Tuesday, September 08, 2009

Sungai Barito Sangat Kritis

Kamis, 11 Juni 2009 | 06:17 WITA

PALANGKARAYA, KAMIS  - Kondisi Sungai Barito yang melintasi Provinsi Kalteng dan Kalsel sangat kritis. Perlu penanganan dan pengelolaan serius agar kondisinya tidak makin parah karena bisa menimbulkan bencana seperti banjir besar. Saat ini daerah sekitar aliran sungai sering banjir saat musim hujan.

Kondisi itu sudah terasa sejak sepuluh tahun terakhir. Tim Koordinasi Kebijakan Pendayagunaan Sungai dan Pemeliharaan Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) telah melakukan identifikasi terhadap kondisi Sungai Barito. Kesimpulannya, sungai itu sangat kritis sehingga perlu penanganan prioritas-1.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Kalteng, Kardinal Tarung dalam siaran persnya mengatakan, masalah tersebut adalah salah satu poin yang diungkapkan Gubernur Agustin Teras Narang saat pembukaan Pertemuan Regional Operasi dan Pemeliharaan (OP) Prasarana Sumber Daya Air Wilayah II dan III se-Kalimantan dan Sulawesi di Palangkaraya, Selasa 9 Juni lalu.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng mengusulkan kepada pemerintah pusat, agar Wilayah Sungai Barito yang panjang alurnya sekitar 900 kilometer segera dikelola oleh suatu Badan Otorita dengan prinsip one river, one plan and one integrated oleh semua departemen terkait.

Hal itu mengingat balai yang ada belum mampu mengelola wilayah Sungai Barito dengan maksimal. Saat ini perbaikan akibat daya rusak air namun masih jauh dari harapan. Upaya preventif secara terpadu juga belum ada.

"Jangan sampai terlambat seperti sungai-sungai di Jawa dan Sumatera. Saat musim hujan sering banjir dan saat musim kemarau sering kekeringan sehingga rawan bencana kebakaran lahan," kata Kardinal, Rabu (10/6).

Kalteng memiliki sebelas sungai besar sepanjang sekitar 4.625 kilometer dengan tujuh anjir  atau kanal sepanjang 122 kilometer. Sedangkan untuk prasarana irigasi dan rawa di Kalteng terdapat luasan potensial daerah irigasi 10.744 hektare dan luas potensial daerah rawa sekitar 335.976,76 hektare.

Tahun ini Kalteng mendapat dana untuk menangani operasi dan pemeliharaan dari pemerintah pusat. Sedangkan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi,  baru bisa dilaksanakan seluas 31.000 hektare dari total 71.432 hektare.

Kawasan Banjir Banjar Baru 50% Dinormalisasi

Jumat, 5 Juni 2009 | 06:20 WITA

MARTAPURA, JUMAT - Beberapa Wilayah Kabupaten Banjar beberapa tahun terakhir sering menjadi langanan banjir. Bahkan, dari tahun ke tahun wilayah yang terkena meluas.

Parahnya, beberapa daerah yang sebelumnya belum pernah terkena banjir kini mulai dapat juga. Akibatnya, dikhawatirkan bakal terus meluas dari tahun ke tahun jika tidak diambil tindakan.

Menurut Kabid Perairan dan Pengairan Dinas PU Banjar, Imam Subarjo, salah satu penyebab banjir itu adalah makin menyempit dan dangkalnya sungai-sungai yang biasa menampung air hujan.

Dijeleskannya, ketika air hujan mulai tinggi intensitasnya, maka biasanya sungai menjadi penampungnya. Namun kini, sungaisungai yang ada banyak yang sudah tidak mampu melakukan salah satu fungsinya tersebut.

Untuk itu, tahun ini, pihaknya kembali melakukan normalisasi beberapa sungai yang ada di Kabupaten Banjar. Diharapkan, dengan tindakan itu bisa mengurangi dampak banjir tersebut.

Diungkapkannya, dari keseluruhan sungai yang ada, sepanjang 500 kilometer sungai perlu segera dinormalisasi. Pasalnya, itu bisa menyumbang potensi banjir.

Namun, lanjutnya, dari keseluruhan sungai yang perlu dinormalisasi itu, hanya sekitar 50 persennya yang sudah dinormalisasi dengan mantap.

Lantaran keterbatasan anggaran, maka sisanya dilanjutkan pada tahun berikutnya. "Anggaran untuk normalisasi sungai mencapai Rp 3 miliar dari DAK," katanya.

Menurutnya, sungai yang dinormalisasi itu bukan hanya di daerah yang sudah terkena banjir melainkan juga daerah yang belum merasakannya.

Hal itu dilakukan agar daerah yang belum merasakan banjir tidak mengalaminya. "Jangan samapi menunggu banjir dulu baru dinormalisasi," ujarnya.

Selain itu, fungsi normalisasi sungai itu untuk mendukung pertanian. "Dengan begitu air sungai yang tadinya mampet dapat lancar kembali mengairi sawah," katanya.

Dicontohkannya, beberapa daerah yang banyak dinormalisasi sungainya, Sungai Tabuk, Beruntung Baru dan Aluh Aluh. Namun, daerah lain juga banyak dilakukan normalisasi itu.

Friday, June 26, 2009

Abrasi Pantai Ancam Trans Kalimantan

Senin, 25 Mei 2009 | 17:22 WITA

BATULICIN, SENIN - Abrasi pantai di daerah Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Kalimantan Selatan telah merambah ke badan Jalan Trans Kalimantan.

Dari pantauan, Senin (25/5) , bekas hempasan gelombang laut telah mengikis pinggiran jalan sepanjang puluhan meter hingga nyaris menyebabkan longsor.

Tidak sedikit tanaman pantai seperti Pinus dan pohon kelapa menjadi tumbang dan akhirnya mati akibat gelombang laut yang memicu terjadinya abrasi.

Tanggul penahan gelombang sepanjang garis pantai yang dibangun pemerintah beberapa tahun lalu kini juga hancur terkikis gelombang laut. Terbatasnya upaya pemerintah membangun kembali tanggul yang rusak dikawatirkan terus memicu abrasi pantai yang semakin parah.

Perbaikan yang dilakukan masih difokuskan pada jembatan di ruas jalan tersebut, tepatnya di kawasan Desa Sungai lembu, Kecamatan Kusan Hilir, yang sebelumnya nyaris ambruk terkena abrasi laut.

Jalan Trans Kalimantan merupakan sarana vital jalur transportasi darat yang telah menghubungkan Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanbu menuju Banjarmasin, pusat ibukota Kalimantan Selatan.

Pada 2006, jalan di Kecamatan Kusan Hilir ini sempat terputus akibat tingginya gelombang laut, hingga membuat pemerintah terpaksa mengeluarkan biaya miliaran rupiah untuk membangun sebuah jembatan dengan panjang 400 meter guna menyambung kembali ruas jalan tersebut.

Penderita Stroke Selamat Diterjang Puting Beliung

Kamis, 14 Mei 2009 | 07:20 WITA

GEMURUH hujan disertai terjangan angin kencang membuat  khawatir Dalamiah (50). Apalagi saat muncul cuaca buruk Selasa (3/5) siang kemarin, dia hanya seorang diri di rumah.

Semetara letak rumah sederhananya itu berada di kawasan terbuka, areal persawahan di Jalan Tatah Belayung RT 13 Banjarmasin Selatan sehingga sangat rentan disapu badai.

Suaminya yang dipercaya sebagai ketua RT setempat, kebetulan sedang berada di rumah tetangga untuk pertemuan RT. Sementara anaknya berada di pahumaan sekitar 100 meter dari rumahnya.

Saat terjangan angin makin kencang, Dalamiah pun kian dicekam was-was. Apalagi kondisi fisiknya masih sangat lemah pascaterserang stroke. Saat itu, dia berada di ruang tengah rumahnya. Tiba-tiba, rumahnya berguncang diterpa angin.

"Tiba-tiba ada bunyi menggelegar. Rumah saya langsung berguncang. Saya ketakutan setengah mati. Kejadian itu hanya berlangsung hitungan detik, tapi setelah itu atap rumah hancur," ucap Dalamiah.

Ditengah amuk puting beliung itu, dia hanya bisa pasrah dan berdoa. Ya, terjangan puting beliung itu menghancurkan atap dapurnya. Atap ruang tengah rumahnya juga ambrol. Beruntung dia selamat dari amukan puting beliung itu. Dia tidak mengalami cedera sedikit pun. Padahal saat itu dia sedang berada di ruang tengah. Dia duduk di bagian pojok ruang itu sehingga tak tertimpa runtuhan atap rumahnya.

