Thursday, January 17, 2008

Badai Ancam Kalsel

Kamis, 17-01-2008 | 02:11:40

• Seluruh Wilayah Rawan Bencana
BANJARMASIN, BPOST - Kalimantan Selatan dalam status siaga. Cuaca buruk yang berpotensi menimbulkan bencana diprediksi bakal melanda daerah ini.

Selain Kalsel, 10 provinsi di Indonesia juga menghadapi kondisi serupa. Hujan lebat disertai angin kencang bakal melanda wilayah-wilayah Sumsel bagian selatan, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Badan Kesbanglinmas Kalsel, Fakhrudin AM dalam coffee morning di Aula Graha Abdi Persada, Kantor Gubernur, Rabu (16/1) mengaku sudah menerima peringatan dini dari Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB). Pada intinya, seluruh daerah tersebut harus lebih waspada karena rawan bencana.
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kalsel, Rachmadi Kurdi, juga menegaskan bahwa hampir seluruh daerah di Kalsel rawan bencana. “Terlebih cuaca buruk yang mengancam berupa angin kencang dan hujan lebat,” ujarnya kepada BPost, malam tadi.
Lebih jauh Fakhruddin mengatakan, berdasarkan informasi BMG, buruknya kondisi cuaca disebabkan adanya wilayah pertumbuhan awan memanjang dari Lampung hingga NTB. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi terjadinya hujan lebat disertai badai angin dan gelombang tinggi.
Dia mengingatkan daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah pertumbuhan awan diminta waspada. “Hujan lebat dan angin kencang bisa saja mengakibatkan terjadinya bencana,” tandas Sekretaris Satkorlak Kalsel itu.
Pihaknya mengimbau para pejabat di kabupaten/kota segera menyusun perencanaan dan kesiapsiagaan berdasarkan tingkat kerawanan masing-masing, terutama terkait penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor.
Menanggapi hal itu, Sekdaprov Kalsel, M Muchlis Gaffuri memerintahkan segera dilaksanakan rapat koordinasi antara Satkorlak dengan Satlak masing-masing kabupaten dan kota.
“Kita tidak bisa memastikan kapan terjadi bencana. Tapi kalau sudah ada peringatan seperti itu, kita harus siap-siap sejak dini,” tandasnya.
Bencana
Menurut Kepala Bapedalda Kalsel Rakhmadi Kurdi, beberapa daerah seperti di Negara (HSS), Sungai Buluh (HSU), dan sebagian wilayah di Kabupaten Banjar merupakan kawasan rawa. “Kawasan ini terbuka sehingga angin kencang bebas tanpa halangan sehinga bisa langsung menyentuh permukiman warga,” ujarnya.
Selain daerah rawa, beberapa permukimam warga berada di kawasan pantai, seperti Aluh Aluh (Kabupaten Banjar), Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. “Daerah-daerah ini berhadapan langsung dengan laut terbuka dan rawan tersapu angin kencang disertai hujan lebat,” tambahnya.
Sedangkan Kabupaten Balangan, HST, sebagian HSS, Tabalong, sebagian Kotabaru, dan Tala, juga rawan tanah longsor. Di daerah-daerah itu banyak terdapat kawasan curam di pegunungan.
“Longsor bisa terjadi karena pegunungan yang ada di kawasan itu tanahnya tidak lagi masive akibat hutannya digunduli. Sehingga tidak lagi mengikat air,” cetus Kurdi.
Sedangkan banjir cukup mengancam Kabupaten Tala, Tanah Bumbu, Kotabaru, Batola, HSS khususnya kawasan Negara, HSU dan HST.
Waspada
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Pemantau Bandara Syamsudin Noor, Dwi Agus Priyono mengatakan, angin kencang disertai hujan lebat masih terus terjadi hingga akhir Januari.
“Kondisi cuaca ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan bencana,” ujarnya.
Dia mengingatkan masyarakat perlu waspada terhadap perubahan cuaca yang pada siang hari begitu panas, tiba-tiba berubah hujan deras disertai angin kencang pada sore.
Buruknya kondisi cuaca membawa dampak langsung pada pelayaran. Perusahaan batu bara terbesar kedua di Kalsel, PT Adaro Indonesia sudah tiga pekan terakhir tidak bisa memenuhi permintaan batu bara sejumlah kliennya di Pulau Jawa.
Ribuan ton batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik di Pacitan, Suralaya maupun Cilacap terpaksa menumpuk di stokpile Kelanis. “Kami tak ingin mengambil risiko, karena kondisi cuaca memang tak memungkinkan untuk angkutan kami,” jelas Ismail, jurubicara PT Adaro Indonesia di Tanjung, Tabalong, kemarin.
Kondisi yang sama juga dialami H Bandu Daeng Manase. Pemilik usaha jasa pelayaran kapal itu mengaku semenjak angin kencang dan laut pasang, armada kapalnya tidak bisa berlayar.
“Sudah lima hari ini, kapal kami tidak bisa berlayar ke Surabaya,” ujar Haji Daeng seraya berharap agar cuaca kembali normal.
Sebelumnya, Kepala BMG Pusat Sri Woro Harijono telah mengingatkan bahwa beberapa wilayah perairan di Indonesia belum aman dari amukan gelombang tinggi. Gelombang antara 3 sampai 6 meter masih akan terjadi. “Semua jenis kapal berbahaya menghadapi tinggi gelombang laut seperti sekarang ini,” jelasnya.
Namun Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin Captain Sufrisman Djaffar mengatakan hingga kemarin arus lalulintas kapal masih berjalan seperti biasa.
“Hingga kini (kemarin) kondisi gelombang di Laut Jawa masih sekitar 3-4 meter. Bahkan untuk daerah Tabunio, muara Barito informasinya masih sekitar satu meter,” ungkapnya.
Meski kondisi gelombang laut cukup tinggi aktivitas pelayaran kapal di Laut Jawa masih sibuk. “Untuk kapal-kapal besar sampai sekarang tidak masalah. Bahkan kapal-kapal penumpang dari Surabaya juga masih jalan,” katanya.
Hanya saja, dikatakan Sufrisman, untuk kapal-kapal kecil, seperti kapal layar tentu sangat membahayakan. “Makanya sampai sekarang maklumat (peringatan) untuk berhati-hati ketika berlayar belum kita cabut,” imbuhnya. ais/nda/mdn

