,” katanya.

Dari pantauan koran ini, pendopo tanpa dinding yang baru selesai dibangun oleh CV Al Kautsar ini menggunakan dana anggaran belanja tambahan (ABT) tahun 2006 sebesar Rp 80 juta. Atapnya dari genteng metal, runtuh hingga menghalangi jalan masuk ke TK Negeri Pembina dan SMPN 14 Banjarmasin. Bahkan, kayu-kayu ulin yang menopang bangunan patah berserakan. Saat kejadian, tak seorang pun berada di pendopo yang berfungsi sebagai pusat posyandu dan gedung sekolah TK Negeri Pembina serta kelompok bermain anak-anak Kecamatan Banjarmasin Timur itu.

Namun, peritiswa itu justru tak merobohkan 3 buah bangunan di sebelahnya. Tiga bangunan itu masih berdiri tegak tanpa mengalami kerusakan sedikit pun.

Puspa Murni, Kepala TK Negeri Pembina Negeri yang datang melihat kondisi ambruknya sekolah memaparkan, baru pagi hari sebelum peristiwa murid TK mulai melakukan aktivitas belajar di sekolah tersebut. “Awalnya tempat sekolah kami di depan Polda Kalsel. Baru tadi pagi kami menempati bangunan ini,” katanya.

Para pengajar dan murid TK, lanjut Puspa, berani berpindah ke bangunan TK Negeri Pembina ini setelah mengetahui terbitnya SK Walikota Banjarmasin untuk penggunaan bangunan tersebut. “Begitu ada SK Walikota, kami langsung pindah ke sini (bangunan TK Negeri Pembina, Red),” ungkapnya.

Sebanyak 65 orang murid TK dan 20 anak kelompok bermain dipindahkan ke gedung baru tersebut. Yang sangat disayangkan, baru satu hari ditempati, bangunan itu roboh ditiup angin puting beliung.

Sementara itu, Zaitunniah (30), warga setempat yang juga menjadi salah seorang pengajar di TK tersebut, mengaku kaget dengan peristiwa ini. Wanita berjilbab istri dari Lurah Banua Anyar ini menuturkan, bangunan yang roboh tersebut sebenarnya akan difungsikan sebagai pusat posyandu di Kecamatan Banjamasin Timur. “Nantinya di tempat tersebut akan dipusatkan semua kegiatan posyandu di Kecamatan Banjarmasin Timur,” ujarnya.

Sungguh di luar dugaan, bangunan yang usianya baru mencapai 6 bulan itu roboh. “Kalau bangunan lain di sampingnya itu sudah 2 tahun berdiri. Cuma pendopo ini saja yang berdiri sekitar setengah tahun lalu,” tambahnya.

Menanggapi robohnya proyek seumur jagung tersebut, Kepala Disdik Kota Banjarmasin Drs Iskandar Zulkarnain MSi mengungkapkan, dana pembangunannya sebesar Rp 80 juta melalui anggaran ABT tahun 2006 Kota Banjarmasin yang dikerjakan CV Al Kautsar. “Karena bangunan itu sudah diserahkan oleh kontraktornya ke Pemkot, maka perbaikannya menjadi tanggung jawab Pemkot. Kami akan anggarkan kembali. Tapi kontraktor juga harus memberikan pertanggungjawaban moral untuk mengamankan material bangunan yang bisa digunakan kembali pada pembangunannya nanti,” ujar Iskandar yang dihubungi melalui saluran teleponnya tadi malam.

Hal yang sama terjadi dengan showroom mobil Intan milik H Upik yang jaraknya sekitar 500 meter dari pendopo TK Negeri Pembina. Saat angin kencang, tiang bangunan tercabut dan dibawa angin. Makanya, 4 unit mobil pikup yang dipamerkan untuk dijual, selamat dari kerusakan. “Saat hujan dan angin kencang, kami berada dalam bangunan sebelah ini. Kami melihat bangunan showroom ini diseret angin,” terang Lani, karyawan showroom.(irn/dla)

Monday, July 16, 2007

*Melihat Kerusakan Jalan di Desa Tambak Baru Sebagian Besar Jalan Berlubang dan Lapisan Aspal Terkelupas

Sabtu, 14 Juli 2007

Musibah banjir yang sedikitnya empat kali menggenangi sebagian besar wilayah Kabupaten Banjar, ternyata bukan hanya berdampak langsung pada masyarakat. Bukan hanya gagal tanam atau tanaman para petani saja yang mati, fasilitas umum seperti ruas jalan pun banyak yang rusak.

SAPARIANSYAH, Martapura

Kecamatan Martapura Kota dan Kecamatan Astambul adalah dua dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Banjar yang selalu menjadi langganan terkena musibah banjir. Bisa dimaklumi, lantaran lokasi kedua kecamatan tersebut memang terbilang rendah dan cenderung menjadi tumpukan air dari daerah atas.

Untuk tahun 2007 ini saja di dua kecamatan tersebut ada empat atau lima kali di kawasan yang sama menjadi langganan genangan air. Di Kecamatan Martapura Kota Desa Tambak Baru adalah langganan banjir sebelum di wilayah lain banjir. Sedangkan di Kecamatan Astambul Desa Munggu Raya juga tak kalah rentannya. Pastinya kedua wilayah itu masyarakatnya sangat akrab dengan air banjir.

Kini musim hujan sepertinya memang mulai berlalu. Masyarakat di kedua wilayah tersebut sudah mulai bisa menggarap sawah dan menanam padi. Namun tidak bisa terbantahkan fasilitas umum seperti jalan sampai saat ini masih dalam kondisi rusak.

Ironisnya, ruas jalan seperti yang ada di Desa Tambak Baru adalah jalan yang baru saja selesai diaspal. Belum genap satu tahun masyarakat di sana menikmati mulusnya badan jalan, kini mereka pun kembali menikmati ruas jalan yang rusak. Penuh lubang dan bebatuan. Bahkan di sebagian titik tidak ada bekas aspal yang tersisa.

”Namanya juga musibah. Di sini kebetulan terendamnya selalu lebih awal. Bahkan kalau air mulai dalam arus air menyeberang jalan sangat kencang. Untuk menyeberang kami harus menggunakan jasa masyarakat yang menolong menyeberangkan kendaraan. Kalau tidak bisa terseret ke sawah,” ujar Siti, warga Pingaran yang mengaku selalu melintasi jalan tersebut saat pergi ke Pasar Martapura.

Ruas jalan di Desa Tambak Baru saat ini kondisnya memang jauh berbeda ketika sebelum terendam banjir. Sedikitnya ada tujuh titik yang mengalami rusak parah. Lapisan aspalnya sudah menghilang, yang ada hanya lubang-lubang dengan sembulan batu gunung.

Itu di Desa Tambak Baru. Bergeser sedikit masih pada jalur itu, ruas jalan semula yang belum diaspal juga berantakan. Badan jalan yang baru dipadatkan tersebut juga mengalami kerusakan tak kalah hebatnya. Batu gunung yang menjadi materialnya terkikis habis. Sekilas badan jalan yang ada seperti bekas aliran sungai yang memotong ruas jalan.

Dengan kondisi seperti itu, tidak berlebihan jika masyarakat setempat menantikan perbaikan jalan yang rusak itu dari Pemkab Banjar.***