Monday, June 28, 2010

Korban Banjir HSU Resah

AMUNTAI, SELASA - Sebanyak 68.683 jiwa atau 17.451 kepala keluarga (KK) korban banjir di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), hingga kini, Selasa (1/6/2010) belum menerima bantuan banjir dari pemerintah kabupaten setempat. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya dikemanakan dana bantuan tersebut  tidak ada kabar beritanya.
Rasunah, warga RT 5 Desa Tambarangan, Kecamatan Amuntai Tengah, Selasa (1/6), mengatakan, hingga kini warga yang terkena korban banjir belum menerima bantuan dari Pemkab HSU, padahal sebelumnya  Pemkab HSU menjanjikan memberikan bantuan.
“Sudah dua bulan ini kami menunggu bantuan namun hingga kini tak ada kabar beritanya lagi,” ujar ibu paruh baya ini.
Diutarakannya, baru tahun ini bantuan korban banjir tidak tepat waktu pembagiannya. Tahun-tahun sebelumnya kalau ada banjir bantuan langsung dibagikan. “Kami bingung juga hingga saat ini tidak ada kabar beritanya lagi setelah didata,” tegasnya.
Senada, Husni, warga RT 5, mempertanyakan bantuan banjir yang hingga kini belum juga ada kabar beritanya dari Pemkab HSU. “Sudah dua bulan ini kami menunggu, namun tidak ada juga pemberitahuan akan dibagikan bantuan,” ujarnya.
Ditambahkan Ketua RT 5, Rusli, berdasarkan data yang ada, di RT 5 ada 45 KK yang menjadi korban banjir. Data tersebut  sudah diserahkan ke Kepala Desa Tambarangan, namun sayangnya hingga kini tidak ada kabar beritanya lagi.
Terpisah Kepala Desa Tambarangan, H Mahmud Riyad, mengakui, kalau selama ini bantuan dari Pemkab HSU terhadap korban banjir belum disalurkan. Padahal data korban banjir sudah disampaikan ke Pemkab HSU.
“Berdasarkan data yang kita sampaikan ke Pemkab HSU, ada 525 KK warga Desa Tambarangan yang terkena korban banjir. Sedangkan untuk korban jiwa tidak ada, namun sayangnya bantuan itu belum ada kabar beritanya,” tegasnya.
Kabar terakhir, lanjut dia, pada tanggal  24 Mei 2010 ia menerima surat dari Kecamatan Amuntai Tengah, meminta data itu diperbaharui. Ini tidak lain untuk memilih mana warga yang mampu dan tidak mampu dari korban banir tersebut.
“Ada surat dari kecamatan agar mendata kembali warga miskin atau tidak mampu saja yang mendapatkan bantuan,” tegasnya.
Belum turunnya bantuan dari Pemkab HSU terhadap korban banjir juga dirasakan Desa Pinang Kara. “ Hingga kini kami juga belum menerima bantuan dari Pemkab HSU. Dan kenyataan yang ada 100 hektar padi milik warga yang mulai berbuah, mati akibat banir,” ujar Sekdes Pinang Kara, Andom.
Sementara, Kepala Bagian Sosial Pemkab HSU, HM Gazali Rahman,  ketika dikonfirmasi, mengaku masalah bantuan banjir, kebakaran dan pemuda bukan kewenangan Bagian Sosial lagi. Namun sudah dilimpahkan ke Bagian Kemasyarakatan.
“Masalah banjir itu adalah biasa, karena masyarakat juga yang salah mau tinggal di daerah tersebut, sedangkan bantuan sendiri merupakan kewenangan Bagian Kemasyarakatan,” tegasnya.