Tuesday, January 08, 2008

Air Hujan Banjiri Rumah Warga

Minggu, 06-01-2008 | 00:43:30

• Atap Rumah Beterbangan
• Angin Ribut Sapu Tanjung dan Martapura

TANJUNG, BPOST - Hujan disertai angin kencang menyaput Kota Tanjung dan sekitarnya selama lima jam, mulai pukul 04.00 Wita dini hari, Sabtu (5/1). Puluhan baliho, papan nama, spanduk bahkan pohon roboh.

Angin juga mengoyak dan bahkan menerbangkan atap seng sejumlah rumah warga di kawasan padat penduduk seperti di Pembataan, Tanjung. Akibatnya, rumah jadi kebanjiran karena air hujan merembes masuk.

Tak hanya itu akibat ada pohon yang tumbang menimpa kabel PLN di depan Makam Pahlawan Maburai dan di depan SPBU Mabuun, listrik di kawasan Kota Tanjung dan sekitarnya padam selama 4 jam, mulai pukul 04.30 Wita.

Pantauan BPost, sebuah warung bakso semi permanen dekat mess Kodim 1008 di Pembataan roboh. Juga sebuah parabola milik warga hilang diterbangkan angin. Warga sejumlah perumahan seperti di Jalan Tanjung Puri juga banyak yang mengeluh kehilangan kursi plastik di teras rumah karena disapu angin.

Di jalanan, seperti di Jalan Tanjung Puri juga banyak pohon yang tercerabut sampai akarnya dan tumbang melintang di tengah jalan. Kerusakan parah juga tampak di kawasan Terminal Mabuun, Kecamatan Murung Pudak.

Satu baliho ukuran besar, iklan milik salah satu operator selular yang dipasang dengan satu tiang penyangga di depan terminal bahkan ambruk menimpa kabel telepon di sampingnya.

Baliho besar produk rokok di depan Gedung DPRD dan di bundaran Monumen Obor Mabuun, papan ucapan selamat datang di depan Polres Tabalong di Pembataan dan papan Dinas Dukpencapil di Tanjung juga roboh.

