Showing posts with label Banjir. Show all posts
Showing posts with label Banjir. Show all posts

Monday, December 15, 2008

Banjir Disebabkan Memburuknya Daya Dukung Lingkungan

Senin, 15 Desember 2008 11:25 redaksi

BANJARMASIN - Banjir yang terjadi di beberapa daerah di Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam beberapa bulan terakhir, disebabkan daya dukung lingkungan yang memburuk akibat berbagai aktivitas seperti pertambangan dan pembabatan hutan.

Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Budihardjo, Sabtu, mengungkapkan, curah hujan di Kalsel masih dalam tahapan normal yaitu 400 mm per bulan.

"Kalau curah hujan berkisar pada 400 mm per bulan, itu masih keadaan normal, seharusnya tidak menyebabkan banjir, apalagi sampai di perumahan maupun persawahan," katanya.

Banjir yang sering terjadi di Kalsel kemungkinan karena mulai memburuknya daya dukung lingkungan, terutama di beberapa daerah langganan banjir.

Pada saat terjadi curah hujan secara terus menerus, maka beberapa daerah itu langsung terendam. Untuk itu perlu adanya upaya perbaikan lingkungan secara terkoordinasi dari semua pihak, untuk menghindari terjadinya banjir yang lebih besar.

Puncak terjadinya banjir di Kalsel akan dimulai pada awal Januari hingga Februari 2009, terutama untuk daerah-daerah pesisir bagian selatan.

Di daerah-daerah pesisir, seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Tanah Laut, dan Tanah Bumbu, diperkirakan curah hujannya akan lebih tinggi dibanding daerah-daerah lain.

Dengan demikian, tambahnya, daerah-daerah tersebut harus lebih waspada, dalam menghadapi kemungkinan terjadinya banjir besar di beberapa daerah tersebut, terutama di Kabupaten Tala dan Tanbu yang merupakan kabupaten langganan banjir.

Menurut dia, yang perlu diwaspadai adalah, curah hujan yang cukup lebat, kendati hanya dalam waktu tidak terlalu lama. "Hujan seperti itu, kendati sebentar tapi membahayakan, karena lingkungan tidak akan mampu lagi menampung air yang datang dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan", katanya.

Kondisi tersebut berbeda dibanding dengan curah hujan yang datang secara terus menerus, namun tidak terlalu deras, tidak akan mengakibatkan banjir besar, demikian Budihardjo. ant/mb05

Monday, December 08, 2008

Barabai Mulai Tergenang

Minggu, 30-11-2008 | 19:56:35

BARABAI, BPOST - Hujan lebat yang terjadi pada beberapa hari terakhir ini mengakibatkan luapan air di Sungai Barabai, mulai menggenangi sebagian kawasan wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel khusunya Kota Barabai.

Pantauan BPost Online sebagian kawasan sudah terendam banjir yakni dikawasan jalan Brigjen Hasan Basry, dan Kamasan. "Yang dikhawatirkan adalah apabila hujan terus -menerus maka terjadi lagi banjir. Sebagian kawasan sudah terendam air,”kata salah satu warga Kamasan, Barabai.

Akibat meluapnya air setinggi tumit manusia ini, warga tidak berani turun ke tempat pemandioan (lanting) karena ketinggian air dan derasnya arus sungai sehingga cukup membahayakan.

Thursday, November 27, 2008

Juai dan Halong Banjir

umat, 28 November 2008 11:45 redaksi

PARINGIN - Banjir kembali melanda sejumlah desa di Kecamatan Juai dan Halong. Kondisi naiknya permukaan air terjadi sejak Selasa malam, dan sejak Rabu air sudah merendam sedikitnya tiga desa di Juai, yaitu Desa Galumbang, Teluk Bayur dan sebagian kawasan Mungkur Uyam.

Sementara di Kecamatan Halong, Desa Bangkal dan Baruh Panyambaran juga tergenang air. Namun dilaporkan angka pasti berapa jumlah jumlah, fasilitas sekolah maupun tempat umum yang turut terendam banjir.

Syahril, Kepala Seksi Trantib (Ketenteraman dan Ketertiban) Kantor Camat Juai mengatakan, petugas Linmas dan Organisasi Relawan Penanggulangan Bencana di Kecamatan Juai telah mengantispasi musibah ini.

Warga ketiga desa di kecamatan itu pun sudah bersiaga sejak beberapa waktu sebelumnya, tatkala hujan mulai sering turun.

"Hampir tiap tahun di Juai ada banjir. Sehingga kami, mau tidak mau, pasti antisipasi dan siaga," katanya.

Menurut penuturan Syahril, di beberapa bagian desa air mencapai ketinggian hampir satu meter. Namun demikian, tak ada korban jiwa dalam musibah ini. Warga desa juga belum memutuskan untuk mengungsi dari tempat tinggal masing-masing.

"Situasi masih terkendali. Kami sudah koordinasi dengan Satlak (Satuan Pelaksana) Penanggulangan Bencana," lanjut Syahril.

Dia menambahkan, petugas dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan Kabupaten Balangan juga telah turun ke lapangan untuk melakukan pengamatan, sejauh mana bantuan teknis yang perlu diturunkan.

Dilaporkan juga selain di kawasan Balangan, di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan mulai terendam air, disebabkan tingginya curah hujan, seperti di Kabupaten HSU.

Sunday, November 23, 2008

Ratusan Buah Rumah Terendam Banjir

Senin, 24 November 2008 11:10 redaksi

BATULICIN - Hujan deras yang mengguyur dua desa di Kecamatan Simpang Empat, yakni Desa Antasari dan Tungkaran Pangeran, Sabtu (12/11) siang sekitar pukul 15.00 Wita, mengakibatkan ratusan rumah penduduk terendam air.

Sementara itu, akibat banjir tersebut ratusan rumah penduduk Jalan Mulawarman dan Jalan Perjuangan Desa Tungkaran Pangeran ikut terendam air. Air yang merendam ruas jalan dan rumah-rumah penduduk ini memang tidak berlangsung lama.

