Friday, December 01, 2006

Pesawat Rusia Tertunda Ke Kalimantan

Minggu, 05 Nopember 2006 01:30:13
Jakarta - Rencana pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Kalsel dan Kalteng, tertunda. Pasalnya, dua pesawat Rusia BE-200 yang ditargetkan mulai memadamkan kebakaran minggu ini, ternyata masih beroperasi di Sumatera.

"Kami belum tahu kapan dua pesawat itu bisa dialihkan ke Kalimantan," kata Mayjen Syamsul Maarif, kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Nasional Penaggulangan Bencana dan Pengungsian, di Jakarta, Minggu (5/11).

Disebutkan, pemadaman kebakaran di wilayah Sumatera, seperti Palembang belum bagus. Indikasinya, kabut asap masih terus terjadi dan sejumlah bandara belum bisa beroperasi.

"Hari ini Bandara Sultan Thaha Jambi masih ditutup. Artinya pemadaman kebakaran di sana belum bisa dibilang selesai," cetus Syamsul.

Seperti diketahui, dua pesawat Rusia yang disewa pemerintah RI itu ditargetkan paling lambat minggu pertama November sudah bisa melakukan pemadaman di Kalsel dan Kalteng. Berbagai persiapan telah dilakukan, di antaranya menjadikan Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin sebagai base camp kegiatan pemadaman di Kalimantan.

Syamsul mengakui, semula pemadaman lahan dan hutan di Sumatera selesai dalam waktu 7-10 hari, terhitung sejak 22 Oktober 2006. Hanya saja, kenyataan di lapangan kebakaran di Sumatera masih banyak yang belum berhasil.

"Karenanya saya nggak bisa memperkirakan kapan dua pesawat Rusia itu dipindah ke Kalimantan," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang mendesak pesawat asal Rusia yang disewa pemerintah segera dibawa ke Kalimantan untuk memadamkan kebakaran seperti di Palangka Raya, Balikpapan, dan Banjarmasin. Bahkan, Teras narang minta, wilayahnya diprioritaskan untuk pemanfaatan pesawat yang mempu mengguyurkan air sebanyak 12 ton untuk sekali terbang itu. tnr


--------------------------------------------------------------------------------

Copyright © 2003 Banjarmasin Post

Tumbang Nusa Masih Berasap

Senin, 27 November 2006
Palangkaraya, Kompas - Kawasan gambut daerah Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, masih terus berasap meskipun pesawat pengebom air Beriev BE-200 berkali-kali mengguyurnya dengan air dan hujan kerap turun. Oleh karena itu, hingga sekarang pemadaman lahan masih dikonsentrasikan di wilayah itu.

Pesawat pengebom diharapkan menjadi dua BE-200 untuk menambah kekuatan. Satu pesawat sebagai pengganti pesawat sejenis yang mengalami kecelakaan di Bandar Udara Syamsuddin Noor Banjarbaru beberapa waktu lalu diharapkan segera tiba.

"Meski api tidak terlihat, asap masih terus mengepul di Tumbang Nusa," kata Koordinator Tim Penanganan Bencana Asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Tengah (Kalteng), Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Nasional, Soetrisno, Minggu (26/11).

BE-200 tidak lagi mengambil air di perairan Tabonio, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Pesawat amfibi itu mengambil air di Mandomai bagian aliran Sungai Kapuas Kalteng. Mandomai berjarak sekitar 60 kilometer dari lokasi pemadaman.

Dengan mengambil air di Mandomai, BE-200 dapat mengebom 17 kali dengan volume air 125 ton. Begitu pesawat kedua datang, dua BE-200 akan dipakai untuk membombardir lahan secara berurutan agar air yang tercurah semakin banyak.

"Apabila diperlukan, helikopter juga akan digunakan untuk memadamkan titik api di dekat permukiman penduduk atau di lokasi yang sulit dijangkau tim manggala agni," kata Soetrisno. Helikopter hanya digunakan untuk survei lokasi titik api sebelum BE-200 diterbangkan.

Kemarin, cuaca Palangkaraya cerah karena kabut asap terus menipis. Hujan mulai sering turun sehingga udara Palangkaraya semakin bersih dan segar.

Kualitas udara di Palangkaraya pada akhir pekan lalu sudah dapat digolongkan dalam kategori baik. (CAS)

Pesawat BE-200 Ambil Air dari Sungai Kapuas

Rabu, 22 November 2006
Palangkaraya, Kompas - Pesawat amfibi pengebom air Beriev BE-200 akhirnya dapat mengambil air di Mandomai yang merupakan alur Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah. Lokasi pengambilan air tersebut berada dekat dengan lahan-lahan yang terbakar di provinsi tersebut.

Sebelumnya, pesawat sewaan dari Rusia itu harus mengambil air di perairan Tabonio, Kalimantan Selatan. Lokasi baru pengambilan air ini semakin mengefektifkan upaya pemadaman titik api karena frekuensi pengeboman menjadi lebih sering.

"Ketika mengambil air di Tabonio, dalam satu hari rata-rata BE-200 hanya mampu mengebom dengan 24 ton air. Setelah mengambil air di Mandomai, pesawat mampu mengebom sebanyak 96 ton per hari," kata Koordinator Tim Penanganan Bencana Asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan Kalteng, Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, Soetrisno, di Palangkaraya, Selasa (21/11).

Pemilihan Mandomai sebagai area pengambilan air didasarkan pada beberapa pertimbangan teknis. Alur sungai di Mandomai lurus dengan panjang tiga kilometer dan lebar 300 meter. Itu memudahkan BE-200 menukik dan mengambil air. Selain itu, di tepian sungai itu tidak ada permukiman penduduk.

"Ada enam speedboat polisi air yang berpatroli di ruas tersebut setiap akan ada pengambilan air oleh BE-200 agar semua lancar dan aman," kata Soetrisno.

Dalam dua hari terakhir, BE-200 berangkat dari Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalsel. Setiap hari pesawat dua kali mengambil air di Tabonio untuk dijatuhkan di daerah Gohong dan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, yang masih berasap.

Menjelang tengah hari, BE-200 mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, untuk mengisi bahan bakar dan memberi kesempatan kru beristirahat. Dalam sehari, BE-200 bisa 11 kali mengambil air di Mandomai dan mengebom titik-titik api di Kalteng. (CAS)