Monday, August 25, 2008

Banjir Terbesar di Tanah Laut

Selasa, 26-08-2008 | 01:20:44

BANJIR juga melanda Kabupaten Tanah Laut. Sejumlah sungai meluap. Permukiman warga dan fasilitas umum pun terendam. Sejumlah sekolah terpaksa meliburkan muridnya.

Di SDN Jilatan Kecamatan Batu Ampar, misalnya, kegiatan belajar-mengajar tak bisa dilaksanakan lantaran jalan utama menuju sekolah terendam banjir setinggi satu meter. .
Dua sekolah lainnya di wilayah Kecamatan Batu Ampar, SMP Durian Bungkuk dan SMA Batu Ampar juga tak bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sebagian siswa dan guru tak bisa menjangkau sekolah karena jalan menuju sekolah kebanjiran.   
“Ya apa boleh buat, sekolah terpaksa saya liburkan. Anak-anak tak bisa menjangkau sekolah, karena genangan air di jalan terlalu tinggi. Saya sendiri juga tak bisa menjangkau sekolah,” kata Kepala SDN Jilatan, Suparni. SDN Jilatan terletak kurang lebih 300 meter dari jalan raya Trans Kalimantan arah Pelaihari-Kintap.
Jalan raya Trans Kalimantan di Jilatan juga terendam hingga ketinggian satu meter, termasuk rumah warga yang ada di sekitarnya. Penuturan Kades Jilatan Anang Hamli, jumlah rumah warganya yang kebanjiran 57 buah.
“Tak ada korban jiwa. Tapi, sebuah kios sembako ludes seluruh barangnya terendam air. Pemiliknya tak sempat menyelamatkan barang karena saat air naik pukul 01.00 Wita, pemiliknya tertidur,” beber Anang.
Anang mengatakan, banjir kali ini adalah yang terbesar. Pasalnya genangan air di jalan raya menjamah hingga di sebelah jembatan di sekitar rumahnya. Padahal biasanya banjir tak sampai jembatan.
Banjir juga melanda beberapa desa di Kecamatan Batu Ampar yaitu Desa Gunung Mas, Durian Bungkuk, dan Pantai Linuh. Jumlah yang kebanjiran tidak terlalu banyak. Desa Jorong di Kecamatan Jorong juga kebanjiran di empat RT.
“Sebagian warga mengungsi ke Langgar Taufiqurrahman,” beber Kadus 3 Desa Jorong Asnain saat dihubungi BPost melalu sambungan telepon.
Wilayah Kota Pelaihari pun tak luput dari banjir. Seperti biasa, permukiman padat penduduk Pintu Air kembali kebanjiran. Data pada Badan Kesbang dan Linmas banjir di Pintu Air adalah yang paling parah dengan jumlah rumah yang terendam 200 buah, dengan ketinggian genangan 1-1,5 meter.
Namun sebagian warganya tetap bertahan di rumah, karena mereka memiliki rumah tingkat dan umumnya memiliki loteng darurat. “Air mulai naik pukul 21.00 Wita. Sempat turun, tapi naik lagi waktu Subuh karena hujan lebat turun lagi. Di dalam rumah saya, air sampai dada. Saya dan keluarga masih bertahan di loteng rumah,” beber Abuy, warga RT 24 Pintu Air.
Abuy yang sehari-hari berjualan kue mengaku masih bisa memasak di loteng. Biar banjir kami tetap harus jualan, kalau tidak mau makan apa?,”

Wednesday, August 20, 2008

Jalan Jati Baru Longsor

Rabu, 20-08-2008 | 00:30:19

MARTAPURA, BPOST - Ruas jalan yang menghubungkan Desa Astambul Kota dan Jati Baru, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar dalam setahun terakhir sering mengalami kerusakan pada bagian tepi. Ini disebabkan gerusan air sungai yang membuat tepi jalan itu longsor. Sungai Astambul di desa itu tiap musim hujan seringkali meluap hingga merendam badan jalan. Tak terkecuali dengan banjir pada Maret kemarin yang menyebabkan sungai meluap dan merendam badan jalan desa setempat selama tiga hari lebih.