Melihat angin menyapu rumahnya, sang anak yang berada di pahumaan berjarak sekitar 100 meter langsung berlari. Demikian juga sang suami. "Syukur alhamdulillah, kami selamat meski atap rumah hancur," ucapnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan warga setempat, putaran angin sempat muncul bersamaan, lalu terpecah menjadi tiga titik yang bergerak dari arah Tatah Pamangkih Kertak Hanyar. "Untung titik angin itu menyebar, terpecah tiga. Kalau tidak, kekuatannya bisa lebih dahsyat," ucap Acid, warga setempat.

Thursday, May 21, 2009

Tirtajaya Diterjang Puting Beliung 5 Rumah Warga Rata dengan Tanah

Jumat, 8 Mei 2009
PELAIHARI - Hujan Lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah kawasan di Pelaihari kemarin (7/5) sore telah memicu munculnya angin puting beliung yang menerjang salah satu desa di Pelaihari.

Sekira pukul 15.30 Wita, warga Desa Tirtajaya RT 1 Kecamatan Bajuin, yang berbatasan dengan Desa Galam digemparkan dengan kedatangan angin puting beliung. Akibatnya lima buah warga rata dengan tanah.

Saikung, salah seorang warga yang melihat peristiwa tersebut menceritakan, kejadiannya terjadi dengan cepat. Saat itu, ujarnya, awan di sekitar desa tersebut sudah terlihat gelap disertai petir yang menggelegar.

Tak lama disusul dengan hujan lebat yang mengguyur desa tersebut. Hanya dalam hitungan detik, menurut Saikun, tiba-tiba angin bertiup kencang hingga beberapa pohon di desa ikut tumbang. Lima buah rumah warga yang umumnya terbuat dari susunan papan dan atap nipah juga diterjang angin putting beliung tersebut.

Djujun (43), salah seorang korban saat ditemui mengaku terkejut. "Awalnya satu atap terlepas. Melihat itu, kami langsung keluar rumah menyelamatkan diri bersama istri dan anak-anak," ujarnya Beruntung tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Meski begitu, kerugian ditaksir mencapai Rp 100 juta. Kepala Badan Kesbang Linmas Kabupaten Tanah Laut Drs Kaspul Hadi saat dikonfirmasi sore kemarin mengaku belum menerima laporan kejadian tersebut.

Sunday, March 29, 2009

Desa di Tabalong Terendam Banjir

Rabu, 25 Maret 2009 | 19:36 WITA

TANJUNG, RABU  - Bahaya banjir mulai mengancam kawasan penduduk Kabupaten Tabalong. Informasi diperoleh, tiga desa di wilayah utara Kecamatan Bintang Ara mengalami banjir menyusul meluapnya debit air sungai Tabalong, Selasa (24/3) malam.

Menurut keterangan warga, kondisi air sungai Tabalong mulai meningkat sejak pukul 19.00 Wita. Akibat meluapnya air sungai itu, tercatat 43 rumah penduduk tiga desa yakni Desa Mantuyub, Desa Usih dan Desa Pujung rata-rata terendam banjir sekitar setengah meter.   

Bahkan informasi diperoleh, ada beberapa rumah warga yang berada di pinggiran sungai terendam hingga dua meter. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Namun, akibat banjir itu sekitar 43 kepala keluarga atau 215 jiwa bergotong royong menyelamatkan barang-barang milik mereka agar tidak terendam luapan air sungai.

Bibit Penghijauan Untuk Pantai Kintap

Minggu, 15 Maret 2009 | 19:35 WITA

PELAIHARI, MINGGU - Hari ini, Minggu (15/3) Bupati Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalsel, H Adriansyah menyerahkan bibit penghijauan kepada warga Desa Mekarsari Kecamatan Kintap, Kabupaten Tala.

Bibit tersebut untuk menghijaukan pantai di Kabupaten Kintap yang kini makin memprihatinkan kondisinya akibt abrasi air laut yang semakin meningkat.

Wednesday, March 11, 2009

Rp 300.000 untuk Lolos dari Longsor Kalsel

Selasa, 10 Maret 2009 | 22:11 WIB
BANJARMASIN, KOMPAS.com — Tiga buah rumah serta puluhan hektar sawah dan kebun porak poranda dihantam longsor di Dusun Andataian, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar, Kalsel, Selasa (10/3). Longsor menimpa sembilan titik di desa termasuk menutup ruas jalan provinsi.

Warga yang melintasi longsor menggunakan sepeda motor terpaksa harus membayar jasa angkat yang ditawarkan beberapa orang. Setiap satu unit sepeda motor yang melintas harus merogoh kantong dari Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per titik longsor.

Monday, March 09, 2009

Bantuan Tanah Longsor Disalurkan

Senin, 9 Maret 2009 | 20:02 WITA

MARTAPURA, SENIN - Untuk membantu warga yang mengakami musibah, Pemerintah Kabupaten Banjar, Senin (9/3) menyalurkan bantuan bagi korban tanah longsor di Desa Paramasan Kabupaten Banjar, Kalsel.

Dinas Sosial Kebupaten Banjar menyerahkan bantuan berupa setengah ton beras, ikan sarden, kecap dan bahan makanan lainnya. Belum diketahui pasti jumlah KK yang jadi korban longsor, yang pasti akses jalan provinsi Paramasan-Tanah Bumbu masih terputus.

Tuesday, March 03, 2009

Desa Benua Raya Masih Tergenang

Senin, 26 Januari 2009 | 08:38 WITA

PELAIHARI, SENIN

- Jalan raya di Desa Benua Raya Kec Bati Bati masih tergenang di dua titik yakni dekat langgar dan dekat jembatan. Meski genangan telah surut, namun ketinggian air msh sekira 30-40 centimeteran.

Sepeda motor telah lancar melintasinya, kondisi ini akan berubah kalau hari gelap dan hujan turun. Sejumlah warga menyediakan jasa pandu dengan imbalan sukarela terutama untuk kendaraan roda empat. (idda royani)
Buzz up!

700 Rumah di Barabai Terendam

Senin, 23 Februari 2009 | 06:13 WITA

BARABAI, SENIN - Hujan deras yang mengguyur Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST)  dalam beberapa hari terakhir kembali membuat rumah dan dan pemukiman di sejumlah kawasan kota terendam.

Akibatnya sekitar 700 rumah warga di sejumlah desa dan kelurahan di Barabai terendam banjir. Kawasan ini terendam air setinggi pinggang sampai dada orang dewasa. Hingga siang kemarin  warga Kota Apam itu pun ramai-ramai mengungsi.

Mereka menyelamatkan barang-barang berharga dari dalam rumah. Jalan raya pun dipenuhi mobil pribadi dan motor yang membawa barang-barang untuk diungsikan.

Hujan juga membuat genangan air terjadi di kelurahan Barabai, terutama terparah di Bukat Seberang, kampung Kadi dan Hevea. Banjir juga merendam kawasan Desa Pajukungan, Desa Padawangan dan Desa Bungur.

Tidak hanya perumahan warga banjir juga meluap ke jalan raya seperti di Jalan Tri Kusuma, Jalan Ulama, jalan Kemasan dan Jalan Hasan Basery.

Perkantoran milik instansi pemerintah seperti kantor Bulog, Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja, Tranmigrasi dan Sosial tak luput dari genangan. Selain itu sejumlah rumah ibada masjid dan mushala pun ikut tergenang.

Menurut warga banjir terjadi disebabkan volume air yang datang dari sungai Barabai yang berhilir di saluran irigasi Batanag Alai Timur tak bisa tertampung. "Air mulai naik pada Sabtu (21/2) kemarin, hujan deras yang terjadi dalam dua hari terakhir mengakibatkan naiknya volume air di Sungai barabai," ujarnya.

Ditambahkan maraknya penebangan liar yang terjadi di kawasan pegunungan meratus menambah makin mudahnya air meninggi saat hujan deras mengguyur. "Akibat dariu banjir ini bisa dikatakan barabai masih belum bebas dari banjir," ujarnya.

Meski ketinggian telah mencapai 70 centimeter dan masuk ke dalam rumah namun warga masih memilih bertahan dan tidak mau mengungsi ke rumah lain. "Kami tetap bertahan di rumah, sebab ketinggian air masih bisa disiasati dengan naik ke langit- langit rumah," Atus warga Kelurahan Bukat darat Barabai.