Kondisi ini tak jauh berbeda dengan di Kabupaten Banjar. Martapura dan sekitarnya diterpa hujan deras dan angin kencang pada Sabtu (5/1) dinihari dan berlanjut hingga siang harinya.

Tiupang angin kencang yang terjadi pada Sabtu siang itu mengakibatkan sebuah neon box yang dipasang di median Jalan A Yani Km 40 dekat RSUD Ratu Zalecha, Martapura roboh, hingga sempat membuat pengendara kaget.

Untungnya neon box, iklan produk rokok itu tidak sampai mengakibatkan warga terluka. Pada saat roboh, tidak ada kendaraan atau warga pejalan kaki yang melintas.

Beberapa warga yang kebetulan lewat di dekat lokasi bergotong royong mengangkatnya. Pemasangan baliho dan neon box di Kota Martapura sepertinya harus ditinjau ulang. Dalam sepuluh hari terakhir, sudah ada dua kejadian serupa.

Pada 26 Desember 2007, angin kencang yang menerjang Kota Martapura dan sekitarnya mengakibatkan sebuah baliho di dekat jembatan irigasi Jalan A Yani Km 38 Sungai Pering ambruk. Ambruknya baliho itu diduga karena tidak kuatnya fondasi yang dipasang. ofy/nda

Jalan di HSU Longsor

Sabtu, 05-01-2008 | 00:32:48

MESKI BMG memprediksi hujan lebar terjadi pertengahan Januari, namun di Hulu Sungai Utara (HSU) hujan mulai membawa bencana.

AMBROL - Hujan lebat mengguyur kota Amuntai dan derasnya arus sungai membuat jalan Desa Tangga Ulin, Amuntai Tengah longsor, Jumat (4/1). BANJARMASIN POST/MAISURI

Jalan Desa Tangga Ulin Hulu kecamatan Amuntai Tengah longsor, karena tak mampu menahan hantaman air Sungai Balangan yang meluap akibat hujan, Jumat (4/1).

Kejadian itu menyebabkan jalan desa menyempit dari tujuh meter menjadi tiga meter. Panjang bantaran sungai yang longsor sekitar 60 meter.

Sebelumnya, jalan itu bisa dilalui oleh kendaraan roda empat, namun kini hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat. Warga khawatir longsor merembet ke permukiman mereka.

H Isan, warga setempat, mengatakan tanah longsor di bagian bahu jalan sudah yang keenam. Sebenarnya, kata dia, warga sudah meninggikan jalan itu dan menutupan bagian jalan yang berlobang.

"Sudah 150 ret tanah merah kita gunakan untuk menutupi dan meninggikan kembali jalan-jalan yang longsor. Untuk kejadian yang ke enam kali ini, rasanya tak mungkin lagi melakukan peninggian, buang-buang biaya," ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) HSU H Eddyanoor Idur, berjanji segera memperbaiki jalan yang longsor itu.

Dikatakan, pengurukan dan peninggian tanah di jalan desa Tangga Ulin dilakukan warga setempat melalui kucuran dana program peningkatan infrastruktur perdesaan (PPIP).

Sementara, pembuatan siring batu yang dibungkus dengan kawat di sepanjang bantaran anak sungai Balangan, pekerjaan dari provinsi. ori

Derita Pascabencana Muara Asam Asam, Nelayan Terbelit Utang

Sabtu, 29-12-2007 | 04:02:43

Tahun 2007 menjadi masa tersulit bagi para nelayan di Tanah Laut (Tala), termasuk nelayan di Desa Muara Asam Asam, Kecamatan Jorong. Sebagian besar nelayan kini terlilit utang akibat sulitnya mencari penghasilan, menyusul buruknya cuaca di lautan.

Kami di sini sudah lebih dua minggu tidak bisa melaut. Ombak di lautan sangat besar, angin kencang. Jika nekat, kapal bisa terbalik dan pecah," tutur Tahang (39), salah seorang warga.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Tahang dan keluarganya memilih utang. "Ya terpaksa utang di warung. Bagaimana lagi, saya sudah tak punya apa-apa lagi. Kami kalau tidak bisa melaut, berarti tak punya uang," ucap bapak tiga anak ini.