Pantauan, Senin (18/8) kerusakan pada ruas jalan itu sudah cukup parah. Hampir separo badan jalan ambrol akibat terkikis air sungai di tepi jalan itu.

Longsornya tepi jalan utama kedua desa itu kini mengancam sebuah tiang listrik di sekitarnya. Bila dibiarkan terus berlangsung, kemungkinan tiang listrik dari besi itu akan roboh karena tanahnya terkikis air sungai.

Menurut salah seorang warga Desa Jati Baru, longsornya tepi jalan itu mengganggu warga pengguna jalan, terutama saat melintas malam. Pemkab Banjar, sebelumnya berencana mengalihkan jalan itu agar tidak tepat di tepi jalan. Namun, rencana sejak 2007 lalu itu belum ada realisasi.

Kasubdin Sarana Jalan dan Jembatan Dinas Kimpraswil Banjar, M Hilman, Selasa (19/8) mengatakan, rencananya pemkab mengalihkan sepanjang 200 meter jalan yang rusak itu sehingga tidak lagi melewati tepi sungai.

Namun pada tahun itu tidak bisa dilaksanakan karena terkendala pembebasan lahan. Saat ini, papar Hilman, pembebasan lahan telah selesai. Tapi pada APBD murni kemarin tidak dianggarkan sehingga belum ada perbaikan.

"Rencananya kita akan usulkan di APBD Perubahan nanti. Mudah-mudahan anggaran bisa disetujui dan bisa segera dilakukan perbaikan," harapnya. (ofy)

Monday, August 18, 2008

Kondisi Gunung Jambangan Dan Semiran Memprihatinkan

 

12 August, 2008 07:07:00

KOTABARU - Kondisi Gunung Jambangan dan Semiran hingga saat ini semakin memprihatinkan, selain hutannya gundul akibat perambahan kawasan hutan lindung beberapa tahun lalu.

Informasi dihimpun, Selasa kerusakan juga disebabkan tanah longsor beberapa akibat hujan deras yang mengguyur Kotabaru dan sekitarnya.

Puluhan hektare kawasan hutan Semiran dan Jambangan yang menjadi lambang Kotabaru tersebut kini terlihat menjadi lahan pertaanian untuk ditanami padi gogo dan palawija. Bahkan di sejumlah titik di Gunung Jambangan, terlihat longsor akibat curah hujan yang tinggi beberapa waktu lalu.

Kendati tidak ditemukan korban jiwa, ribuan meter kubik matrial yang berupa tanah merah bercampur batu dari kaki gunung Jambangan dapat membahayakan warga yang tinggal di sekitar lokasi tersebut.

Dari kejauhan ada sejumlah titik di gunung itu mulai terlihat longsor, kata sejumlah warga Desa Sungai Pasir, dan yang tinggal di dekat wilayah Gunung Jambangan.

Menurut pengakuan Riadi dan sejumlah warga setempat, penyebap gundulnya Gunung Jambangan dan Semiran, akibat perambahan hutan beberapa tahun lalu oleh warga dari luar wilayah Pulau Laut Tengah, terutama dari wilayah kota Kotabaru. Mereka sengaja membuka kawasan tersebut untuk dijadikan areal pertanian.

"Kalau warga di sini tidak berani pak merambah hutan itu, karena dulu pernah terjadi sekali kemudian mereka dipanggil oleh instansi terkait, dan sekarang masyarakat semuanya takut, terkecuali orang kota. Namun perambahan itu sudah beberapa tahun ini agak sepi," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kotabaru, Hasbi M Thawab, mengaku hingga saat ini pihaknya masih belum memiliki program untuk pemulihan kawasan di Gunung Jambangan.

"Semua program yang kita laksanakan telah terencana, untuk memperbaiki kawasan tersebut kita perlu rencanakan terlebih dahulu," katanya.ant/elo