Menurutnya banjir yang merendam rumah warga ini merupakan yang ketiga kalinya dalam tahun ini. "Namun banjir kali ini yang terparah sebab iar sudah naik hingga dalam rumah," ucapnya.

Aluh Aluh Diterjang Angin Puting Beliung

Rabu, 18 Februari 2009 | 20:37 WITA

MARTAPURA, RABU - Angin puting beliung yang menerjang Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar, Kalsel, menyebabkan kubah Masjid Hidayatul Sholikin di Desa Aluh Aluh Besar RT 1 hancur.

Selain itu, menara Masjid Baiturahman Desa Bakambat juga roboh, bukan itu saja atap rumah milik Tamrin warga Desa Sungai Musang terlepas dan terbang hingga ratusan meter.

Bersamaan datangnya angin puting beliung, kecamatan yang berdekatan dengan laut tersebut juga dihantam gelombang pasang, namun gelombang ini belum menimbulkan kerusakan yang berarti.

Menurut pantauan BPost Online, hingga sore tadi belum ada informasi adanya korban jiwa dari warga setempat dan peristiwa alam tersebut.

Perlu kita ketahui angin puting beliung sebuah tiub angin berpusing yang menyentuh tanah. Angin yang berada di dalam puting beliung berpusing dengan pantas dan menjadikan puting beliau sangat berbahaya.

Kebanyakan puting beliung mempunyai angin selaju 175 km/jam atau kurang, dengan lebar 250 kaki (75 meter), dan bergerak beberapa kilometer sebelum lenyap. Walau bagaimana pun, sesetengah puting beliung mempunyai angin selaju 480 km/jam, dengan lebar lebih daripada (1.6 km), dan boleh bergerak melebihi 100 kilometer.

Puting beliung seringkali terjadi semasa hujan ribut petir angin kuat dan mendatangkan banyak kemusnahan kepada apa-apa saja yang disentuhnya. Saban tahun, ada nyawa yang terkoban akibat puting beliung.

Abrasi Pantai Meluas, 44 Kuburan Dibongkar

Kamis, 29 Januari 2009 | 22:19 WITA

BATULICIN, KAMIS - Akibat ulah tangan jahil yang tak bersahabat dengan mengambil pasir semaunya tanpa memikirtkan akibatnya, ditambah faktor cuaca buruk, diprediksi Kota Pagatan bakal tengelam.

Pasalnya ketinggian air laut semakin naik akibat gelombang pasang air laut di pesisir pantai Kota Pagatan, hingga mencapai ketinggian 3 meter diatas permukaan laut. Belum lagi abrasi yang kian meluas mengancam pemukiman warga dan pekuburan muslimin setempat.

Warga resah dan dalam ketakutan yang mencekam berdiam di sekitar pesisir pantai Kota Pagatan karena rumahnya terancam roboh akibat tanahnya sedikit demi sedikit, tergerus hantaman ombak yang kian ganas menyusul gelombang pasang air laut serta cuaca hujan dalam sepekan ini yang tak menentu.

Belum lama ini, Rabu (28/1) sebanyak 44 kuburan tua dibongkar kerabatnya karena tergerus ombak pantai Kota Pagatan, yang selalu terjadi siang dan malam hari.

Ahli waris almarhum, Rusli Baco (40) warga Desa Pejala RT 2 Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) resah setelah melihat tulang-belulang familinya dan kerabatnya yang telah diambil dari lubang kubur tampak terlihat menyeramkan.

Padahal, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan untuk evakuasi dan prosesi pemakaman kembali. Terlebih Rusli Baco hanya sekedarnya seorang nelayan setempat yang pas-pasan hidupnya.

Namun, demi ketenangan keluarganya, mereka pun memindahkan kuburan tua dari para kerabatnya itu ke daratan yang lebih tinggi dan jauh jaraknya dari pesisir pantai Kota Pagatan, tepatnya kuburan muslimin Desa Pejala, sekitar 3 kilometer dari pesisir Pantai Kota Pagatan.

Kepala Desa Mattone Kampung Baru Kecamatan Kusan Hilir, Tanbu, Andi Jaya mengatakan tingkat abrasi dipesisir pantai itu kian parah dan mengerus kuburan muslimin tua yang ada dipesisir tersebut.

“Sebagian telah di pindahkan di sekitar pemakaman kubah kota Pagatan,” ujar Andi yang mmenambahkan selain keluarga Rusli Baco juga kerabat Muhammad Syukur memindahkan kubur kerabatnya. (mukhtar wahid)
Buzz up!
ARTIKEL LAINNYA

    *
      Selasa, 3 Maret 2009 | 08:21 WITA
      Busyet, di Tanjung Alat Cuci Darah Dibiarkan di Gudang!
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:19 WITA
      Sibuk Ceramah, Guru Bakeri Tunda Melapor
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:17 WITA
      Remaja Tabalong Wajib Tamat SMA
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:15 WITA
      Warga Ancam Tutup Jalan Tambang
      Selasa, 3 Maret 2009 | 06:09 WITA
      PNS-Honorer Pemkab Banjar Digrebek

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

ketika saya membaca berita ini, makin menguatkan cerita teman saya yang pernah berkunjung kesalah satu desa yang ada dikecamatan mantewe,tanah bumbu... bahwa untuk mati didaerah ini harus hati-hati, karna kalau kita dikubur dididaerah pegununganpun akan terusik oleh baket alat berat pertambangan.
Posted by: arie | Jumat, 30 Januari 2009 | 18:15 WITA
posting komentar anda:
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Name (required)
Email (required)
Alamat
Isi Komentar
Security Code (required)

Wednesday, February 25, 2009

Puting Beliung Jatuhkan Kubah Masjid

Rabu (18/2).

Sejumlah bocah bermain disekitar kubah Masjid Hidayatusolikin di Desa Aluh aluh Besar, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar, Kalsel, yang terjatuh akibat disapu angin puting beliung.

Ribuan Kg Persemaian Padi Puso Tenggelam Akibat Banjir

Saturday, 10 January 2009 12:05 redaksi
BANJARMASIN - Sedikitnya 9.915 kilogram (Kg) persemaian padi dari 53.167 Kg persemaian yang tenggelam akibat banjir bandang dan banjir permanen yang melanda delapan kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), kini dipastikan gagal panen (puso).

     Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten HSS, Ir Ruhaimi Alman, ketika dihubungi di Kandangan, kemarin, mengakui, selain 9.915 kg persemaian padi yang puso, juga ada seluas 75 hektar tanaman padi yang puso.

     Dia menjelaskan, sebagian besar dari padi yang puso akibat banjir yang berlangsung sejak 23 Desember 2008 hingga 9 Januari 2009 berada di Kecamatan Daha Selatan mencapai 53 hektar dan di Kecamatan Kandangan 16 hektar, sisanya di kecamatan lain.

     Sedangkan luas lahan pertanian yang tenggelam akibat banjir bandang di Kabupaten HSS, katanya, untuk data sementara yang berhasil dihimpun dari delapan kecamatan yang terkena banjir mencapai 365 hektar.

     "Kami berharap lahan pertanian yang tenggelam dan puso akibat banjir di Kabupaten HSS awal tahun 2009 ini tidak bertambah lagi," ujarnya.

     Seperti dilaporkan, sedikitnya 10.075 KK, menjadi korban banjir bandang di Kabupaten HSS, Rabu (7/1), kini sangat membutuhkan bantuan sembako dan sandang, karena korban banjir belum bisa melakukan aktifitas.

     Akibat banjir bandang tersebut menyebabkan 10 buah rumah penduduk hilang/hanyut terbawa banjir dan tujuh buah rumah lainnya mengalami kerusakan berat dan sebanyak 8.012 buah rumah lainnya terendam air.

     Banjir bandang yang terjadi Rabu (7/1) tersebut menimpa empat kecamatan yakni Kecamatan Padang Batung, Angkinang, Telaga Langsat dan Kecamatan Kandangan yang merupakan daerah yang terparah terkena banjir yang berasal dari Pegunungan Meratus tersebut.

     Akibat banjir bandang tersebut, juga menyebabkan satu orang korban luka berat dan empat orang mengalami luka ringan dan 17 buah rumah rusak.

     Selain itu, satu buah kendaraan dan satu buah sepeda hilang, disamping itu uang sebesar Rp10 juta juga ikut hilang bersama dengan datangnya banjir bandang tersebut.

     Korban banjir saat ini sebagian diungsikan di rumah penduduk yang tidak terkena banjir dan tenda posko yang telah dibangun satuan pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana (PB) HSS.

