Wednesday, September 03, 2008

Asam Asam Banjir Lagi

Kamis, 04-09-2008 | 00:40:40

PELAIHARI-Memburuknya kembali cuaca di Tanah Laut sejak Senin malam membuat Sungai Asam-Asam meluap lagi. Sejumlah rumah warga pun kebanjiran lagi.

Nawawi, warga Asam-Asam Rabu (3/9) menuturkan, di RT 20 ada lima rumah yang sudah terendam, selain beberapa rumah di dekat bandsaw. "Rumah saya sendiri masih aman, karena letaknya agak tinggi, tapi air sudah sampai teras," papar

Namun genangan air rata-rata hanya sekitar 30 senimeter di dalam rumah. Kondisi ini masih terbilang ringan dibandingkan banjir yang terjadi 26-27 Agustus, dengan ketinggian air di dalam rumah ada yang mencapai pundak orang dewasa.

Di Asam Asam ada dua lokasi yang paling rawan karena berada di dataran rendah yaitu di RT 20 dan 5, termasuk RT 10. Air Sungai Asam Asam mulai meluap sekira pukul 17.00 Wita Selasa tadi menyusul derasnya hujan.

Hujan terus berlanjut hingga malam. Namun warga masih bertahan di rumah masing-masing, karena genangan air tidak seberapa. Mereka tidur di loteng rumah, meski umumnya loteng hanya memanfaatkan ruang sempit plafon rumah. Hanya sebagian kecil yang rumahnya bertingkat dua. (roy)

Bayi Itu Tak Lagi Punya Ayah

Kamis, 04-09-2008 | 01:50:35

• Tiga Pencari Intan Tewas
• Terkubur Hidup-hidup

TERTIMBUN - Para pendulang intan mencari rekannya yang tertimbun tanah longsor di salah satu lubang galian di Kampung Pumpung, Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu (3/9). METRO BANJAR/DONNY SOPHANDI

BANJARBARU, BPOST

- Hujan yang mengguyur seharian menuai bencana di pendulangan intan perkampungan Pumpung Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Rabu (3/9) sore. Di tengah deru mesin pompa, tiba-tiba dinding tebing lubang tambang bergetar dahsyat dan ambruk seketika menimpa para pekerja di bawahnya.

Empat orang sempat tertimbun longsoran tebing lubang sedalam 17 meter itu. Namun sesaat kemudian satu di antaranya, Sugiani (25), warga Sungai Tiung, berhasil menyelamatkan diri. Nyawanya tertolong oleh tekanan balik tanah dari dasar lubang yang terdorong ke atas sehingga tubuhnya ikut terangkat.
Sedang tiga rekannya bernasib nahas. Mereka terkubur hidup-hidup. Ketiga korban tewas adalah Anang (17) warga Sungai Tiung RT21 Belakang Kubah Makam Syarifah Badrun, Ucil (16) warga Basung Cempaka dan Ahdi (25) warga Sungai Tiung RT22.
Padahal Ahdi baru saja punya bayi. Saat menanti kehadiran jenazah suami di rumah mertua, Alus (17), terus menangis. Dia makin sedih bila melihat putrinya yang baru berusia dua bulan. “Alus menangis bila lihat anaknya,” ucap seorang tetangga.
Cobaan ini datang sekitar pukul 15.00 Wita. Sekitar dua jam penggalian, tubuh Anang berhasil ditemukan. Tubuhnya yang berlumur lumpur, dibersihkan seadanya dan langsung dibawa warga menggunakan kain sarung serta penyangga dua tongkat galam menuju ke rumah duka.
Pukul 17.16 Wita, kerja keras sekitar 50-an orang yang melakukan penggalian hanya menggunakan peralatan seadanya dibantu semburan air mesin pompa berhasil menemukan tubuh Ucil. Sama seperti Anang, mayat Ucil juga langsung dibawa ke rumah duka.     
Hingga masuk waktu magrib, pencarian korban Ahdi masih berlangsung. Tubuhnya diperkirakan tertindih rakitan kayu beserta mesin pompa di dasar lubang.
Informasi terhimpun, saat longsor, para korban seperti biasa mencari intan. Lubang yang dikerjakannya baru tergali sedalam dua meter. Tapi lubang ini berada di dasar lubang induk yang luasnya sekitar 0,5 ha dengan kedalaman lebih dari 15 meter. Longsoran lubang induk inilah yang menimbun korban.
Meski sejak pagi diguyur hujan, para pemburu intan tetap memaksakan diri bekerja. Kebetulan ketika hari beranjak siang, hujan sempat mereda. Kesempatan ini langsung dipakai untuk bekerja lagi mencari intan.
Mereka menuruni lereng lubang induk dengan menggunakan tangga. Setibanya di titik galian, mereka berbagi tugas. Satu orang menjaga mesin pompa yang diletakkan di atas lubang galian. Lainnya berada di dasar lubang menyemprotkan air dan lainnya lagi memisahkan batu.
Saat asyik bekerja, keempatnya dikejutkan oleh getaran longsoran. Dalam hitungan detik, mereka lenyap tertimbun. Saking dahsyatnya terjangan lumpur sampai-sampai kayu rakitan penyangga mesin pompa hancur berantakan. Sedang mesinnya ikut tertimbun bersama para korban.(sar)

