| Rabu, 12-03-2008 | 00:50:15 | |
| BANJARBARU, BPOST - Hujan yang mengguyur Kalsel pekan lalu yang membuat lima Kabupaten/Kota diterjang banjir, berdampak pada dunia pertanian. Lebih dari tiga ribu hektare sawah di Banua terendam, membuat petani trauma dengan cuaca. Sejumlah petani di Banjarbaru menyatakan cemas ketika hujan mengguyur. "Setiap hujan kami tidak bisa tidur. Memikirkan, apa sawah dan tanaman kami selamat?" ucap Selamat, warga Palam Kecamatan Cempaka yang dua hektare sawahnya belum juga kering dari air. Hal serupa juga dialami petani di Landasan Ulin. Menurut mereka, musim hujan kali ini membuat modal jutaan rupiah sudah hanyut bersama mengalirnya air yang menggenangi sawah. Petani berharap, cuaca bisa bersahabat. Data di Dinas Pertanian (Distan) Kalsel, sampai Selasa (11/3) siang, setidaknya ada tujuh daerah yang terancam tak dapat berproduksi maksimal setelah banjir. Di daerah-daerah tersebut ada 30.020,5 hektare lahan sawah berisi tanaman padi yang mulai tumbuh dengan usia 7 sampai 85 hari. Namun tak dapat lagi tumbuh sempurna setelah terlibas terjangan air bah. Banjir juga mengakibatkan sawah siap semai tak dapat dilanjutkan. Sebanyak 49.682 kilogram padi persemaian siap tanam terendam banjir. Kasubdin Perlindungan pada Dinas Pertanian Kalsel, Erna Heriyati mengatakan daerah terparah dialami petani di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). "Luasan lahan pertanian yang terkena dampak banjir Kabupaten/Kota ada 3.020,5 hektare. HSS paling banyak sawahnya terendam," tandas Erna. Mengenai dampaknya bagi produksi pangan di Kalsel, Erna meyakinkan target sebesar 1.958.486 ton beras masih memenuhi kebutuhan regional. Kendati jika dihitung total produksi rata-rata per hektare empat ton saja, Kalsel memang terancam kehilangan 12.082 ton produksi padi. Distan kini mengupayakan bantuan pengganti bibit yang diambil dari cadangan benih unggulan jenis cihirang. Namun ini hanya bagi sawah yang benar-benar terancam puso. Pembagian bibit akan diprioritaskan untuk petani yang benar-benar ingin tanam kembali. (niz)
|
Sunday, March 23, 2008
Petani Trauma Hujan
Waspada Hujan Deras
| Rabu, 12-03-2008 | 00:50:10 | |
| Satelit pada Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru memantau peluang hujan ringan sampai deras masih akan terjadi sampai dua hari mendatang. Pemicunya, banyak terbentuknya awan pembentuk hujan yang terjadi akibat pemanasan (awan konveksi). "Sekarang ini dari data-data yang ada peluang hujan masih akan terjadi. Sejak Rabu (12/3) sampai Kamis (13/3) waspadai hujan dengan intensitas sedang sampai deras karena mulai banyak terbentuk awan konveksi," terang prakirawan BMG Bandara Riza. Menurutnya, daerah yang perlu ekstra waspada ialah Timur Tenggara Kalsel. Daerah Tanah Laut terutama di sekitar Kintap, Hulu Sungai Selatan, Tapin sampai Batola insensitas hujannya terkategori lebat yakni antara 10-20 mm/jam atau 50-100mm/hari. Berbeda dengan daerah lain meski hujan, insentitasnya sedang antara 5-10 mm/jam atau 20-50/hari. Hujan-hujan ini bersifat lokal. Ini tergantung dengan kondisi alamnya. Jika terjadi pemanasan di suatu daerah, belum tentu daerah lain mengalami hal yang sama. (niz) |
Banjar Tolak Penyewaan Hutan
| Sabtu, 23-02-2008 | 00:30:30 | |
| • Khairul : Hutan Harus Dilindungi MARTAPURA, BPOST - Kabupaten Banjar menolak Peraturan Pemerintah No 2 Tahun 2008 tentang pemanfaatan hutan untuk keperluan ekonomi, termasuk untuk keperluan penambangan. Pasalnya, Banjar merupakan daerah penyangga resapan air yang terletak di hulu, sangat memerlukan keberadaan hutan tersebut.
"Komitmen kita tegas sekali, hutan lindung harus dilindungi. Jadi tidak boleh ada aktivitas di sana, apalagi penambangan. Kalau ada penambangan di kawasan hutan lindung, sudah pasti itu tambang liar dan harus ditutup," kata Khairul Saleh, Jumat (22/2). Bupati mengatakan, komitmennya itu dibuktikan dengan ditutupnya penambangan emas di Desa Sungai Luar dan Bunglai Kecamatan Aranio Banjar. Seperti diketahui, beberapa hari lalu, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah (PP) yang mengizinkan pembukaan hutan untuk pertambangan, pembangunan, infrastruktur telekomunikasi, energi dan jalan tol dengan tarif sewa sangat murah. Alih fungsi hutan produksi dan hutan lindung itu hanya dikenai tarif Rp 1,2 juta hingga Rp 3 juta per hektare per tahun. Langkah yang diambil Pemkab Banjar itu terkait rusaknya hutan di Kabupaten Banjar. Dari data yang ada di Dinas Kehutanan, sebanyak 200 ribu hektare hutan di Kabupaten Banjar dinyatakan kritis. Dari jumlah tersebut, 150 ribu hektare terletak di luar kawasan hutan lindung dan 50 ribu hektare berada di dalam kawasan hutan lindung. Akibat kerusakan hutan itu, Kabupaten Banjar selalu didera banjir setiap tahunnya. Bahkan, banjir bandang sempat terjadi di tahun 2005 lalu. (sig) |
