Showing posts with label Kabut Asap N Kebakaran. Show all posts
Showing posts with label Kabut Asap N Kebakaran. Show all posts

Wednesday, December 05, 2007

“Itu Kebakaran Biasa”

Jumat, 05-10-2007 | 22:55:46

  • Percikan Api Kenai Apron

BANJARBARU, BPOST - Kendati sudah mulai menjalar hebat, kebakaran lahan di Kalsel dipandang Gubernur Rudy Arifin masih belum mengkhawatirkan. Bahkan dia mengatakan kalau kebakaran itu masih kategori biasa.

Pun saat menyaksikan kebakaran di areal Bandar Udara Syamsudin Noor yang bahkan percikan apinya sempat melompat ke dalam areal apron, Kamis (4/10) siang. Padahal, saat itu kebetulan kebakaran yang melanda apron bersamaan saat Gubernur Kalsel yang baru saja turun dari salah satu pesawat perintis.

"Ah, itu kebakaran bias. Kebakaran lahan saat ini juga jauh menurun sampai sisanya 15 persen saja dari tahun sebelumnya," ujar Rudy Arifin, ditemui usai menghadiri upacara HUT ke-62 TNI di lapangan Murdjani Banjarbaru, Jumat (5/10).

Mantan Bupati Banjar itu, mengatakan, justru yang patut diwaspadai saat ini kebakaran kebakaran yang telah merambah permukiman.

Menurutnya, banyaknya warga Kalsel yang menjadi korban kebakaran membuat semua Satkorlak ikut bersiap siaga.

Selain itu, Gubernur juga mengimbau agar semua pihak bersama-sama mengantisipasi terjadinya bencana kebakaran. Caranya, meningkatkan.

Pantauan BPost, kebakaran lahan kembali melanda kawasan Bandara Syamsudin Noor, Kamis (4/10) pukul 13.00 Wita. Kali ini api menjalar lebih hebat, karena percikan api sempat masuk ke dalam areal apron baru di sebelah Timur.

Informasi didapat, api mulai menjalar dari hamparan rumput di lapangan terbuka di sebelah Barat apron baru. Api terus membesar di bawah panasnya sinar matahari.

Kencangnya hembusan angin membuat api terus membara sampai-sampai percikannya masuk ke dalam kawasan apron. Asap hitam ditambah hawa panas di sekitar apron mulai terasa. niz

Satwa Berlarian ke Luar Hutan

Senin, 01-10-2007 | 01:31:23

  • Lagi, Kebakaran Rambah Hutan Meratus

BANJARBARU, BPOST - Kebakaran lahan kembali merambah kawasan hutan lindung juga kawasan konservasi. Akibatnya, habitat satwa khas Kalimantan yang seharusnya dijaga untuk menjaga kelestarian lingkungan rusak.

Data pada Pos Siaga Bencana Kebakaran Lahan dan Kabut Asap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel mencatat pada pekan terakhir September ini setidaknya ada 15 hot spot di kawasan konservasi dan di hutan lindung. Paling banyak di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Kabupaten Banjar ada 12 titik panas.
Pantauan satelit NOAA-AVHRR (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer) 18/15/12 mendeteksi ada tiga titik panas (hot spot) di Hutan Lindung Meratus.
Hasil potretan satelit ini menunjukkan dua lahan di hutan Kabupaten Tabalong dan satu titik api terlihat di hutan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Pantauan itu dibuktikan dengan mulai berlariannya satwa khas Kalimantan seperti Owa Owa, lutung dan burung berlarian ke luar hutan guna menyelamatkan diri, saat mengetahui tempat tinggalnya rusak.
“Naluri satwa kan kadang lebih tahu duluan dari manusia, jadi begitu ada tanda kerusakan mereka lari,” ujar Amir Hamzah, kepala BKSDA Kalsel.
Selain itu, aku Amir sejumlah vegetasi khas Kalimantan seperti pohon kayu ulin, meranti dan sejenisnya ikut terbakar. Walau jumlahnya tak banyak. Namun, ia tak merincikan, berapa luasan lahan dan jumlah penghuninya yang ikut terbakar di sana.
Kebakaran di dalam lahan hutan lindung ini, ungkapnya masih tergolong kecil. Jumlahnya hanya 36 persen saja dari keseluruhan titik api yang muncul sebanyak 415. Dominasi pembakarn sebanyak 64 persen justru berada di areal penggunaan lain (APL) seperti ladang penduduk atau semak belukar di luar hutan.
Terbakarnya lahan hutan lindung dan kawasan konservasi itu, ujar Amir memang bukan menjadi sumber awal api. Awalnya api bermula dari pembakaran lahan di areal penggunaan lain oleh penduduk di sekitar hutan.
Namun, karena terik matahari yang cukup menyengat, tak pelak membuat api semakin lama semakin besar. Api akhirnya melalap tumbuhan yang masuk wilayah hutan yang dilindungi tersebut.
Antisipasi dan upaya penanggulangan yang mereka lakukan ialah mempersiapkan 29 daerah operasi (DAOPS) lengkap dengan brigade pengendalian kebakaran hutan (Manggala Agni). niz
baca juga:

Cegah Sejak Awal

KEBAKARAN lahan dan hutan di Kalsel dipandang tak bisa dipandang secara parsial. Pun upaya penanganannya, bukan saatnya lagi hanya ditanggulangi, melainkan harus ada antisipasi.
Berry Nahdian Furqan, direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel menyarankan, pemerintah tak lagi terlampau melekatkan program penanganan bencana ini dengan labelnya sendiri. Jauh dari itu, masyarakat sebaiknya lebih banyak dilibatkan di dalamnya.
“Saya kira program kebakaran lahan ini memerlukan program terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat. Pelibatan masyarakat terutama dalam upaya pencegahan musibah kebakaran lahan sampai merambah ke hutan lindung dan mengancam satwa dan tumbuhan di dalamnya tak terulang terus sangat perlu,” sarannya.
Konkretnya, ungkap Berry sudah saatnya masyarakat diajak melakukan identifikasi di daerah mana saja titik rawan terjadinya kebakaran lahan.
Dia yakin program ini secara tak langsung menyadarkan pentingnya tak membakar lahan tanpa menyalahkan pemerintah. niz

Sunday, December 02, 2007

Hot Spot Tinggal 200

Senin, 24-09-2007 | 02:10:30

  • Menhut Laporkan Pengusaha Malaysia dan Taiwan

MARTAPURA, BPOST - Hot spot atau titik panas di seluruh Indonesia kini tinggal 30 persen atau tinggal 200 hingga 300 titik saja. Jumlah titik panas itu terdapat di Kalbar dan Kalteng, dan sebagian kecil di Jambi dan Riau.

