Thursday, January 17, 2008

Badai Ancam Kalsel

Kamis, 17-01-2008 | 02:11:40

• Seluruh Wilayah Rawan Bencana
BANJARMASIN, BPOST - Kalimantan Selatan dalam status siaga. Cuaca buruk yang berpotensi menimbulkan bencana diprediksi bakal melanda daerah ini.

Selain Kalsel, 10 provinsi di Indonesia juga menghadapi kondisi serupa. Hujan lebat disertai angin kencang bakal melanda wilayah-wilayah Sumsel bagian selatan, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Badan Kesbanglinmas Kalsel, Fakhrudin AM dalam coffee morning di Aula Graha Abdi Persada, Kantor Gubernur, Rabu (16/1) mengaku sudah menerima peringatan dini dari Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB). Pada intinya, seluruh daerah tersebut harus lebih waspada karena rawan bencana.
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kalsel, Rachmadi Kurdi, juga menegaskan bahwa hampir seluruh daerah di Kalsel rawan bencana. “Terlebih cuaca buruk yang mengancam berupa angin kencang dan hujan lebat,” ujarnya kepada BPost, malam tadi.
Lebih jauh Fakhruddin mengatakan, berdasarkan informasi BMG, buruknya kondisi cuaca disebabkan adanya wilayah pertumbuhan awan memanjang dari Lampung hingga NTB. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi terjadinya hujan lebat disertai badai angin dan gelombang tinggi.
Dia mengingatkan daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah pertumbuhan awan diminta waspada. “Hujan lebat dan angin kencang bisa saja mengakibatkan terjadinya bencana,” tandas Sekretaris Satkorlak Kalsel itu.
Pihaknya mengimbau para pejabat di kabupaten/kota segera menyusun perencanaan dan kesiapsiagaan berdasarkan tingkat kerawanan masing-masing, terutama terkait penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor.
Menanggapi hal itu, Sekdaprov Kalsel, M Muchlis Gaffuri memerintahkan segera dilaksanakan rapat koordinasi antara Satkorlak dengan Satlak masing-masing kabupaten dan kota.
“Kita tidak bisa memastikan kapan terjadi bencana. Tapi kalau sudah ada peringatan seperti itu, kita harus siap-siap sejak dini,” tandasnya.
Bencana
Menurut Kepala Bapedalda Kalsel Rakhmadi Kurdi, beberapa daerah seperti di Negara (HSS), Sungai Buluh (HSU), dan sebagian wilayah di Kabupaten Banjar merupakan kawasan rawa. “Kawasan ini terbuka sehingga angin kencang bebas tanpa halangan sehinga bisa langsung menyentuh permukiman warga,” ujarnya.
Selain daerah rawa, beberapa permukimam warga berada di kawasan pantai, seperti Aluh Aluh (Kabupaten Banjar), Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. “Daerah-daerah ini berhadapan langsung dengan laut terbuka dan rawan tersapu angin kencang disertai hujan lebat,” tambahnya.
Sedangkan Kabupaten Balangan, HST, sebagian HSS, Tabalong, sebagian Kotabaru, dan Tala, juga rawan tanah longsor. Di daerah-daerah itu banyak terdapat kawasan curam di pegunungan.
“Longsor bisa terjadi karena pegunungan yang ada di kawasan itu tanahnya tidak lagi masive akibat hutannya digunduli. Sehingga tidak lagi mengikat air,” cetus Kurdi.
Sedangkan banjir cukup mengancam Kabupaten Tala, Tanah Bumbu, Kotabaru, Batola, HSS khususnya kawasan Negara, HSU dan HST.
Waspada
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Pemantau Bandara Syamsudin Noor, Dwi Agus Priyono mengatakan, angin kencang disertai hujan lebat masih terus terjadi hingga akhir Januari.
“Kondisi cuaca ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan bencana,” ujarnya.
Dia mengingatkan masyarakat perlu waspada terhadap perubahan cuaca yang pada siang hari begitu panas, tiba-tiba berubah hujan deras disertai angin kencang pada sore.
Buruknya kondisi cuaca membawa dampak langsung pada pelayaran. Perusahaan batu bara terbesar kedua di Kalsel, PT Adaro Indonesia sudah tiga pekan terakhir tidak bisa memenuhi permintaan batu bara sejumlah kliennya di Pulau Jawa.
Ribuan ton batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik di Pacitan, Suralaya maupun Cilacap terpaksa menumpuk di stokpile Kelanis. “Kami tak ingin mengambil risiko, karena kondisi cuaca memang tak memungkinkan untuk angkutan kami,” jelas Ismail, jurubicara PT Adaro Indonesia di Tanjung, Tabalong, kemarin.
Kondisi yang sama juga dialami H Bandu Daeng Manase. Pemilik usaha jasa pelayaran kapal itu mengaku semenjak angin kencang dan laut pasang, armada kapalnya tidak bisa berlayar.
“Sudah lima hari ini, kapal kami tidak bisa berlayar ke Surabaya,” ujar Haji Daeng seraya berharap agar cuaca kembali normal.
Sebelumnya, Kepala BMG Pusat Sri Woro Harijono telah mengingatkan bahwa beberapa wilayah perairan di Indonesia belum aman dari amukan gelombang tinggi. Gelombang antara 3 sampai 6 meter masih akan terjadi. “Semua jenis kapal berbahaya menghadapi tinggi gelombang laut seperti sekarang ini,” jelasnya.
Namun Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Banjarmasin Captain Sufrisman Djaffar mengatakan hingga kemarin arus lalulintas kapal masih berjalan seperti biasa.
“Hingga kini (kemarin) kondisi gelombang di Laut Jawa masih sekitar 3-4 meter. Bahkan untuk daerah Tabunio, muara Barito informasinya masih sekitar satu meter,” ungkapnya.
Meski kondisi gelombang laut cukup tinggi aktivitas pelayaran kapal di Laut Jawa masih sibuk. “Untuk kapal-kapal besar sampai sekarang tidak masalah. Bahkan kapal-kapal penumpang dari Surabaya juga masih jalan,” katanya.
Hanya saja, dikatakan Sufrisman, untuk kapal-kapal kecil, seperti kapal layar tentu sangat membahayakan. “Makanya sampai sekarang maklumat (peringatan) untuk berhati-hati ketika berlayar belum kita cabut,” imbuhnya. ais/nda/mdn