Monday, September 01, 2008

Distamben Sanggah Sebab Kerusakan Alam Kalsel

Minggu, 31 Agustus 2008 16:13 Administrator

BANJARMASIN - Jajaran Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Kalimantan Selatan menyanggah terhadap pendapat yang terus berkembang yang seolah menuduh kerusakan alam di wilayah ini, seperti terjadinya banjir, akibat dampak usaha pertambangan batubara skala besar.

"Ramainya usaha pertambangan batubara di Kalsel kan baru belasan tahun terakhir saja, itu pun seluruh areal pada kawasan yang sudah tidak ada hutan," kata Kadistamben Kalsel H Ali Muzanie di sela-sela rapat paripurna DPRD Provinsi Kalsel di Banjarmasin, Jumat.

Sanggahan Kepala Distamben itu sehubungan banjir yang melanda beberapa kawasan di Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan Tanah Bumbu (Tanbu), Kalsel dalam empat hari terakhir akibat guyuran hujan lebat.

Berbagai pihak menuding terjadinya bencana tersebut karena kerusakan alam lingkungan cukup parah, yang disebabkan maraknya kegiatan pertambangan.

Menurut mantan Kepala Distamben Kabupaten Banjar, Kalsel itu, kerusakan alam di provinsi ini sebelum ada kegiatan pertambangan batubara ataupun biji besi di wilayah timur tersebut, seperti Tala, Tanbu dan Kabupaten Kotabaru.

"Mungkin semua orang ingat, sejak kapan PT Kodeco selaku pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang HPH lain menebang hutan di wilayah timur Kalsel tersebut. Padahal sebelum adanya HPH, sepanjang jalan arah Kotabaru, kabupaten paling timur Kalsel yang berbatasan Laut Sulawesi dan Selat Makassar itu masih nampak rimbunnya pepohonan dan lebatnya hutan," katanya.

"Tapi dengan adanya HPH, ditambah perambahan hutan yang tak terkendali atau sebelum ramainya usaha pertambangan batubara pada tiga kabupaten di timur Kalsel tersebut, kawasan hutan itu sudah terkesan gersang, kecuali terdapat bahan tambang di bawah kulit/perut buminya," lanjutnya.

Namun ketika dipertanyakan, apakah dengan ramainya usaha pertambangan belakangan ini tidak makin memperparah kerusakan alam sehingga kian memudahkan munculnya bencana banjir, Kepala Distamben Kalsel tersebut tak banyak komentar, kecuali menyatakan, bila ada perusahaan pertambangan yang melanggar aturan, pasti dikenakan sanksi atau minimal teguran peringatan.

"Sanksi tersebut, baik dalam bentuk pencabutan izin operasional maupun penghentian sementara, dan tidak menutup kemungkinan dikenakan sanksi yang lebih berat," kata Ali Muzanie. an/mb02