Menteri Kehutanan, Malam Sambat (MS) Kaban mengatakan, jumlah itu jauh di bawah target pemerintah untuk menurunkan hot spot hingga 50 persen.
Menurutnya, jumlah titik panas tahun lalu mencapai 1.300 titik dan sempat diprotes banyak negara tetangga karena mengganggu kesehatan, ekonomi dan penerbangan. Tapi kini, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan dinilai telah berhasil. Pemerintah juga terus berupaya menekan jumlah pembakaran lahan di seluruh wilayah.
“Hot spot yang ada kini tinggal kecil sekali, padahal ini sudah bulan September. Sekarang tinggal 200-300 titik saja di Kalbar dan Kalteng. Dua wilayah itu memang rawan pembakaran lahan,” kata MS Kaban saat silaturahmi di Ponpes Darussalam Martapura, Minggu (23/9).
Meski demikian, kata Kaban, pemerintah tetap akan mendatangkan dua pesawat pembom air dari Rusia untuk berjaga-jaga. Pesawat dengan kapasitas 5.000 liter air sekali angkut itu dalam waktu dekat sudah dikirim ke Kalteng. Dua pesawat itu juga akan dibantu satu buah helikopter.
Mengenai pembalakan liar, pihaknya juga tengah gencar melakukan penekanan. Kini, penebangan hutan di Indonesia hanya tinggal 9,1 juta kubik dari 24 juta kubik pada tahun lalu. Diharapkan tahun mendatang penebangan hutan itu bisa berkurang dan berganti dengan program penanaman massal satu juta pohon.
Dikatakan, sebagai bukti keseriusan pemerintah memberantas penebangan liar, pihaknya telah melaporkan dua pengusaha asal Malaysia dan Taiwan ke polisi. Dua pengusaha itu melakukan penebangan di Kalbar.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat membakar lahan untuk usaha pertanian harus dihentikan. Petani, kata dia, harus mengubah kebiasaan mengelola pertanian secara tradisional menjadi profesional. Untuk itu, pemerintah daerah harus mengajari petaninya mengelola pertanian secara profesional dan menyediakan fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan. sig

Tuesday, November 20, 2007

kekeringan Kebakaran Lahan di Kalimantan Selatan Terus Meluas

Kamis, 04 Oktober 2007

Banjarbaru, Kompas - Dari awal September hingga 3 Oktober, kebakaran lahan dan hutan di wilayah Kalimantan Selatan diperkirakan sudah mencapai 1.000 hektar. Kondisi ini dinilai sudah mengkhawatirkan dan perlu perhatian serius dari semua pihak karena lokasi-lokasi yang terbakar semakin luas sebarannya dan sulit dikendalikan.

Hari Rabu (3/10), kebakaran lahan terjadi di wilayah Kota Banjarbaru. Dua regu petugas Manggala Agni dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan (Kalsel) kesulitan memadamkan kobaran api di lahan pertanian dan semak belukar di Desa Kariwaya, Karang Pacih, Kecamatan Landasan Ulin, dan Sungai Baru.

Amukan api yang berlangsung sekitar dua jam sejak pukul 11.00 itu telah menghanguskan daerah pertanian dan semak belukar di dua tempat tersebut mencapai 20 hektar.

Parahnya, kebakaran lahan beberapa hari ini juga sudah memunculkan kabut asap tebal yang mengancam kesehatan.

Kepala Daerah Operasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan pada BKSDA Kalsel Zulkarnaen mengatakan, dalam sebulan terakhir pihaknya sudah memadamkan kebakaran lahan dan hutan sebanyak 46 kali. Ada- pun daerahnya ada di Kabupaten Tanah Laut, Banjar, Tapin, Barito Kuala, Kota Banjarbaru, dan Banjarmasin, dengan total luas 460 hektar lebih.

Di Palangkaraya, kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan sudah menurunkan kualitas udara di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah itu.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Palangkaraya Andrie Manurung me- nyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir kualitas udara sudah menurun dari baik menjadi sedang.

Ini terjadi seiring dengan terus meningkatnya jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), titik panas di Kalteng tanggal 27-29 September berturut-turut 41, 172, dan 278 titik. Pada 1 September naik lagi menjadi 286 titik.

Sumbagsel

Peningkatan jumlah titik api juga terjadi di Sumatera Selatan, dari 44 titik pada Senin (1/10) menjadi 366 titik pada hari Selasa (2/10) pukul 23.00.

Dari Jambi dilaporkan, para perambah kembali membakar lahan di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Pembakaran yang telah berlangsung tiga hari ini belum dapat dihentikan.

"Semalam tim kami berangkat menuju lokasi di TNBD. Mereka akan memadamkan api sekaligus mencari pelaku pembakaran," tutur Sekretaris Pusat Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan Provinsi Jambi Frans Tandipau. (ful/cas/wad/ita)

Siaga Penuh untuk Kebakaran Hutan Hujan Sempat Warnai HUT TNI

Sabtu, 6 Oktober 2007
Radar Banjarmasin, BANJARBARU – Kebakaran lahan dan hutan yang akhir-akhir melanda wilayah kalimantan, termasuk Kalsel mau tak mau juga membuat jajaran TNI bersiaga penuh. Bahkan, TNI pun menyiapkan setidaknya 1 SSK anggota untuk membantu memadamkan bila terjadi kebakaran hutan maupun lahan.

Pernyataan itu langsung disampaikan Pangdam VI Tanjung Pura Mayjen GR Situmeang usai peringatan HUT TNI ke-62 di Lapangan Murjani Banjarbaru, kemarin.

Diungkapkan Situmeang, dibanding tahun lalu, kondisi kebakaran hutan maupun lahan pada tahun ini menurun.

Meski menurun, ungkap Pangdam, hal itu tak membuat jajarannya tinggal diam dan tetap melakukan pemantauan.

“Kebakaran hutan tahun ini menurun dibanding tahun sebelumnya. Apalagi, saat ini sudah mulai turun hujan,” kata Pangdam.

Dibanding daerah lain, Kalsel relatif jauh lebih baik dibanding Kalteng yang saat ini menjadi prioritas utama pemadaman.

Senada dengan Pangdam, Gubernur Kalsel Drs Rudy Ariffin juga mengakui, saat ini kesadaran warga Kalsel akan bahaya kebakaran hutan cukuplah tinggi. Terbukti jumlah hot spot (titik api) menurun.

“Lahan yang terbakar tak sebanyak tahun lalu. Justru sekarang, banyak pemukiman yang terbakar,” kata Gubernur.

Rudy mengakui, sebagai bentuk upaya menanggulangi terjadinya kebakaran hutan, pihaknya tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Tak itu saja, fatwa haram yang dikeluarkan MUI yang melarang pembakaran hutan serta ditunjang kemarau basah yang saat ini terjadi bisa menekan terjadikan kebakaran.

Sementara itu, pada puncak peringatan HUT TNI, diakhir kegiatan Banjarbaru sempat diguyur hujan. Meski cuma sebentar dan muncul diakhir peringatan, hujan yang terbilang cukup deras itu cukup dirasakan.

Pun begitu, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan sukses. Mulai dari upacara, atraksi aero medeling hingga marching band yang mampu menarik perhatian warga Banjarbaru.

Panglima TNI Marsekal Joko Suyanto dalam sambutannya yang dibacakan Pangdam Tanjung Pura Mayjen GR Situmeang mengatakan, sejauh ini TNI sebagai alat negara memiliki tugas untuk mempertahanan integritas dan kedaulatan NKRI yang saat ini masih mengalami ujian yang tidak ringan. Semangat persatuan dalam kebhinekaan ternyata belum sepenuhnya dapat dihayati oleh sebagian masyarakat Indonesia. Hal itu tercermin dengan gejala separatise kedaeraan, radikalisme yang bernuansa SARA. Tak terkecuali munculnya gerakan RMS Ambon, OPM Papua dan penurunan bendera merah putih. Menghadapi segala kemungkinan tersebut, tak ada jalan lagi bagi TNI untuk memantapkan profesionalitas dan soliditas TNI dalam mengamankan dan mempertahankan NKRI. (mul)

Sunday, October 28, 2007

Kebakaran Lahan Permukiman Dekat Bandara Syamsudin Noor Dikepung Api

Selasa, 25 September 2007

 

Banjarbaru, Kompas - Sekitar lima hektar lahan pertanian dan semak belukar di pinggiran Bandar Udara Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (24/9), terbakar. Kebakaran lahan tersebut sempat membuat panik warga karena api sempat mengepung beberapa rumah di kawasan permukiman, seperti di RT 12, Kelurahan Guntung Damar, Kecamatan Guntung Payung.

