Wednesday, March 26, 2008

Seluruh Daerah Rawan Puting Beliung

Selasa, 25-03-2008 | 00:40:25



BANJARBARU, BPOST - Warga Kalsel diminta mewaspadai ancaman cuaca buruk dalam sepekan ke depan. Hujan deras, disertai angin kencang puting beliung sangat berpotensi terjadi di seluruh daerah di Kalimantan. Paling terparah, di kawasan pesisir dan Hulu Sungai.


Di Banjarbaru akibat angin kencang Senin (23/3) dinihari membuat lebih dari lima batang pohon tumbang. Satu di antaranya, pohon waru besar berukuran berdiameter 70 sentimeter di Jalan A Yani kilometer 25, menimpa dua kios warga.

Akibatnya, satu bengkel milik Huda dan satu kios perlengkapan pertanian milik Muharto di sana rusak. Beruntung, tidak ada korban jiwa. Namun, keduanya diperkirakan menderita kerugian ratusan juta rupiah setelah rumah usahanya hancur ditimpa pohon akibat angin kencang.

Peristiwa ini mengulang kejadian serupa akhir 2007. Waktu itu, pohon waru di depan Radar Bandara ini roboh menghalangi jalan. Juga ada satu pohon besar berdiameter sekitar 30 sentimeter di taman air mancur Minggu Raya sempat menimpa seorang pengendara sepeda motor. Beruntung, pengendaranya selamat dan hanya mengalami luka ringan berupa lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Satelit di Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Staisun Meteorologi Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru menangkap angin malam itu berkekuatan dahsyat yakni sampai 23 knot atau setara dengan 46 kilometer/jam. BMG menangkap gejala serupa munculnya angin tersebut bakal terulang sampai akhir Maret.

Prediksi ini dikuatkan dengan munculnya awan comulunimbus (CB) atau awan pembentuk hujan yang diakibatkan terbentuknya banyak tekanan udara rendah (low pressure) di sekitar Samudera Hindia. Setidaknya lebih dari lima titik tekanan udara rendah terlihat di sepanjang laut Jawa sampai daerah ekuator sehingga imbasnya hujan deras disertai angin kencang karena terbentuknya awan CB itu.

Fenomena alam ini diperparah dengan munculnya Maddane Julian Osilation (MJO) atau pergerakannya yang sampai menuju Indonesia. Jika sampai di Indonesia, cuaca ekstrim yang semula sudah terbentuk semakin ekstrim. Awan-awan aktif pembentuk hujan pun kian bertambah saja dan imbasnya sampai ke Banua. Tidak heran, jika pada siang hari cuaca di Kalsel cukup panas, maka pada sore harinya langsung hujan.

"Kalau di Kalsel, daerah yang perlu diwaspadai adalah sebelah Timur dan Utara yakni daerah Tanah Bumbu dan Kotabaru juga Hulu Sungai dan sebagian Kabupaten Banjar," ucap Wayan prakirawan Stasiun Meteorologi diamini Riza prakirawan yang lainnya.

Gejala angin kencang ini begitu cepat dan tak bisa diprediksi. "Berbeda dengan angin yang diakibatkan badai tropis yang terjadi berhari-hari," timpal Dwi Agus Priyono, Kepala BMG Stasiun Meteorologi Bandara Syamsudin Noor. (niz)
Daerah Lapang Lebih Waspada

BMG juga mewanti-wanti masyarakat agar mengantisipasi cuaca buruk ini, khususnya bagi mereka yang tinggal di areal lapang dengan vegetasi kurang. Angin puting beliung lebih sering menyapu tanah lapang tanpa tanaman dan sangat jarang terjadi di perbukitan atau hutan yang lebat.

Rumah non permanen pun wajib waspada karena hantaman keras angin ini juga kerap terjadi menimpa rumah jenis kayu tanpa beton. Termasuk rumah yang beratap seng/asbes maupun daun nipah.

Hal yang sama juga bisa terjadi di lautan. Saat ini cuaca buruk juga terjadi di Laut Jawa, kendati tinggi gelombang masih normal, maksimal hanya setinggi dua meter. Cuaca buruk angin kencang (water spot) ditambah hujan dan petir terjadi di perairan yang kerap dilalui kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari Kalsel. (niz)

Kenali Gejala Angin Kencang :
• Suhu udara sebelumnya pengap.
• Segera berlindung tatkala gumpalan awan mulai menghitam dalam jumlah banyak.
• Waspada saat hujan disertai petir, karena biasanya agin puting beliung atau angin puyuh satu paket dengan turunnya hujan.
• Cermati kalau ada lintasan angin semakin cepat dalam waktu singkat karena angin kencang seperti puting beliung biasanya berdurasi pendek.
• Waspada jika ada angin kencang di sekitar anda dengan radius 5 kilometer, karena angin ini menyerang pada radius itu.