Tetapi warga setempat sempat dibuat panik. Pasalnya, warga setempat khawatir akan terjadi banjir besar hingga menenggelamkan rumah mereka. Beruntung, kekawatiran warga tidak berlangsung lama, ini setelah air berangsur turun (surut).

Dalam waktu bersamaan, banjir juga terjadi di Jalan Banyuwangi RT 01 Desa Antasari, hasil pemekaran dari Desa Tungkaran Pangeran. Tercatat sekitar 100 rumah warga turut terendam dan ketinggian air dalam rumah hingga pergelangan kaki orang dewasa.

Sementara itu, air baru mulai surut sekitar empat jam setelah hujan deras tersebut redah. Namun, hingga malam sekitar pukul 22.00 Wita, arus lalu lintas masih macet. Sebab ruas jalan raya itu masih terendam air.

Salah satu korban banjir dari warga Jalan Mulawarman, Nanang Rusmani, mengatakan, banjir ini mulai terjadi beberapa hari lalu saat air dari hulu turun deras. Namun banjir meluas setelah hujan turun deras Sabtu (12/11) sore kemarin.

Ia memperkirakan, banjir ini tetrjadi lantaran sejumlah saluran air di sungai ini tertutup oleh bangunan maupun sampah yang selama ini dibuang secara sembarangan.

"Memang banjirnya tidak lama. Tetapi kalau hujan turun deras, maka air dari sungai meluap yang mengakibatkan rumah penduduk terendam. Peristiwa ini baru saja terjadi tahun ini. Sebelumnya kita di sini aman-aman saja dari banjir," katanya kepada Mata Banua.

Sementara itu sejumlah warga Desa Antasari, menduga banjir yang baru saja merendam rumah mereka akibat beberapa saluran air sekitar itu tertutup bangunan seorang pengusaha konglomerat di Tanah Bumbu.

Sebab, menurut warga, banjir ini baru saja terjadi setelah beberapa saluran air yang ada di wilayah tersebut tertutup oleh bangunan sang pengusaha.

"Dugaan kami kuat ke sana, di mana banjir ini terjadi karena saluran air yang ada sudah tertutup sehingga saat hujan turun air terpaksa meluar dan mengalir ke rumah-rumah penduduk maupun jalan raya," beber warga RT 01 ini.

Karena itu, warga berharap, Dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten Tanah Bumbu maupun yang terkait dengan banjir ini, agar segera turun tangan membangun drainase sebagai bentuk untuk memperlancaran aliran air saat hujan turun.

Warga juga minta, saluran air yang diduga ditutupi oleh bangunan untuk dikembalikan keasal sebagai saluran air. Sebab jika hal tersebut dibiarkan, yang tetap mendapat bencana banjir ini ialah warga masyarakat kecil. rah/mb02

Thursday, November 13, 2008

HSU Juga Siap Hadapi Banjir

Kamis, 13-11-2008 | 12:55:59

AMUNTAI, BPOST - Bagian Kesbanglinmas Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel menggelar pelatihan tanggap bencana bagi seluruh anggota Taruna Tanggap Bencana (Tagana) didaerah itu.

Hal ini sebagai persiapan dini menghadapi ancaman banjir tiap tahun yang mungkin kembali terjadi tahun ini. "Kabupaten kita berada didataran rendah, jadi rawan banjir. Untuk itu kami sejak dini harus mempersiapkan kondisi itu," ungkap Kabag Kesbanglinmas Kabupaten HSU, H Fathurrahman, Kamis (13/11).

Monday, November 10, 2008

Kalsel Waspada Banjir November

Sabtu, 01-11-2008 | 09:49:26

BANJARMASIN, BPOST - Warga Kalimantan Selatan (Kalsel), terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir, diminta untuk mewaspadai tibanya musim hujan yang diprediksi terjadi pada awal November 2008.

Kabid Perlindungan Masyarakat Kesbanglinmas Kalsel, Akhmad Arifin, di Banjarmasin, Jumat, mengatakan, diperkirakan mulai awal November intensitas curah hujan di Kalsel semakin tinggi.

Sehingga kemungkinan terjadinya banjir, terutama di kawasan rawan Banjir di empat Kabupaten, yaitu Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kotabaru, Batulicin dan Kabupaten Banjar, juga semakin tinggi.

Warga di keempat daerah itu, terutama beberapa kecamatan yang menjadi langganan banjir, diharapkan meningkatkan kewaspadaannya, mengingat banjir bisa datang secara tiba-tiba, terutama bila hujan terus menerus.

"Saat ini, kendati terjadi hujan, namun tidak setiap hari, sehingga banjir belum terjadi di beberapa daerah," katanya.

Kondisi itu berbeda dibanding musim hujan, kendati hujan yang turun tidak terlalu deras, tetapi bila terjadi terus menerus maka bisa menimbulkan banjir.

Bupati melalui Satkorlak masing-masing daerah juga diimbau untuk selalu menyiagakan peralatan evakuasi bagi korban banjir. Dalam beberapa kejadian banjir, Satkorlak kesulitan untuk mendapatkan tempat bagi para pengungsi. "Hal tersebut harus diantisipasi lebih awal," katanya.

Beberapa daerah rawan banjir, di antaranya adalah Kecamatan Asam-Asam, Jorong, Pelaihari di Kabupaten Taladan.

Dicontohkannya, pada Agustus 2008 lalu, banjir besar terjadi di Kecamatan Asam-Asam dan beberapa kawasan lainnya. Air tidak hanya merendam ratusan rumah warga, tetapi juga beberapa ruas jalan yang mengakibatkan arus lalu lintas lumpuh total.

Ketinggian air di jalanan mencapai satu meter bahkan lebih, sehingga tidak satu pun angkutan yang berani melintasinya. Saat itu, sebagian besar warga dari 15 RT (688 jiwa) yang rumahnya terendam banjir diungsikan, bahkan empat warga tewas terseret arus. "Kondisi seperti itu bisa terulang pada musim hujan saat ini, sehingga warga harus selalu waspada," katanya.