     Sementara itu, korban banjir permanen yang berlangsung sejak 23 Desember 2008, di Kabupaten HSS mencapai 8.012 kepala keluarga (KK) tersebar pada lima kecamatan dan saat ini aktifikas mereka belum pulih.

     Korban banjir tersebut, di Kecamatan Daha Selatan, sebanyak 16 desa dengan jumlah 4.261 KK, Kecamatan Daha Barat, meliputi tujuh desa sebanyak 665 KK, Kecamatan Daha Utara, meliputi 18 desa sebanyak 1,981 KK.

     Selain itu, korban banjir lainnya di Kecamatan Kelumpang meliputi enam desa dengan jumlah korban sebanyak 545 KK dan Kecamatan Kandangan, meliputi dua desa dengan jumlah korban sebanyak 560 KK. ani/mb02

Thursday, February 19, 2009

Korban Banjir HSS Butuhkan Sembako

Friday, 09 January 2009 12:18 redaksi
BANJARMASIN - Sedikitnya 10.075 kepala keluarga (KK), menjadi korban banjir bandang di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Rabu (7/1), kini sangat membutuhkan bantuan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dan sandang.

     Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial HSS, H Johansyah, SSos MAP, kemarin, melaporkan, korban banjir tersebut sangat membutuhkan sembako dan sandang, karena mereka belum bisa melakukan aktifitas sehari-hari.

     Akibat banjir bandang tersebut menyebabkan 10 buah rumah penduduk hilang/hanyut terbawa banjir dan tujuh buah rumah lainnya mengalami kerusakan berat dan sebanyak 8.012 buah rumah lainnya terendam air.

     Banjir bandang yang terjadi Rabu (7/1) tersebut menimpa empat kecamatan yakni Kecamatan Padang Batung, Angkinang, Telaga Langsat dan Kecamatan Kandangan yang merupakan daerah yang terparah terkena banjir yang berasal dari Pegunungan Meratus tersebut.

     Akibat banjir bandang tersebut, juga menyebabkan satu orang korban luka berat dan empat orang mengalami luka ringan dan 17 buah rumah rusak.

     Selain itu, satu buah kendaraan dan satu buah sepeda hilang, disamping itu uang sebesar Rp10 juta juga ikut hilang bersama dengan datangnya banjir bandang tersebut.

     Korban banjir saat ini sebagian diungsikan di rumah penduduk yang tidak terkena banjir dan tenda posko yang telah dibangun satuan pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana (PB) HSS.

     Sementara itu, korban banjir permanen yang berlangsung sejak 23 Desember 2008, di Kabupaten HSS mencapai 8.012 kepala keluarga (KK) tersebar pada lima kecamatan dan saat ini aktifikas mereka belum pulih.

     Korban banjir tersebut, di Kecamatan Daha Selatan, sebanyak 16 desa dengan jumlah 4.261 KK, Kecamatan Daha Barat, meliputi tujuh desa sebanyak 665 KK, Kecamatan Daha Utara, meliputi 18 desa sebanyak 1,981 KK.

     Selain itu, korban banjir lainnya di Kecamatan Kelumpang meliputi enam desa dengan jumlah korban sebanyak 545 KK dan Kecamatan Kandangan, meliputi dua desa dengan jumlah korban sebanyak 560 KK.

     Sedangkan lahan pertanian yang tenggelam akibat banjir bandang tersebut belum terdata, tetapi diperkirakan ribuan hektar berasal dari delapan kecamatan yang terkena banjir tersebut, karena saat ini di Kabupaten HSS itu sedang musim tanam.

Tangani sungguh-sungguh

     Secara terpisah, Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin, mengakui, telah menerima laporan adanya bencana banjir bandang di Kabupaten HSS tersebut dan meminta Satlak PB Kabupaten HSS untuk menangani para korban bencana banjir tersebut.

     Menurut Rudy, pihaknya berharap Satlak PB Kabupaten hendaknya difungsikan untuk melakukan penanganan terhadap korban banjir, baru nantinya Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) PB Kalsel turun ke lokasi banjir.

     "Jika bisa ditangani Satlak PB kabupaten, maka hendaknya ditangani sungguh-sungguh korban bencana tersebut, kecuali memang tidak mampu akibat korban cukup banyak, baru Satkorlak PB turun tangan," katanya.

     Namun demikian, lanjutnya, jangan dibilang Satkorlak PB tidak mau turun ke lokasi untuk memberikan bantuan, tetapi setelah data korban bencana banjir tersebut lengkap baru Satkorlak PB turun membantu agar bantuan yang diberikan tepat guna bagi korban. ani/mb05

Jalan Trans Kalimantan Longsor

Friday, 09 January 2009
AMUNTAI-Banjir yang melanda Kabupaten HSU meninggalkan kerusakan berbagai infrastruktur di daerah ini. Tidak hanya rumah warga yang terendam, sekolah, jembatan dan jalan serta fasilitas publik lainnya, tidak luput dari luapan air sungai Balangan dan Tabalong ini.

     Akibatnya, terjadi kerusakan diberbagai bidang, khususnya jembatan dan jalan-jalan baik jalan desa, kabupaten dan provinsi salah satunya yang terparah adalah terjadi di Desa Tambalangan Ulu, Kecamatan Amuntai Tengah.

     Jalan trans Kalimantan yang merupakan jalan penghubung antara provinsi ini sempat mengalami longsor, mengakibatkan bagian aspalnya hancur dan membentuk lubang segi empat yang dilalui arus air dari sungai Tabalaong, sehingga jalan sangat sulit untuk dilalui lantaran terputus akibat longsor tersebut.

     Akibatnya, arus lalu lintas menuju Kabupaten Tabalong ini atau sebaliknya sangat terganggu, sebab lubang yang terbentuk akibat longsor sangat dalam dan sangat membahayakan pengguna jalan.

     Sejak terjadinya longsor beberapa waktu lalu, terdapat dua buah mobil angkutan membawa gula pasir yang terbalik saat mencoba menerobos jalan tersebut, sehingga menimbulkan kemacetan mencapai 1 km.

     Beberapa kalangan warga mengharapkan agar pemerintah dalam waktu dekat bisa memperbaiki secara kesluruhan agar akses jalan dapat normal kembali, jangan sampai jalan mengalami kerusakan parah dan tidak bisa dilalui sama sekali, sehingga sangat menghambat masyarakat yang akan menggunakan jalan penghubung itu

     Linda salah seorang pengguna jalan yang sempat terjebak macet mengaku sangat terganggu dengan rusaknya jalan ditempat itu. Sebab untuk melaluinya pengendara mesti bergantian dan harus berhati-hati kalau tidak ingin celaka.gus/mb03
Comments    

Banjar Kembali Dikepung Banjir

Friday, 16 January 2009 09:51 redaksi
MARTAPURA - Setelah beberapa hari air luapan sungai Martapura sempat surut sehingga membuat beberapa kawasan di wilayah kabupaten Banjar yang tadinya terendam air,  tidak lagi kebanjiran. Kini, akibat hujan yang turun walau sebentar namun deras membuat beberapa kawasan kembali terendam.

     Bahkan, dibanding kebanjiran beberapa waktu sebelumnya, ketinggian air kali ini lebih tinggi sehingga membuat kawasan yang tadinya tidak terjamah genangan air, kini turut terendam. Ketinggian air bervariasi antara 50 centimeter hingga mencapai 1 meter khususnya di kawasan yang lebih rendah.

     Akibat ketinggian air yang terus naik ini, memaksa sejumlah warga kembali mengungsi. Bahkan, tak hanya membuat warga terpaksa meninggalkan rumahnya, banjir kali ini juga menyebabkan puluhan sekolah setingkat SD, MI dan TK terutama di kecamatan Astambul terendam.

     Contohnya seperti sejumlah sekolah dasar di desa Sei Alat, Jati Baru, Astambul Kota, Danau Salak, Limamar, TK Lok Gabang, dan Madrasah Diniyah Syirajut Thalibin Banua Anyar. Kemudian sekolah dasar di desa Tambak Baru Ilir dan MI Baitul Atiq Kecamatan Martapura terpaksa diliburkan, karena sekolah terendam dan jalan menuju sekolah terputus.

     Banjir terparah dirasakan warga Desa Tambak Baru RT 3 dan RT 4 Kecamatan Martapura dan Desa Munggu Raya, Astambul Kota dan Astambul Seberang, Jati Baru dan Pingaran Ulu serta Pingaran Ilir Kecamatan Astambul. Rata-rata ketinggian air sekitar 50 centi hingga 70 centi di jalan desa setempat.

