Sunday, July 29, 2007

Ratusan Kubik Kayu Disita Polres Razia Sawmil

Monday, 30 July 2007 01:21

BANJARMASIN, BPOST - Banjir yang melanda permukiman di sekitar Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan, sekitar sepuluh tahun lagi baru bisa teratasi. Itu pun dengan syarat, proyek gerakan rehabilitasi lahan (gerhan) di kawasan itu berhasil.

Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Kalsel), Suhardi, mengatakan, di lokasi yang menjadi langganan banjir tersebut kini kondisinya cukup memprihatinkan, bukan hanya pohon-pohon besar habis ditebang, namun ilalang yang sebenarnya juga mampu menahan luapan air juga sudah dibabat.

"Kendati tidak ada pohon, ilalang pun masih mampu menjadi kawasan resapan air, tapi di daerah tersebut sudah gundul, akibat kegiatan tambang dan penebangan hutan," katanya.

Apalagi tambah Suhardi, pohon-pohon di hutan yang berada di kawasan lebih atas juga telah gundul, sehingga air hujan langsung menyebabkan banjir.

Mengatasi kondisi tersebut, Pemkab Banjar telah memprioritaskan kegiatan gerhan di daerah itu, namun tetap memerlukan waktu cukup lama karena menunggu pohon-pohon yang ditanam tumbuh dan berfungsi menahan luapan air.

Menurutnya selain Kabupaten Banjar, empat kabupaten lain di Kalsel yakni Tapin Tala, Tabalong dan Hulu Sungai Utara hutannya juga cukup kritis, sehinga harus mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. "Di Tala saat ini kerusakan hutan juga sangat parah, sehingga banjir yang berulang kali terjadi sulit untuk diatasi," kata Suhardi. ant

Hutan Hilang

Saturday, 28 July 2007 01:53:58

BANJARMASIN, BPOST - Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalimantan Selatan Rachmadi Kurdi menilai, hilangnya sejumlah kawasan hutan menjadi penyebab utama bencana banjir di Banua.

"Hilangnya kawasan hutan tersebut selain disebabkan perambahan atau penebangan liar, juga karena upaya reboisasi yang tak seimbang dengan penebangan," kata Rachmadi, Jumat (27/7) di kantornya.

Rachmadi belum melihat banjir itu disebabkan aktivitas pertambangan batu bara. "Saya kira kegiatan pertambangan batu bara juga bisa dibilang turut andil dalam kerusakan lingkungan, tapi belum bisa dikatakan penyebab utama bencana banjir," ujarnya.ant


Thursday, July 26, 2007

Ratusan Ton Gabah Rusak Akibat Hujan yang Turun Selama Beberapa Hari

Jumat, 27 Juli 2007

KOTABARU ,- Akibat hujan yang terus mengguyur selama beberapa hari di kawasan Kabupaten Kotabaru, ratusan ton gabah hasil panen dan siap panen di beberapa desa di Kecamatan Pulau Laut Timur rusak karena terendam dan tidak dapat dijemur.

   Camat Pulau Laut Timur, Bahrudin menjelaskan, akibat hujan dan meningginya permukaan air di sembilan desa, padi dan gabah hasil panen milik warga mengalami kerusakan karena tidak bisa dipanen dan dijemur.

   "Dengan kondisi seperti ini ratusan ton gabah yang sudah dipanen itu akan rusak dan kualitasnya akan menurun. Biasanya setelah padi dipanen, gabahnya langsung dijemur. Tapi akibat hujan terus menerus gabah tersebut tidak bisa dijemur,” ujar Bahruddin menjelaskan.

   Dari sekitar 5 ribu  hektar tanaman padi, lanjut Camat, sebagian besar telah dipanen. Namun hasil panennya baru sebagian yang sudah dijemur, sedangkan sisanya masih menumpuk di lumbung-lumbung padi.

   "Biasanya masyarakat di sini hanya mengandalkan sinar matahari untuk menjemur padi, karena saat ini kami masih belum memiliki peralatan pemanas buatan semacam dryer. Dengan tidak terkena matahari dapat dipastikan hasil panen petani di Pulau Laut Timur akan mengalami kerusakan," jelasnya.

   Selain kerusakan gabah, kawasan persawahan puluhan hektar siap panen kini juga rusak akibat terendam banjir selama tiga hari ini. Bahrudin khawatir, jika hujan terus menerus dan gabah tidak dapat dijemur, mengakibatkan nilai jual gabah akan turun drastis.

   Dengan kondisi seperti ini, petani di kawasan Pulau Laut Timur mengharapkan agar pemerintah Kabupaten Kotabaru bisa membangun mesin pemanas. Karena jika gabah tidak dijemur, kualitasnya akan menurun bahkan mengalami kerusakan, sehingga petani akan sangat dirugikan dengan kondisi alam seperti yang terjadi sekarang ini.

       Kiranya harapan masyarakat tersebut sejalan dengan rencana Pemkab Kotabaru yang akan menjadikan Pulau Laut Timur menjadi lumbung padi Kabupaten Kotabaru.(ins)