(ari)

Banjarmasinpost.co.id - Selasa, 1 Juni 2010

Thursday, May 20, 2010

Ruas Jalan Trans Rusak Parah

BATULICIN, RABU - Kondisi ruas jalan Transmigrasi yang menghubungkan tiga desa yaitu Batulicin Irigasi, Desa Madu Retno, dan Desa Sarimulya di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, rusak parah akibat curah hujan yang tinggi beberapa minggu terakhir.
Kerusakan badan jalan juga dipicu perbaikan pada tahap pengerasan yang hingga saat ini belum juga selesai.
Pengerasan dan pelebaran hanya berlangsung beberapa ratus meter mulai ujung aspal perbatasan daerah blok A dan C-1 pintu masuk Desa Batulicin Irigasi. Namun, perbaikan itu tidak berlanjut karena tidak lagi terlihat peralatan dan para pekerja.  
Akibatnya pengerasan yang sebelumnya dilakukan menggunakan pasir dan batu (sirtu) mengakibatkan becek dan berlumpur. Sedangkan belasan kilometer ruas jalan yang belum tersentuh upaya perbaikan menimbulkan banyak kubangan karena tergerus air hujan dan juga tekanan beban angkutan.  
Setiap pengendara roda empat dan roda dua terpaksa ekstra hati-hati saat melintas di jalan itu. Kecepatan lalulintas hanya bekisar 30-40 km/jam demi menjaga keselamatan dan kelancaran.
Sekitar dua tahun yang lalu, ruas jalan Transmigrasi dibangun oleh pemerintah hingga tahap pengaspalan yang menggunakan bahan kimia (bukan aspal yang sebenarnya-Red). Namun, kondisinya yang kurang kuat membuat jalan mudah retak dan menimbulkan banyak kubangan.
Jalur ini merupakan salah satu sarana vital transportasi darat yang menghubungkan masyarakat daerah transmigrasi di Kecamatan Mantewe ke daerah Batulicin, pusat pemerintahan Kabupaten Tanbu. Kondisinya yang rusak parah dikhawatirkan bisa menghambat peningkatan pembangunan di daerah tersebut.

Monday, January 11, 2010

Gawat! Banjir Besar Ancam Amuntai

BANJARBARU, SELASA  - Hujan terus mengguyur. Sejumlah daerah sudah mulai banjir. Bencana ini terkait penggundulan hutan Pegunungan Meratus, baik untuk diambil kayunya, untuk pertambangan, maupun untuk perkebunan.

Pembabatan hutan terutama di Kecamatan Halong, Awayan serta Duai di hulu Sungai Balangan makin memperparah keadaan.

Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Barito (BPDAS) Kalsel, Ris Supratiwi mengatakan Kota Amuntai menerima dampak paling parah. Soalnya ibu kota Hulu Sungai Utara itu berada di daerah pertemuan dua sungai yakni Sungai Tabalong dan Sungai Balangan. Selain itu HSU merupakan daerah berawa.

"Hutan yang merupakan kawasan tangkapan air dikatakan baik bila di atas 30 persen dari luas daratan. Sedang kini luas hutan kurang dari 30 persen," kata Ris yang didamping Kepala Seksi Evaluasi Ramliadi, Senin (23/11).

Daerah rawan banjir besar lainnya berada di selatan Kalsel yakni Pengaron, Kintap, Satui dan Batulicin. Soalnya hutan di sepanjang Sungai Barito dan Suangi Cengal, Batulicin, rusak parah.

Oleh karena itu, Ris memeringatkan semua pihak untuk waspada terhadap banjir dan tanah longsor.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Hegar Wahyu Hidayat, mengatakan hutan provinsi ini tinggal 1,6 juta hektare.

Pemerintah daerah, menurutnya, tidak berpihak pada perlindungan hutan. Investasi pertambangan dan perkebunan sawit terus diterima. "Untuk diketahui ada sekitar 400 kuasa pertambangan bupati di Kalsel, khususnya di Tanahbumbu," ungkap Hegar.

Dia khawatir terjadinya banjir besar seperti pada 2007. Apalagi melihat tingginya curah hujan yang menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncaknya terjadi pada Desember.

Forecaster Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Dian Handiana, mengatakan saat ini curah hujan di Kalsel rata-rata mencapai 100 milimeter per hari. "Ini bertahan 3-5 hari ke depan," ujarnya.

Menanggapi tingginya curah hujan dan naiknya debit Sungai Balangan dan Tabalong, Dinas Lingkungan Masyarakat HSU membuat selebaran agar semua pihak waspada.

(bpg)