Friday, September 19, 2008

Gubernur Janji Kaji Bersama Atasi Banjir

Sabtu, 20 September 2008 13:29 redaksi

BANJARMASIN - Gubernur Kalimantan Selatan, H Rudy Ariffin, berjanji akan melakukan kajian bersama dengan Balai Besar Bina Marga dan Balai Besar Sumber Daya Air, terkait upaya mengatasi banjir di pesisir timur Kalsel.

"Kita akan mengkaji bersama penyebab dan bagaimana upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi bencana banjir di kawasan pesisir timur Kalsel," ujarnya di Desa Sebamban Kampung, Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Rabu (18/9).

Pernyataan orang nomor satu di jajaran Pemerintah provinsi (Pemprov) Kalsel itu disampaikan seusai melakukan peninjauan ruas jalan trans Kalimantan lintas selatan yang terkena banjir beberapa waktu lalu.

Menurut Rudy, dari hasil peninjauan di lapangan ternyata ada empat titik di ruas jalan trans Kalimantan lintas selatan yang paling rawan terhadap banjir, mulai dari Kabupaten Tanah Laut, Km 119 hingga Km 206, Kabupaten Tanah Bumbu.

Dari hasil kajian bersama tersebut, kata Rudy, baru bisa diambil langkah-langkah untuk mengatasi banjir yang setiap hujan lebar akan menyebabkan banjir yang cukup deras sehingga mengganggu aktifitas warga masyarakat.

Dia mengatakan, melalui pengkajian bersama tersebut mungkin saja di empat lokasi yang paling rawan banjir tersebut nantinya akan dibangun jembatan layang atau dibuat gorong-gorong yang besar sehingga air cepat sampai ke laut.

Bahkan banjir yang melanda daerah tersebut awal September 2008 lalu, menyebabkan lalulintas lumpuh terutama di empat titik yang paling rawan banjir tersebut, karena ketinggian air lebih dari satu meter di ruas jalan trans Kalimantan.

Seperti diketahui, ruas jalan trans Kalimantan lintas selatan yang terkena banjir tersebut telah sedang dalam tahap pekerjaan dari sejumlah kontraktor, namun belum dilakukan pengaspalan untuk peningkatan kapasitas jalan.

Untuk empat titik yang mengalami kerusakan itu, direncanakan perbaikan teknis, tentunya hal itu merupakan pekerjaan tambahan dari pihak kontraktor.

Ketika melakukan peninjauan ruas jalan trans Kalimantan lintas selatan yang rusak akibat banjir itu, Gubernur H Rudy Ariffin, antara lain didampingi Wakil Bupati Tanah Bumbu, H Abdul Hakim dan Kepala Dinas Kimpraswil Kalsel, Ir HM Arsyadi, ME.

Saturday, September 13, 2008

Pemkab Bantu Korban Banjir

Sabtu, 13 September 2008
BATULICIN - Pemkab Tanbu melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi memberikan bantuan kepada 5 desa yang terkena musibah banjir di Kecamatan Kusan Hilir, khususnya masyarakat yang bermukim di bantaran sungai pagatan. Bantuan yang diberikan seluruhnya berjumlah 6.574 kg beras dan 236 dos indomie. Secara simbolis bantuan untuk korban banjir di Kecamatan Kusan Hilir itu diserahkan langsung oleh Bupati Tanbu H M Zairullah Azhar kepada masing-masing kepala desanya, Kamis (11/9), kemarin.

“Kita harus banyak bersabar dalam menghadapi semua ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar apa yang kita alami ini akan segera berakhir,” ujar Bupati usai menyerahkan bantuan.

Menurut keterangan warga, kedalaman air di dalam rumah warga mencapai 50 cm yang mengakibatkan warga mengungsi. Sementara itu, desa yang terisolir banjir di Kecamatan Kusan Hilir yaitu Desa Satiung dengan 260 KK (996 jiwa) diberikan bantuan 1.593 kg beras, 50 dos indomie. Sementara itu, Desa Serdangan sebanyak 175 KK dengan 749 jiwa mendapatkan bantuan 1.198 kg beras dan 43 dos indomie. Sedangkan Desa Salimuran dihuni 384 KK dengan 1290 jiwa mendapat bantuan sebanyak 2.064 kg beras dan 75 dos indomie. Berikutnya, Desa Pulau Tanjung dihuni 198 KK dengan 769 jiwa mendapatkan bantuan 1.230 kg beras dan 48 dos indomie. Terakhir, Desa UPK Karya Bhakti dihuni 86 KK dengan 306 jiwa juga mendapat bantuan 489 kg beras dan 20 dos indomie.

Selain itu, masing masing-masing desa mendapatkkan bantuan berupa baju kaos, dester, sarung, terpal, peralatan dapur, minyak goreng dan minyak tanah serta famili kit atau peralatan anak anak. Jadi untuk jumlah keseluruhan di 5 desa sebanyak 1.103 KK dengan 4.110 jiwa.

Menurut keterangan Camat Kusan Hilir Kursani, bantuan tersebut akan segera dibagikan kepada korban banjir dengan menggunakan armada kelotok dan speed boat milik Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. (kry)


Thursday, September 11, 2008

Korban Banjir Dapat Bantuan

Jumat, 12 September 2008

BATULICIN,- Pemkab Tanbu menyerahkan bantuan bagi korban banjir di Desa Kusambi Kecamatan Batulicin, Selasa (9/9), kemarin. Selain dari Pemkab, bantuan tersebut juga berasal dari para dermawan yang ingin membantu meringankan derita mereka.

Bantuan antara lain mie goreng, beras, air mineral, ikan kering/kaleng dan selimut.

Wakil Bupati Tanbu H Abdul Hakim, Asisten Bidang Pemerintahan Drs H Akhmad Soemardi, Kadissosnakertrans Drs Saptono Soemadi, Camat Batulicin Mariyadi Noor, serta dari Dandim 1004 Kotabaru-Tanbu juga ikut menyerahkan bantuan kepada warga yang mengungsi ditenda pengungsian.

