Friday, November 24, 2006

Lahan Itu Sengaja Dibakar

Sabtu, 04 Nopember 2006 00:09:31
KEBAKARAN hutan dan lahan menjadi biang serbuan kabut asap di Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Kebakaran itu menurut Ketua Laboratorium Biologi yang juga dosen PMIPA FKIP Unlam Banjarmasin, Darmono, lebih banyak disengaja ketimbang faktor alam.

Sebab, sebagian besar kondisi tanah di Kalimantan Selatan adalah lahan basah atau lahan gambut. Artinya, daerah ini merupakan kawasan rawa karena tergenang air, baik secara musiman maupun permanen dan banyak ditumbuhi vegetasi sehingga secara umum kondisi lahan basah memiliki tekstur, sifat fisik dan kimia yang khas, sehingga sulit terbakar secara alami

Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan, kebanyakan pembakaran lahan dan hutan dilakukan masyarakat itu terjadi malam hari. Alasannya, karena warga tak memiliki dana untuk membuka lahan pertanian.

Maka langkah untuk mengembalikan siklus ke materi selama pascapanen dengan cara membakar sehingga bila musim air datang, bisa langsung ditanami.

"Sementara dengan cara lain seperti membabat lalu dipendam, warga mengaku tidak memiliki dana karena untuk melakukan itu tidak mungkin secara manual. Harus memakai mesin," kata Darmono.

Oleh karena itulah, kata Darmono, kebanyakan pemilik lahan memilih membakar. "Kecuali di pinggir jalan. Proses kebakaran lahan setahu kita bukan karena unsur kesengajaan, tapi kebanyakan karena puntung rokok yang dibuang pengendara," katanya.

Sedangkan di Kalimantan Tengah, sesuai informasi yang ia peroleh, kebakaran yang terjadi memang secara alami karena kondisi tanah di daerah tersebut termasuk lahan gambut kering.

"Sehingga pada waktu kering atau musim kemarau datang sering terjadi kebakaran dalam tanah. Karena ada retakan-retakan lahan dan gerakan sebagainya yang jatuh ke bawah tanah, akhirnya menimbulkan gesekan kemudian menyala dan mengeluarkan asap," jelasnya.

Lain halnya, kebakaran lahan atau hutan di Kalsel, kata Darmono, kebanyakan daerahnya merupakan dataran rendah seperti di Batola, Banjar, Tanah laut, Amuntai dan Kota Banjarmasin.

"Sedangkan yang bukan lahan gambut basah hanya Kotabaru, Batulicin, Satui, Banjar bagian atas seperti Mataraman, Pelaihari bagian atas dan Rantau, itu semua merupakan dataran tinggi karena dalam tanahnya banyak mengandung batu bara," aku Darmono

Meski demikian, kalau ditinjau secara ekologi terjadinya kebakaran lahan gambut ini tidak merugikan siapa-siapa kecuali manusia karena kabut asap.

Karena menurut Darmono dari beberapa kali survei di lapangan, kebakaran lahan yang terjadi di Kalsel kebanyakan hanya pada bagian permukaan saja. "Sementara bagian dalam tanah sangat kecil. Karena kondisi tanah kita adalah lahan basah," jelasnya.

Kebanyakan kebakaran yang terjadi di Kalsel terjadi di kawasan pertanian bukan hutan. "Karena kawasan hutan di wilayah Kalsel untuk sekarang ini sudah hampir tak ada lagi," tandasnya.mdn
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Kebakaran Tahura Meluas

Jumat, 03 Nopember 2006 00:38:34
Hujan mulai turun
Pelaihari, BPost
Kerusakan hutan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam terus meluas. Kobaran api sampai sekarang dikabarkan terus membara di kawasan suaka alam tersebut.

Masih berlangsungnya kebakaran tersebut setidaknya terindikasi pada saputan asap tebal yang menyelimuti pegunungan di Dusun Riam Pinang Desa Tanjung Kecamatan Pelaihari. Pantauan BPost dari Desa Tanjung, Rabu (1/11), pegunungan tersebut sama sekali tidak terlihat. Padahal pada pada kondisi normal, pegunungan itu terlihat jelas.

