Wednesday, December 05, 2007

Data Bencana Rawan Salah

Sabtu, 24-11-2007 | 01:06:47

BANJARMASIN, BPOST - Data korban bencana merupakan bagian yang paling rawan menimbulkan kesimpangsiuran. Terutama jika terjadi bencana besar yang menelan ribuan korban jiwa seperti tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan gempa di Jogja.

Oleh karena itu, Kepala Pusat Departemen Komunikasi dan Informasi, Agus Salim Husein meminta agar Bagian Humas Pemprov dan kabupaten/kota menjadi garda terdepan mengumpulkan data ketika terjadi bencana.

"Data bencana, seperti berapa korban dan kerugian merupakan bagian yang paling rawan. Seringkali terjadi, informasi yang sudah telanjur disampaikan ke publik melalui media massa tidak sinkron dengan fakta di lapangan," ujarnya dalam workshop Revitalisasi Kehumasan di gubernuran, Kamis (22/11).

Akibatnya, jumlah korban yang sudah terpublikasi, besok harinya justru berkurang. Contoh konkrit, informasi yang disampaikan Satkorlak Kalsel ketika terjadi bencana di wilayah Tanah Bumbu tahun lalu.

"Jumlah korban yang dipublikasikan ratusan orang, ternyata setelah didata dengan baik korban hanya puluhan. Apa yang sudah dikatakan mati hidup lagi?," ujarnya dengan nada bercanda.

Karena itu, lanjut Agus, jika terjadi bencana, Humas di semua bidang pemerintahan harus jeli, dan rajin turun ke lapangan melakukan kroscek data korban, bukan hanya di balik meja menunggu laporan. Pasalnya, dalam bencana besar, data korban setiap waktu berkembang cepat. "Kalau menunggu laporan, keburu wartawan nanya, akhirnya data yang belum fix diberikan. Kemudian tidak boleh panik, tetap di media center, sebab panik penyebab informasi yang diterima tidak akurat," tukasnya. ais

Cuaca Kalsel Berbahaya

Seluruh Kalsel Terancam Banjir

Selasa, 13-11-2007 | 02:16:25

  • Tala dan Banjar Paling Rawan
  • Siapkan Alat Deteksi Dini

BANJARBARU, BPOST - Peringatan bagi warga di Kalimantan Selatan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprediksi hingga akhir tahun, seluruh wilayah Banua akan diguyur hujan lebat yang berpotensi mengakibatkan banjir di sejumlah tempat.

Info Grafis

 