Sumber: BMG Stasiun Meteorologi Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru

Antisipasi Angin Puting Beliung :
• Segera tebang pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh sehingga saat angin puting beliung menyapu tidak langsung roboh.
• Perhatikan atap rumah, segera ganti atapnya jika rapuh karena akan memudahkan angin menghempaskan rumah.
• Hindari mendekati awan gelap yang muncul tiba-tiba dari sebelumnya awan cerah.
• Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi karena fenomena ini sangat cepat terjadi.

Monday, March 24, 2008

Penutup Lahan Gundul

Jumat, 07-03-2008 | 01:43:42

RABU (5/3) malam, Anang Aplah, warga RT 1 Desa Sungai Raya, Kecamatan Simpang Empat, Banjar, sudah mulai resah. Kabar banjir yang terjadi di Sungai Pinang membuatnya harus selalu waspada.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, desanya pasti terendam bila daerah hulu sungai mengalami banjir.

Benar saja. Sekitar pukul 24.00 Wita, air tiba-tiba meluap dari Sungai Riam Kiwa dan meluber ke jalan desa. Air terus meninggi dan masuk ke rumah-rumah warga, termasuk milik Anang pada Kamis (6/3) dinihari. Air terus meninggi dan merendam sebagian lantai menjelang siang.

Beruntung, Anang cukup tanggap. Sejak Rabu malam dia sudah menaikkan barang-barangnya ke atap rumah. Saat air masuk rumahnya, tidak ada barang yang rusak atau basah.

"Kejadian ini selalu terjadi setiap tahun. Makanya, saat saya mendengar Sungai Pinang banjir, saya siap-siap menaikkan barang-barang ke atap rumah. Semalaman saya sengaja tidak tidur, berjaga-jaga menghindari kemungkinan yang bakal terjadi," tutur Anang kepada BPost.

Puluhan warga malam itu juga langsung keluar rumah. Mereka juga berjaga-jaga. Pagi hari, puluhan pemuda sibuk membuat rakit. Mereka merakit puluhan batang bambu dijadikan angkutan penyeberangan. Untuk jasa rakit ini tarifnya Rp 10 ribu sekali antar sejauh 200 meter.

Banjir di Simpang Empat telah mengganggu arus lalu lintas yang cukup padat di kawasan itu. Hingga kemarin sore, air yang menggenangi jalan desa semakin meninggi mencapai perut orang dewasa.

Sementara itu, warga di Kecamatan Pengaron memilih menitipkan barang-barangnya ke Mapolsek setempat. Akibatnya, Mapolsek Pengaron telah berubah menjadi tempat penitipan barang. Puluhan kendaraan roda empat dan dua, serta peralatan elektronik menumpuk di situ.

Gundul

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) di Banjarbaru, Eko Kuncoro mengatakan, banjir yang menerpa lima kabupaten di Kalsel diakibatkan oleh semakin terkikisnya vegetasi daerah hulu. Gundulnya penutup lahan di daerah hulu menyebabkan air dengan cepat merembes ke sejumlah daerah.

"Memang, penyebab banjir di Kalsel banyak sekali. Salah satunya kawasan di hulu yang seharusnya bisa menjadi resapan air telah gundul," jelasnya.

Eko memprediksi, hingga akhir Maret hampir seluruh DAS (DAS) di Kalsel perlu diwaspadai akan datangnya banjir dan tanah longsor. Curah hujan di Kalsel seperti dicatat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) masih tetap tinggi. "Artinya, adanya potensi bencana yang diakibatkan hujan," tuturnya.

Dinas Sosial Kalsel telah mengantisipasi bencana tersebut. Menurut Zakaria, kasubdin Bina Organisasi dan Penanggulangan Bencana, berdasarkan laporan Satlak PBP, sejumlah titik di Kabupaten HSS dan Tapin termasuk yang paling rawan banjir.

Di HSS, misalnya, banjir bisa terjadi terjadi jika Sungai Amandit meluap. Banjir pun menggenang di Telaga Langsat, Kandangan, Sungai Raya, Angkinang, Padang Batung.

Di Kabupaten Tapin banjir menggenangi tiga kecamatan yakni Tapin Selatan, Binuang dan Piani. Banjir di tiga wilayah itu menyebabkan 474 kepala keluarga dengan seribu jiwa lebih mengungsi.

"Banjir di Tapin tercatat cukup besar, meski genangan air tidak terlalu tinggi," kata Zakaria.