     Pembakal Desa Tambak Baru, Zainal Arifin mengatakan, saat ini ada 15 kepala keluarga yang terdiri dari 32 jiwa mengungsi ke Madrasah Baitul Atiq karena rumah mereka terendam air selutut orang dewasa sedangkan ketinggian air yang menggenangi jalan desa mencapai 75 centimeter.

     "Sejak hari Selasa lalu warga yang rumahnya kebanjiran dan terendam air datang ke balai desa. Padahal, baru beberapa hari mereka pulang karena banjir pertama lalu mereka juga mengungsi ke sini (balai desa, red)," ujar Zainal dihubungi Mata Banua, Kamis petang.

     Dikatakan Zainal, ketinggian air saat ini melebihi ketinggian air yang merendam desa setempat beberapa waktu sebelumnya. Jika banjir pertama lalu ketinggian air hanya mencapai 65 centimeter maka sekarang ketinggian air sudah mencapai 75 centimeter sehingga pengungsi diarahkan ke Madrasyah Baitul Atiq di sebelah balai desa yang bangunannya berlantai dua.

     "Saat ini, balai desa yang sebelumnya tidak terendam kini lantainya sudah terendam setinggi 3 centimeter. Bahkan, sebelumnya ketinggian air hanya naik 1 centimeter setiap 2 hingga 3 jam tetapi sekarang kenaikannya 5 centimeter," ungkap Zainal yang memperkirakan air bakal terus meninggi apalagi jika di bagian hulu hujan deras terus mengguyur.  

     Beberapa kawasan lain yang terendam dengan ketinggian air lebih dari biasanya adalah desa Pekauman. Di wilayah yang persis berada di tepi alur Sungai Martapura ini, ratusan rumah termasuk sekolah dan puskesmas terendam sehingga cukup mengganggu aktivitas rutin warga setempat.

     Dikonfirmasi terpisah, Camat Astambul, Afifus mengkhawatirkan jika banjir yang merendam ratusan rumah warga maupun fasilitas publik lainnya terus meningkat, seiring meningkatkan curah hujan. Oleh karenanya, warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mencari tempat yang lebih aman.

     "Saat ini, ketinggian air di beberapa kawasan di kecamatan Astambul sudah mencapai 65 cm sehingga banyak rumah warga yang terendam termasuk jalan desa. Banjir terparah melanda desa Munggu Raya dimana hampir seluruh rumah warga terendam banjir," katanya. yoi

Warga Minta DPRD Tanggap Terhadap Masalah Banjir

Tuesday, 30 December 2008 10:00 redaksi
AMUNTAI-Warga masyarakat menilai pihak Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara dibawah Kepemimpinan Bupati HM Aunul Hadi, telah tanggap terhadap masalah banjir yang menimpa warganya dengan menyalurkan bantuan serta sering turun kelokasi banjir.

     "Ini membuktikan bahwa Bupati HM Aunul Hadi, sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap masalah sosial yang terjadi di daerahnya," ujar Yudi warga desa Palimbang Sari Kecamatan Haurgading.

     Namun kepedulian tersebut dinilai oleh warga masih belum lengkap lantaran dari kalangan DPRD sampai saat ini masih belum dirasakan oleh beberapa kalangan warga masyarakat.

     "Pihak DPRD itu  merupakan lembaga kepanjangan masyarakat, jadi wajar masyarakat berharap banyak dari seluruh anggota DPRD, untuk berbuat yang nyata bagi masyarakat terlebih disaat warga sedang mengalami kesulitan seperti banjir yang terjadi saat ini," tandasnya.

     Menurut Yudi dari pengamatannya, tatkala Bupati HSU melakukan peninjauan banjir tak ada satu pun dari pihak DPRD yang mendampingi, bahkan khusus lembaga DPRD pun tak pernah melakukan peninjauan banjir, apalagi memberikan bantuan.

     Oleh karena itu kalangan warga meminta kepada seluruh anggota DPRD agar tanggap terhadap musibah banjir dengan tindakan yang nyata kepada masyarakat.

     "Tapi yang perlu dicatat kepedulian yang dimaksud yakni kepedulian resmi dari lembaga DPRD bukan perseorangan yang bertujuan untukpemilu tahun 2009," pinta warga.

     Selama ini apabila ada proyek bermasalah pasti ada pihak DPRD yang turun kelapangan, namun untuk masalah social seperti banjir belum ada kalangan DPRD yang turun secara resmi, ungkap warga lagi.gus/mb03

Wednesday, February 18, 2009

Banjir HSU Rendam Sejumlah Perkantoran

Wednesday, 31 December 2008 12:10 redaksi
AMUNTAI-Banjir yang merendam kota Amuntai kali ini, merupakan banjir yang terbesar setelah tahun 2004. Ini mengingat, kedalaman air sampai setengah pinggang orang dewasa serta merendam hampir seluruh ruas jalan dan bangunan baik perumahan maupun kantor  yang ada diseputaran.

       Seperti yang menimpa beberapa areal perkantoran milik Pemkab HSU, DPRD dan Polres serta Kodim 101 Amuntai.

       Untuk perkantoran milik Pemkab HSU, air sudah mulai masuk kelantai depan kantor Bupati HSU, Dinas PU, Pertanian, Pembermas Kessos, Dinas PU, Perpustakaan dan Gedung TP PKK.

       Banjir juga telah merendam perkantoran lainnya, seperti gedung DPRD yang mana hampir semua penjuru lantai dasar yang selama ini digunakan, sebagai ruangan anggota DPRD sudah tergenang air setinggi mata kaki.

       Kondisi yang lebih parah dialami kantor polres HSU dimana ketinggian air sudah mencapai setengah lotot orang dewasa yang menyebabkan para tahanan Polres yang berjumlah 14 orang terpaksa di pindahkan ke Lapas Amuntai sejak Senin siang yang lalu.

       Banjir juga telah merendam puluhan asrama Polres, seperti kediaman Kapolres HSU AKBP Drs Hermanto Kurnia yang mana air sudah masuk keruang dapur dan lantai depan rumah orang nomor satu dijajaran Polres Hulu Sungai Utara.

       Begitu juga beberapa kediaman anggotanya seperti kediaman Wakapolres Kompol Ino Herianto,SIK, Kasat Intel AKP Sarjaini, Kaba' Min AKP Arif dan puluhan perumahan anggota Polres.

       Meski banjir telah merendam areal perkantoran, namun aktivitas pelayanan publik tetap berjalan seperti biasa tak sedikit pun mengalami penurunan tingkat kedisiplinan para PNS maupun anggota Polres Hulu Sungai Utara.

       Seperti hari kerja pertama setelah liburan bersama, dimana hampir seluruh PNS dilingkungan Pemkab Hulu Sungai Utara tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa, bahkan pelaksanaan upacara pun tetap dilaksanakan dihalaman kantor walaupun sambil berendam lantaran halaman sudah terendam banjir.

       Bupati HM Aunul Hadi pun yang saat itu memimpin langsung pelaksanaan upacara ditengah kubangan banjir mengatakan, agar banjir yang melanda kota Amuntai termasuk areal perkantoran tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara.

       Karena kalau pelayanan publik tidak kita lakukan maka akan menambah kesengsaraan bagi warga masyarakat yang telah terbebani dengan musibah banjir.

       Sementara itu lantaran banjir belum menandakan adanya penurunan, pihak Pemkab HSU melalui satgas Tagana, telah mendirikan posko yang berlokasi dihalaman mesjid Raya Amuntai yang datarannya agak sedikit tinggi.

       Sedangkan aktivitas lalu lintas di jalan utama HSU sampai berita ini diturunkan tetap macet total lantaran kedalaman air melebihi pinggang orang dewasa.

       Warga yang ingin menuju pasar Amuntai atau areal perkantoran terpaksa harus memutar jauh untuk mencari ruas jalan yang rendaman airnya tidak begitu dalam seperti jalan yang ada di Bihman Villa.

       Pihak Pemkab HSU sendiri sampai berita ini diturunkan belum bisa memastikan jumlah perumahan yang terendam banjir lantaran data dari pihak kecamatan belum masuk, namun diperikarakan melebihi jumlah korban banjir yang terkadi beberapa bulan yang lalu.gus/mb03
Comments    

Banjir Kembali Datang

Saturday, 03 January 2009 12:57 redaksi
AMUNTAI-Kota Amuntai tampaknya bakal sulit menanggalkan predikat julukan kota banjir  sepanjang  Tahun 2008. Pasalnya, dalam beberapa  kali  daerah yang dikelilingi tiga sungai besar, yakni Sungai Tabalong, Balangan dan Negara ini hampir tak pernah luput dari serangan banjir, baik itu banjir kiriman maupun lantaran hujan lebat.