Bahkan nasib para nelayan, bak sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Di saat penghasilan keluarga sangat seret, mereka juga terkoyak bencana ombak besar. Dalam kejadian terakhir, 25 Desember lalu, sedikitnya rumah yang dihuni 29 kepala keluarga hanyut. Perabot rumah pun tak tersisa karena ditelan gelombang yang ganas itu.

Menurut penuturan sejumlah nelayan, sebenarnya saat ini ikan di laut cukup banyak, terutama jenis peda. Harganya pun lumayan tinggi. Namun potensi itu tidak bisa diraih nelayan, karena cuaca menghalangi aktivitas mereka.

Akibatnya, beban utang kian lama kian menumpuk. Untuk menanggung tiga anak, satu di antaranya masih bayi, dirasakan Tahang, rata-rata pengeluaran dalam sehari tak cukup Rp 25 ribu.

Pasalnya, karena berkurangnya lalu lintas kapal pengangkut, harga sembako dan bahan bakar minyak kian mahal. Ia mengilustrasikan, harga solar di kampungnya mencapai Rp 7.000 per liter, dan minyak tanah Rp 4.600.

Nasib Tahang pun masih lebih beruntung daripada korban terpaan ombak besar, tiga hari lalu. Nini (nenek) Madenna (70) misalnya. Kala menatap lautan luas, matanya terlihat hampa. Namun wanita tua ini masih berusaha tersenyum ketika BPost menemuinya, Jumat (28/12). "Saya tak punya rumah lagi, rumah saya hanyut dihantam ombak," ucapnya pelan.

Rumah Madenna yang berukuran 4x6 meter memang telah lapuk. Ombak besar yang menerjang Selasa petang lalu langsung menelan bangunan tua itu tanpa bekas. Apalagi rumah wanita tua terletak agak di bawah dibandingkan rumah warga lainnya.

Madenna menuturkan ketika ombak terus membesar, ia memilih mengungsi ke rumah familinya. Karena itulah, saat ombak yang tingginya mencapai tiga meter datang sekitar pukul 18-22.00 Wita dirinya tidak mengetahuinya. Namun saat dirinya kembali datang, rumahnya sudah porak poranda.

Ombak kini memang telah mereda. Namun Madenna terpaksa harus tetap berada di rumah familinya, bahkan mungkin untuk seterusnya. Madenna hidup tanpa anak dan suami. Hidupnya kini tergantung dari belas kasihan orang.

Darurat

Pascamusibah, warga Desa Muara Asam-Asam yang menjadi korban kini telah kembali ke rumah masing-masing. Namun mereka masih waswas karena diperkirakan pada Januari mendatang ombak besar kembali akan menerjang permukiman mereka.

Pantauan di lokasi, Jumat, beberapa warga di RT 2 sibuk memperbaiki rumahnya. Ada yang memasang papan lantai yang bolong, ada juga yang menyambung tongkat rumah yang menggantung karena tergerus abrasi.

Abrasi memang terus menerus menggerus pesisir pantai Muara Asam-Asam yang dihuni puluhan warga RT 2. Rumah warga di lingkungan ini paling rawan karena persis menempel di bibir pantai dan belum ditopang bronjong (pemecah gelombang). Bronjong yang ada saat ini sepanjang 600 meter dan baru dua-tiga bulan lalu selesai dibangun.

Sekretaris Desa Muara Asam Asam, Amliansyah, menuturkan abrasi berlangsung sepanjang tahun. Setidaknya abrasi telah menggerus daratan sejauh lima meter hingga menyentuh permukiman warga. Mereka pun hanya berharap pemerintah setempat tanggap. Namun jika tak ada kepedulian, satu-satunya harapan adalah alam tidak lagi murka. roy

Banjir

Rabu, 19 Desember 2007
Radar Banjarmasin
BANJARMASIN,-

Kompleksitas pemasalahan yang dihadapi Banjarmasin benar-benar serius. Dari persoalan hukum, kebersihan, sampai kondisi infrastruktur seperti buruknya pengelolaan drainase yang mengakibatkan sebagian besar jalan terendam setiap kali turun hujan.

Jalan yang tergenang tidak hanya terdapat di kawasan jalan kecil bahkan sebagian jalan protokol. Kedalaman air yang menggenang pun sampai 25 cm. “Itu artinya, selain banyak jalan yang berlobang dan kemiringannya tidak teratur, juga yang paling menentukan adalah kondisi saluran air atau drainase yang buruk,” ujar Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Drs M Iderus.