Meski tidak ada rumah yang terbakar, dua kandang ayam pedaging luluh lantak dilalap api. Kobaran api yang begitu besar di areal semak belukar di kawasan permukiman tersebut terjadi sejak pukul 11.00. Selain dua kandang ayam, beberapa jaringan listrik di daerah itu juga putus.

Beberapa warga mengaku tidak tahu dari mana api berasal. Api begitu cepat membesar dan meluas, karena selain sebagian besar semak belukar sudah kering, juga akibat tiupan angin kencang. Jilatan api bahkan terlihat mencapai lebih dari tiga meter. Sepekan terakhir, sedikitnya enam titik areal pertanian milik warga dengan luas sekitar satu hingga dua hektar juga mati meranggas akibat kebakaran.

613 titik api

Dari Palembang dilaporkan, jumlah titik api di Sumatera Selatan mengalami lonjakan pada hari Minggu (23/9), hingga mencapai 613 titik. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran munculnya bencana kabut asap jika api tidak dapat dicegah merembet ke lahan gambut.

Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran Hutan Achmad Taufik, Senin (24/9), mengatakan, jumlah titik api sudah jauh meningkat dibandingkan pada hari Sabtu yang hanya 120 titik dan hari Jumat 173 titik.

"Sejumlah titik api, seperti terpantau di Kabupaten Ogan Ilir, diduga sengaja dilakukan untuk persiapan musim tanam," kata Taufik.

Menurut dia, jumlah titik api terbanyak terdapat di Kabupaten Musi Rawas dengan 116 titik, disusul Kabupaten Musi Banyuasin 90 titik. (FUL/WAD)

Monday, September 10, 2007

Lima Titik Panas Terdeteksi

Kamis, 30 Agustus 2007

KOTABARU,- memasuki musim kemarau tahun ini, di kawasan Kabupaten Kotabaru kembali terdeteksi adanya hotspot (titik panas) yang tersebar pada beberapa lokasi. Hotspot tersebut terdeteksi oleh Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada pertengahan Agustus. Untuk wilayah Kalsel berjumlah 73 titik panas.

    Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kehutanan setempat, Armadi Tamaju mengatakan, pada musim kemarau bulan Agustus ini petani dan ladang berpindah mulai membersihkan lahan untuk persiapan tanam seperti tahun-tahun sebelumnya. Dari data Dinas Kehutanan Provinsi, khusus di Kotabaru ada 7 titik panas. Jika dibandingkan dengan tahu lalu jumlah hotspot di kabupaten ini menurun. Pada periode sama tahun di 2006, ditemukan 732 titik hotspot, dan 31 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.

       "Biasanya titik panas tersebut ditemukan di dalam dan di luar kawasan hutan di wilayah Pulau Laut dan Senakin, karena di wilayah itu banyak perusahaan perkebunan dan areal HPH PT Inutani," ujarnya.

       Selain itu, hotspot juga banyak ditemukan dalam areal penggunaan lain (APL) bahkan ada pada kawasan hutan lindung seperti di Berangas Kecamatan Pulau Laut Timur. Begitu juga dalan kawanan hutan tanaman industri perkebunan kelapa sawit

Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kotabaru sudah meminta kepada semua perusahaan perkebunan atau pemilik HPH, tetap waspada dan memberikan laporan kepada Dishutbun, jika ditemukan ada lahan mereka yang terbakar.

       Sementara ancaman bagi yang membakar hutan dengan sengaja akan diancam Undang-undang nomor 4 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 78 ayat 3, kurungan maksimal 15 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar. Sementara yang lalai hingga terjadi kebakaran hutan, diancam maksimal lima tahun penjara atau denda Rp 1.5 miliar. (ins)

Hotspot Mudah Diakses Asal Tak Terhalang Pohon

Radar Banjarmasin ; Selasa, 28 Agustus 2007
BANJARBARU – Sejak resmi beroperasi, fasilitas hotspot internet yang terletak kawasan perkantoran Pemkot Banjarbaru mampu melayani akses internet dengan baik. Tak jarang, mahasiswa maupun pelajar yang ada di Banjarbaru ini memanfaatkan fasilitas gratis mengakses internet di sekitar kawasan Lapangan Murjani. Meski ada keluhan kendala mengakses, namun sejauh ini fasilitas hotspot masih bisa diterima dengan baik dengan radius 300 hingga 800 meter dari pemancarnya.

Hanya saja, untuk lebih memudahkan akses internet para penggunanya harus menggunakan laptopnya yang mengarah ke pemacar yang terpasang persis di atas samping gedung balaikota. Bila terhalang gedung, tembok atau bahkan pohon, akses internet tak bisa dilakukan.

Tak jarang, ketidaktahuan itulah membuat para pengakses internet mengeluh lantaran tak bisa menggunakan. Budi Sujamitko (19) misalnya, mahasiswa Unlam Banjarbaru mengaku sempat merasakan kesulitan mengakses pada sore hari lantaran terhalang pohon. Namun, setelah laptopnya diarahkan ke pemacar, usaha mengakses internet lebih mudah.

Diungkapkan M Noor Ifansyah, Kasi Data Telematika Pemkot Banjarbaru, saat dilakukan pengecekan langsung kemarin, sinyal pemancar hotspot sangat kuat bila diambil persis di depan kantor balaikota. Ini wajar, karena pemancar memang terletak persis di atas gedung Pemkot.

“Sampai saat ini, sinyal masih kuat. Speednya saja mencapai 54,00 Mbps dan ini sangat cepat untuk mengakses internet,” kata Ifansyah yang mengecek sinyal yang dipacarkan hotspot kemarin.

Meski saat pemantauan kemarin sinyal sangat kuat, Ifansyah mengungkapkan, sinyal yang dipancarkan bisa dipengaruhi oleh cuaca. Pasalnya, kekuatan sinyal antara pagi dan siang berbeda.

“Meski ada perbedaan kekuatan sinyal, tapi tetap bisa mengakses internet. Syaratnya asal jangan terlindung saja. Lebih baik lagi, mengakses persis di depan balaikota,” terang Ifansyah lagi.

Meski sejauh ini akses dan sinyal masih baik, pihaknya yang mengurusi masalah hotspot internet di Pemkot ini juga tetap berharap masukan semua pihak. Terutama bila akses internet tak bisa dilakukan. (mul)


Sunday, September 09, 2007

Ditemukan 5 Titik Panas Sengaja Membakar Diancam 15 Tahun Penjara

Thursday, 23 August 2007 01:35

KOTABARU, BPOST - Satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pertengahan Agustus telah mendeteksi 73 titik panas (hotspot) di wilayah Kalsel, lima titik di antaranya di Kabupaten Kotabaru.