Beberapa warga Desa Tanjung menuturkan kondisi tersebut telah berlangsung sejak sepekan silam. "Hutan di pegunungan itu memang terbakar. Latu (debu bekas kebakaran)nya terus-menerus mengotori rumah kami," kata mereka.

Polisi Kehutanan Dinas Kehutanan Tala Suratno membenarkan masih membaranya api di kawasan hutan Tahura tersebut. "Sampai sekarang api memang masih menyala di sana. Tidak banyak yang bisa kami perbuat, karena lokasinya di pegunungan yang tidak bisa dijangkau armada pemadam kebakaran," tukasnya, Kamis (2/11).

Sepekan sebelum Idhul Fitri 1427 H, hutan Tahura yang masuk di wilayah Tala tepatnya di Riam Pinang mulai terbakar. Saat itu, luasan yang telah hangus diperkirakan mencapai 700-an hektare.

"Mungkin sekarang luasan hutan Tahura di Riam Pinang sudah mencapai 2.000-an hektare," sebut Suratno seraya mengatakan luas Tahura di wilayah Tala 4.600 hektare dari total luas 36.000 hektare yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Banjar.

Kadishut Tala Ir Aan Purnama MP mengatakan pemadaman kebakaran hutan di Tahura tersebut hanya bisa diatasi dengan teknologi modern atau turun hujan. Karena itu, armada pemadam kebakaran berupa pesawat terbang dari Rusia sangat dinantikan.

Rencananya setelah memadamkan kebakaran hutan di Sumatera, pesawat Rusia itu akan bergerak ke Kalimantan Selatan. Terakhir, memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan Tengah.

Aan mengatakan pihaknya hingga kini terus siaga 24 jam memonitor dan turun ke lapangan memadamkan titik-titik api yang masih saja terjadi secara sporadik. "Sekarang konsentrasi kami yakni di wilayah Desa Sungai Jelai Kecamatan Pelaihari."

Beberapa hari lalu, hutan akasia eks proyek OECF (Finlandia) di Sungai Jelai terbakar. Berkat kecekatan dan kecepatan petugas, kebakaran bisa diatasi.

Meski begitu, lanjut Aan, daerah itu tetap menjadi perhatian khusus. Pasalnya, hutan akasia yang ada di situ cukup luas yakni 177 hektare. Sementara di bagian permukaan tanahnya terdapat banyak material yang kering kerontang, terutama tumpukan dedaunan akasia.

Bagaimana dengan kebakaran lahan bongkor di Desa Pandahan? "Alhamdulillah sudah bisa diatasi," pungkas Aan.

Sementara itu, hujan mulai mengguyur Tala, Kamis kemarin. Intensitas hujan cukup lebat yang terjadi mulai pukul 14.40 Wita. Guyuran hujan ini diperkirakan mampu memadamkan titik-titik api yang masih membara. roy
Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Rusia Siap Bom Kalimantan

Jumat, 03 Nopember 2006 01:20:03
Gambut penyuplai asap terbesar
BMG prediksi kabut sampai Desember
Syamsudin Noor mulai normal
Banjarbaru, BPost
Jangan berharap fenomena kabut asap di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan dan Tengah segera berakhir. Dua daerah itu masih akan terus diserbu kabut asap hingga sebulan ke depan.

BACA JUGA:
Syamsudin Noor Jadi Home Base
Mengapa itu terjadi? Ini disebabkan adanya perubahan pola musim yang memasuki pancaroba beberapa hari terakhir. Kondisi diperparah karena rendahnya kecepatan angin akibat perubahan pola musim.

"Jadi, ancaman kabut asap di Kalimantan, khususnya Kalsel masih akan terjadi sebulan ke depan," jelas Kepala Stasiun BMG Bandara Syamsudin Noor, Dwi Agus Priyono kepada BPost, di kantornya di Banjarbaru, Kamis (2/11).

Sebagai contoh, kabut asap yang hingga kemarin masih menyerbu Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura dan sejumlah wilayah lainnya di Kalsel. Kata Dwi, awetnya balutan kabut asap dikarenakan tidak adanya tiupan angin yang cukup signifikan untuk mengusir asap.