Bagi politisi PBB ini, kondisi geografis sama sekali tidak bisa menjadi alasan. Sebab, faktor geografis itu seharusnya menjadi pertimbangan pada saat melaksanakan pembangunan jalan dan drainase. Ia lebih cenderung menyoroti kemaksimalan kinerja dinas terkait, yakni Kimpraskot Banjarmasin dalam menlaksanakan pembangunan tersebut. Terlebih lagi, proyek drainase sangat mudah dimanipulasi kontraktor.

Namun yang pasti, papar Iderus, kondisi jalan tergenang ini harus bisa diatasi. Sebab, genangan itu membuat ketidaknyamanan bagi pengguna jalan dan bisa mempercepat rusaknya jalan. “Bahkan, kita menjadi malu jika ada tamu dari luar daerah yang menyaksikan jalanan yang tergenang. Bagaimana cara mengatasinya, Pemkot lebih tahu, yang jelas permasalahan ini harus bisa ditanggulangi,” tandasnya. (dla)

Tagana Buka Posko Bencana Alam

Kamis, 13 Desember 2007
Radar Banjarmasin

RANTAU,- Untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam di Tapin, Tagana Tapin sudah mempersiapkan Posko bencana alam, yang berlokasi di Jalan SPG, persis di depan Kantor Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat. Selain posko, stok logistik pun sudah lengkap, dan siap didistribusikan kapan saja bila dibutuhkan.

Hal itu diungkapkan oleh Koordinator Tagana Kabupaten Tapin Sugiri SAp kepada Koran ini. “Kita sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan untuk antisipasi bencana alam di Tapin. Mulai dari pendirian posko bencana alam, hingga kebutuhan logistik sudah siap semuanya,” ujar Sugiri.

Dijelaskan Sugiri, untuk Posko bencana alam ini setiap hari akan ada 6 orang petugas yang jaga. Posko ini pun dilengkapi dengan sarana komunikasi radio, Handi Talkie, dan telpon flexy. Pemkab Tapin memberikan dana bantuan Rp12.100.000,00 untuk kebutuan sarana komunikasi tersebut.

Menurut Sugiri, kesiapan logistik sudah lengkap, mulai dari sandang, pangan, family wear dan kid wear atau pakaianan anak orang dewasa. Bahkan, peralatan dapur umum pun sudah siap pakai.

Sedangkan untuk personil Tagana sendiri, ada 60 orang yang siap diterjunkan ke lokasi bencana alam, tambah Sugiri. “Anggota Tagana ini sudah dilatih secara khusus untuk menangani bencana di Tapin. Bahkan, bila diperlukan, perahu karet pun anggota kami siap menyediakannya,” jelas Sugiri.

Untuk Tapin, kata Sugiri yang diwaspadai adalah bencana banjir. “Dalam 2 tahun ini, bencana alam yang terjadi adalah banjir. Ada 3 kecamatan di Tapin yang menjadi langganan banjir. Seperti di Kecamatan Piani, Bungur, dan Tapin Utara. Sedangkan bencana lainnya adalah kebakaran, namun dalam jumlah yang kecil saja. Seluruh persiapan, mulai logistik hingga personil sudah siap semuanya. Tolong bantu doa, mudah-mudahan bencana alam tidak melanda Tapin,” harap

Gapensi Bantu Korban Puting Beliung

Jumat, 30 November 2007
Radar Banjarmasin

BATOLA,- Kepedulian terus mengalir untuk korban angin puting beliung yang menimpa warga Kecamatan Mekarsari. Adalah BPD Gapensi Batola, melalui Sekretaris Gapensi Batola Ir Rahmadianoor yang menyampaikan bantuan kemanusiaan itu. “Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban penderitaan masyarakat yang menjadi korban,” ujarnya.

Sekadar diketahui, Ahad (11/11) sekitar pukul 17.00, kepanikan melanda beberapa desa di Kecamatan Mekarsari, Kabupaten Batola. Sapuan angin puting beliung terjadi secara tiba-tiba. Puluhan rumah warga di desa setempat porak poranda.