     Tingginya curah hujan di daerah ini membuat permukaan air sungai naik, dan pada akhirnya regol penahan air tak mampu lagi membendung ketinggian air yang terus naik.

     Akibatnya, kembali menjadikan ruas utama jalan kota, pasar dan pusat pemerintahan, sontak berubah total laksana kolam renang raksasa, dibanjiri pula ratusan masyarakat yang tertawa ditengah derita warga lainnya.

     Banjir kali ini, bahkan telah menenggelamkan  ribuan  rumah warga termasuk areal kantor, tempat ibadah, sarana publik, jalanan. Air yang meluap inipun turut mengurung Kantor Polres, Rumah Sakit Pembalah Batung, Rumah Sakit Bersalin dan sejumlah aset daerah penting lainnya.

     Pihak terkait   yang melakukan peninjauan diberbagai lokasi menegaskan, dalam waktu dekat akan menyiapkan berbagai agenda terkait banjir yang menimpa HSU.

     Salah satu warga Desa Patarikan, Humaidi mengaku sangat khawatir dengan makin tingginya curah hujan dibarengi masuknya air hingga dalam rumahnya dengan ketinggian puluhan cm. "Kita berharap pihak terkait bisa mengantisipasi banjir seperti tahun sebelumnya," tuturnya.

     Banjir juga melanda areal pemukiman padat seperti Paliwara, Sei Malang, Palampitan, Pamintangan, Pakapuran, Pasar Amuntai, Tambalangan dan puluhan lokasi lainnya.

     Banyak pihak mengeluhkan kesigapan pihak Dinas PU yang terkesan lamban dibanding tahun lalu dengan pembagian karung dan pasir pada warga. Kelambatan juga terjadi dalam hal data akurat warga yang terkena musibah.

     "Kita minta, agar apabila ada dana   untuk penanggulangan pasca banjir, bisa segera dikucurkan  jangan menunggu warga menderita,"  wanti salah seorang warga

     Dari data yang diperoleh , banjir kali ini telah merendam 6.069 rumah warga yang tersebar di delapan kecamatan, pihak pemkab sendiri telah menyiapkan dana sebesar Rp367.000.000, untuk membantu para korban banjir yang akan dikucurkan dalam waktu dekat.gus/mb03

Warga Aluh-Aluh Trauma

Thursday, 15 January 2009 08:53 redaksi
MARTAPURA - Hampir satu bulan belakangan ini, ribuan warga Kecamatan Aluh-Aluh, khususnya penghuni lima desa di pesisir muara Sungai Barito tidak tenang menjalani kehidupan sehari-hari.    Keseharian para kepala keluarga maupun kaum lelaki desa yang biasanya diisi dengan kesibukan mencari ikan maupun udang di perairan yang berhadapan langsung dengan laut lepas ini. Kini untuk sementara tidak bisa dilakukan.

     Di rumah pun bukan berarti mereka tenangn. Justru sebaliknya dihinggapi ketakutan dan trauma akan musibah gelombang pasang disertai hujan dan tiupan angin kencang yang mampu merusak dan memporak-porandakan ratusan rumah warga seperti kejadian pada pertengahan Desember lalu.

     "Warga masih trauma dan diliputi ketakutan terutama bila malam datang menjelang. Biasanya, cuaca pagi hingga siang yang semula cerah, tiba-tiba bisa berubah buruk begitu malam tiba. Saat itu lah warga mulai takut jika sewaktu-waktu badai disertai hujan dan angin kencang menerjang," ujar Pembakal desa Bakambat, Bahran Karim dihubungi Mata Banua, Rabu (14/1) petang.

     Menurutnya, aktivitas yang bisa dilakukan ditengah kecemasan itu hanya berkumpul beramai-ramai bersama tetangga. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dihadapi bersama-sama.

     "Rumah kami sendiri, setiap malam selalu dipenuhi warga orang dewasa maupun anak-anak. Mereka ketakutan jika badai kembali datang," ungkap Bahran.

     Ditanya mengenai situasi terakhir, ia mengakui, hingga Selasa malam dan Rabu petang kondisi cuaca cukup baik sehingga warga sedikit tenang dibanding dua malam sebelumnya dimana cuaca sangat buruk.
     "Warga di sini, terutama mereka yang masih bertahan di tempat-tempat pengungsian mengharapkan bantuan terutama bahan makanan. Kami tidak bisa kemana-mana karena takut menghadapi cuaca buruk yang datang tiba-tiba," kata Bahrani. yoi

Bantuan Untuk Korban Banjir

Tuesday, 20 January 2009 09:39 redaksi
BANJARMASIN - Banjir yang melanda Kabupaten Banjar tahun ini belum juga surut. Akibatnya masyarakat korban banjir pun kesulitan beraktifitas.

     Ir Gusti Perdana Kesuma pun tergugah untuk memberikan bantuan buat korban banjir. Tak tanggung-tanggung 140 paket sembako, terdiri dari beras dan mie instant dikemas menjadi 70 karung dan dibagikan buat korban banjir pada tujuh desa.

     Banjir akibat luapan Riam Kiwa itu paling parah mendera warga Desa Tambak Baru, Kecamatan Martapura. Untuk melakukan kegiatan, warga desa pun hanya bisa menggunakan perahu.

     Sekitar 25 kepala keluarga (KK) mengungsi lebih dari satu pekan di Madrasah Baitul Atiq. Jadi selama mengungsi mereka hanya mengharapkan bantuan para dermawan.

     Tentunya kehadiran Gusti Perdana yang menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Kalsel membawa berkah tersendiri bagi masyarakat korban banjir."Alhamdulillah datang lagi bantuan, kali ini dari Gusti Perdana," ucap seorang ibu sumringah.

     Masyarakat mengaku bukan hanya kesusahan mendapatkan bahan makanan, akibat banjir tersebut anak-anak mereka pun dengan terpaksa tak bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

     Dalam misi menyerahkan bantuan sembako, Gusti Perdana juga mendengarkan langsung keluh kesah korban banjir di Desa Tunggul Ireng Ulu, Kecamatan Martapura, Kecamatan Martapura Kota, Desa Bincau, Kecamatan Martapura, dan warga Desa Kelurahan Jawa warga Jalan Melati Kecamatan Martapura Kota.

     "Bantuan ini sebagai rasa kepedulian, dan sekedar meringankan beban masyarakat korban banjir," ujarnya. Yang jelas, terang Perdana kembali, banjir tahunan ini sebenarnya bisa ditangani Pemkab Banjar lantaran ada dana tanggap darurat.

     "Sedang bantuan saya ini sifatnya sementara hingga penanganan banjir bisa diatasi," ucap calon legislatif (caleg) DPRD Kalsel nomor urut 1 daerah pemilihan (dapil) Banjarbaru dan Kabupaten Banjar ini.

     Perdana berharap dana tanggap darurat buat bencana alam harus segera diturunkan. Sebab kondisi masyarakat memang daurat, ujar Ketua DPD AMPG Kalsel saat berada pada markas pengungsi di Desa Tambak Baru, tepatnya di Madrasah Baitul Atiq. elo
Comments    

Khawatir Gelombang Pasang,Warga Aluh-Aluh Mengungsi

Monday, 12 January 2009 10:53 redaksi
MARTAPURA - Khawatir desa mereka kembali diterjang gelombang pasang air laut disertai angin ribut dan hujan deras seperti yang terjadi pertengahan bulan Desember lalu, puluhan warga desa Bakambat kecamatan Aluh-Aluh siap siaga dan sebagian lainnya mengungsi ke tempat aman.

     Warga khawatir, desa mereka yang berlokasi tepat di pesisir muara sungai Barito yang berhubungan langsung dengan laut kembali menjadi korban keganasan alam. Terlebih sebagaimana pemberitahuan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) memprediksi terjadi pasang air laut sekitar tanggal 12 Januari sehingga warga di pesisir pantai dan sungai diminta waspada.

     Pembakal desa Bahambat, Bahrani Karim membenarkan beberapa warga desanya cukup banyak yang berinisiatif ingin mengungsi ke tempat yang lebih aman mengingat kondisi alam yang mulai kurang bersahabat. Air kembali pasang walaupun tidak disertai angin kencang dan hujan.

