Monday, July 16, 2007

Sungai Dikeruk dan Dipecah

Saturday, 14 July 2007 04:15

PELAIHARI, BPOST - Banjir tahunan yang melanda sejumlah desa di Tanah Laut menjadi perhatian besar pemkab setempat. Mulai tahun ini beberapa aliran sungai akan dinormalisasi melalui pengerukan maupun pemecahan.

Menurut Plt Kadis Kimprasda Tala HM Amin, tahap pertama adalah sungai Asam Asam di Kecamatan Jorong dan Kandangan serta Tabanio di Kecamatan Pelaihari. Normalisasi sungai ini diharapkan mampu mencegah, mengatasi, atau setidaknya memperkecil risiko banjir. Tahap berikutnya direncanakan menormalisasi sungai di wilayah Kecamatan Kintap.

Air yang meluap di tiga sungai itu selama ini memang cukup sporadis. Di Desa Asam Asam, misalnya, setiap tahun selalu menjadi langganan banjir dengan jumlah rumah terendam mencapai 600 unit.

Hingga pertengahan tahun ini sudah dua kali kebanjiran; pertama 14 Juni lalu dan terakhir 6 Juli lalu.

Banjir serupa juga melanda empat desa (Kintapura, Kintap, Pasir Putih dan Kintap Kecil) di Kecamatan Kintap. Total rumah terendam mencapai seribu lebih.

Kerugian paling nyata akibat banjir adalah rusaknya badan jalan desa. Sebagian warga yang telat mengevakuasi, sejumlah harta bendanya ada yang rusak akibat tersapu air dan hilangnya beberapa ekor hewan ternak maupun ikan budidaya.

Desa Muara Kintap meski permukiman warga tidak terluap banjir, namun ribuan hektare tambak warga setempat musnah terbawa air bah. Termasuk ratusan hektare tambak di Desa Muara Asam Asam.roy

LINGKUNGAN Titik Panas Terpantau di Kalsel dan Kalteng

Kamis, 12 Juli 2007

Palangkaraya, Kompas - Satelit North Oceanic Atmospheric Administration mulai mendeteksi kemunculan titik panas di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Selama 10 hari terakhir di Kalteng, titik panas terpantau di Kabupaten Seruyan, Sukamara, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Katingan.

Sebanyak lima titik panas ditemukan dalam kurun dua hari pada awal Juli silam di Seruyan. Di Sukamara dideteksi dua titik, satu di Kotawaringin Barat, tiga di Kotawaringin Timur, dan dua di Barito Timur.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng Edy Sutiyarto menuturkan, titik panas yang terpantau itu belum tentu merupakan api kebakaran lahan. "Titik panas merupakan api jika keberadaannya berlangsung minimal tiga hari berturut-turut dalam satu lokasi," kata Edy di Palangkaraya, Rabu (11/7).

Setiap titik panas yang terpantau dalam 10 hari terakhir hanya "berumur" satu hari dan hilang di hari berikutnya. Pemantauan lapangan dilakukan jika satu titik api terdeteksi selama tiga hari berturut-turut.

Sementara di Kalsel, satelit memantau 20 titik panas dalam dua bulan terakhir. Sebanyak 18 di antaranya ada di kawasan pertanian dan perkebunan. Jumlah itu masih kecil dibandingkan periode yang sama pada tahun 2006 dengan jumlah 500 titik.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru juga mencatat tingkat kekeringan di provinsi tersebut meningkat. Beberapa hari terakhir, kekeringan bergerak ke arah ekstrem. Itu perlu diwaspadai karena semua vegetasi bisa mudah terbakar.

Dalam kesempatan terpisah, Dinas Perkebunan Kalsel meminta 62 perkebunan besar dengan total luas lahan 476.685 hektar mewaspadai kebakaran di areal mereka. Diingatkan, semua perusahaan wajib membuka lahan tanpa membakar.

"Kalau sampai terjadi kebakaran, perusahaan bersangkutan harus bertanggung jawab," kata Kepala Dinas Perkebunan Kalsel Haryono.

Sebanyak 43 perusahaan di antaranya sudah memiliki izin hak guna usaha dan sudah menanam di areal seluas 258.908 hektar.

(CAS/FUL)

Kabut Asap Mulai Muncul BMG : Indeks Bahaya Kebakaran Ekstrim

Thursday, 12 July 2007 04:33

BANJARBARU, BPOST - Musim kemarau dan ancaman bencana tahunan kabut asap sudah saatnya diwaspadai lagi. Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas I Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kalsel di Banjarbaru menyatakan indeks bahaya kebakaran saat ini pada katagore ekstrim.

Teriknya matahari nyaris tanpa hujan deras beberapa waktu terakhir yang memicu panasnya suhu udara di wilayah ini, patut diwaspadai karena berisiko kebakaran lahan.

Forecaster Staklim Kelas BMG Kalsel di Banjarbaru, Irman Sonjaya menjelaskan, grafik fire danger rating system (FDRS) atau sistem peningkatan bahaya kebakaran menunjukan peningkatan. Peningkatan terjadi drought code (DC) atau indeks kekeringan dan konsumsi bahan bakar total yang menggambarkan potensi asap menunjukkan angka yang terus meninggi.

Imbasnya Fire Weather Index (FWI) atau indeks dari bahaya kebakaran, intensitas api, dan peringkat penanggulangan kebakaran pun mencapai titik ekstrim. Dari data yang terlihat, indeksnya telah mencapai 88. Hal itu terlihat jelas sejak 7 Juli dan 8 Juli.

"Ini artinya tingkat intensitas api mulai ekstrim. Kemungkinan pemadaman yang dilakukan sangat kecil dan harus memerlukan peralatan canggih. Tanpa harus dibakar pun, tanaman yang mengering bisa terbakar kapan saja. Jadi patut diwaspadai," kata Irman.

Tidak heran, jika sepekan terakhir, kabut asap mulai menyaput sebagian wilayah Banjarbaru. Meski tipis, namun cukup mengganggu aktivitas warga. Mereka yang harus beraktivitas lewat tengah malam sampai dini hari kerap menghirupnya. Kawasan yang mulai diselimuti asap ini, seperti Landasan Ulin sampai Liang Anggang.

Mengenai korelasinya dengan suhu udara, Irman menjelaskan, posisi saat ini masih kategori normal yaitu berkisar 30 sampai 31 derajat celcius.

Diakuinya, intensitas hujan mulai berkurang. "Kalau pun ada hujan, dalam seminggu itu hanya sekali saja dan maksimal sekali hujan maksimal 3 jam saja," imbuh Irman. niz