Dari data yang diperoleh wartawan koran ini, dari Desa Tinggiran Darat tercatat 11 KK yang kehilangan tempat tinggal, di Desa Tinggiran Tengah 10 KK, dan 7 KK dari Desa Jelapat II.

Menurut Rahmadianoor, bantuan Gapensi itu diberikan untuk mereka yang memerlukan. “Dari bencana yang dialami warga di Mekarsari, kami anggota Gapensi merasa terpanggil. Rasa kepedulian kami terlecut. Dan inilah wujud kepedulian kami dengan memberikan bantuan kepada 28 KK yang menjadi korban sapuan angin puting beliung,” ujar Rahmadianoor.

Dia mengatakan, agar masyarakat tidak melihat dari nilai bantuan. Tapi ia berharap dapat merasakan sebagai tanda kepedulian atas sesama. “Terimalah apa adanya sebagai bentuk kepedulian kami atas musibah tersebut. Partisipasi serta kepedulian dan perhatian kami itu, insya Allah akan menjadi dukungan moril bagi korban agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi musibah ini,” ucapnya.

Kegiatan seperti itu, tambah dia, merupakan partisipasi atau sumbangan para anggota Gapensi dengan cara menyisihkan uang sebesar 1 persen dari total nilai proyek yang mereka dapatkan. (gsr)

”Antisipasi Banjir Sejak Dini” Jamhari: Keruk Sungai Astambul

Selasa, 27 November 2007
Radar Banjarmasin

MARTAPURA– Pemkab Banjar diingatkan untuk sedini mungkin mengantispasi datangnya banjir di tahun 2008 mendatang. Apalagi di sebagian daerah Kalsel banjir sudah melanda. Seperti di Kabupaten Balangan.

“Jika melihat kondisi alam, memang banjir tidak akan melanda daerah kita dalam waktu dekat ini. Tetapi melihat pengalaman yang sudah-sudah, tidak berlebihan jika antispasi sudah dilakukan sejak dini,” imbau Wakil Ketua Komisi IV H Jamhari, kemarin.

Menurut dia, selain sarana dan prasarana umum banyak yang rentan bencana banjir, areal pertanian juga tak kalah rentannya. Seperti Kecamatan Astambul, sebagian Martapura Kota, Martapura Timur dan Barat selalu menjadi daerah langganan banjir.

“Untuk areal pertanian, Jamhari menggarasibawahi antisipasi yang sangat penting dilakukan oleh pemerintah adalah ketersediaan bibit tanaman padi,” katanya.

Pun demikian, Jamhari menegaskan, untuk mengatasi persoalan tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja. Tanpa kesadaran dan peran aktif masyarakat, semua penanganan yang dilakukan tidak bakal berjalan maksimal.

“Paling gampang peran aktif masyarakat adalah menjaga saluran-saluran air tetap normal. Jangan lah membuang sampah sembarangan di tempat-tempat aliran sungai. Iya ‘kan sungai-sungai penting di Kabupaten Banjar saat ini banyak yang mengalami kedangkalan,” katanya.

Makanya, tambah politikus PKS Kabupaten Banjar ini, tanpa kepedulian yang baik dari masyarakat, persoalan banjir ini tidak bakal bisa diatasi dengan baik.

Lebih jauh Jamhari mengungkapkan, sungai-sungai yang saat ini kondisinya mengalami pendangkalan parah antara lain Sungai Astambul yang mengalir ke arah desa Kelampaian.

“Lihat saja di muara Sungai Astambul yang mengalir ke Sungai Tuan. Kalau pernah menyaksikan kondisi sungai itu pada tahun 1980-an lalu, baik kedalaman maupun lebar sungai sudah jauh lebih dangkal dan sempit. Nah, dengan kondisi aliran sungai seperti itu, sangat wajar jika air hujan tidak bisa tertampung dengan baik dan akhirnya meluap ke areal persawahan,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah itu, Jamhuri menyarankan untuk melakukan pengerukan dasar sungai. Atau bisa juga dengan melakukan normalisasi sungai.

Sekadar diketahui, sungai tersebut mengaliri ribuan hektare areal persawahan. Seperti di Desa Kelampaian, Sungai Tuang, Sungai Putat, Limamar, Akar Baru, Munggu Raya sebagian Kampung Melayu dan banyak daerah pertanian lainnya lagi.(yan)