     "Sejak kemarin memang banyak warga terutama ibu-ibu yang datang ke rumah menyampaikan keinginan untuk mengungsi karena air mulai pasang. Namun, setelah berkoordinasi dengan kecamatan, warga diminta tetap bertahan karena di kantor kecamatan kondisinya juga tidak memungkinkan jika air pasang," ujar Bahrani dihubungi Mata Banua, Minggu malam pukul 22.30 Wita.

     Menurut Bahrani, air pasang sebagai siklus tahunan memang sudah biasa namun bisa berubah menjadi petaka seperti kejadian satu bulan yang lalu manakala disertai tiupan angin kencang disertai hujan deras. Oleh karena khawatir kondisi ini terulang lagi, makanya banyak warga berinisiatif mengungsi.

     "Jumlah warga yang mengungsi memang tidak banyak, hanya beberapa kepala keluarga. Mereka menempati tenda darurat atau tinggal di bangunan Madrasyah Nurul Huda, sebagian lain pindah ke tempat keluarga yang lokasinya agak kedarat dan cukup jauh dari pesisir sungai," terang Bahrani seraya menyebutkan jumlah KK di desanya sebanyak 416 KK dengan total 1500 jiwa.

     Dilaporkannya pula, saat ini kondisi air memang mulai pasang dalam di banding hari-hari biasanya. Namun tidak disertai tiupan angin maupun hujan sehingga warga masih cukup tenang, walaupun mereka harus terus berjaga jika tiba-tiba alam kembali mengamuk.

     "Kondisi air laut memang pasang dan lebih tinggi ke pesisir dibanding biasanya, tetap cuaca cukup cerah tanpa angin sehingga membuat warga tenang. Namun, bisa saja cuaca berubah sehingga beberapa warga terutama laki-laki tetap waspada," tukasnya.

     Dikonfirmasi terpisah, Kasi kessos kecamatan Aluh-Aluh, Suharto membenarkan adanya keinginan warga desa Bakambat yang ingin mengungsi karena khawatir gelombang pasang disertai angin kencang dan hujan deras kembali menerjang desa yang berada di daerah pesisir ini.
     "Tadi pagi, pembakal desa Bakambat memang ada menghubungi dan menyampaikan keinginan warga mengungsi ke kantor kecamatan. Namun, jika pasang dalam kantor kecamatan dan puskesmas yang dijadikan tempat mengungsi juga terendam, jadi saya minta mereka bertahan di desanya namun ditempat yang lebih tinggi dan jauh dari pesisir," kata Suharto yang dihubungi sekitar pukul 22.00 Wita. yoi/mb02

Banjir Rusak Puluhan Kilometer Jalan

Thursday, 08 January 2009 09:17 redaksi
MARTAPURA - Musibah banjir yang merendam sebagian besar wilayah kabupaten Banjar menyisakan kerusakan sarana prasarana publik khususnya infrastruktur jalan. Kerugian yang diderita, tidak sedikit karena untuk memulihkan kerusakan diperlukan biaya miliaran rupiah.

     Hasil inventarisir kerusakan jalan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Banjar, ruas jalan yang rusak pasca terendam banjir mencapai puluhan kilometer. Lokasinya tersebar di beberapa kecamatan yang memang menjadi kawasan langganan banjir jika musim hujan tiba.

     "Hasil inventarisasi kami, jalan yang rusak akibat banjir mencapai puluhan kilometer atau kurang lebih sepanjang 20 kilometer. Lokasinya tersebar di beberapa kawasan yang memang menjadi langganan banjir," ujar Kasubdin prasarana transportasi, H Hilman ST MT kepada wartawan, Rabu siang.

     Disebutkan Hilman, sebaran ruas jalan yang mengalami kerusakan seperti di ruas jalan desa Pematang Baru, desa Tambak Baru, beberapa titik di ruas jalan Martapura Bincau, Karang Intan, Astambul, Sungai Tabuk dan sebagian ruas jalan dikecamatan Pengaron.

     "Kerusakan jalan di satu titik ada yang hanya puluhan meter namun ada pula yang mencapai satu hingga dua kilometer. Penyebabnya karena tidak mampu menahan gerusan air yang merendam hingga beberapa hari sehingga aspalnya terkelupas atau badan jalannya koyak," ungkapnya.

     Ditanya mengenai upaya yang dilakukan guna memperbaiki kerusakan infrastruktur jalan yang menjadi sarana vital bagi transportasi darat masyarakat ini, Hilman mengatakan pihaknya segera mengambil langkah berupa perbaikan secara tambal sulam yang sifatnya hanya perbaikan sementara.

     "Perbaikan tambal sulam ini dilakukan agar badan jalan yang rusak tidak mengganggu akses transportasi masyarakat. Selain itu, sifatnya juga sementara sambil menunggu perbaikan yang dilakukan secara permanen," imbuh Hilman yang masih belum dilantik sebagai pejabat definitif sesuai SOTK baru ini.

     Ditambahkan Hilman, guna memulihkan kondisi jalan yang mengalami kerusakan ini, diperlukan dana sedikitnya Rp8 miliar dengan perhitungan satu kilometer ruas jalan yang diperbaiki menghabiskan dana sebesar Rp400 juta.
     "Itu jika perbaikannya dilakukan permanen dan menyeluruh. Namun, jika hanya diperbaiki tambal sulam, tentunya dana yang digunakan relatif lebih sedikit," katanya. yoi
Comments    

Dua Titik Jalan Martapura Lama Putus

Saturday, 03 January 2009 12:58 redaksi
MARTAPURA - Ruas Jalan Martapura lama yang menjadi alternatif warga dari kota Martapura menuju Banjarmasin dan sebaliknya putus. Penyebabnya tidak lain akibat luapan sungai Martapura yang merendam ruas jalan sehingga mengganggu akses transportasi darat di kawasan setempat.

Terputusnya akses jalan alternatif yang menjadi pilihan utama pengendara guna menghindari kemacetan di ruas Jalan A Yani dari arah kota Martapura menuju kota Banjarmasin dan sebaliknya ini terjadi di dua titik. Pertama di desa Sungai Batang dan titik kedua di desa Tangkas kecamatan Martapura Barat.

Di titik pertama desa Sungai Batang RT 1, luapan air sungai merendam aspal jalan setinggi 30 centimeter dan berarus deras karena air dari persawahan meluncur ke aliran sungai Martapura yang posisinya lebih rendah. Akibatnya, akses jalan terganggu dan tidak dapat dilewati kendaraan secara normal.

Jalan keluarnya, warga setempat membuat batang bambu dan kayu yang dirakit memanjang mencapai 50 meter lebih sehingga bisa dilewati orang dan sepeda motor dengan cara dituntun. Setiap kendaraan yang melintas dikenakan pungutan sukarela sebagai ganti pembuatan jembatan darurat ini.

Namun karena jembatan darurat yang dibikin hanya satu sehingga orang maupun sepeda motor yang ingin melintas terpaksa bergantian menunggu giliran. Sedangkan bagi kendaraan roda empat terpaksa harus melintas hati-hati dan perlahan karena tingginya air dan derasnya arus membuat aspal menjadi licin.

Ketua RT 1, Mulkani menuturkan, air yang merendam aspal sepanjang 100 meter lebih di desanya sudah berlangsung selama 20 hari. Akibat ketinggian air yang memutus jalan sehingga warga secara gotong royong membuat rakit dari batang bambu dan kayu untuk menyeberangkan orang dan sepeda motor.

"Pembuatan rakit bambu ini atas keinginan warga setempat karena mereka kesulitan melintas. Selain itu, kami juga kasihan melihat pengendara motor yang harus baik arah karena jalan terputus sehingga berinisiatif membuat rakit secara swadaya," ujar Mulkani kepada Mata Banua, Jum'at siang.

Sementara itu, putusnya ruas jalan di desa Tangkas terjadi selain akibat luapan air juga disebabkan belum selesainya pembangunan jembatan di desa setempat. Sama dengan apa yang dilakukan warga desa Sungai Batang, warga setempat juga membikin jembatan darurat berupa titian dari kayu.

Titian yang hanya bisa dilewati orang dan sepeda motor dengan cara dituntun ini dibuat dua arah sehingga lalu lintas relatif lebih cepat. Namun, tetap saja akibat akses jalan yang terputus ini memperlambat jalur transportasi disamping memaksa pengendara mengeluarkan biaya tambahan.