Sementara itu, bantuan obat-obatan dari Dinas Kesehatan Tanbu serta air bersih dari PDAM Tanbu juga disiagakan di lokasi pengungsian. Dengan menggunakan perahu SAR, Asisten Bidang Pemerintahan didampingi Kadinsosnakertrans Tanbu beserta rombongan mengunjungi lokasi rumah warga yang terendam banjir.

Dalam kunjungannya, Asisten Bidang Pemerintahan menyempatkan diri untuk memasuki rumah warga yang terendam sambil mengajak berdialog.

Ditengah-tengah kunjungannya itu, rombongan bertemu dengan seorang ibu yang mau melahirkan. Dengan segera, Ibu Jamilah (27) yang berusaha menahan rasa sakit karena ingin melahirkan anak ketiganya langsung dibawa untuk dilarikan ke RS Amanah Husada Batulicin dengan menggunakan Mobil Puskesmas Keliling dari Dinas Kesehatan Tanah Bumbu.

Sementara itu, pantauan wartawan koran ini, anggota tim Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi tampak sibuk melayani pengungsi, baik itu melakukan aktifitas memasak untuk persiapan berbuka puasa maupun mendirikan tenda-tenda pengungsian.

Menurut Camat Batulicin Mariyadi Noor, warga yang mau mengungsi dan meninggalkan rumah mereka hanya sebagian saja, padahal air semakin meninggi.

“Mereka enggan meninggalkan rumah karena takut hasil panen padi mereka dicuri orang. Padahal, kami sudah menyiapkan perahu SAR untuk mengangkut warga yang rumahnya terendam banjir,” katanya.

Dikatakannya, akibat musibah banjir itu, sebanyak 469 KK dengan 1762 jiwa di Desa Kusambi rumahnya terendam air. Rinciannya, RT 01 sebanyak 92 KK dengan 355 jiwa, RT 02 sebanyak 54 KK dengan 192 jiwa. Kemudian, RT 03 sebanyak 61 KK dengan 235 Jiwa, RT 04 sebanyak 74 KK dengan 249 jiwa, RT 05 sebanyak 93 KK dengan 363 jiwa, dan RT 06 sebanyak 95 KK dengan 368 jiwa. Sementara itu, ketinggian air di dalam rumah warga mencapai setengah meter. (kry)

Wednesday, September 10, 2008

Banjir Dianggap Biasa

Kamis, 11 September 2008
BATULICIN,- Bagi kebanyakan orang, musibah banjir merupakan momok yang cukup menakutkan. Namun, tidak bagi masyarakat Kecamatan Satui. Bagi mereka, banjir adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu ditakuti.

“Masyarakat menganggap banjir terjadi tiap tahun sehingga dianggap sesuatu yang biasa saja,” ujar Kasi Kessos Kecamatan Satui Taufik, saat dikonfirmasi koran ini terkait musibah banjir yang melanda Kecamatan Satui, kemarin.

Menurutnya, akibat dianggap sebagai sesuatu yang biasa tadi, warga yang rumahnya terendam banjir tetap tak berajak dari rumah. Hanya sebagian kecil saja yang mengungsi ke rumah tetangga maupun keluarga mereka. Bahkan, ada atau tidaknya bantuan untuk mereka, tidak pernah dipersoalkan. “Kalau ada ya syukur. Tapi kalau tidak ada ya mau apa lagi,” katanya.

Sampai siang kemarin, bantuan untuk korban banjir memang sudah ada. Yakni berasal dari Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalsel, berupa 1 ton beras, selimut dan kelambu. Hanya saja bantuan tersebut masih disimpan di Kantor Camat Satui. “Secepatnya bantuan itu akan kami salurkan kepada warga,” janji Taufik.

Dikatakannya, bantuan untuk korban banjir memang sangat minim. Bahkan, sejumlah perusahaan batubara tidak ada yang membantu. Sementara itu, Pemkab Tanbu berencana akan memberikan bantuannya hari ini (kemarin, red). “Tapi saya belum tahu bantuan itu berupa apa,” katanya.

Namun, berkaca pada pengalaman banjir sebelumnya yang terjadi pada bulan Juli 2008 lalu, Pemkab Tanbu memberikan bantuan berupa air mineral, beras, selimut serta mie bungkus. “Kemungkinan bantuannya juga sama seperti dua bulan lalu,” katanya.

Sekadar diketahui, akibat banjir itu mengakibatkan dua orang tewas terseret banjir.

Dua orang yang tewas itu adalah karyawan PT Berkat Banua Indah (BBI), bernama Kardi (50) warga Desa Bukit Baru RT 37 Kecamatan Satui dan Ati (25) warga Desa Sungai Danau kecamatan setempat. Keduanya terseret arus sekitar pukul 21.00 Wita bersama truk tronton yang dikemudikan Kardi.

Banjir di Kecamatan Satui sendiri merendam ratusan rumah di Desa Jombang, Bukit Baru, Satui Timur dan Satui Barat serta Desa Sungai Danau. “Kelima desa itu berada di pinggiran bantaran sungai,” katanya.

Akibat banjir itu, lanjut dia, mengakibatkan sebagian kecil warganya terpaksa mengungsi

ke rumah tetangga maupun keluarga. Namun, sebagian besar bertahan di rumah, meskipun tergenang air. “Mereka memanfaatkan atap rumah istirahat,” pungkasnya.

Sementara itu, banjir yang melanda Desa Sebamban Lama dan Baru, Kecamatan Sungai Loban, yang sempat memutuskan jalur trans kalimantan yang menghubungkan Banjarmasin-Batulicin, berangsur-angsur surut. Sebelumnya, banjir mengakibatkan puluhan rumah warga di pinggiran bantaran sungai terendam air. Warga terpaksa mengungsi ke rumah tetangga maupun keluarga. Bahkan, ada yang memanfaatkan musala untuk tempat istirahat hingga menunggu air surut. (kry)

Korban Banjir dapat Bantuan

Rabu, 10 September 2008

BATULICIN,- Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Tanbu, membawa duka mendalam bagi masyarakat. Bagaimana tidak, akibat banjir tersebut, mereka terpaksa mengungsi meninggalkan kediaman mereka. Selain itu, bagi para petani harus merelakan sawahnya puso, sehingga mengakibatkan gagal panen.