"Angin memang ada, tapi kecepatannya hanya lima knot. Kecepatan seperti itu tak banyak berpengaruh menghilangkan asap. Kondisi itu terjadi di semua wilayah Kalimantan," urainya.

Dari foto satelit yang diterima BMG hingga Rabu (1/11), asap terlihat sangat tebal di atas wilayah Kalsel, Kalteng di bagian selatan dan Kaltim bagian selatan.

Saat ini, upaya yang dirasa paling efektif memadamkan titik api penyebab kabut asap adalah dengan menyiramkan air dari udara. Dalam waktu dekat, dua pesawat Rusia Amphibi Fix Wings BE 200 --masing-masing mampu membawa 12.000 ton air-- akan digunakan memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Kalteng dan Kalsel.

Malam tadi, tim pemadaman dipimpin Mayjen Syamsul Ma’arif, Kalakhar Penanggulangan Kebakaran Lahan dan Hutan, melakukan rapat teknis dengan sejumlah pejabat Kalsel dan Kalteng, di Banjarmasin.

Disebutkan, dua pesawat Rusia yang disewa Pemerintah RI itu akan segera melakukan pemadaman dengan dibantu lima helikopter bantuan TNI dan Polri.

Asap Gambut
Kebakaran lahan gambut di wilayah Lingkar Utara menjadi salah satu penyuplai asap ke wilayah Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Demikian pula kebakaran lahan gambut dan hutan di belakang Markas Rindam Guntung Payung.

Hingga siang kemarin, kebakaran lahan di ruas jalan Lingkar Utara masih terus terjadi. Demikian pula yang terjadi di belakang Markas Rindam.

"Dua daerah itu turut andil menyuplai asap ke sejumlah wilayah di daerah ini," kata Johansyah, kepada Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan BKSDA Daops.

Diakui, upaya pemadaman dengan teknik menyuntikkan air ke dalam tanah, belum mencapai hasil maksimal. Hal ini karena banyaknya titik-titik api di dalam tanah lahan gambut.

"Di sisi lain, kita kesulitan menyedot air akibat sungai kecil sekitar lokasi kering akibat kemarau," ujar Johansyah. Dari foto BGM, terpantau banyak titik merah di wilayah Kalsel. Hanya saja, pihak BMG mengaku tidak punya akses mendata jumlah titik-titik api tersebut.

Mulai Normal
Dibanding Rabu (1/11), kondisi Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, kemarin, sudah mulai normal untuk penerbangan. Penundaan hanya terjadi pada penerbangan pagi khusus jadwal pemberangkatan di bawah pukul 08.00 wita.

Empat penerbangan yang sempat tertunda yakni Wings Air, Trigana Air, Batavia Air dan Garuda. Namun, keempat akhirnya berhasikl take-off setelah di atas pukul 09.00 wita. Kepala Divisi Operasi dan Komersial PT Angkasa Pura (AP) I, Siswadi mengakui jarak pandang di bandara khususnya di bawah pukul 09.00 masih rawan bagi penerbangan. "Penerbangan baru bisa dilakukan setelah di atas pukul 11.00 dimana jarak pandang di atas 800-100 meter," ujarnya.

Sehari sebelumnya, Bandara Syamsudin Noor lumpuh selama delapan jam mengakibatkan ribuan calon penumpang telantar. Sejumlah penerbangan bahkan terpaksa dibatalkan.

Direktur Angkutan Udara Departemen Perhubungan, Santoso Edi Wibowo mengungkapkan, penutupan sejumlah bandara akibat gangguan kabut asap menyebabkan 183 penerbangan batal dengan jumlah 40.314 kursi.

Hingga kini Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya masih belum bisa beroperasi karena gangguan asap. Sebanyak 75 penerbangan di bandara itu dibatalkan. Demikian pula Bandara Supadio Pontianak, 18 penerbangan yang menyediakan 3.974 kursi mengalami pembatalan.niz/ais/ank/tur
Copyright © 2003 Banjarmasin Post