Tuesday, January 08, 2008

Air Hujan Banjiri Rumah Warga

Minggu, 06-01-2008 | 00:43:30

• Atap Rumah Beterbangan
• Angin Ribut Sapu Tanjung dan Martapura

TANJUNG, BPOST - Hujan disertai angin kencang menyaput Kota Tanjung dan sekitarnya selama lima jam, mulai pukul 04.00 Wita dini hari, Sabtu (5/1). Puluhan baliho, papan nama, spanduk bahkan pohon roboh.

Angin juga mengoyak dan bahkan menerbangkan atap seng sejumlah rumah warga di kawasan padat penduduk seperti di Pembataan, Tanjung. Akibatnya, rumah jadi kebanjiran karena air hujan merembes masuk.

Tak hanya itu akibat ada pohon yang tumbang menimpa kabel PLN di depan Makam Pahlawan Maburai dan di depan SPBU Mabuun, listrik di kawasan Kota Tanjung dan sekitarnya padam selama 4 jam, mulai pukul 04.30 Wita.

Pantauan BPost, sebuah warung bakso semi permanen dekat mess Kodim 1008 di Pembataan roboh. Juga sebuah parabola milik warga hilang diterbangkan angin. Warga sejumlah perumahan seperti di Jalan Tanjung Puri juga banyak yang mengeluh kehilangan kursi plastik di teras rumah karena disapu angin.