Senin (8/9) lalu, rombongan Wakil Bupati H Abdul Hakim G, mengunjungi desa-desa yang terkena musibah banjir untuk memberikan bantuan sembako kepada warga.

Desa Mantewe dan Desa Buluh Rejo Kecamatan Mantewe menjadi pesinggahan pertama Wabup dan rombongan sekaligus menggelar acara buka puasa bersama dengan warga desa setempat. Kegiatan tersebut dalam rangka safari ramadhan Pemkab Tanbu.

Dalam kesempatan itu, Wabup menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakhadiran Bupati Tanbu H M Zairullah Azhar. Karena di waktu yang bersamaan, Bupati sedang berada di Jakarta.

“Beliau hanya berpesan kepada warga yang terkena musibah banjir supaya bersabar karena ini adalah cobaan dari Allah SWT,” kata Wabup menyampaikan pesan dari Bupati.

Wabup juga menghimbau kepada warga agar dapat menjaga kesehatan selama banjir tersebut, khususnya anak-anak mereka sehingga terhindar dari segala macam penyakit yang diakibatkan banjir. Seperti gatal-gatal maupun diare.

Sekedar diketahui, akibat banjir itu membuat 275 rumah di dua desa itu terendam air. Ketinggan air mencapai 1.5 meter. Akibatnya, 1725 jiwa terpaksa mengungsi ke pegunungan, meskipun sebagian kecil warganya ada yang tetap bertahan. Dari jumlah itu, 115 orang tergolong masih balita dan 27 lainnya ibu hamil.

Kondisi yang sama juga terjadi di 9 desa di Kecamatan Kusan Hulu. Seperti Desa Mangkalapi, Hati’if, Anjir Baru, Sungai Rukan, Manuntung, Lasung, Tapus, Binawara dan Tibaran Panjang. Ketinggian air juga mencapai 1.5 meter hingga 2 meter. Akibat banjir itu, membuat 527 KK dengan 2108 jiwa terpaksa mengungsi.

Banjir juga melanda 2 desa di Kecamatan Karang Bintang. Yakni Desa Selasililau dan Desa Karang Bintang. Akibat banjir tersebut, 100 KK dengan 400 jiwa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Untungnya, dalam musibah banjir itu tidak sampai menelan korban jiwa.

Menurut Wabup, tak lama lagi Pemkab Tanbu akan mendapat bantuan beras sebanyak 30 ton yang akan dibagi-bagikan kepada masyarakat yang terkena musibah banjir. (kry)

Tuesday, September 09, 2008

Wabup Antar Bantuan Korban Banjir

Selasa, 09 September 2008 12:45 redaksi

BATULICIN - Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Banjir kali ini terjadi Minggu (7/9) di Kecamatan Kusan Hulu, Kecamatan Kusan Hilir, Kecamatan Karang Bintang dan Kecamatan Mantewe.

Belum diketahui pasti berapa jumlah kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam air. Namun diperoleh informasi bahwa warga yang rumahnya terendam air di Kecamatan Kusan Hulu sebanyak 527 KK. Terdiri sembilan desa yakni Desa Mangkalapi, Hateip, Anjir Baru, Sei Rukan, Manteng, Lasung, Tapus, Binawara dan Sibaro Panjang.

Akibat banjir yang melanda kecamatan ini, membuat ratusan warga setempat harus mengungsi ke rumah-rumah penduduk yang ada di dataran tinggi. Dan sebagiannya lagi berada di posko banjir yang telah didirikan pihak kecamatan bersama tim Tagana.

Sementara dari kecamatan lain halnya Karang Bintang sebanyak dua desa terkena banjir, Kecamatan Mantewe dua desa dan Kusan Hilir lima desa. Hanya saja lima desa di Kusan Hilir yang dilanda bencana banjir ini adalah daerah pesisir pantai.

Anwar dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan, lima desa yang terkena banjir sejak Minggu (7/9) hingga Senin (8/9) di Kecamatan Kusan Hilir ini ialah Desa Satiung, Sardungan, Kusan Hilir, Karya Bakti, Selimuran dan Pulau Tanjung. Namun warga setempat tidak mengungsi. Ketianggian air juga tidak merendam rumah mereka.

"Jadi secara umum warga yang kena banjir ini belum ada yang mengungsi. Kecuali di Kecamatan Kusan Hulu, sebab ketinggian air dalam rumah-rumah penduduk mencapai 0,5 meter," jelas Anwar kepada Mata Banua, Senin (8/9).

Sementara itu, Wakil Bupati Tanah Bumbu H Abdul Hakim G, kektika mendapat laporan dari bawahannya terkait bencana banjir yang kembali melanda sebagian wilayah Tanah Bumbu ini, pun langsung turun ke lokasi.

Wabup didampingi Asisten I Bidang Pemerintahan Tanah Bumbu dan Camat Kusan Hulu H Hamsuri SH, menyambangi lokasi banjir di Kecamatan Kusan Hulu karena daerah ini, dinilai lebih arah dibanding kecamatan lain yang juga dilanda banjir.

Wabup juga langsung menyerahkan bantuan kepada warga masyarakat yang terkena bencana banjir tersebut. Bantuan yang diantara itu berupa beras, sarden, susu, selimut serta peralatan dapur.rah/mb03

Tiga Hari Pasar Tutup

Minggu, 07-09-2008 | 00:34:21

Ratusan Rumah di Satui Kembali Terendam
BATULICIN, BPOST
- Hujan deras yang mengguyur Tanah Bumbu beberapa hari terakhir, membuat sungai Muara Satui meluap. Akibatnya, ratusan rumah warga kembali terendam.

Banjir kali ini merendam enam desa di Kecamatan Satui Tanah Bumbu. Air merendam rumah warga antara satu lutut hingga pinggang orang dewasa.

Paling parah terjadi di kawasan RT 2 Pasar Bawah Jalan Antasari Kecamatan Satui. Air juga merendam kawasan Satui Timur dan Satui Barat, Sungai Danau, Jombang dan Desa Sekapuk. Air itu merupakan luberan dari Sungai Muara Satui.