"Ya, terganggu sih pasti. Selain itu, juga terpaksa keluar duit untuk bayar jasa menyeberangkan motor. Harapan kami, gangguan ini menjadi perhatian serius pemerintah dan segera mencari cara menanggulanginya sehingga tidak terulang setiap tahun," ujar satu pengendara saat dimintai komentarnya. yoi
Comments    

Sunday, February 15, 2009

Ratusan Nelayan Tabanio Belum Berani Melaut

Monday, 22 December 2008 10:53 redaksi

BANJARMASIN - Ratusan nelayan di Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut (Tala), selama sepekan terakhir ini pihaknya belum berani melaut untuk mencari ikan seperti biasanya, akibat cuaca buruk.

"Kami pasca bencana air pasang rup (pasang dalam), sampai saat ini belum berani melaut untuk mencari ikan, karena cuaca di laut masih kurang baik," ujar Ahyani, salah satu nelayan di Desa Tabanio, Jumat.

Pernyataan salah seorang nelayan tersebut diungkapkan disela-sela kunjungan kerja Wakil Gubernur Kalsel, HM Rosehan Noor Bahri, SH, di Desa Tabanio, Tanah Laut, yang sempat merendam ratusan rumah warga tersebut.

Selain cuaca buruk selama sepekan ini, kata Ahyani, nelayan di Tabanio belum bisa melaut, karena persediaan garam nelayan sekitar 10 ton telah larut bersama dengan datangnya bencana pasang rup beberapa waktu lalu.

Akibat tidak bisa melaut untuk mencari ikan yang merupakan mata pencaharian nelayan untuk mencukupi kebutuhan hidup, kini ratusan nelayan Tabanio mengharapkan uluran tangan dari pemerintah terutama untuk mencukupi kebutuhan sembako.

"Kami sangat berharap uluran tangan dari pemerintah untuk meringankan beban nelayan terutama untuk mengatasi kebutuhan sembako," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Tabanio, Bahrani, melaporkan, akibat banjir rup tersebut warga masyarakat mengalami kerugian yang cukup besar yakni padi yang tersimpan di dalam kindai sekitar 5.000 belik terendam dan garam sebanyak 10 ton bagi nelayan larut terbawa air.

Selain itu, kata Bahrani, sebanyak tujuh ekor ternak sapi hilang, delapan ekor kambing, 2.000 ekor itik dan ayam hilang, kemudian 200 buah mesin pompa air milik masyarakat rusak akibat terendam banjir dan 250 rumah terendam banjir.

Warga Tabanio yang tertimpa bencana pasang rup, kata Bahrani, berharap ada bantuan dari pemerintah untuk sembako, karena itu sangat dibutuhkan warga.

Wakil Gubernur Kalsel, HM Rosehan Noor Bahri, SH, ketika mengunjungi korban banjir rup menyerahkan bantuan dari pemerintah provinsi, antara lain air bersih sebanyak enam tangki, beras satu ton dan selimut.

"Saya berharap bantuan air bersih dan beras ini hendaknya dibagikan kepada korban yang mengalami musibah sesuai dengan kerugian akibat bencana itu," katanya.

Dia berpesan, apabila dimasa mendatang menemukan kasus banjir rup hendaknya terlebih dahulu menyelamatkan diri sendiri, jangan terlalu memperhatikan barang-barang yang dimiliki, karena barang itu masih bisa dicari.

"Saya nantinya tidak ingin lagi mendengar ada warga yang meninggal dunia akibat bencana banjir rup ini, karena tidak ingin meninggalkan lokasi hanya untuk menunggui harta benar yang dimiliki," pintanya. ani/mb05

Korban Gelombang Pasang Aluh-Aluh Ingin Pindah

Saturday, 20 December 2008 13:07 redaksi

BANJARMASIN - Sejumlah korban bencana alam gelombang pasang yang menimpa puluhan rumah warga yang tinggal di pesisir laut, Desa Bakambat, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, menyatakan keinginannya untuk pindah dari lokasi bencana tersebut.

"Kami ingin pindah ke lokasi yang lebih aman dan berharap pemerintah untuk mencarikan lahan untuk membangun kembali rumah jauh dari pesisir laut ini," ujar beberapa wanita Desa Bakambat yang menjadi korban gelombang pasang, kemarin.

Pernyataan sejumlah wanita yang menjadi korban bencana gelombang pasang yang memporak-porandakan puluhan rumah penduduk di pesisir pantai tersebut disampaikan kepada Wakil Gubernur Kalsel, HM Rosehan Noor Bahri, SH, ketika berkunjung ke lokasi bencana.

Sejumlah wanita korban bencana gelombang pasang yang bergerombol bersama anggota keluarganya itu, menyatakan, mereka trauma dengan bencana yang menimpa rumah sejumlah warga di pesisir pantai yang langsung menghadap Laut Jawa itu.

Dalam kesempatan pertemuan dengan Wagub Kalsel itu, mereka meminta pemerintah untuk memikirkan lokasi baru bagi warga yang tinggal di pesisir pantai tersebut, karena mereka tidak lagi membangun rumah di lokasi bencana.

Selain ingin pindah, sejumlah warga korban bencana alam yang saat ini sebagian hidup dipenampungan sementara itu, mengharapkan uluran tangan pemerintah dan masyarakat terutama memenuhi keperluan sembako.

"Kami saat ini sangat membutuhkan sembako untuk keperluan sehari-hari, karena sembako yang dimiliki lenyap bersama bencana alam gelombang pasang," katanya bersamaan yang disaksikan Camat Aluh-Aluh, Drs Abdul Muis.

Secara terpisah, Camat Aluh-Aluh, Abdul Muis menjelaskan, gelombang pasang yang melanda Kecamatan Aluh-Aluh tersebut meliputi lima desa antara lain, Desa Bakambat, Tanifah, Polantan, Labat dan Muara dengan jumlah rumah yang rusak 99 buah.

Selain itu, kata Muis, sebuah mushala juga mengalami kerusakan yang cukup parah, sedangkan jumlah rumah yang rusak parah antara lain di Desa Bakambat sebanyak 17 buah, Desa Labat Muara, 41 buah dan Tanifah dua buah.

Gelombang pasang yang terjadi di Kecamatan Aluh-Aluh, tahun 2008 ini, katanya, yang cukup parah menimpa warga Desa Bakambat dan Desa Labat Muara.

Menanggapi keinginan warga masyarakat tersebut, Wagub Kalsel, HM Rosehan Noor Bahri, menyatakan, pihaknya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan jajaran Pemerintah kabupaten (Pemkab) Banjar untuk mencari lokasi bagi korban bencana yang ingin pindah.

Sementara itu, untuk keperluan sembako telah ada bantuan dari pemerintah provinsi dan telah diserahkan kepada pihak kecamatan untuk mengatur pembagiannya dan diharapkan pembagian bantuan bersifat adil sesuai dengan tingkat kerusakannya.

Dia berharap, warga masyarakat yang tertimpa musibah tersebut hendaknya bersabar, pemerintah baik provinsi dan kabupaten jelas akan memberikan perhatian dan bantuan terhadap korban sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Namun demikian, kata Rosehan, bantuan yang diberikan itu memang tidak sebesar keinginan dari masyarakat yang menjadi korban, tetapi diharapkan sedikit meringankan beban masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dia menjelaskan, musibah banjir dan gelombang pasang tersebut tidak hanya terjadi di Kabupaten Banjar dan Tanah Laut, tetapi juga telah menimpa penduduk lainnya seperti di Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST).

"Kita masih melakukan pendataan terhadap para korban yang tertimpa bencana banjir dan gelombang pasang, guna memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan korban bencana alam tersebut," katanya.

Sebelum mengunjungi Desa Bakambat dan Desa Labat Muara, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Wagub juga mengunjungi korban banjir rup (pasang dalam) di Desa Tabanio, Kabupaten Tanah Laut (Tala), beberapa waktu lalu.

Dilaporkan Kepala Desa Tabanio, Bahrani, akibat banjir rup tersebut warga masyarakat mengalami kerugian yang cukup besar yakni padi yang tersimpan di dalam kindai sekitar 5.000 belik terendam dan garam sebanyak 10 ton bagi nelayan larut terbawa air.

Selain itu, kata Bahrani, sebanyak tujuh ekor ternak sapi hilang, delapan ekor kambing, 2.000 ekor itik dan ayam hilang, kemudian 200 buah mesin pompa air milik masyarakat rusak akibat terendam banjir dan 250 rumah terendam banjir. ani/mb02