Pihaknya telah mendistribusikan perahu karet, perahu dolphin dan mendirikan dapur-dapur umum. Satkorlak disiagakan untuk turun ke kabupaten/kota jika terjadi banjir besar.

Mengenai banjir di Kabupaten Banjar dan Banjarbaru, Zakaria mengakui meski jaraknya dekat Banjarmasin, namun pihaknya kesulitan mendapatkan informasi dari Satlak setempat.

"Kita kesulitan mengakses data sejauh mana pergerakan air di dua wilayah itu," tuturnya. (sig/ais/niz)

Mitigasi Bencana di Kalsel

Sabtu, 15-03-2008 | 00:50:10

Definisi mitigasi adalah proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana yang akan terjadi. Mitigasi merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.

Diketahui, Provinsi Kalsel kaya sumberdaya alam berupa hasil hutan dan bumi. Kayu dan batu bara adalah komoditas paling banyak dieksploitasi. Dalam perjalanannya, banyak media masa memberitakan dampak negatif akibat eksploitasi semena-mena yang menyebabkan gangguan keseimbangan ekosistem. Berakibat timbulnya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor ketika musim penghujan tiba.

Banjir dan tanah longsor, kalau diperhatikan merupakan fenomena alam yang rutin datang seiring perubahan musim dari kemarau ke penghujan. Namun intensitasnya makin tahun terasa makin parah. Walaupun fenomena banjir dan tanah longsor di daerah pegunungan dan gelombang pasang di daerah pesisir merupakan hal yang berulang setiap tahun, tetapi tetap saja terasa minim antisipasi. Bencana alam sekarang tidak hanya diakibatkan air dan tanah. Angin juga sering menimbulkan malapetaka. Kedahsyatan puting beliung, mampu menyapu semua yang ada di permukaan tanah.

Penanggulangan bencana alam adalah perkara kemanusiaan, sehingga menjadi tanggung jawab setiap manusia untuk saling membantu. Tetapi tetap di pundak pemerintah tanggung jawab paling besar untuk menanganinya.

Awalnya setiap bencana dikoordinasikan oleh Bakornas Penganggulangan Bencana pimpinan Jusuf Kalla. Sejak disahkannya UU No 24 Tahun 2007, badan itu diganti dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tugasnya adalah koordinasi, komando dan rekonstruksi. BNPB diperkuat oleh dua lembaga yaitu panitia pengarah dan panitia pelaksana. Panitia pengarah terdiri atas masyarakat profesional dan sipil.

Pembuat UU itu berharap, badan bentukan baru tersebut tidak terlalu birokratis dalam bertindak. BNPB memiliki lembaga turunan yaitu BNPB provinsi dan kabupaten, menggantikan fungsi satkorlak dan satlak di era Bakornas.

Harus diperhatikan adalah apakah BNPB pada tingkat provinsi dan kabupaten sudah terbentuk? Kalau terbentuk, apakah sudah melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana diamanatkan UU? Hal itu mendesak untuk ditindaklanjuti, mengingat bencana alam di berbagai daerah mulai mengancam. Seperti pasang tinggi di sepanjang Kali Amandit yang menggenang berbagai wilayah di HSS, daerah rawan longsor dan banjir di wilayah Tapin, daerah berpotensi tsunami akibat gempa dan pasang tinggi di wilayah pesisir Kalimantan seperti Takisung, Batakan dan pantai di Kotabaru serta pulau kecil di seputaran Pulau Laut. Juga kabupaten lainnya.

Umumnya, Kantor Kesbang Linmas (Kesatuan Bangsa dan perlindungan masyarakat) aktif dalam menanggulangi setiap kejadian bencana alam, yang tangannya bisa sampai tingkat kecamatan. Pertanyaannya, apakah setiap Kantor Kesbang Linmas tingkat kabupaten sudah melakukan mitigasi daerah yang rawan bencana alam di wilayah kerja mereka? Sudah siapkah untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana alam?

Antisipasi misalnya mulai dari yang paling sederhana yaitu pendirian posko pada tingkat kecamatan, sampai yang kadang menjadi masalah yaitu pola kordinasi antarpihak yang terkait. Sudah saatnya bupati menengok sesaat ke instansi dibawahnya. Apakah sudah melakukan mitigasi bencana alam di wilayah kerja mereka. Kalau tidak dilakukan, maka pihak lain yang akan mengambil simpati korban bencana alam tersebut. Tentunya, untuk kepentingan politik masa yang akan datang.

Oleh:
Wahyu Wardhana
Spesialis Bedah RS Hasan Basri Kandangan