Di jalanan, seperti di Jalan Tanjung Puri juga banyak pohon yang tercerabut sampai akarnya dan tumbang melintang di tengah jalan. Kerusakan parah juga tampak di kawasan Terminal Mabuun, Kecamatan Murung Pudak.

Satu baliho ukuran besar, iklan milik salah satu operator selular yang dipasang dengan satu tiang penyangga di depan terminal bahkan ambruk menimpa kabel telepon di sampingnya.

Baliho besar produk rokok di depan Gedung DPRD dan di bundaran Monumen Obor Mabuun, papan ucapan selamat datang di depan Polres Tabalong di Pembataan dan papan Dinas Dukpencapil di Tanjung juga roboh.

Kondisi ini tak jauh berbeda dengan di Kabupaten Banjar. Martapura dan sekitarnya diterpa hujan deras dan angin kencang pada Sabtu (5/1) dinihari dan berlanjut hingga siang harinya.

Tiupang angin kencang yang terjadi pada Sabtu siang itu mengakibatkan sebuah neon box yang dipasang di median Jalan A Yani Km 40 dekat RSUD Ratu Zalecha, Martapura roboh, hingga sempat membuat pengendara kaget.

Untungnya neon box, iklan produk rokok itu tidak sampai mengakibatkan warga terluka. Pada saat roboh, tidak ada kendaraan atau warga pejalan kaki yang melintas.

Beberapa warga yang kebetulan lewat di dekat lokasi bergotong royong mengangkatnya. Pemasangan baliho dan neon box di Kota Martapura sepertinya harus ditinjau ulang. Dalam sepuluh hari terakhir, sudah ada dua kejadian serupa.

Pada 26 Desember 2007, angin kencang yang menerjang Kota Martapura dan sekitarnya mengakibatkan sebuah baliho di dekat jembatan irigasi Jalan A Yani Km 38 Sungai Pering ambruk. Ambruknya baliho itu diduga karena tidak kuatnya fondasi yang dipasang. ofy/nda

Jalan di HSU Longsor

Sabtu, 05-01-2008 | 00:32:48

MESKI BMG memprediksi hujan lebar terjadi pertengahan Januari, namun di Hulu Sungai Utara (HSU) hujan mulai membawa bencana.

AMBROL - Hujan lebat mengguyur kota Amuntai dan derasnya arus sungai membuat jalan Desa Tangga Ulin, Amuntai Tengah longsor, Jumat (4/1). BANJARMASIN POST/MAISURI

Jalan Desa Tangga Ulin Hulu kecamatan Amuntai Tengah longsor, karena tak mampu menahan hantaman air Sungai Balangan yang meluap akibat hujan, Jumat (4/1).

Kejadian itu menyebabkan jalan desa menyempit dari tujuh meter menjadi tiga meter. Panjang bantaran sungai yang longsor sekitar 60 meter.

Sebelumnya, jalan itu bisa dilalui oleh kendaraan roda empat, namun kini hanya kendaraan roda dua yang bisa lewat. Warga khawatir longsor merembet ke permukiman mereka.

H Isan, warga setempat, mengatakan tanah longsor di bagian bahu jalan sudah yang keenam. Sebenarnya, kata dia, warga sudah meninggikan jalan itu dan menutupan bagian jalan yang berlobang.

"Sudah 150 ret tanah merah kita gunakan untuk menutupi dan meninggikan kembali jalan-jalan yang longsor. Untuk kejadian yang ke enam kali ini, rasanya tak mungkin lagi melakukan peninggian, buang-buang biaya," ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) HSU H Eddyanoor Idur, berjanji segera memperbaiki jalan yang longsor itu.

Dikatakan, pengurukan dan peninggian tanah di jalan desa Tangga Ulin dilakukan warga setempat melalui kucuran dana program peningkatan infrastruktur perdesaan (PPIP).

Sementara, pembuatan siring batu yang dibungkus dengan kawat di sepanjang bantaran anak sungai Balangan, pekerjaan dari provinsi. ori