Sebagian warga mulai meninggalkan rumah mereka untuk menumpang di rumah sanak saudaranya yang lebih aman.

Mereka tampak mengemasi barang-barang miliknya seperti pakaian, batal, kasur dan peralatan sekolah anak-anak. Beberapa warga memilih menyelamatkan barang elektronik milik mereka.

Aktivitas warga pun mulai terganggu. Kegiatan jual beli di Pasar Sungai Danau juga terhambat, karena air sangat tinggi. Warga yang biasa menjajakan dagangannya, kini tidak bisa lagi berjualan karena meja dagangan mereka terendam air.

Beruntung, genangan air kali ini tidak sempat memutus jalur transportasi jurusan Batulicin-Banjarmasin dan sekitarnya. Jalur transportasi terlihat masih normal.

Ahyar (38), salah satu warga Sungai Danau menuturkan, dia sedang bersiap-siap memindah barang-barang berharga miliknya untuk dibawa ke tempat lain. Hal itu dilakukan mengingat, kondisi air terus meninggi. "Kami mulai berkemas-kemas, karena takut air makin tinggi," katanya.

Dia berharap air cepat surut agar tidak mengganggu aktivitas warga.

Empat Kali Mengungsi

Banjir langganan ini tercatat sudah empat kali menerjang Kabupaten Tanah Bumbu sejak Mei 2008. Pada akhir Mei, saat hujan deras mengguyur wilayah ini, enam desa di kawasan itu terendam air. Air kembali menggenang bulan Juni. Akibatnya, sebagian warga yang rumahnya berada di bantaran Sungai Muara Satui kembali mengungsi ke rumah saudaranya.

Pertengan Juli 2008, air kembali menggenang. Meski tidak ada korban jiwa, kejadian tersebut membuat panik warga. Para penduduk kembali mengungsi ke rumah-rumah saudaranya untuk menyelamatkan diri. Kali ini, banjir kembali merendam rumah penduduk. Meski tergolong banjir musiman, warga tetap cemas. Terlebih, saat ini bersamaan dengan bulan suci Ramadan, di mana warga sedang menunaikan ibadah puasa. (coi)

Terlebih, saat ini sedang bulan Ramadan, di mana warga yang berpuasa harus menahan haus dan lapar.

Berdasarkan catatan BPost, banjir yang merendam kawasan ini merupakan banjir langganan tiap musim penghujan, atau saat curah hujan cukup tinggi. Kawasan ini tergolong dataran rendah yang rawan dari luberan air dari Sungai Muara Satui yang ada di dekat kawasan tersebut.

Selain di Satui Tanah Bumbu, banjir juga terjadi di beberapa desa di Kabupaten Kotabaru, seperti di Desa Karang Payau, Desa Banua Lawas, Desa Sungai Kupang Kecamatan Kelumpang Hulu Kotabaru.

Selain merendam rumah-rumah penduduk, genangan air setinggi setengah meter itu juga mengganggu aktivitas warga di Pasar Kelumpang. Tiga hari terakhir, tak ada aktivitas jual beli di sana lantaran lapak dagangan terendam air.

Sejumlah tambak udang dan bandeng milik warga di kawasan ini dipastikan gagal panen karena terendam air. Meski begitu, warga memilih bertahan di rumah dengan tidur di atas meja atau tempat yang posisinya lebih tinggi dari genangan air. (coi)

Monday, September 08, 2008

Wabup Tinjau Batu Ampar Paska Banjir

Selasa, 9 September 2008

PELAIHARI – Bencana banjir tak pernah kenal kata sahabat. Akibat bencana tersebut tidak sedikit warga yang menderita dan mengalami banyak kerugian paska banjir yang terjadi di Kecamatan Batu Ampat Kabupaten Tanah Laut belum lama ini. Rabu (3/9) kemarin Wakil Bupati bersama sejumlah pejabat Pemkab Tala meninjau langsung ke lokasi korban banjir untuk memberikan motivasi dan menyaksikan situasi sosial paska bencana.

Wakil Bupati Tanah Laut, H Atmari dalam keterangan perssnya mengatakan seiring dengan apa yang diperintahkan Bupati Tanah Laut yang sebelumnya juga meninjau daerah ini, pihaknya berharap agar upaya perbaikan sarana dan prasarana di daerah tersebut segera dilakukan. Pasalnya hal tersebut berkaitan erat dengan aktifitas perekonomian warga.

“Jangan sampai kerusakan sarana dan prasarana di daerah ini menjadi penghambat aktivitas ekonomi warga. Kami dari pemerintah daerah senantiasa berupaya sebaik mungkin untuk segera memperbaiki sarana dan parasarana melalui koordinasi dengan dinas terkait untuk mengatasi masalah di Kecamatan Batu Ampar,” ujar Wabup.

Dijelaskan Wabup, sedikitnya sarana fisik berupa jembatan dan bendungan ikut menjadi korban keganasan bencana banjir. “Perbaikan sarana fisik tersebut sangat penting untuk kelancaran ekonomi masyarakat, naik untuk transportasi darat serta fasilitas bendungan untuk menunjang sektor pertanian bagi masyarakat di Kecamatan Batu Ampar,” ujarnya lagi.

Musibah yang terjadi hampir setiap tahun tersebut tambah Wabup merupakan ujian dan bahan koreksi bagi masyarakat, pemerintah untuk senantiasa menjaga lingkungan dengan baik. “Ini dampak ketidak pedulian kita pada lingkungan sekitar. Padahal kalau kita mau sedikit bersikap ramah dan peduli dengan lingkungan kita, bencana ini bisa kita minimalisir dampak kerugiannya,” pungkas Wabup.

Dalam kunjungannya tersebut, sejumlah kepala Dinas seperti Dinas Pemukiman dan Prasarana Daerah, Kepala Kantor Pertanian Tanaman Pangan pun turut serta bersama sang Wakil Bupati meninjau langsung ke lokasi pasca banjir. (bym)

Friday, September 05, 2008

Ratusan Rumah di Satui Terendam

Sabtu, 06-09-2008 | 12:29:47

BATULICIN, BPOST - Hujan yang terus mengguyur wil Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dalam beberapa hari ini kembali merendam ratusan rumah milik warga Kecamatan Satui, Sabtu (6/9).

Air setinggi lutut orang dewasa kembali menggenangi rumah penduduk di Jalan  Angkasa, Biduri, Mutiara, Sinar Bulan, Lokpadi maupun sebagian rumah di Desa  Jombang.  Meski kondisinya sudah parahu, namun warga belum ada yang mengungsi.

Wednesday, September 03, 2008

Hujan Lebat, Warga Asam Asam Cemas

Kamis, 04-09-2008 | 10:57:36

PELAIHARI, BPOST - Sebagian wilayah Kabupaten Tanah Laut (Tala) ,seperti kota Pelaihari dan Desa Asam Asam Kecamatan Jorong saat ini sedang dilanda hujan lebat.

Warga Asam Asam pun kembali risau akan ancaman banjir. Rusdi, warga RT 5 (daerah terawan) mengatakan jika hujan lebat berlangsung lama dimungkinkan genangan air akan naik lagi.

Seperti diketahui, Selasa malam lalu bebrapa rumah warga kebanjiran lagi meski tidak separah banjir tanggal 26-27 Agustus lalu. Rabu siang hingga sore dan berlanjut subuh Kamis tadi tak ada hujan.

Beberapa rumah wrga Asam Asam yang kebanjiran, termasuk rumah Rusdi telah kering. Namun dengan muramnya cuaca pagi hingga siang ini yang desertai hujan lebat maka air sungai desa setempat kemungkinan akan meluap lagi.

Asam Asam Banjir Lagi

Kamis, 04-09-2008 | 00:40:40

PELAIHARI-Memburuknya kembali cuaca di Tanah Laut sejak Senin malam membuat Sungai Asam-Asam meluap lagi. Sejumlah rumah warga pun kebanjiran lagi.

Nawawi, warga Asam-Asam Rabu (3/9) menuturkan, di RT 20 ada lima rumah yang sudah terendam, selain beberapa rumah di dekat bandsaw. "Rumah saya sendiri masih aman, karena letaknya agak tinggi, tapi air sudah sampai teras," papar

Namun genangan air rata-rata hanya sekitar 30 senimeter di dalam rumah. Kondisi ini masih terbilang ringan dibandingkan banjir yang terjadi 26-27 Agustus, dengan ketinggian air di dalam rumah ada yang mencapai pundak orang dewasa.

Di Asam Asam ada dua lokasi yang paling rawan karena berada di dataran rendah yaitu di RT 20 dan 5, termasuk RT 10. Air Sungai Asam Asam mulai meluap sekira pukul 17.00 Wita Selasa tadi menyusul derasnya hujan.

Hujan terus berlanjut hingga malam. Namun warga masih bertahan di rumah masing-masing, karena genangan air tidak seberapa. Mereka tidur di loteng rumah, meski umumnya loteng hanya memanfaatkan ruang sempit plafon rumah. Hanya sebagian kecil yang rumahnya bertingkat dua. (roy)

Thursday, August 28, 2008

MEREKA BICARA: BANJIR

Jumat, 29-08-2008 | 01:00:31

BANJIR - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tanah Laut dan Tanah Bumbu tak hanya merusak ratusan rumah, namun juga merendam belasan hektare tambak udang rakyat, dan puluhan hektare lahan pertanian. Sejumlah kalangan menilai, bencana ini akibat kerusakan lingkungan oleh aktivitas pertambangan.

Revitalisasi DAS

Hamdani Fauzi SHut
Dosen Fakultas Kehutanan Unlam 
Memang cukup ironi, beberapa daerah di Jawa mengalami kekeringan, di Tanah Laut justru terjadi Banjir. Bisa dikatakan cuaca yang terjadi tak menentukan dan ini sebagai akibat adanya pemanasan global.

Terkait musibah banjir di Tanah Laut dan Tanah Bumbu, menunjukkan bekas penambangan dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) sangat merugikan.

Salah satunya memicu degradasi lahan yang menyebabkan limpasan permukaan relatif tidak terkendali, sehingga berpotensi menjadikannya sebagai air kiriman pada daerah di bawahnya.

Kondisi itulah yang menyebabkan banjir di kawasan pemukiman maupun lahan pertanian. Walau hujan turun hanya beberapa hari, namun banjir tak bisa dihindari akibat kurangnya kawasan resapan air.

Untuk itu, lakukan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan pendekatan one water one management. Selain itu pertahankan daerah buffer sebagai penyangga fungsi ekologis dan hidrologis.

Lakukan pembangunan hutan dengan pendekatan forest ecosystem management. (mia)

Jangan Abaikan Pengelolaan Lingkungan

Drs Akhmad Rifani MSi
Pengamat Lingkungan
Suatu daerah sebenarnya punya hak melaksanakan pembangunan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alamnya. Namun kenyataannya masih banyak kepala daerah yang kurang bijak dalam mengelola kekayaan alamnya, seperti batu bara dan hasil hutan.

Terbukti banyaknya bencana alam yang terjadi karena ulah manusia sendiri dan bukan semata-mata fenomena alam. Salah satunya banjir di Tanah Laut dan Tanah Bumbu.

Sudah saatnya pemerintah daerah lebih selektif dalam memberi perizinan bagi perusahaan tambang dan perkebunan. Jangan abaikan pengelolaan lingkungan hanya untuk mendapatkan keuntungan sesaat.

Jika kita mampu mengelola dan memanfaatkan SDA dengan cerdas, tentu bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Bukannya bencana yang menimbulkan banyak kerugiaan baik materiil maupun sosial. (mia)

Kebijakan yang Keliru

Dwitho Frasetiady
Aktivis Walhi Kalsel
Banjir kembali terjadi, padahal bulan Agustus sudah memasuki musim kemarau. Banyak saudara kita di Tanah Laut dan Tanah Bumbu menjadi korban menyusul terendamnya lahan pertanian dan perkebunan.

Namun jangan selalu beranggapan bahwa suatu musibah seperti banjir sebagai takdir. Kejadian ini justru mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan tidak merusak kawasan hutan, apalagi sampai mengubahnya menjadi kawasan terbuka.

Sebagai kawasan tambang, kita lihat bagaimana kondisi Tanah Bumbu saat ini ? Banyak kawasan hutan yang berubah menjadi areal terbuka. Semua itu tak lepas dari kebijakan pemerintah yang keliru. Ingin mendongkrak pendapatan daerah, namun mengabaikan aspek lingkungannya.

Sekarang daerah resapan air di Tanah Bumbu maupun Tanah Laut yang termasuk daerah pegunungan Meratus telah rusak. Kawasan pegunungan berubah menjadi perkebunan sawit dan pertambangan. (mia)

300 Hektare Sawah Gagal Tanam

Jumat, 29-08-2008 | 00:36:43

Tujuh Desa di Kusan Hulu Terendam
BATULICIN, BPOST
- Banjir di Kabupaten Tanah Bumbu tidak hanya merendam rumah warga di Desa Sebamban Lama dan Sebamban Baru Kecamatan Sungai Loban. Tapi juga membuat warga di Kecamatan Kusan Hulu menderita.

Benih yang baru disemai di areal persawahan seluas 300 hektare lebih turut terendam. Karena terendamnya sudah lebih dari empat hari padi itu sudah membusuk sehingga dipastikan petani di sana gagal tanam.

Salapudin, warga Kusan Hulu menuturkan kejadian tersebut sangat memukul warga karena bercocok tanam merupakan pekerjaan utama penduduk setempat.

Warga mengandalkan pertanian sebagai pekerjaan pokok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan terendamnya sawah selain tidak bisa panen warga juga harus menanam benih baru agar bisa menikmati hasil panen. Warga kini masih menunggu air surut untuk menanam ulang bibit tersebut.

"Kalau tidak ditanam ulang ya tidak bisa makan. Pasti benih itu sudah busuk. Jadi mau tidak mau harus menanam ulang," kata Salapudin.

Selain merendam ratusan hektare sawah, luberan air yang diduga akibat curah hujan tersebut juga merendam tujuh desa di Kecamatan Kusan Hulu. Desa tersebut adalah Desa Lasung, Sungai Rukam, Manuntung, Anjir Baru, Cibarau Panjang, Mangkalapi dan Desa Hati’if.

Air setinggi pinggang orang dewasa itu, telah merendam ratusan rumah penduduk di sana. Namun mereka tidak mengungsi dan dan mencari tempat istirahat bersama anggota keluarga ke tempat yang lebih tinggi.

Sementara itu, warga di Desa Sebamban Baru dan Sebamban Lama mulai kembali ke rumah dan membersihkan rumah yang selama tiga hari terendam. Sampai kemarin banjir di sana sudah surut.

Sebelumnya mereka mengungsi ke tempat saudara dan sebagian di Masjid Miftahul Jannah. "Kami tetap mengingatkan agar waspada dengan perubahan cuaca setiap saat. Sebab, hujan masih terjadi sehingga dDikhawatirkan air kembali naik," kata Camat sungai Loban, Suwignyo. (coi)

Rombongan Pramuka Terjebak Banjir

Rabu, 27-08-2008 | 00:40:45

• Terpaksa Menginap di Rumah Penduduk
• Pulang Lewat Trans Batulicin-Kandangan

MARTAPURA, BPOST - Sebanyak 60 orang anggota Pramuka Kabupaten Banjar yang mengikuti kegiatan pramuka di Pagatan, Tanah Bumbu, terpaksa menginap di rumah warga di dekat Sebamban. Mereka terjebak banjir saat hendak pulang ke Martapura, Senin (25/8).

Dua unit bus yang mengangkut 60 anggota pramuka itu tidak bisa meneruskan perjalanan ke Martapura karena ruas jalan di Sebamban tergenang air hampir satu meter.
Siang itu sekitar pukul 15.00 Wita, dua unit bus tersebut sudah tidak bisa meneruskan perjalanan. Rombongan terjebak banjir bersama dengan rombongan dari daerah lain dan kendaraan umum lainnya.
Meski sempat menunggu lama sampai malam harinya genangan air tak juga surut. Rombongan akhirnya menginap di salah satu rumah penduduk yang masih ada hubungan kerabat dengan salah seorang anggota pramuka.
Hingga Selasa (26/8) pagi, pukul 11.00 Wita rombongan baru bisa meneruskan perjalanan ke daerah masing-masing. Rombongan pengurus pramuka Banjar yang saat itu menaiki dua unit mobil memutuskan pulang melalui trans Batulicin - Kandangan.
“Karena memang harus pulang, kami terpaksa menempuh jalur Batulicin - Kandangan dan memakan waktu hampir delapan jam. Mobil lainnya juga melewati jalan itu,” kata Ketua Kontingen Pramuka Banjar, HM Ali Hanafiah, Selasa (26/8).
Sementara untuk jenis bus yang berisiko melintasi Trans Batulicin - Kandangan harus mengambil jalur Sebamban, sambil menunggu jalur bisa dilewati.
“Alhamdulillah sekitar pukul 11.00 Wita tadi rombongan sudah bisa melewati jalur dan sudah dalam perjalanan menuju Martapura,” jelas Kabag Tapem Setda Banjar.
Banjir di Tanah Bumbu dan Tanah Laut sampai Selasa (26/8) tidak memengaruhi kedalaman air di Waduk Riam Kanan, Aranio, Kabupaten Banjar.
Hingga siang itu kedalaman air masih mencapai 58,65 sentimeter atau ada kenaikan 15 sentimeter dibanding hari sebelumnya. Kepala PLTA Ir PM Noor Riam Kanan Kardoyo mengatakan, kenaikan itu masih batas normal sehingga Kabupaten Banjar masih aman dari banjir. Dengan kedalaman itu tambah Kardoyo PLTA Riam Kanan masih mengoperasikan tiga unit turbinnya. (ofy)