Hujan deras mencapai puncaknya sejak minggu ketiga November hingga Desember. “Dampaknya ancaman banjir, terutama daerah dataran rendah akibat tumpahan air dari daerah pegunungan,” kata Sucantika Budi, kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I BMG Kalsel di Banjarbaru, Senin (12/11).
Mengantisipasi kondisi itu, Sucantika mengingatkan warga di dataran rendah agar waspada terhadap  ancaman menjadi korban banjir kiriman dari wilayah-wilayah dataran tinggi.
Wilayah paling rawan banjir meliputi Kabupaten Banjar. Dari pengamatan selama ini, dominasi kontur pegunungan di daerah itu sangat berpotensi menumpahkan air ke arah Kecamatan Pengaron dan Kecamatan Astambul.
“Tumpahan air hujan diprediksi akan turun ke arah Kecamatan Sungai Tabuk,” jelas Sucantika.
Staklim I BMG Kalsel mengukur takaran hujan terus mengalami kenaikan cukup signifikan dalam dua hari terakhir. Hujan dengan durasi cukup panjang terjadi sejak Sabtu (10/11) hingga Minggu (11/11), yakni menunjuk pada kisaran 20 menit dan menyentuh takaran 10 milimeter.
Prediksi ancaman banjir itu juga diperkuat Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP DAS) di Banjarbaru. Potensi banjir besar berada di DAS Kintap di Tanah Laut, juga Riam Kanan dan Kiwa Kabupaten Banjar.
“Jika curah hujan dengan intensitas tinggi, dipastikan tiga DAS tersebut meluap,” jelas Eko Kuncoro MP, kepala BP DAS kepada BPost, kemarin.
Menurut Eko, saat ini tidak lagi hanya melihat kritis tidaknya lahan. Yang pasti, saat hujan turun maka yang perlu diwaspadai adalah  DAS Kintap, Riam Kanan dan Riam Kiwa.
Selain ketiga DAS tersebut,aliran sungai di enam kabupaten di Banua Anam juga tidak luput dari ancaman banjir besar. Hulu Sungai Utara, contohnya, wajib waspada mengingat tumpuan di DAS Negara bertemu di sana.
Khusus DAS Kintap,  terjadinya luapan sungai  lebih banyak disebabkan oleh pendeknya aliran sehingga air lambat turun.
Tidak adanya tutupan berupa vegetasi di atas lahan turut andil menipiskan penahanan air.
Kapasitas penahan air di kawasan itu tidak mampu lagi berfungsi maksimal, mengingat luas DAS Kintap hanya 74.452,68 hektare. Padahal DAS lain seperti di Hulu Sungai luasnya yang mencapai 173.970,08 hektare.
“Kondisi akan bertambah parah tatkala air pasang ikut mengiringi banjir akibat guyuran hujan. Membeludaknya air akan bertahan lebih lama,” urainya.
Selama ini, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Tabalong dan Tanah Bumbu merupakan langganan banjir tahunan. Hal ini disebabkan menipisnya daerah resapan air di Pegunungan Meratus akibat penebangan liar dan eksploitasi pertambangan.
Deteksi Dini
Mengantisipasi ancaman bencana banjir-banjir besar melanda Banua, BP DAS mengupayakan pemasangan alat pendeteksi dini bencana banjir. Alat itu bernama metigasi banjir.
“Cara kerja alat itu mirip early warning system pada saat gempa atau gelombang tsunami,” kata Eko.
Pendeteksi itu berupa tongkat yang berfungsi sebagai pengukur ketinggian  air. Secara online data yang ada bisa diketahui, termasuk jika sewaktu-waktu kondisinya membahayakan.
Selama ini pengamatan banjir dan ketinggian air hanya diterapkan secara manual. Nantinya, setiap pergerakan air baik dalam kategori bahaya, biasa saja atau waspada akan terpantau. “Alarm tanda berbahaya secara otomatis akan berbunyi memperingatkan kepada warga di sekitar  DAS,” imbuhnya.
Sayangnya, alat tersebut hingga kini belum bisa dioperasikan oleh BP DAS. Eko mengaku alat itu baru beroperasi 2008 mendatang. “Kita masih dalam tahap persiapan, termasuk sosialisasi kepada warga di sekitar DAS,” katanya. niz

“Itu Kebakaran Biasa”

Jumat, 05-10-2007 | 22:55:46

  • Percikan Api Kenai Apron

BANJARBARU, BPOST - Kendati sudah mulai menjalar hebat, kebakaran lahan di Kalsel dipandang Gubernur Rudy Arifin masih belum mengkhawatirkan. Bahkan dia mengatakan kalau kebakaran itu masih kategori biasa.

Pun saat menyaksikan kebakaran di areal Bandar Udara Syamsudin Noor yang bahkan percikan apinya sempat melompat ke dalam areal apron, Kamis (4/10) siang. Padahal, saat itu kebetulan kebakaran yang melanda apron bersamaan saat Gubernur Kalsel yang baru saja turun dari salah satu pesawat perintis.

"Ah, itu kebakaran bias. Kebakaran lahan saat ini juga jauh menurun sampai sisanya 15 persen saja dari tahun sebelumnya," ujar Rudy Arifin, ditemui usai menghadiri upacara HUT ke-62 TNI di lapangan Murdjani Banjarbaru, Jumat (5/10).

Mantan Bupati Banjar itu, mengatakan, justru yang patut diwaspadai saat ini kebakaran kebakaran yang telah merambah permukiman.

Menurutnya, banyaknya warga Kalsel yang menjadi korban kebakaran membuat semua Satkorlak ikut bersiap siaga.

Selain itu, Gubernur juga mengimbau agar semua pihak bersama-sama mengantisipasi terjadinya bencana kebakaran. Caranya, meningkatkan.

Pantauan BPost, kebakaran lahan kembali melanda kawasan Bandara Syamsudin Noor, Kamis (4/10) pukul 13.00 Wita. Kali ini api menjalar lebih hebat, karena percikan api sempat masuk ke dalam areal apron baru di sebelah Timur.

Informasi didapat, api mulai menjalar dari hamparan rumput di lapangan terbuka di sebelah Barat apron baru. Api terus membesar di bawah panasnya sinar matahari.

Kencangnya hembusan angin membuat api terus membara sampai-sampai percikannya masuk ke dalam kawasan apron. Asap hitam ditambah hawa panas di sekitar apron mulai terasa. niz