Kabid Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kehutanan setempat, Armadi Tamaju mengatakan, memasuki musim kemarau Agustus ini petani dan ladang berpindah mulai membersihkan lahan untuk persiapan tanam.

"Berdasarkan laporan dari Dinas Kehutanan Provinsi, ada 73 hotspot yaitu di Hulu Sungai Selatan 16 titik, Banjar 14 titik, Tanah Laut 11 titik, Banjarmasin 7 titik, Kotabaru, Tabalong dan Balagan masing-masing 5 titik, Tapin 4 titik, Batola 3 titik dan Tanah Bumbu 2 titik," kata Armadi, Rabu (2/8).

Meski tak menyebutkan luas areal yang terbakar, namun disebutkan lokasi hotspot di Kotabaru berada di kawasan hutan 9 titik dan kawasan non hutan 64 titik.

Hotspot di kabupaten ini menurun dibanding periode sama tahun 2006, dimana ditemukan 732 titik hotspot, dan 31 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus.

"Paling dominan yang menyebar di dalam dan di luar kawasan hutan tersebut ditemukan di wilayah Pulau Laut dan Snakin, karena di wilayah itu banyak perusahaan perkebunan dan areal HPH PT Inutani," ujarnya.

Menurut Ali Arifin, Kepala Unit pelaksana Tugas (UPT) Berangas, titik panas sebagian besar berada di areal penggunaan lain (APL), bukan berada pada wilayah hutan lindung, dalam atau hutan tanaman industri. Juga bukan berada pada wilayah perkebunan kelapa sawit.

Meski demikian, pihaknya tetap meminta semua perusahaan perkebunan atau pemilik HPH, tetap waspada dan memberikan laporan kepada Dishutbun, jika ditemukan ada lahan mereka yang terbakar.

"Jika ditemukan warga atau perusahaan perkebunan sengaja membakar hutan, akan diancam Undang-undang nomor 4 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 78 ayat 3, kurungan maksimal 15 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar," katanya.

Bagi yang lalai hingga terjadi kebakaran hutan, diancam maksimal lima tahun penjara atau denda Rp 1.5 miliar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Penanaman Modal Kotabaru, Mukhlis Hamidi, menyatakan, hingga saat ini pihaknya masih belum dilibatkan oleh dinas tekhnis terkait pengamanan hutan. ant

Syamsudin Noor Dikepung Titik Panas

Friday, 17 August 2007 23:43

BANJARBARU, BPOST - Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru sejak beberapa hari ini dikepung titik panas (hot spot) akibat pembakaran lahan pertanian di sekitar lokasi bandara.

"Bandara Syamsudin Noor kini dikepung titik api yang berasal dari pembakaran lahan secara sporadis oleh masyarakat sekitar lokasi tersebut," kata Kepala Dinas Kehutanan Kalsel Suhardi Jumat (17/8).

Menurutnya, pembakaran lahan pertanian untuk tanaman sayur-mayur tersebut kendati tidak di lokasi lahan yang cukup luas, namun jumlahnya cukup banyak dan mengelilingi bandara.

"Pembakaran lahan yang dilakukan hanya sekitar empat sampai lima borong untuk setiap lokasi, namun jumlahnya cukup banyak. Beruntung sebelum dibakar lahan tersebut dibersihkan terlebih dahulu sehingga apinya tidak menyebar," katanya.

Kendati pembakaran lahan mulai marak di sekitar bandara, namun belum menimbulkan kabut asap tebal sehingga belum mengganggu penerbangan, jarak pandang juga masih normal.

Selain di sekitar bandara, pembakaran lahan juga terjadi hampir di seluruh wilayah Kalimantan, mengingat saat ini mulai memasuki musim tanam ke dua terutama di lahan lebak. ant

Tuesday, September 04, 2007

Titik Panas Meningkat Tajam Tersebar di 13 Kabupaten/Kota se Kalsel

Thursday, 16 August 2007 01:21

BANJARBARU, BPOST - Titik panas (hot spot) di Kalsel terdeteksi terus bertambah. Pengamatan satelit di Departemen Kehutanan sejak Selasa (14/7), penambahan titik panas terjadi di sebelah timur utara bandara, tepatnya di Kabupaten Banjar.

Jarak Pandang 700 Meter

Kendati kabut asap di Banjarbaru belum parah, namun sempat memendekkan jarak pandang di kawasan Bandara Syamsudin Noor. Pantauan BPost kabut menyaput sejak pukul 06.00 Wita membuat landasan pacu (runway) Bandara nyaris tertutup asap.

Munculnya asap disertai bau menyengat khas pembakaran lahan dan berangsung-angsur hilang pukul 08.30 Wita seiring tingginya matahari.

Data dari hasil pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Bandara Syamsudin Noor Rabu (15/8) menyebutkan, jarak pandang mencapai 700 meter. "Jarak pandang tersebut masih aman untuk penerbangan, meski ada halangan asap," terang Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara, Dwi Agus Priyono,

Agus mengingatkan, saat ini ancaman kabut asap patut diwaspadai. Meski kemarau belum puncaknya, suhu minimum 23,4 derajat celcius dan kelembaban 87 persen cukup memudahkan peluang kebakaran. Apalagi, curah hujan di Kalsel berangsur-angsur berkurang. niz

Namun, satelit milik BMG Singapura justru mendeteksi lebih banyak. Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara, Dwi Agus Priyono, mengatakan, ada tambahan dua hot spot yang terlihat yaitu di kawasan Kintap Tanah Laut (Tala).

Lebih rinci lagi, dari data posko siaga, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Satelit NOAA-18/15/12 (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced) mencatat, Agustus ini titik panas di Kalsel meningkat tajam.

Dari semula 25 titik panas di bulan Maret, sampai 7 Agustus 2007 ini sudah ada 67. Titik panas ini tersebar di 13 kabupaten/kota, kebanyakan terkonsentrasi di luar kawasan hutan yaitu 86,57 persen. Sisanya berada di kawasan hutan.

Dari urutan kabupaten, hot spot tertinggi terpantau di Kabupaten Banjar, dengan total 14 titik atau 20,89 persen. Selanjutnya Tanah Laut dan Hulu Sungai Selatan (HSS), masing-masing 11 titik panas atau 16,42% dan Banjarmasin dengan 7 titik atau 10,45%.

Petugas Posko Siaga BKSDA Kalsel, Ali Fahmi, menjelaskan posisi hot spot bakal terus meningkat. Informasi terakhir sampai 14 Agustus masih terjadi pertambahan. "Data masih kita proses. Berdasarkan rekaman NOAA ada tambahan 6 titik panas lagi. Jadi akumulasinya 73 titik dan ini masih dikoordinatkan di mana saja pertambahan hot spot itu," jelas Ali.

Ditambahkan Kepala BKSDA Kalsel, Siswoyo, saat ini pihaknya telah mengadakan apel siaga penanggulangan asap dan kebakaran di kabupaten-kabupaten dan berkoordinasi dengan barisan pemadam kebakaran. Dua regu pemadam beberapa hari ini telah diturunkan untuk memadamkan titik panas di Kecamatan Gambut dan sekitar Bandara Syamsudin Noor. niz

Wednesday, August 29, 2007

20 Titik Api Baca juga Dishut Tiap Hari Patroli Udara

Wednesday, 08 August 2007 01:39

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Suhardi melalui Untung operator Satelit NOAA-AVHRR (National Oceanic Atmospheric Administration Advanced Very High Resolution Radiometer) menyebutkan, titik api (hot spot) di Kalsel masih belum menunjukkan pertambahan. Ini karena satelit tersebut hanya mampu mendeteksi titik panas jika suhu di daratan mencapai 40 derajat celsius.

"Titik api kita di Kalsel masih terpantau 20 titik. Belum bertambah, karena biasanya satelit NOAA baru mendeteksi jika suhu sudah 40 derajat celsius," terangnya.

Sejak Maret tadi, terdeteksi 20 hot spot. Tersebar di tiga kabupaten yaitu tujuh di kabupaten Banjar, sepuluh di Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan tiga di Banjarmasin.

Dua titik api di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Mandiangin Kecamatan Karang Intan. Sementara 18 titik api lainnya tampak di luar kawasan hutan.

Rekap data hot spot di Dishut, diketahui titik api tertinggi lima tahun terakhir terjadi pada 2004 tadi yaitu 2.000 titik api. niz

Korem Antasari Siapkan Satgas Kebakaran Hutan

Saturday, 04 August 2007 00:28:40

BANJARMASIN, BPOST - Korem 1010/Antasari Jumat (3/8) pagi pukul 08.00 Wita, menggelar pasukan Satgas PRC PBP di halaman Stadion Lambung Mangkurat Banjarmasin.

Gelar pasukan tersebut dilaksanakan dalam mempersiapkan Satgas PRC PBP untuk tugas penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan serta monitoring hot spot, di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Gelar pasukan Satgas ini tidak lain, lantaran sebentar lagi akan datang musim kemarau yang seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Maka dari itulah, kita persiapkan sedini mungkin. Pasukan ini sudah kita laksanakan sejak 2006 lalu, utuk itu kesiapsiagaan personel dan materil Satgas PRC PBP Korem 101/Ant harus disiapkan secara optimal," kata Letnan Kolonel Infantri Martono, Kepala Staf Korem 101/Ant, pada gelar pasukan kemarin.

Menurutnya, Satgas ini tidak hanya bertugas di wilayah Kalsel, melainkan juga ke wilayah yang lainnya di Kalimantan. "Kita ingin meringankan beban berat pemerintah, caranya tidak lain dengan ikut serta menjaga kestabilan nasional, sepereti membantu untuk menanggulangi bencana alam," terangnya.

Martono berpesan, beban penderitaan rakyat yang timbul akibat datangnya berbagai bencana alam, perlu peran aktif dari seluruh komponen bangsa.

"Saya harapkan, adanya kemauan dari semua unsur untuk bekerjasama di dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, dengan dilandasi cinta tanah air, rasa kebangsaan, kerelaan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan individu atau golongan, serta dengan saling bahu membahu menyelesaikan masalah ini, dalam bingkai Negara Kesatuan RI," pesannya. dua

Friday, December 08, 2006

Kabut Asap Ganggu Hujan

Kamis, 09 Nopember 2006 01:07:37
Banjarbaru, BPost
Stasiun Klimatologi Kelas I Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Banjarbaru memastikan, saat ini sebagian besar wilayah Kalsel telah memasuki musim penghujan.

Peluang hujan bisa saja terjadi asalkan kelembabannya mencukupi. "Namun pekatnya saputan kabut asap dikhawatirkan akan menghambat turunnya hujan," kata Kepala Staklim BMG Kelas I di Banjarbaru Sucantika Budi, Selasa (7/11).

Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran lahan menyebabkan menurunnya kelembaban di suatu wilayah. Sementara, salah satu syarat terjadinya hujan salah satunya adalah tingkat kelembaban yang tinggi.

Kebakaran lahan yang disusul dengan kabut asap akan menyebabkan meningkatnya suhu udara disertai dengan penurunan kabut asap, sehingga kawasan tersebut menjadi kering.

Lebih lanjut Sucantika mengatakan, fase musim hujan ditandai dengan telah bertiupnya angin dari Cina Selatan yang membawa uap air. Setelah badai tropis Ciramon berhenti, kini angin yang membawa uap air dari Cina Selatan bergerak ke arah Kalsel dan Kalteng.

Ramalannya ini dikuatkan dengan hasil foto satelit yang menunjukkan awan Columunimbus --awan yang akan membawa hujan-- telah tumbuh di atas wilayah Kalsel dan Kalteng. "Ini bukan ramalan lagi, tapi sudah pasti masuk penghujan," tandasnya.

Pernyataannya itu juga didukung data kelembaban. Hasil pengukuran yang dilakukan kemarin menunjukkan angka 70 persen lebih. "Kelembaban saat ini mendukung turunnya hujan. Angka 70 persen tersebut sudah cukup tinggi untuk bisa turun hujan," terangnya. niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Aspek Hukum Kebakaran Hutan Dan Lahan

Kamis, 09 Nopember 2006 01:05
Memang sebenarnya UUPLH tidak secara tegas mengatur tindakan terhadap pelaku kebakaran hutan.

Oleh: Mispansyah
Dosen Fakultas Hukum Unlam

Hutan di Indonesia terbesar dan terkaya dengan aneka ragam flora dan faunanya, setelah Brazil dan Zaire. Luas total hutan mencapai 144 juta hektare atau 75 persen dari luas seluruh daratan di Indonesia (Zain, 2002:33). Kalimantan memiliki sekitar 1.800 hingga 2.300 spesies pohon yang diameternya lebih dari 10 sentimeter, dan sekitar 40 genus tanaman dan lebih banyak lagi species yang bersifat endemic (Barber, 1999:9). Sumberdaya hutan yang terdapat di Kalimantan itu, belum termasuk kekayaan fauna. (Rich, 1999:440).

Dalam kenyataan, potensi hutan itu hanya menjadi dongeng yang diceritakan orangtua kepada anak-anaknya. Realitas pemanfaatan hutan di samping memberikan dampak positif, begitu banyak menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif dalam pemanfaatan hutan adalah rentannya hutan dari bahaya kerusakan, salah satunya kebakaran.

Ada beberapa kualifikasi hukum dari peristiwa kebakaran hutan dan akibat yang ditimbulkannya yaitu: tindakan pembakaran hutan yang menimbulkan akibat berupa kerusakan lingkungan hidup; tindakan menimbulkan kebakaran hutan dan atau karena kealfaannya (lalai) menyebabkan hutan menjadi terbakar. Untuk menjerat pelaku kebakaran hutan dan lahan, ada beberapa ketentuan perundang-undangan yang bisa diberlakukan yaitu UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) dan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Sanksi Administrasi: Hakikat dari dasar penjatuhan sanksi administrasi mensyaratkan ketentuan perundang-undangan yang dilanggar untuk menentukan batas pelanggaran yang terjadi. Oleh karena itu, harus terdapat rumusan hukum terlebih dahulu sebagai dasar bagi alat kekuasaan publik yang digunakan oleh penguasa atas reaksi ketidakpatuhan terhadap norma hukum (Philupus M Hadjon: 1995). Sanksi administrasi dalam LH berupa paksaan pemerintah yang ditujukan kepada penanggung jawab usaha/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran, serta menanggulangi akibat yang ditimbulkannya oleh suatu pelanggaran dan /atau pemulihan atas beban biaya penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan. Kecuali ditentukan lain berdasarkan UU sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (1) UUPLH, di samping itu dikenakan pembayaran sejumlah uang (Pasal 25 ayat (5) UUPLH.

Sanksi Perdata bagi pelaku yang terlibat dalam tindakan pembakaran hutan, hanya dapat terjadi bila dihubungkan dengan akibat yang timbul dan nyata-nyata merugikan kepentingan manusia termasuk bukti melakukan perusakan/pencemaran LH. Bila disyaratkan harus terdapat unsur kerugian yang diderita manusia, maka tidak ada pertanggungjawaban hukum dengan dasar Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Namun demikian, UUPLH mengakui kewenangan organisasi yang bergerak di bidang LH memiliki ius standi untuk mewakili melakukan gugatan (class action), organisasi LH mengajukan gugatan ke pengadilan sekalipun tidak ada unsur kerugian manusia. Dalam hal ini bisa diwakili oleh organisasi LH atau yang bergerak di bidang tersebut, sehingga LH mempunyai hak untuk dilindungi (Hardja Soematri: 2005:406).

Sanksi Pidana diterapkan terhadap pelaku yang terlibat dalam tindakan pembakaran hutan atau karena kelalainnya menyebabkan hutan menjadi terbakar, dengan pidana kurungan dan/atau denda (Pasal 18 ayat (3) UUPLH.

Selama ini, orang memahami ketiga tindakan tersebut berjalan sendiri-sendiri yakni apabila sudah dikenakan sanksi administrasi maka sanksi perdata dan pidana akan menunggu penanganan sanksi administrasi. Padahal tidak seperti itu, ketiga sanksi tersebut tetap dijalankan secara bersamaan. (Hardja Soemantri: 2006; dalam Kuliah HL di PMIH Unlam).

UU Nomor 41/1999 tentang Kehutahan juga mengatur tiga sanksi terhadap pelaku kebakaran hutan: Sanksi Administrasi (Pasal 80 ayat 2); Sanksi Pidana (Pasal 78-79; Tanggung jawab perdata dan ganti rugi (Pasal 80 ayat 1). Ketentuan ini tidak jauh berbeda dengan UUPH, hanya ada sedikit penekanan pada sanski pidana. Tersangka pelaku pembakaran hutan atau kebakaran akibat kekalaian, juga dikenakan sanksi pidana yaitu pidana penjara dan hukuman kurungan. Ketentuan pidana juga diatur dalam PP Nomor 28 Tahun 1985. Namun kenyataannya, kebakaran hutan terus berlangsung dari tahun ke tahun dan Indonesia selalu menjadi negara penyuplai kabut asap nomor satu di dunia.

Kendala

Dalam kenyataannya, penegakan hukum yang berkaitan dengan kasus kebakaran hutan di Indonesia umumnya dan Kalimantan khususnya tidak terlaksana dengan baik. Beberapa kendalanya: 1. Tidak terdapat pelaku yang diduga menyebabkan hutan menjadi terbakar yang bisa dikenakan pertanggungjawaban berdasarkan ketentuan hukum yang ada. Sepengetahuan saya tidak ada gugatan yang dilakukan masyarakat ataupun perwakilan (class action) dari organisasi lingkungan. 2. Prosedural, tidak ada aturan hukum berupa UU yang khusus mengatur kebakaran hutan dan lahan menjadi argumentasi aparat penegak hukum kita. 3. Pembuktian dalam proses penegakan hukum, yaitu bukti yang dipakai dalam kasus kebakaran hutan seyogyanya mengintegrasikan teknologi seperti titik panas (hotspot) yang direkam satelit. (M Muhdar: 2001).

Dalam penanganan, seharusnya aparat penegak hukum tidak menjadikan substansi (aspek aturan hukum yang tidak mengatur secara tegas) mengenai kebakaran hutan sebagai kendala. Seyogyanya aparat penegak hukum harus mengonstatasi, mengualifikasi dan mengontituering peristiwa hukum konkret (kebakaran hutan). Juga tidak kalah penting, kesiapan aparat penegak hukum dalam memecahkan masalah yang dihadapi (the power solving of legal problems) dengan dukungan kemampuan mengindentifikasi (legal problem identification), kemampuan memecahkan masalah (legal proplem solving) dan mengambil keputusan (decision making).

Dengan demikian, apabila kendalanya adalah UU yang tidak mengatur maka pengambil keputusan bisa membuat suatu peraturan baik dalam bentuk UU oleh pemerintah pusat atau perda di pemerintah daerah. Perlu diingat, ada empat pilar penegakan hukum yaitu sistem hukum yang baik, aparat penegak hukum yang baik, kesadaran hukum masyarakat, sanksi yang tegas. Selama ke empat pilar ini tidak jalan, maka permasalahan penegakan hukum akan terus menjadi kendala.

e-mail: mispansyah_bjm@yahoo.co.id

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Bomber Rusia Kebingungan

Kamis, 09 Nopember 2006 01:46:07
Banjarbaru, BPost
Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan menggunakan pesawat BE -200 di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, Kamis (8/11) tidak berjalan mulus. Pilot pesawat kebingungan karena tak menemukan satu pun titik api (hotspot) di area yang menjadi target pengeboman.
BOM KALSEL - Pesawat amphibi BE-200 Rusia tiba di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, Rabu (8/11) pukul 14.00 Wita. Pesawat ini langsung melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Foto: BPost/Apunk

Kekecewaan terlihat dari wajah pilot Krayzef bersama lima krunya yang sebelum terbang sempat disambut dengan upacara batapung tawar dan sajian sinoman hadrah ini. Pilot asal Rusia itu berkali-kali mengangkat tangannya seolah-olah menyerah. Itu dilakukannya setelah hampir dua puluh menit berputar-putar di udara.

Wartawan Banjarmasin Post, Anita Kusumawardhani yang ikut dalam penerbangan juga tidak melihat enam hotspot di wilayah Gambut sebagaimana panduan peta dari Dishut Kalsel. Krayzef pun semakin kebingungan. Berkali-kali kepalanya digelengkan ke kiri dan kanan, sebagai isyarat kekecewaan.

Pesawat yang mengangkut 12 ton air yang diambil dari perairan Tabunio, Tanah Laut, akhirnya dimuntahkan begitu saja di beberapa tempat munculnya asap di wilayah Gambut. Untung saja, operasi pemadaman kabut asap itu tertolong dengan turunnya hujan alami sekitar pukul 16.20 Wita.

Pesawat pun sempat diturunkan ketinggian sampai 150 hingga 100 meter dari atas tanah. Tak urung gerakan pesawat berharga sewa 15 ribu dolar AS per jamnya ini cukup membuat guncangan hebat yang dirasakan penumpangnya. Guncangan keras juga terjadi ketika pesawat mengambil air bahan baku penyiraman. Rasanya seperti naik speedboat.

Aksi burung besi jenis amphibi bermesin jet ini berakhir pukul 16.23. Bersamaan hujan gerimis turun di areal sasaran, kru pesawat memuntahkan air di lokasi-lokasi munculnya asap. Pesawat yang mampu mendarat di landasan padat maupun perairan ini kemudian mendarat kembali di Bandara Syamsudin Noor pukul 16.33 Wita.

Kurang Persiapan

Apakah upaya itu dikatakan gagal? Semua pihak yang terlibat sebagai koordinator kerja besar ini, enggan berkomentar. Sayangnya lagi, gubernur dan pejabat teras plus muspida Kalsel yang sebelumnya kontinu melakukan rapat pemantapan, tidak menyaksikan aksi pengeboman air.

Mayjen TNI Syamsul Maarif selaku ketua pelaksana harian Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) juga menggelengkan kepala sebagai isyarat enggan berkomentar.

Sugeng, sebagai jurubicara tak berani menyatakan itu gagal. "Saya tak mau mengatakan ini gagal atau belum berhasil dan sejenisnya. Yang jelas kita sudah lakukan pengeboman hari ini, meski untuk api-api kecil saja," katanya.

Menurut Sugeng, operasi perdana kemarin tidak ditunjang data terbaru hotspot, sehingga membuat pilot bingung. "Datanya kurang akurat. Hotspot yang dicurigai ada ternyata tidak ada," ujarnya.

Proses pengeboman di Palembang tim turun dengan dua kekuatan. Selain pesawat BE, akurasi data pantauan satelit NOAA diyakinkan lagi pantauan langsung tim baik dari udara maupun dari darat sebelum pengeboman dilakukan.

Rencananya, Kamis (9/1) ini, tim akan mematikan titik api di Kapuas Kalteng, tetap dengan 1 unit pesawat dari dua unit yang direncanakan. Pasalnya, satu unit pesawat lainnya sedang dalam perbaikan di Palembang menunggu kiriman suku cadang dari Rusia.

Mengantipasi ini Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D Jenie mengatakan pihaknya mengusulkan pemerintah membeli pesawat pembom air jenis BE- 200 buatan Rusia. Hal ini karena setiap tahun selalu terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Idealnya kita harus memiliki tujuh unit pesawat jenis itu. Ini karena luasan hutan dan lahan terbakar tersebar di sejumlah pulau-pulau besar," kata Said. niz/adi

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Akibat Asap 587 Kasus Pnemonia

Rabu, 08 Nopember 2006 00:06:13
Kandangan, BPost
Semenjak kabut asap menyerang wilayah Hulu Sungai Selatan, penderita ISPA meningkat. Bila awal September lalu jumlah korban kabut asap 7.303 orang, kini meningkat jadi 10.661 orang.

Korban asap terbanyak ditangani Puskesmas Jambu Hilir, sebanyak 2.404 orang dan Puskesmas Kandangan 2.233 orang.

Menurut Kusmadi, petugas surveilance penyakit dinas kesehatan, masih ada puskesmas yang belum melaporkan data penderita ISPA. Sementara di Puskesmas Gambah, Padang Batung dan Nagara data pasiennya belum terekam.

Yang lebih parah lagi bukan hanya ancaman ISPA terus merangkak naik. Korban pnemonia juga telah mencapai 587 orang selama musim kemarau disertai kabut asap pekat tahun ini.

Jailani Majedi, pengelola program ISPA dan pnemonia Dinkes HSS mengatakan kabut asap bisa berakibat buruk pada peningkatan pnemonia.

Warga yang kena ISPA apabila lambat ditangani bisa pnemonia terutama dari kalangan anak usia 1 sampai 4 tahun, karena daya tahan tubuhnya belum kuat. Akibat fatal dari pnemonia adalah kematian. Untuk itu, Dinkes mengimbau warga segera berobat bila kena ISPA.

Sementara Kadinkes HSS drg Garsmedi dalam rapat bulanan Pemkab HSS telah melayangkan surat resmi kepada dinas pendidikan tentang ketentuan diperbolehkan meliburkan siswa akibat kabut asap. "Rekomendasi ini dalam rangka mengatasi bertambahnya korban ISPA terutama dari kalangan anak-anak," tambah Garsmedi. ary

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Optimis Atasi Kabut Asap

Rabu, 08 Nopember 2006 01:47:53
Banjarbaru, BPost
Kabut asap tebal kembali menyaput langit Kalsel terutama Banjarmasin, Banjar dan Banjarbaru. Bahkan, hingga Selasa (7/11) sore, Kota Banjarmasin gelap gulita karena terselimuti kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan itu. Di Bandara Syamsudin Noor pun sejumlah jadwal penerbangan tertunda.

Dikhawatirkan, kondisi ini mengganggu rencana pemadaman kebakaran lahan dan hutan dengan menggunakan bom air. Padahal, dua pesawat Rusia jenis BE-200 yang disewa untuk menjatuhkan bom air itu direncanakan tiba dan langsung menjalankan tugasnya pada Rabu (8/11).

"Besok (hari ini) pesawat itu dijadwalkan datang dan langsung bekerja satu kali shorty di Kalsel. Baru esoknya (Kamis) di Kalteng. Tapi, terlebih dulu melihat situasi cuaca di sekitar Bandara Syamsudin Noor sebagai posko pemadaman kebakaran lahan. Safety itu nomor satu. Kalau memang tak memungkinkan ya sementara ditunda dulu ke Kalimantan, biar parkir saja dulu di Palembang.

Semua tergantung perkembangan kondisi cuaca," tegas Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) Mayjen TNI Syamsul Maarif.

Mengenai pesimistis sejumlah pihak terhadap efektivitas bom air ini, Syamsul menegaskan pemadaman dengan water bomb akan memadamkan titik api (hotspot). "Kalau tanya estimasi, saya yakin bahkan sangat yakin operasionalnya di Kalimantan dengan catatan daya dukungnya memadai ," tandasnya.

Keyakinan ini bukan tanpa alasan. Berkaca pada pengalaman di Palembang, Sumsel, ribuan hotspot di daerah itu padam begitu dibom dengan air. Dengan daya dukung pengamanan di darat, laut serta udara, juga koordinasi dan kondisi cuaca, pemadaman kebakaran lahan yang mengakibatkan sapuan asap tebal dapat ditanggulangi.

Padamnya titik api karena water bomb ini juga tak lepas dari pengalaman pilot asal Rusia yang memiliki jam terbang tinggi. Mereka terbiasa mengemudikan pesawat guna memadamkan api yang di lahan Afrika yang berkarakteristik mirip dengan Kalimantan.

Secara detil, Syamsul juga menjelaskan kerja pesawat berharga jual 42 juta dolar Amerika. Pada satu proses kerja atau satu shorty (semacam rute penerbangan, Red) pesawat ini mampu menyiramkan sekitar 200 ton air yang diambil bolak balik dari sumber air.

Dengan kekuatan teknis dan pengalaman tersebut, Syamsul kembali meyakinkan sebaran hotspot di Kalsel dan Kalteng dapat padam. "Jadi bukan sekali terbang hanya mengangkut 12 ton. Tapi satu kali penyemprotan 12 ton dan itu bisa ke sejumlah area. Tepatnya, satu kali shorty itu, 200 ton air bisa disemprotkan ke titik api," tuturnya.

Manager Operasional PT Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor, Noor Siswadi saat dikonfirmasi tentang pengaturan jadwal penerbangan sipil akibat kedatangan pesawat Rusia tersebut, mengaku masih melakukan perundingan dengan awak kru pesawat agar tidak menganggu penerbangan reguler.

Rencana bom air di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar dipastikan batal, sebab tidak terdapat titik api yang parah di wilayah tersebut. Berbeda dengan Kecamatan Gambut (Banjar) dan Landasan Ulin (Banjarbaru).

Camat Simpang Empat M Taufiq mengatakan, kabut asap yang juga sampai ke daerah itu dipastikan hanya impor dari daerah tetangga, Desa Alalak Padang (Batola).

Lain halnya dengan Kecamatan Gambut. Mereka telah siap menerima bom air, khususnya di seputar Jalan Gubernur Subarjo dan Gubernur Syarkawi. "Kita telah melakukan sosialisasi kepada warga yang bermukim di dua kawasan itu, melalui masjid-masjid, langgar-langgar hingga RT-RT-nya," ujar Camat Gambut Abdul Razak. niz/adi

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Besok, Gambut Dibom Air

Selasa, 07 Nopember 2006 02:55:26
Banjarbaru, BPost
Dua pesawat Rusia, yang bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, dijadwalkan tiba di Bandara Syamsudin Noor, Rabu (7/11).

Kehadirannya dipastikan dalam rapat di Posko Penanggulangan Asap dan Kebakaran Lahan Wilayah Kalimantan di ruang VIP II Bandara Syamsudin Noor, Senin pagi. Rapat dipimpin Gubernur Kalsel Rudy Arifin dan dihadiri Danrem 101/Antasari Kolonel Inf Waris, Danlanud Syamsudin Noor Letkol Pnb Anang Nurhadi Susila, pihak TNI AL serta perwakilan Kalteng.

Di hadapan hadirin dan pers, salah seorang pilot pesawat BE-200, Evgeny Serykh, mengatakan pesawat yang akan dikemudikannya datang Rabu. Sebelumnya, pesawat amphibi bermesin jet ini bertugas di Sumatera.

"Dua hari ke depan, pekerjaan besar ini akan kita lakukan. Perlu koordinasi bagus antara kita semua, baik pelaksana maupun masyarakat sekitar, juga dukungan Tuhan tentunya," kata Evgeny dalam bahasa Rusia yang diterjemahkan oleh RM Soeryo Goeritno selaku agen pesawat.

Setibanya di Syamsudin Noor, kedua pesawat akan menurunkan suku cadang. Setelah itu, pesawat langsung melakukan penyiraman titik api di Kalsel dan kemudian di Kalteng. "Mungkin akan satu kali penyemprotan dan hanya satu pesawat dahulu yang operasional pada hari pertama," lanjut Georitno.

Sebagaimana di Sumatera, pesawat tidak akan mengambil air di sungai karena alasan keamanan. Air akan diambil dari laut di sekitar perairan Tabunio, Tanah Laut.

Guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mengingat pesawat akan memuntahkan sekitar 12 ton air, setidaknya ada tiga areal harus steril. Pertama di Bandara Syamsudin Noor, kemudian di Tabunio dan ketiga di daerah titik api yakni Kecamatan Gambut dan Simpang Empat Kabupaten Banjar.

Danlanud, Anang, mengatakan pihaknya akan mengatur jadwal penerbangan bersama PT Angkasa Pura I selaku pengelola Syamsudin Noor.

Meski sementara ini fokusnya adalah titik api di kawasan hutan, aparat pemerintahan di Kabupaten Banjar diminta mengamankan warganya. Masyarakat diminta menjauh dari areal titik api saat penyiraman. Ini karena muntahan air tidak berupa butiran seperti hujan melainkan benar-benar laksana bom. Apalagi, pesawat berbadan bongsor ini diperkirakan terbang rendah, hanya 100-150 meter di atas permukaan tanah. Rumah pun dapat hancur jika terkena siramannya.

Sayangnya, meski menakutkan, sosialisasi di Kecamatan Gambut dan Simpang Empat baru dilakukan. Camat Gambut H Abdul Razak mengaku baru mendapat kabar dari Muspika setempat.

Masyarakat di sejumlah desa yang selama ini banyak terdapat titik api seperti Desa Pematang Panjang, Guntung Ujung, Guntung Papuyu dan Kayu Bawang diharapkan mengosongkan hutan. Mereka diminta tidak ke hutan melakukan aktivitas seperti mencari kayu bakar atau berladang.

Sosialisasi juga dilakukan kepada para nelayan di perairan Tabunio. "Nelayan sudah diinformasikan tentang kerja besar ini dan kami harapkan mereka tak melaut selama proses pengambilan air," kata WS Palaksa Angkatan Laut Banjarmasin, Sumarsono.

Sugeng dari Badan Kordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) mengungkapkan pengeboman air ini tak dapat maksimal memadamkan kebakaran karena pesawat yang digunakan cuma dua.

"Kita berharap selama disewa 45 hari hujan bisa lebih cepat turun. Perkiraan kita November hujan sudah terjadi," jelasnya.

Maka dari itulah, lanjutnya, usaha lain seperti pembuatan hujan buatan dan kerja sama dengan instansi lain terus ditingkatkan agar hasil yang didapat lebih maksimal.

Sementara itu, kemarin, hujan mengguyur Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Meski cuma 5-15 menit, udara di dua kota ini terasa lebih segar.

Prediksi Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (Staklim BMG) Kelas I di Banjarbaru menyebutkan ini hujan lokal saja.niz

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Friday, December 01, 2006

Pesawat Rusia Tertunda Ke Kalimantan

Minggu, 05 Nopember 2006 01:30:13
Jakarta - Rencana pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Kalsel dan Kalteng, tertunda. Pasalnya, dua pesawat Rusia BE-200 yang ditargetkan mulai memadamkan kebakaran minggu ini, ternyata masih beroperasi di Sumatera.

"Kami belum tahu kapan dua pesawat itu bisa dialihkan ke Kalimantan," kata Mayjen Syamsul Maarif, kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Penaggulangan Bencana dan Pengungsian, di Jakarta, Minggu (5/11).

Disebutkan, pemadaman kebakaran di wilayah Sumatera, seperti Palembang belum bagus. Indikasinya, kabut asap masih terus terjadi dan sejumlah bandara belum bisa beroperasi.

"Hari ini Bandara Sultan Thaha Jambi masih ditutup. Artinya pemadaman kebakaran di sana belum bisa dibilang selesai," cetus Syamsul.

Seperti diketahui, dua pesawat Rusia yang disewa pemerintah RI itu ditargetkan paling lambat minggu pertama November sudah bisa melakukan pemadaman di Kalsel dan Kalteng. Berbagai persiapan telah dilakukan, di antaranya menjadikan Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin sebagai base camp kegiatan pemadaman di Kalimantan.

Syamsul mengakui, semula pemadaman lahan dan hutan di Sumatera selesai dalam waktu 7-10 hari, terhitung sejak 22 Oktober 2006. Hanya saja, kenyataan di lapangan kebakaran di Sumatera masih banyak yang belum berhasil.

"Karenanya saya nggak bisa memperkirakan kapan dua pesawat Rusia itu dipindah ke Kalimantan," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang mendesak pesawat asal Rusia yang disewa pemerintah segera dibawa ke Kalimantan untuk memadamkan kebakaran seperti di Palangka Raya, Balikpapan, dan Banjarmasin. Bahkan, Teras narang minta, wilayahnya diprioritaskan untuk pemanfaatan pesawat yang mempu mengguyurkan air sebanyak 12 ton untuk sekali terbang itu. tnr


--------------------------------------------------------------------------------

Copyright © 2003 Banjarmasin Post