Monday, March 24, 2008

Penutup Lahan Gundul

Jumat, 07-03-2008 | 01:43:42

RABU (5/3) malam, Anang Aplah, warga RT 1 Desa Sungai Raya, Kecamatan Simpang Empat, Banjar, sudah mulai resah. Kabar banjir yang terjadi di Sungai Pinang membuatnya harus selalu waspada.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, desanya pasti terendam bila daerah hulu sungai mengalami banjir.

Benar saja. Sekitar pukul 24.00 Wita, air tiba-tiba meluap dari Sungai Riam Kiwa dan meluber ke jalan desa. Air terus meninggi dan masuk ke rumah-rumah warga, termasuk milik Anang pada Kamis (6/3) dinihari. Air terus meninggi dan merendam sebagian lantai menjelang siang.

Beruntung, Anang cukup tanggap. Sejak Rabu malam dia sudah menaikkan barang-barangnya ke atap rumah. Saat air masuk rumahnya, tidak ada barang yang rusak atau basah.

"Kejadian ini selalu terjadi setiap tahun. Makanya, saat saya mendengar Sungai Pinang banjir, saya siap-siap menaikkan barang-barang ke atap rumah. Semalaman saya sengaja tidak tidur, berjaga-jaga menghindari kemungkinan yang bakal terjadi," tutur Anang kepada BPost.

Puluhan warga malam itu juga langsung keluar rumah. Mereka juga berjaga-jaga. Pagi hari, puluhan pemuda sibuk membuat rakit. Mereka merakit puluhan batang bambu dijadikan angkutan penyeberangan. Untuk jasa rakit ini tarifnya Rp 10 ribu sekali antar sejauh 200 meter.

Banjir di Simpang Empat telah mengganggu arus lalu lintas yang cukup padat di kawasan itu. Hingga kemarin sore, air yang menggenangi jalan desa semakin meninggi mencapai perut orang dewasa.

Sementara itu, warga di Kecamatan Pengaron memilih menitipkan barang-barangnya ke Mapolsek setempat. Akibatnya, Mapolsek Pengaron telah berubah menjadi tempat penitipan barang. Puluhan kendaraan roda empat dan dua, serta peralatan elektronik menumpuk di situ.

Gundul

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) di Banjarbaru, Eko Kuncoro mengatakan, banjir yang menerpa lima kabupaten di Kalsel diakibatkan oleh semakin terkikisnya vegetasi daerah hulu. Gundulnya penutup lahan di daerah hulu menyebabkan air dengan cepat merembes ke sejumlah daerah.

"Memang, penyebab banjir di Kalsel banyak sekali. Salah satunya kawasan di hulu yang seharusnya bisa menjadi resapan air telah gundul," jelasnya.

Eko memprediksi, hingga akhir Maret hampir seluruh DAS (DAS) di Kalsel perlu diwaspadai akan datangnya banjir dan tanah longsor. Curah hujan di Kalsel seperti dicatat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) masih tetap tinggi. "Artinya, adanya potensi bencana yang diakibatkan hujan," tuturnya.

Dinas Sosial Kalsel telah mengantisipasi bencana tersebut. Menurut Zakaria, kasubdin Bina Organisasi dan Penanggulangan Bencana, berdasarkan laporan Satlak PBP, sejumlah titik di Kabupaten HSS dan Tapin termasuk yang paling rawan banjir.

Di HSS, misalnya, banjir bisa terjadi terjadi jika Sungai Amandit meluap. Banjir pun menggenang di Telaga Langsat, Kandangan, Sungai Raya, Angkinang, Padang Batung.

Di Kabupaten Tapin banjir menggenangi tiga kecamatan yakni Tapin Selatan, Binuang dan Piani. Banjir di tiga wilayah itu menyebabkan 474 kepala keluarga dengan seribu jiwa lebih mengungsi.

"Banjir di Tapin tercatat cukup besar, meski genangan air tidak terlalu tinggi," kata Zakaria.

Pihaknya telah mendistribusikan perahu karet, perahu dolphin dan mendirikan dapur-dapur umum. Satkorlak disiagakan untuk turun ke kabupaten/kota jika terjadi banjir besar.

Mengenai banjir di Kabupaten Banjar dan Banjarbaru, Zakaria mengakui meski jaraknya dekat Banjarmasin, namun pihaknya kesulitan mendapatkan informasi dari Satlak setempat.

"Kita kesulitan mengakses data sejauh mana pergerakan air di dua wilayah itu," tuturnya. (sig/ais/niz)

No comments: